Akidah bukan sekadar pengetahuan yang disimpan dalam pikiran atau keyakinan yang diucapkan dengan lisan, melainkan landasan yang membentuk cara seseorang berpikir, bersikap, dan menjalani kehidupan.
Akidah bukan sekadar pengetahuan yang disimpan dalam pikiran atau keyakinan yang diucapkan dengan lisan, melainkan landasan yang membentuk cara seseorang berpikir, bersikap, dan menjalani kehidupan.
Akan datang suatu zaman kepada manusia, ketika orang yang bersabar dalam mempertahankan agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.
Seorang muslim yang fitrahnya masih lurus, insya Allah akan memahami bahwa dirinya sedang diingatkan berdasarkan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Memilah lafaz yang tepat dalam berdoa itu penting, namun memperhatikan faktor-faktor pendukung diterimanya doa itu jauh lebih penting, dan faktor terbesarnya selain yang sudah kita sebutkan adalah dengan menjalankan perintah-perintah Allah Ta'ala dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
“Shalat lima waktu, dari Jumat ke Jumat berikutnya, dan dari Ramadan ke Ramadan berikutnya merupakan penghapus dosa-dosa yang terjadi di antara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi.” HR. Muslim no. 233.
Apapun kebaikan yang kita harapkan, atau keburukan yang kita antisipasi dan kita harapkan hilang, jangan pernah bosan untuk terus berdoa dan minta kepada Allah. Kita tidak tahu, kapan doa kita dikabulkan, apakah pada doa yg kesepuluh, atau kelima puluh, atau keseratus.
Imam Abu Bakar ‘Abdullah bin Abi Dawud As-Sijistāni Rahimahullah berkata: ٦- وَقُلْ يَتَجَلَّى اللهُ لِلْخَلْقِ جَهْرَةً | كَمَا الْبَدْرُ لا یَخْفَی وَرَبُّكَ أَوْضَحُ 6- Dan katakanlah: Allah akan menampakkan Diri-Nya kepada makhluk dengan jelas, sebagaimana bulan purnama yang tidak tersembuni, dan Rabmu lebih jelas.
Apa pun yang kita alami, baik yang menyenangkan maupun yang tidak kita sukai, semuanya berada dalam ketetapan Allah. Kesadaran ini akan membantu seorang mukmin agar tidak berlebihan dalam kesedihan ketika menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan. Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengajarkan agar seorang mukmin mengembalikan musibah yang terjadi kepada takdir Allah.
Di antara ciri utama seorang muslim yang benar-benar beriman kepada Allah Ta’ala dan hari akhir adalah merasa ridha dan menerima dengan sepenuh hati semua ketentuan syariat yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman, “Dan tidakkah patut bagi laki-laki dan perempuan yang (benar-benar) beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata” (QS al-Ahzaab:36). Hukum asal poligami dalam Islam berkisar antara ibaahah (mubah/boleh dilakukan dan boleh tidak) atau istihbaab (dianjurkan), dan ini akan dibahas dalam daurah kali ini, dilihat dari beberapa sisi.
Dari shahābat Abi Shirmah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu beliau berkata, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda: وَعَنْ أَبِي صِرْمَةَ – رضى الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -{ مَنْ ضَارَّ مُسْلِمًا ضَارَّهُ اَلله, وَمَنْ شَاقَّ مُسَلِّمًا شَقَّ اَللَّهُ عَلَيْهِ } أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ. “Barangsiapa yang memberi kemudharatan kepada seorang muslim, maka Allāh akan memberi kemudharatan kepadanya, barangsiapa yang merepotkan (menyusahkan) seorang muslim maka Allāh akan menyusahkan dia.” 📖 Hadīts riwayat Abū Dāwūd nomor 3635, At Tirmidzi nomor 1940 dan dihasankan oleh Imām At Tirmidzi.