29 Rabiul Akhir 1448 H | Sabtu, 10 Oktober 2026
Tahdzib Ad Daa' wa Ad Dawaa'

Berdoa Tak Cukup Sekali

Berdoa Tak Cukup Sekali

Daftar isi

    Kalau kita ditanya, apa sebab dikabulkannya doa yang kita panjatkan? Maka jawabannya adalah, salah satu sebab agar doa kita dikabulkan oleh Allah _Subhaanahu wa Ta'ala_ adalah dengan terus mengulang doa yang kita panjatkan, karena berdoa tak cukup hanya sekali dua kali, melainkan harus dilakukan secara berulang dan terus menerus.

    Dari Aisyah _Radhiyallahu 'anha_, Rasulullah _Shallallahu 'alaihi wa sallam_ bersabda,

    (( إن الله يحب الملحين في الدعاء ))

    _"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang terus menerus (mengulang-ulang) di dalam berdoa"_ (HR. Ath Thabrani)

    Dan sudah semestinya kita sebagai muslim itu bersemangat dalam berdoa, karena Rasulullah _Shallallahu 'alaihi wa sallam_ bersabda,

    *(( لا تعجزوا في الدعاء، فإنه لا يهلك مع الدعاء أحد ))*

    _"Jangan kalian lemah (tidak bersemangat) dalam berdoa, karena tidak ada orang yang binasa gara-gara berdoa"_ (HR. Al Hakim di dalam Shahihnya)

    Maksudnya, orang yang terus menerus berdoa, meminta kepada Allah, dia tidak akan merugi, bahkan Allah akan menjaminkan baginya keamanan.

    Justru, ketika kita enggan berdoa dan meminta kepada Allah, maka Allah akan murka kepada kita, sebagaimana sabda Nabi _Shallallahu 'alaihi wa Sallam,_

    *(( من لم يسأل الله يغضب عليه ))*

    _"Barangsiapa tidak meminta (berdoa) kepada Allah, niscaya Allah akan murka kepadanya"_ (HR. Ibnu Majah)

    Jadi kesimpulannya...

    Apapun kebaikan yang kita harapkan, atau keburukan yang kita antisipasi dan kita harapkan hilang, jangan pernah bosan untuk terus berdoa dan minta kepada Allah.

    Kita tidak tahu, kapan doa kita dikabulkan, apakah pada doa yg kesepuluh, atau kelima puluh, atau keseratus.

    Intinya, baik doa kita Allah kabulkan sesuai dengan yang kita pinta maupun tidak, berdoa itu sendiri adalah sebuah kebaikan dan anugerah yang tidak Allah berikan kepada setiap orang.

    _Allahu Ta'ala A'lam_

    _Referensi: Tahdzib Ad Daa' wa Ad Dawaa'_

    M. Haris Luthfi

    Buraydah, 9 Rabiul Akhir 1448

    Penulis:
    Ustadz Haris Luthfi
    Share: