Bismillah
Pembuka
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita kesehatan, kesempatan, serta taufik untuk menghadiri majelis ilmu pada malam hari ini.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mencurahkan rahmat, ketenangan, keberkahan, dan ampunan-Nya kepada kita semua.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, keluarga, para sahabat, dan seluruh umat beliau yang berusaha mengikuti petunjuknya hingga hari kiamat.
Pada malam ini, kegiatan Tunas Kebaikan di Masjid Agung Madaniyah Karanganyar dikemas dalam bentuk talk show bersama Ustadz Ammi Nur Baits Hafizhahullah. Tema yang dibahas adalah “In This Ekonomi: Solusi Ketika Ekonomi Sulit”.
Tema ini sangat relevan dengan kondisi yang dirasakan sebagian masyarakat saat ini. Melalui pembahasan ini, diharapkan kita memperoleh wawasan dan pencerahan tentang bagaimana seorang muslim menyikapi keadaan ekonomi yang tidak menentu.
Mengenal Lebih Dekat Ustadz Ammi Nur Baits
Sebelum memasuki pembahasan utama, moderator berbincang sejenak dengan Ustadz Ammi Nur Baits mengenai aktivitas dakwah beliau.
Ustadz Ammi menjelaskan bahwa beliau sedang menjalani safari dakwah. Dan kehadiran beliau di Masjid Agung Madaniyah Karanganyar menjadi kesempatan bagi jamaah untuk kembali belajar bersama.
Pada kesempatan tersebut juga diperkenalkan ANB Channel, yang merupakan singkatan dari Ayo Ngaji Bareng. ANB tidak hanya diisi oleh Ustadz Ammi Nur Baits, tetapi juga menghadirkan sejumlah asatidz lainnya.
Di antara program yang dikembangkan adalah kelas-kelas pembelajaran secara daring, seperti tahsin, bahasa Arab, dan program pendidikan bagi ASN. Program tersebut diarahkan agar para peserta dapat bekerja dengan lebih profesional, amanah, dan memiliki dedikasi yang baik dengan pendekatan nilai-nilai agama.
Bagian Pertama: Apa Penyebab Kesulitan Ekonomi?
Ketika berbicara tentang kondisi ekonomi yang sulit, ada dua sudut pandang yang perlu digunakan oleh seorang muslim:
1. Melihat segala sesuatu dari sisi takdir
Pertama, kita harus menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam ini telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
عَنْ أَبِي العَبَّاسِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمَا قَالَ كُنْتُ: خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً فَقَالَ لِي: (( يَا غُلاَمُ! إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ باِللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ )) رَوَاهُ التِّرْمِذِي وَقَالَ: (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ ))، وَفِي رِوَايَةِ غَيْرِ التِّرْمِذِيِّ: (( اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ، تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ، وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَم يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الفَرَجَ مَعَ الكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ العُسْرِ يُسْراً )).
Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Pada suatu hari aku pernah berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, ‘Wahai anak muda! Sesungguhnya aku akan mengajarkan beberapa kalimat kepadamu. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau mau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau mau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Ketahuilah apabila semua umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka pun berkumpul untuk menimpakan bahaya kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak dapat membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena-pena (pencatat takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (catatan takdir) telah kering.’” (HR. Tirmidzi, dan ia berkata bahwa hadits ini hasan shahih).
Apa pun yang kita alami, baik yang menyenangkan maupun yang tidak kita sukai, semuanya berada dalam ketetapan Allah. Kesadaran ini akan membantu seorang mukmin agar tidak berlebihan dalam kesedihan ketika menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan.
Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengajarkan agar seorang mukmin mengembalikan musibah yang terjadi kepada takdir Allah.
Dengan keyakinan tersebut, seseorang menyadari bahwa dirinya hanyalah hamba yang lemah. Ia tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan seluruh keadaan. Karena itu, ia akan semakin banyak memohon pertolongan kepada Allah.
Di sinilah tawakal kepada Allah tumbuh.
Kondisi ekonomi yang sulit merupakan bagian dari takdir Allah. Karena itu, seorang mukmin harus memasang tawakal kepada Allah. Hanya Allah yang mampu mengubah keadaan dengan cepat dan memberikan jalan keluar yang terbaik.
Nikmat yang sering kita lupakan
Sebelum mengeluhkan kondisi ekonomi, kita perlu menyadari bahwa masih banyak nikmat yang kita miliki.
Imam Tirmidzi meriwayatkan dalam kitab Sunan-nya dari Ubaidullah bin Mihshan al-Khatmi bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
“Barangsiapa di antara kalian yang pada pagi harinya merasa aman di tempat tinggalnya, sehat tubuhnya, dan memiliki makanan yang cukup untuk hari itu, maka seolah-olah dunia dan segala isinya telah diberikan kepadanya.” (HR. Tirmizi)
Jika seseorang telah memiliki kesehatan, keamanan, dan makanan, sebenarnya ia telah memiliki modal utama untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang hamba.
Persoalan berikutnya adalah bagaimana ia menggunakan nikmat tersebut. Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Karena itu, jangan sampai kita justru lebih sibuk memikirkan bekal hidup daripada memikirkan tujuan hidup.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Kita memang membutuhkan harta dan fasilitas dunia. Namun, jangan sampai perhatian terhadap kehidupan dunia mengalahkan perhatian kita terhadap kehidupan akhirat.
Tawakal Membuat Hati Lebih Tenang
Ketika seseorang menghadapi kondisi yang menakutkan, hal pertama yang harus dilakukan adalah jangan panik.
Orang yang panik akan kesulitan berpikir jernih. Sebaliknya, ketika seseorang mampu menenangkan dirinya dengan mengingat takdir Allah, akalnya tetap dapat berfungsi dengan baik sehingga ia dapat mencari solusi.
Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah Dzat yang mengatur rezeki para hamba-Nya.
Ketika harga-harga mengalami kenaikan pada zaman Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, para sahabat pernah meminta agar beliau menetapkan harga. Namun, Nabi mengingatkan bahwa Allah adalah Dzat yang menetapkan harga, menyempitkan dan melapangkan rezeki, serta memberikan rezeki kepada hamba-Nya.
Pesan ini penting untuk kita pahami:
Ketika harga naik dan kondisi ekonomi terasa sulit, jangan sampai kita kehilangan ketenangan. Rezeki kita tidak keluar dari ketetapan Allah.
2. Melihat Musibah dari Sisi Perbuatan Manusia
Selain melihat dari sisi takdir, kita juga perlu melihat sisi kedua, yaitu bahwa sebagian musibah dapat terjadi akibat dosa dan maksiat manusia.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمَاۤ اَصَابَكُمۡ مِّنۡ مُّصِيۡبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتۡ اَيۡدِيۡكُمۡ وَيَعۡفُوۡا عَنۡ كَثِيۡرٍؕ ٣٠
Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. Asy-Syura: 30)
Karena itu, ketika menghadapi kesulitan, seorang muslim tidak boleh berburuk sangka kepada Allah.
Ia perlu melakukan introspeksi:
“Jangan-jangan ada dosa dan kemaksiatan yang menjadi sebab datangnya kesulitan ini.”
Jika dosa menjadi salah satu sebab datangnya musibah, maka salah satu jalan untuk mencari pertolongan Allah adalah dengan memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada-Nya.
Para ulama terdahulu memberikan nasihat kepada orang-orang yang mengeluhkan mahalnya harga barang agar memperbanyak istighfar. Nasihat tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi seorang mukmin, istighfar bukan sekadar ucapan. Istighfar merupakan bentuk pengakuan terhadap kesalahan dan permohonan agar Allah memberikan ampunan serta memperbaiki keadaan.
Dengan demikian, kita perlu melakukan dua hal:
- Mengembalikan segala sesuatu kepada takdir Allah agar hati tidak berlebihan dalam ketakutan.
