Memuat tanggal...
Mandzumah Haiyyah

Mandzumah Haiyyah#13| Melihat Allah di Akhirat dan Ketauhidan dalam Surah Al-Ikhlas

Abu Afif
23 September 2026 9 mnt baca 5 tayangan
Mandzumah Haiyyah#13| Melihat Allah di Akhirat dan Ketauhidan dalam Surah Al-Ikhlas

Daftar isi

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

    📘 | Materi : Kitab Mandzumah Hā’iyyah - Imam Abu Bakar ‘Abdullah bin Abi Dawud As-Sijistāni Rahimahullah
    📖 | Syarah: Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan Hafidahullah | Download Kitab
    🎙| Bersama: Ustadz Adi Abdul Jabbar Hafidzahullah
    🗓 | Hari : Selasa, 11 Rabiul Akhir 1448 H / 22 September 2026 M
    🕰 | Waktu: Ba'da Maghrib - Isya'
    🕌 | Tempat: Masjid Al-Ikhlas Adi Sucipto.



     [رُؤْيَةُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ]

    Melihat Allah 'Azza wa Jalla

    Imam Abu Bakar ‘Abdullah bin Abi Dawud As-Sijistāni Rahimahullah berkata:

    ٦- وَقُلْ يَتَجَلَّى اللهُ لِلْخَلْقِ جَهْرَةً | كَمَا الْبَدْرُ لا یَخْفَی وَرَبُّكَ أَوْضَحُ

    6- Dan katakanlah: Allah akan menampakkan Diri-Nya kepada makhluk dengan jelas, sebagaimana bulan purnama yang tidak tersembuni, dan Rabmu lebih jelas.


    Melihat Allah (Rukyatullah): Prinsip Akidah Ahlussunnah wal Jama'ah 

    Perbedaan Antara Ru’yah dan Idrāk

    Imam Ibn Abi Dawud Al-Sijistani rahimahullah dalam karya beliau membahas mengenai penetapan ru’yatullah, yaitu keyakinan bahwa kaum mukminin akan melihat Allah Tabāraka wa Ta‘ālā di akhirat kelak.

    Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafidzahullah memberikan penjelasan terkait firman Allah Subhānahu wa Ta‘ālā:

    لَّا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ

    “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan.” (QS. Al-An'am: 103)

    Sebagian kelompok bersandarkan pada ayat ini untuk menyatakan bahwa Allah tidak dapat dilihat, baik di dunia maupun di akhirat. Namun, pendalilan tersebut tidak tepat. Dalam tata bahasa Arab, terdapat perbedaan mendasar antara kata idrāk dan ru’yah:

    • Ru’yah berarti sekadar melihat.
    • Idrāk berarti melihat sekaligus meliputi dan mencapai batasan objek yang dilihat dari segala sisi.

    Sebagai gambaran sederhana, seseorang dapat melihat matahari (ru'yah), tetapi ia tidak mampu meliputi (idrāk) seluruh batasan dan keagungan matahari tersebut. Jika terhadap sesama makhluk saja penglihatan manusia terbatas untuk meliputi (idrāk), terlebih lagi terhadap Sang Pencipta (Al-Khāliq).

    Oleh karena itu, ditiadakannya idrāk (meliputi) pada ayat di atas bukan berarti meniadakan ru'yah (melihat). Kaum mukminin kelak akan melihat Allah di akhirat, tetapi penglihatan mereka tidak akan mampu meliputi keagungan-Nya.

    Penjelasan Makna Firman Allah kepada Nabi Musa dan Hadis Bulan Purnama

    Mengenai firman Allah Subhānahu wa Ta‘ālā kepada Nabi Musa ‘alaihissalām:

    لَن تَرَانِي

    “Engkau tidak akan sanggup melihat-Ku…” (QS. Al-A'raf: 143)

    Para ahli bahasa menjelaskan bahwa huruf lan (لَنْ) pada ayat ini tidak berfungsi untuk peniadaan yang bersifat selamanya (an-nafyul mu'abbad), melainkan peniadaan yang bersifat sementara. Maksud dari ayat tersebut adalah Nabi Musa tidak dapat melihat Allah selama di dunia, sebab fisik manusia di dunia belum memiliki kemampuan untuk itu. Penglihatan kepada Allah baru akan dianugerahkan kepada kaum mukminin kelak di akhirat.

    Sebagaimana disebutkan dalam bait syair bait Matan Al-Hā’iyyah, Allah Subhānahu wa Ta‘ālā akan bertajalli (menampakkan diri-Nya) dan menyingkap hijab, sehingga kaum mukminin dapat melihat-Nya secara nyata. Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لَيْلَةَ الْبَدْرِ

    "Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan pada malam purnama."

    Maksud dari penyerupaan (tasybīh) dalam hadis ini adalah penyerupaan pada cara melihatnya (yaitu jelas, terang, dan tidak perlu berdesak-desakan), bukan menyerupakan Allah dengan bulan.

    Keagungan Surah Al-Ikhlas dan Pembagian Isi Al-Qur'an

    Imam Abu Bakar ‘Abdullah bin Abi Dawud As-Sijistāni Rahimahullah berkata:

    ٧- وَلَيْسَ بِمَوْلُودٍ وَلَيْسَ بِوَالِدٍ | وَلَيْسَ لَهُ شِبْهٌ تَعَالَی المُسَبَّحُ

    7- Allah tidak Beranak dan Tidak Diperanakan | Ia tidak diserupakan dengan yang lain. Maha Tinggi Allah lagi Maha Mulia.


    Nazam berikutnya menjelaskan prinsip tauhid yang disadur dari Surah Al-Ikhlas: Allah tidak beranak, tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.

    Surah Al-Ikhlas
    بِسْــــــــــــــــــــمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِـــــــــــــــــــــــيمِ
    (1) Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa.   قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ 
    (2) Allah tempat meminta segala sesuatu.   اللَّهُ الصَّمَدُ 
    (3) (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan,   لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ 
    (4) dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia."   وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ 

    Surah ini dinamakan Al-Ikhlas karena kandungannya murni membicarakan tauhid, sebagaimana Ayat Kursi menjadi ayat paling agung (a‘dzamu āyatin) karena seluruh isinya menjelaskan tentang rubūbiyyah, ulūhiyyah, serta asmā’ wa shifāt Allah.

    Dalam hadis riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa Surah Al-Ikhlas setara dengan sepertiga Al-Qur'an (thuluthul Qur'ān). Para ulama menjelaskan bahwa kesetaraan ini berlaku dalam hal balasan atau pahala (fil-jazā’), bukan menggantikan keabsahan pembacaan seluruh Al-Qur'an (fil-ijzā’).

    Hadis-Hadis yang menunjukkan Al-Ikhlas sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an

    Pertama: Dari sahabat Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu, ada seorang lelaki yang mendengar laki-laki lain membaca surah Al-Ikhlas dengan diulang-ulang. Pada keesokan harinya, ia mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan melaporkannya, seakan ia menganggap remeh surah Al-Ikhlas. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

    وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

    “Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, ia sebanding dengan sepertiga Al-Qur`an.” (HR. Bukhari no. 5013, Abu Dawud no. 1461, Nasa’i no. 995 dan Ahmad no. 11306)

    Kedua: Dari sahabat Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ فِي لَيْلَةٍ ثُلُثَ الْقُرْآنِ؟

    “Apakah salah seorang dari kalian tidak mampu untuk membaca sepertiga Al-Qur`an dalam satu malam?“

    Maka, para sahabat pun berkata, “Bagaimana caranya kami bisa membaca sepertiga Al-Qur’an?”

    Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda,

    قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

    “Qulhuwallahu ahad (surah Al-Ikhlas) sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Muslim no. 811)

    Ketiga: Di hadis yang lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    احْشُدُوا فَإِنِّي سَأَقْرَأُ عَلَيْكُمْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

    “Berkumpullah, sungguh aku akan membacakan kepada kalian sepertiga Al-Qur’an.”

    Lalu, mereka satu per satu berkumpul. Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dan membaca Qulhuwallahu ahad (surah Al-Ikhlas), lalu beliau masuk lagi. Sebagian sahabat pun berbisik kepada sahabat lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda,

    فإنِّي سأقرأُ علَيكُم ثُلثَ القرآنِ إنِّي لأرَى هذا خبرًا جاءَ منَ السَّماءِ. ثمَّ خرجَ نبيُّ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ فقالَ : إنِّي قلتُ سأقرأُ علَيكُم ثُلثَ القرآنِ ، ألَا وإنَّها تعدِلُ بثُلثِ القرآنِ

    “Sungguh aku akan membacakan kepada kalian sepertiga Al-Qur’an. Sungguh aku mendapatkan kabar ini datang dari langit. Kemudian beliau keluar, lalu bersabda, “Sungguh aku berkata, aku akan membacakan kepada kalian sepertiga Al-Qur’an. Ketahuilah, bahwa surah ini sama dengan sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Muslim no. 812)

    Para ulama membagi kandungan Al-Qur'an menjadi tiga bagian utama:

    1. Tauhid: Ayat-ayat yang memberitakan tentang Allah, keagungan-Nya, kewajiban beribadah hanya kepada-Nya, serta larangan berbuat syirik.
    2. Hukum Syariat (Al-Ahkām): Perintah dan larangan yang mengatur masalah halal dan haram, seperti thaharah, shalat, zakat, puasa, haji, muamalah, hingga pernikahan dan waris.
    3. Kisah dan Berita (Al-Akhbār): Kabar tentang para rasul, umat-umat terdahulu (seperti kaum 'Ad, Tsamud, dan Bani Israil), serta berita hal gaib mengenai surga dan neraka.