- Melakukan introspeksi dan memperbanyak istighfar agar kita tidak menjadi bagian dari sebab datangnya musibah.
Apa Indikator Ekonomi Sedang Sulit?
Ketika ditanya mengenai indikator kondisi ekonomi yang sulit, beberapa tanda yang dirasakan masyarakat antara lain:
- Kenaikan harga barang.
- Kenaikan harga bahan bakar.
- Kenaikan harga kebutuhan pokok.
- Penurunan pendapatan sebagian masyarakat.
- Berkurangnya kesempatan kerja.
- Pemutusan hubungan kerja di sejumlah perusahaan.
- Dampak perubahan nilai mata uang terhadap masyarakat yang memiliki transaksi internasional.
Namun, dampak kondisi ekonomi tidak dirasakan secara sama oleh setiap orang. Ada orang yang mengalami penurunan pendapatan secara signifikan, sementara yang lain masih merasa relatif stabil.
Ada orang yang penghasilannya tetap, tetapi harga kebutuhan meningkat. Ada yang penghasilannya turun. Ada pula yang pekerjaannya terdampak secara langsung.
Jadi, pengalaman masyarakat terhadap kondisi ekonomi bisa berbeda-beda. Yang perlu dipahami adalah bahwa kondisi rezeki manusia memang tidak selalu datar. Ada masa lapang dan ada masa sempit.
Allah berfirman:
ٱللَّهُ يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقْدِرُ ۚ
“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya.” (QS. Ar-Ra’d: 26)
Ketika Harga Naik, Allah Tetap Menjamin Rezeki
Kondisi seperti ini bukan sesuatu yang baru. Dalam sejarah umat Islam pun pernah terjadi masa ketika harga-harga mengalami kenaikan dan masyarakat mengeluhkan keadaan ekonomi. Para sahabat kemudian meminta agar Nabi menetapkan harga.
عن أنس بن مالك رضي الله عنه مرفوعاً: قال الناسُ: يا رسولَ الله، غَلَا السِّعْرُ فسَعِّرْ لنا، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إنَّ اللهَ هو المُسَعِّر القابضُ الباسطُ الرازقُ، وإني لأرجو أن ألقى اللهَ وليس أحدٌ منكم يُطالِبُني بمظلمةٍ في دمٍ ولا مالٍ». [صحيح] - [رواه أبو داود والترمذي وابن ماجه وأحمد]
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', Orang-orang berkata, "Wahai Rasulullah, harga-harga menjadi mahal. Tetapkanlah harga untuk kami?" Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Sesungguhnya Allah yang pantas menaikkan dan menurunkan harga, Dia-lah yang membatasi dan melapangkan rezeki. Aku harap dapat berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak seorang pun dari kalian yang menuntutku soal kezaliman dalam darah (nyawa) dan harta.”
[Hadis sahih] - [Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh Ahmad]
Hadis ini memberikan pelajaran penting: harga dapat berubah, tetapi jatah rezeki seorang hamba berada dalam ketetapan Allah.
Hal ini menunjukkan bahwa rezeki manusia memang berada dalam pengaturan Allah. Allah melapangkan dan menyempitkan rezeki sesuai dengan kehendak-Nya.
Karena itu, jangan mengira bahwa rezeki seseorang harus selalu naik atau selalu stabil. Dalam perjalanan hidup, rezeki dapat mengalami perubahan. Kadang naik, kadang turun. Namun, semuanya tetap berada dalam ketetapan Allah. Allah adalah Al-Qabidh dan Al-Basith, Dzat yang menyempitkan dan melapangkan.
Bagian Kedua: Bagaimana Sikap Seorang Muslim Saat Ekonomi Sulit?
Jika seseorang tidak mampu mengubah kondisi ekonomi dalam skala nasional, setidaknya ia dapat berusaha mengamankan dirinya dan keluarganya.
Hal pertama yang harus dijaga adalah agama.
Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengajarkan doa agar musibah yang menimpa kita tidak sampai menjadi musibah dalam agama.
وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا
- Latin: Wa laa taj'al mushiibatanaa fii diininaa, wa laa taj'alid-dunyaa akbaro hamminaa, wa laa mablagho 'ilminaa.
- Artinya: "Ya Allah, janganlah Engkau jadikan musibah menimpa agama kami, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai cita-cita terbesar kami, dan jangan pula Engkau jadikan dunia sebagai puncak ilmu kami."
Kerugian materi masih mungkin diganti. Namun, jika seseorang kehilangan agama dan iman, kerugiannya jauh lebih besar.
Karena itu, jangan sampai kesulitan ekonomi menyebabkan seseorang menjual agamanya.
Misalnya, seseorang pergi kepada dukun karena usahanya mengalami penurunan. Atau seseorang rela meninggalkan agamanya demi mendapatkan pekerjaan. Bahkan ada orang yang karena tekanan ekonomi mengalami stres berat hingga melakukan tindakan yang membahayakan dirinya.
Semua ini menunjukkan pentingnya menjaga iman ketika menghadapi kesulitan.
Jangan Menjual Agama demi Dunia
Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengingatkan tentang akan datangnya berbagai fitnah yang sangat gelap, hingga seseorang menjual agamanya demi mendapatkan sedikit kenikmatan dunia.
Karena itu, kedekatan dengan Allah harus semakin ditingkatkan ketika kondisi sedang sulit. Kesulitan dunia tidak berlangsung selamanya.
Hasan Al-Bashri rahimahullah memberikan nasihat bahwa dunia adalah tempat ujian sekaligus tempat yang akan berakhir, sedangkan akhirat adalah negeri balasan yang kekal.
Betapapun berat ujian yang dialami seseorang di dunia, ujian tersebut tetap memiliki batas. Tidak ada ujian dunia yang berlangsung selamanya. Karena itu, seorang muslim harus bersabar dan bertahan. Kita sedang menghadapi ujian kehidupan, bukan ujian yang abadi. Ada waktunya ujian tersebut dicabut oleh Allah atau kehidupan dunia kita berakhir.
Setelah itu, manusia akan memasuki kehidupan akhirat yang kekal. Maka, bersabarlah menghadapi ujian yang sementara demi mendapatkan balasan yang abadi.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا». [صحيح] - [رواه مسلم] - [صحيح مسلم: 118]
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Bersegeralah untuk beramal saleh sebelum datang berbagai fitnah seperti potongan-potongan malam yang gelap. Imbasnya, pada pagi hari seseorang masih beriman, namun di sore hari ia menjadi kafir. Atau, pada sore hari ia masih beriman, namun di pagi hari ia menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan secuil harta dunia." [Sahih] - [HR. Muslim - 118]
Jangan Mencari Jalan Keluar dengan Maksiat
Kesulitan ekonomi bukan alasan untuk melakukan kemaksiatan. Ketika seseorang mengalami kesulitan, jangan sampai ia justru mengambil jalan yang haram karena ingin mendapatkan hasil secara cepat.
Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengingatkan bahwa tidak ada satu jiwa pun yang akan mati sampai ia mendapatkan seluruh rezeki yang telah ditetapkan untuknya.
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ رُوْحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا ، فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ ، وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمْ اِسْتَبْطَاءَ الرِّزْقُ أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِي اللهَ ؛ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرِكُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ
“Sesungguhnya ruh qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya.” (HR. Musnad Ibnu Abi Syaibah 8: 129 dan Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 8: 166, hadits sahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah no. 2866).
Karena itu, jangan terburu-buru mengejar rezeki sebelum waktunya. Sikap tergesa-gesa dapat mendorong seseorang mengambil keputusan yang salah, termasuk mengambil pinjaman berbunga atau menggunakan transaksi yang haram.
Misalnya, seseorang mengalami kegagalan usaha lalu membutuhkan uang dengan cepat. Karena merasa tidak menemukan jalan keluar, ia mengambil pinjaman berbunga. Padahal, masalah yang satu belum tentu selesai. Justru dapat muncul masalah baru karena adanya bunga dan kewajiban tambahan.
Prinsipnya, seorang muslim harus berusaha mencari solusi yang halal. Adapun kondisi darurat memiliki pembahasan hukum tersendiri. Dalam keadaan yang benar-benar darurat dan tidak ditemukan alternatif yang halal, terdapat pembahasan dan fatwa ulama mengenai batasan-batasannya.
Namun, seseorang tidak boleh dengan mudah menganggap setiap kesulitan sebagai keadaan darurat. Selama belum mencapai kondisi darurat, ia harus berusaha bertahan dan mencari solusi yang halal.
UMKM sebagai Salah Satu Jalan Penguatan Ekonomi
Dalam konteks ekonomi masyarakat, salah satu sektor yang memiliki peran penting adalah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Karena itu, bagi orang yang sudah memiliki usaha meskipun masih dalam skala rumahan, sebisa mungkin dipertahankan.
Di tengah banyaknya perusahaan yang melakukan pengurangan tenaga kerja, pengembangan usaha pribadi dapat menjadi salah satu jalan bagi masyarakat untuk tetap produktif. Tidak berarti semua orang harus menjadi pengusaha. Namun, bagi yang sudah memiliki usaha, jangan terburu-buru membubarkannya hanya karena sedang mengalami masa sulit.
Berusaha mempertahankan usaha dan mengelolanya dengan baik merupakan salah satu ikhtiar yang dapat dilakukan.
Bagaimana dengan Investasi Saham Syariah?
Dalam sesi tanya jawab, salah seorang jamaah menanyakan mengenai investasi saham dan standar syariah.
Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan bahwa pembahasan saham memiliki perbedaan pendapat di kalangan ulama.
Jika menggunakan standar tertentu yang diterbitkan dalam pedoman syariah, terdapat beberapa kriteria yang harus diperhatikan, antara lain:
- Perusahaan tidak bergerak dalam bidang yang haram.
- Pendapatan yang berasal dari aktivitas haram memiliki batas tertentu.
- Aktivitas pendanaan maupun pembiayaan yang mengandung riba juga memiliki batas tertentu.
Beliau menjelaskan bahwa terdapat perbedaan antara standar yang digunakan oleh sejumlah lembaga syariah internasional dengan standar yang digunakan dalam penyaringan saham syariah di Indonesia.
Ada pula pendapat ulama yang lebih ketat, yaitu tidak membolehkan keterlibatan dalam perusahaan yang masih melakukan aktivitas haram. Karena itu, bagi seseorang yang ingin berinvestasi, penting untuk memahami dengan baik objek investasinya dan tidak sekadar mengejar keuntungan.
Beliau juga menyarankan agar modal dapat diarahkan pada usaha riil yang halal, meskipun setiap usaha tentu memiliki risiko.
Menjaga Keluarga Ketika Ekonomi Sulit
Kesulitan ekonomi tidak hanya berdampak pada penghasilan, tetapi juga dapat memengaruhi stabilitas rumah tangga. Tekanan ekonomi terkadang membuat suami maupun istri lebih mudah emosi, kecewa, atau kehilangan kesabaran. Dalam kondisi seperti ini, pasangan harus saling menguatkan.
Seorang istri perlu memahami bahwa suaminya bukanlah pihak yang menjamin rezekinya. Allah-lah yang menjamin rezeki. Suami hanyalah salah satu sebab yang Allah gunakan untuk menyampaikan rezeki kepada keluarga.
Karena itu, ketika penghasilan suami menurun, seorang istri seharusnya tetap menunjukkan rasa syukur dan memberikan dukungan, bukan justru memperburuk tekanan yang dirasakan suami.
Allah telah menjanjikan:
وَاِذۡ تَاَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَٮِٕنۡ شَكَرۡتُمۡ لَاَزِيۡدَنَّـكُمۡ وَلَٮِٕنۡ كَفَرۡتُمۡ اِنَّ عَذَابِىۡ لَشَدِيۡدٌ ٧
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat." (QS. Muhammad:7)
Syukur bukan berarti menganggap semua keadaan mudah. Syukur berarti tetap menghargai apa yang Allah berikan sambil terus berusaha mencari jalan keluar.
Kisah tentang Istri yang Qanaah
Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah bertemu dengan seorang pedagang kain. Pada pertemuan pertama, pedagang tersebut menawarkan barang dengan cara yang sangat berlebihan dan penuh ketergesaan.
Beberapa tahun kemudian, Hasan Al-Bashri bertemu lagi dengan pedagang yang sama. Namun, kali ini perangainya berubah menjadi lebih tenang dan santun. Hasan Al-Bashri pun bertanya apa yang menyebabkan perubahan tersebut.
Pedagang itu menjelaskan bahwa dahulu ia memiliki istri yang selalu mengeluh. Ketika pulang membawa sedikit penghasilan, istrinya marah. Ketika membawa banyak penghasilan, istrinya tetap menganggapnya sedikit.
Kemudian istrinya meninggal dunia dan Allah menggantinya dengan seorang istri yang qanaah.
Setiap kali ia hendak berangkat bekerja, istrinya memberikan pesan:
“Bertakwalah kepada Allah. Jangan berikan kepada kami kecuali makanan yang halal. Kami bisa bersabar terhadap kemiskinan, tetapi kami tidak bisa bersabar terhadap panasnya neraka.”
Pesan seperti itu memberikan ketenangan kepada suami. Ia merasa bahwa di rumah ada seseorang yang mendukungnya dan mengingatkannya untuk tetap mencari rezeki yang halal.
Karena itu, seorang istri memiliki peran besar dalam memberikan ketenangan kepada suami, terutama ketika kondisi ekonomi sedang sulit.
Ketika Suami Bekerja di Luar Negeri
Seorang jamaah wanita bertanya mengenai kondisi suami yang bekerja di luar negeri untuk memperbaiki ekonomi keluarga. Pada dasarnya, bekerja jauh dari keluarga bukanlah kondisi yang ideal. Suami dan istri memiliki berbagai kebutuhan yang sulit dipenuhi secara maksimal ketika berjauhan. Pendidikan dan pengasuhan anak juga dapat menjadi lebih berat.
Namun, apabila seorang istri ridha dengan kondisi tersebut, suami dapat bekerja jauh dari keluarga. Yang perlu diperhatikan adalah hak-hak istri tetap harus dijaga.
Dalam pembahasan mengenai lamanya seorang suami meninggalkan istri, disebutkan kisah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu yang pernah menetapkan batas waktu bagi pasukan yang ditugaskan jauh dari keluarga.
Dalam riwayat tersebut, ketika Umar mengetahui bahwa seorang wanita sangat merindukan suaminya, beliau bertanya kepada Hafshah radhiyallahu 'anha mengenai batas kesabaran seorang wanita ketika ditinggal suami. Disebutkan jawaban empat bulan.
Dari sini, apabila seorang istri sudah tidak sanggup menjalani hubungan jarak jauh, suami perlu mempertimbangkan kembali kondisi tersebut. Bisa jadi, penghasilan yang lebih kecil tetapi suami tinggal dekat dengan keluarga lebih baik bagi keluarga tersebut daripada penghasilan yang lebih besar tetapi harus hidup berjauhan dan menimbulkan masalah rumah tangga.
Tanya Jawab: Penghasilan Istri untuk Membantu Suami
Seorang jamaah bertanya apakah seorang istri boleh menggunakan penghasilannya untuk membantu perekonomian keluarga dan apakah hal itu akan mengurangi jatah rezeki suami.
Jawabannya, hal tersebut diperbolehkan dan dapat menjadi amal saleh bagi seorang istri. Bahkan terdapat kisah Zainab, istri Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhuma, yang bersedekah kepada suaminya.
Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa ia mendapatkan dua pahala: pahala sedekah dan pahala menjaga hubungan kekerabatan. Maka, seorang istri yang membantu suami dengan penghasilannya tidak berarti mengambil atau mengurangi jatah rezeki suaminya.
Rezeki telah ditetapkan oleh Allah.
Menjaga Pandangan di Tengah Banyaknya Fitnah
Dalam sesi tanya jawab lainnya, seorang jamaah mengakui bahwa dirinya masih kesulitan menjaga pandangan meskipun telah berusia lanjut. Ia sering sengaja melihat hal-hal yang tidak seharusnya dilihat dan meminta nasihat agar dapat meninggalkan kebiasaan tersebut.
Nasihat pertama adalah bahwa pengakuan terhadap kesalahan merupakan langkah awal menuju tobat. Kunci tobat adalah penyesalan. Ketika seseorang benar-benar menyesal, ia akan berusaha menjauh dari perbuatan yang menjadi sumber dosa.
Allah melarang manusia mendekati zina. Larangan tersebut menunjukkan bahwa seseorang harus menutup pintu-pintu yang mengantarkan kepada kemaksiatan. Semakin lama seseorang mempertahankan kebiasaan buruk, semakin sulit kebiasaan itu ditinggalkan.
Karena itu, perubahan harus dimulai sekarang. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah membatasi aktivitas yang membuka peluang terjadinya maksiat dan memperbanyak berada di rumah. Selain itu, seorang muslim perlu membangun rasa malu kepada Allah.
Penutup: Mahal tetapi Bisa Dibeli
Pada bagian akhir, Ustadz Ammi Nur Baits mengajak jamaah merenungkan hakikat rezeki.
Beliau memberikan pertanyaan: Mana yang lebih baik: barang murah tetapi tidak mampu kita beli, atau barang mahal tetapi mampu kita beli?
Tentu yang dapat kita jangkau itulah yang bermanfaat bagi kita. Karena itu, hakikat rezeki bukan semata-mata tentang mahal atau murah. Yang terpenting adalah apa yang Allah berikan dan dapat kita manfaatkan.
Para ulama terdahulu memiliki keyakinan yang kuat bahwa tugas utama seorang hamba adalah beribadah kepada Allah, sedangkan urusan rezeki berada dalam jaminan Allah.
Allah berfirman:
وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۗ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًاۗ نَحْنُ نَرْزُقُكَۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى ١٣٢
Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Kesudahan (yang baik di dunia dan akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa. (QS. Thaha : 132)
Allah juga berfirman bahwa Dia tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Nya, dan Allah-lah yang memberikan rezeki kepada seluruh makhluk.
Dengan demikian, terdapat dua hal yang harus kita pegang: Ada perintah untuk beribadah dan ada jaminan rezeki dari Allah.
Maka, jangan sampai kesulitan ekonomi membuat kita menyimpang dari jalan Allah. Jaga tauhid, jaga iman, jaga ketakwaan, dan jangan mencari jalan keluar dengan melanggar syariat.
Tujuan dari kajian ini bukan untuk menjanjikan bahwa setelah keluar dari masjid penghasilan seseorang akan langsung bertambah. Tujuannya adalah memberikan kekuatan batin agar kita mampu menghadapi ketakutan dan ketidakpastian ekonomi dengan iman dan tawakal.
Betapapun berat kondisi yang kita hadapi, jangan kehilangan harapan kepada Allah. Teruslah berusaha mencari rezeki yang halal, perbanyak istighfar, perkuat tawakal, dan tetap berpegang teguh kepada syariat.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan jalan keluar bagi kaum muslimin, melapangkan rezeki mereka, menjaga agama dan keluarga mereka, serta memberikan keberkahan dalam setiap usaha yang dilakukan.
Wallahu Ta'ala a'lam.
Poster Ringkasan

*****