    Surah Al-Ikhlas setara dengan sepertiga Al-Qur'an karena secara khusus memurnikan pembahasannya pada bagian pertama, yaitu Tauhidullah. Yaitu berita tentang Allah ta'aala, berita tentang DiriNya. Maka surat Al-Ikhlas ini adalah sepertiga Al-Qur'an dalam hal keutamaan (Fadhl) karena isinya secara khusus membahas tentang tauhidullah  (rubūbiyyah, ulūhiyyah, serta asmā’ wa shifāt Allah).

    Prinsip An-Nafyu dan Al-Isthbāt dalam Tauhid

    Kesempurnaan tauhid harus mencakup dua pilar utama, yaitu An-Nafyu (peniadaan) dan Al-Ishbāt (penetapan). Jika hanya ada peniadaan, maka akan berujung pada penolakan keberadaan Allah (ta‘thīl). Sebaliknya, jika hanya ada penetapan tanpa peniadaan penyamaan, dapat menjerumuskan pada penyerupaan Allah dengan makhluk (tamthīl).

    Surah Al-Ikhlas merangkum kedua pilar ini dengan sempurna:

    • Penetapan (Al-Ishbāt):
      • “Qul huwallāhu aḥad” – Menetapkan keesaan Allah dalam rubūbiyyah, ulūhiyyah, serta asmā’ wa shifāt.
      • “Allāhuṣ-ṣamad” – Menetapkan bahwa Allah adalah Dzat tempat bergantung seluruh makhluk untuk memenuhi segala kebutuhan mereka.
    • Peniadaan (An-Nafyu):
      • “Lam yalid wa lam yūlad, wa lam yakul lahū kufuwan aḥad” – Meniadakan sifat beranak, diperanakkan, serta meniadakan adanya tandingan atau kesetaraan bagi Allah.

    Bantahan Terhadap Tiga Golongan yang Menisbatkan Anak Kepada Allah

    Penetapan bahwa Allah tidak beranak sekaligus menjadi bantahan tegas terhadap tiga golongan manusia yang menisbatkan anak kepada Allah:

    1. Kaum Nasrani: Yang mengklaim bahwa Nabi Isa ‘alaihissalām adalah anak Allah.
    2. Kaum Yahudi: Yang mengklaim bahwa Uzair adalah anak Allah.
    3. Kaum Musyrikin: Yang mengklaim bahwa para malaikat adalah anak-anak perempuan Allah.

    Allah menolak klaim tersebut dan membantah sikap orang-orang musyrik yang membenci anak perempuan hingga tega menguburnya hidup-hidup, namun justru menisbatkan anak-anak perempuan kepada Allah.

    Klaim kaum Nasrani (bahwa Nabi Isa adalah anak Allah) dan kaum Yahudi (bahwa Uzair adalah anak Allah) disebutkan bersamaan dalam Surah At-Tawbah ayat 30:

    وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

    "Dan orang-orang Yahudi berkata, 'Uzair anak Allah,' dan orang-orang Nasrani berkata, 'Al-Masih anak Allah.' Itulah ucapan yang keluar dari mulut mereka. Mereka meniru ucapan orang-orang kafir terdahulu. Allah melaknat mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?" (QS. At-Tawbah: 30)

    Klaim kaum musyrikin Arab bahwa malaikat adalah anak-anak perempuan Allah disebutkan dalam beberapa ayat, salah satunya Surah Az-Zukhruf ayat 19:

    وَجَعَلُوا الْمَلَائِكَةَ الَّذِينَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمَٰنِ إِنَاثًا ۚ أَشَهِدُوا خَلْقَهُمْ ۚ سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْئَلُونَ

    "Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih itu sebagai perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan (malaikat-malaikat itu)? Kesaksian mereka akan dituliskan dan mereka akan dimintai pertanggungjawaban." (QS. Az-Zukhruf: 19)

    Sesi Tanya Jawab ringkas

    Pertanyaan 1: Kapan Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengucapkan "Ummati, ummati"? Seruan tersebut diucapkan oleh Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa sallam ketika manusia dibangkitkan di Padang Mahsyar. Ini merupakan keistimewaan khusus bagi beliau. Pada saat seluruh nabi dan rasul sibuk memikirkan keselamatan diri masing-masing (nafsī, nafsī), Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa sallam memikirkan keselamatan umatnya.

    Pertanyaan 2: Bagaimana ikatan persaudaraan sesama muslim dijaga? Persaudaraan (al-ukhuwwah) antar-kaum mukminin dibangun di atas landasan iman dan kalimat tauhid, bukan atas dasar suku, kelompok, atau kabilah. Setiap muslim wajib mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Meski demikian, rasa cinta dan ikatan persaudaraan ini tidak menghalangi kewajiban untuk saling menasihati dalam kebaikan (tawāṣau bil-ḥaqq), bersabar, serta menegakkan amar ma'ruf nahi munkar jika terdapat kekeliruan.

     

    •┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

    “Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

    وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

    Penulis:
    Abu Afif
    Share: