Memuat tanggal...
Mandzumah Haiyyah

Mandzumah Haiyyah#9 | Akidah Ahlus Sunnah: Menegaskan Al-Qur'an Adalah Kalamullah dan Bukan Makhluk

Abu Afif
22 September 2026 6 mnt baca 2 tayangan
Mandzumah Haiyyah#9 | Akidah Ahlus Sunnah: Menegaskan Al-Qur'an Adalah Kalamullah dan Bukan Makhluk

Daftar isi

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

    📘 | Materi : Kitab Mandzumah Hā’iyyah - Imam Abu Bakar ‘Abdullah bin Abi Dawud As-Sijistāni Rahimahullah
    📖 | Syarah: Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan Hafidahullah | Download Kitab
    🎙| Bersama: Ustadz Adi Abdul Jabbar Hafidzahullah
    🗓 | Hari : Selasa, 14 Safar 1448 H /  28 Juli 2026 M
    🕰 | Waktu: Ba'da Maghrib - Isya'
    🕌 | Tempat: Masjid Al-Ikhlas Adi Sucipto.



     [عَقِيدَةُ السَّلَفِ فِي كَلامِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ]

    Aqidah Salaf terhadap Kalamullah 'Azza wa Jalla

    Imam Abu Bakar ‘Abdullah bin Abi Dawud As-Sijistāni Rahimahullah berkata:

        ٣- وَقُلْ: غَيْرُ مَخْلُوقٍ كَلامُ مَلِيكِنَا بِذَلِكَ دَانَ الأَثْقِيَاءُ وَأَفْصَحُوا

    3. “Dan katakanlah bahwa Kalam (perkataan) Raja Kita (Allah) bukanlah makhluk; dengan keyakinan itulah orang-orang yang bertakwa,  beragama dan menyatakannya.”


    Akidah Ahlus Sunnah: Meneladani Keyakinan Bahwa Al-Qur'an Adalah Kalamullah dan Bukan Makhlukh 

    Persoalan akidah mengenai Al-Qur'an merupakan salah satu fondasi utama dalam ajaran Islam. Pembahasan ini merujuk pada penjelasan Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah saat mengulas bait ketiga dari bait-bait sya'ir akidah. Beliau menegaskan bahwa menurut akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, Al-Qur'anul Karim adalah Kalamullah (perkataan Allah) dan bukan makhluk (ghairu makhluq).

    Ahlus Sunnah meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala memiliki sifat Kalam (berbicara). Allah berbicara sesuai dengan kehendak-Nya, kapan pun Dia inginkan. Allah telah berbicara kepada Malaikat Jibril, Nabi Musa 'alaihissalam, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, serta kelak akan berbicara kepada kaum mukminin di surga.

    Sebaliknya, kelompok-kelompok yang menyimpang—seperti Jahmiyah dan Mu'tazilah—menyatakan bahwa Al-Qur'an adalah makhluk karena mereka meniadakan sifat-sifat Allah (ta'thil). Kelompok lain seperti Asy'ariyah, Maturidiyah, dan Kullabiyah juga memiliki pandangan tersendiri yang divergen dari penetapan utuh Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

    Konsekuensi Batal Menolak Sifat Kalam Bagi Allah

    Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan bahwa zat yang tidak berbicara tidak layak memiliki sifat Rububiyah (ketuhanan yang mengatur) maupun Uluhiyah (ketuhanan yang diibadahi). Meniadakan sifat berbicara merupakan bentuk penyifatan kekurangan (naqsh) bagi Allah. Manusia saja dianggap memiliki kekurangan jika tidak bisa berbicara, maka bagaimana mungkin Rabb semesta alam ditiadakan sifat berbicara-Nya?

    Jika Allah dianggap tidak berbicara, bagaimana Dia memberikan perintah, melarang, atau mengatur alam semesta? Menolak sifat Kalam sama saja dengan menganggap Allah lemah (ta'jiz), dan ini mengandung konsekuensi-konsekuensi (lawazim) yang sangat batil.

    Padahal, Allah Subhanahu wa Ta meyakinkan luasnya firman-Nya di dalam Al-Qur'an:

    قُلْ لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمٰتِ رَبِّيْ لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ اَنْ تَنْفَدَ كَلِمٰتُ رَبِّيْ وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهٖ مَدَدًا ۝١٠٩

    Katakanlah (Nabi Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, niscaya habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Tuhanku selesai (ditulis) meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).”(QS. Al-Kahfi: 109)

    وَلَوْ اَنَّ مَا فِى الْاَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ اَقْلَامٌ وَّالْبَحْرُ يَمُدُّهٗ مِنْۢ بَعْدِهٖ سَبْعَةُ اَبْحُرٍ مَّا نَفِدَتْ كَلِمٰتُ اللّٰهِۗ 

    “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah…” (QS. Luqman: 27)

    Kalimat-kalimat Allah—yang digunakan untuk memerintah, melarang, dan mengatur—tidak akan pernah habis dan tidak mungkin dapat ditampung oleh tinta maupun pena seluruh dunia. Jika Al-Qur'an dianggap makhluk, adakah makhluk yang memiliki keagungan seperti ini?

    Kedudukan Al-Qur'an dan Hukum Menganggapnya Makhluk

    Pernyataan bahwa Al-Qur'an adalah makhluk berakibat pada konsekuensi berbahaya:

    1. Meniadakan kedudukan Al-Qur'an sebagai sumber dalil utama. Al-Qur'an adalah aslul awal (dasar pertama) dari ajaran Islam. Jika Al-Qur'an dianggap makhluk, kedudukannya menjadi sejajar dengan perkataan manusia atau makhluk lainnya, sehingga tidak bisa lagi dijadikan landasan hukum yang sah.
    2. Kufurnya keyakinan tersebut. Oleh karena itu, para imam Ahlus Sunnah secara tegas menyatakan: “Barang siapa yang mengatakan Al-Qur'an adalah makhluk, maka dia telah kafir,” sebab ia telah mengingkari sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala.

    Akar Sejarah Pemikiran "Al-Qur'an Makhluk"

    Sebagaimana dipaparkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam risalah Al-Hamawiyah, pemikiran yang meniadakan sifat Allah ini pada hakikatnya bersumber dari penyimpangan kaum Yahudi.

    Silsilah pemikiran ini berjalan dari Jahm bin Safwan, yang mengadopsinya dari Al-Ja'ad bin Dirham. Al-Ja'ad mempelajarinya dari Aban bin Sam'an, dan Aban mendapatkannya dari Thalut (keponakan Labid bin Al-A'sham, seorang Yahudi yang pernah menyihir Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam).

    Kaum Yahudi memiliki rekam jejak merusak dan mengubah perkataan Allah (tahrif), sebagaimana firman-Nya:

    يُحَرِّفُوْنَ الْكَلِمَ عَنْ مَّوَاضِعِهٖۙ

    “...mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya…” (QS. Al-Ma'idah: 13)

    Tujuan utama di balik penuangan syubhat bahwa Al-Qur'an adalah makhluk adalah untuk meruntuhkan dan membatalkan keabsahan Al-Qur'an yang ada di tangan umat Islam.

    Membantah Tanggapan Bahwa Ini "Masalah Sepele"

    Di era modern, sebagian penulis atau cendekiawan menganggap perdebatan mengenai Kalamullah atau makhluk sebagai hal yang tidak penting (fudulil kalam), serta merasa isu ini tidak perlu dibahas lagi.

    Syaikh Al-Fauzan menegaskan bahwa menganggap sepele masalah ini adalah pandangan yang batil. Masalah akidah adalah kunci keselamatan seseorang di dunia dan akhirat. Penilaian yang meremehkan persoalan ini timbul karena dua kemungkinan:

    • Kejahilan (ketidaktahuan): Orang tersebut tidak memahami bahaya konsekuensi dari paham peniada sifat Allah.
    • Sikap pura-pura bodoh (mutajahil): Orang tersebut memang ingin menyembunyikan kebatilan agar paham-paham menyimpang seperti Jahmiyah dan Mu'tazilah tidak dibantah.

    Demikian pula frasa "kebebasan berpendapat" kerap dijadikan alasan untuk melarang umat Islam membantah kebatilan. Jika semua pemikiran dibiarkan tanpa ada klarifikasi dan kebenaran tidak ditegaskan, maka kerancuan dan kekacauan akidah akan merajalela di tengah masyarakat.

    Oleh karena itu, para imam mazhab—baik Hanafi, Maliki, Syafi'i, maupun Hambali—telah sepakat (ijma') dalam menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah Kalamullah ghairu makhluk. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah bahkan rela dipenjara dan disiksa sepanjang tiga masa kekhalifahan (Al-Ma'mun, Al-Mu'tasim, dan Al-Watsiq) demi mempertahankan prinsip dasar ini agar tetap terjaga bagi umat Islam.

    Sanggahan terhadap Syubhat-Syubhat Lain

    Dalam sesi tanya jawab kajian, terdapat beberapa syubhat lain yang turut diluruskan:

    1. Syubhat "Segala sesuatu selain Allah adalah makhluk": Ada pihak yang menggunakan logika generalisasi ini untuk menggiring opini bahwa Al-Qur'an (yang berwujud mushaf di depan mata) adalah makhluk. Ini merupakan syubhat gaya Mu'tazilah. Jawaban atas hal ini adalah: Al-Qur'an yang dibaca, dihafal, dan ditulis pada lembaran-lembaran tetap merupakan Kalamullah (ucapan Allah), bukan ciptaan.
    2. Syubhat Ghulatul Jahmiyah tentang Keberadaan Allah: Kelompok ekstrem Jahmiyah menyatakan Allah tidak boleh disifati "ada" (karena dianggap menyerupai makhluk yang ada) dan tidak boleh disifati "tidak ada" (karena menyerupai hal yang tidak ada). Para ulama membantah bahwa pandangan ini justru menyerupakan Allah dengan mustahilat (sesuatu yang secara akal mustahil/tidak mungkin terjadi).
    3. Mengenai Keberadaan Allah di Atas 'Arsy: Ahlus Sunnah meyakini Allah beristiwa di atas 'Arsy sesuai dengan keagungan-Nya, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Terkait penggunaan istilah seperti "tempat" (makan) atau "arah" (jihah) yang tidak ada dalam lafaz syariat, hendaknya diperinci: jika yang dimaksud tempat/arah adalah seperti kondisi makhluk, maka ditiadakan; namun jika yang dimaksud adalah kehatian bahwa Allah Mahatinggi di atas seluruh makhluk-Nya, maka hal itu benar.

    Mana yang Lebih Utama: Belajar Membaca Al-Qur'an atau Bahasa Arab?

    Sebagai penutup, ditekankan bahwa prioritas utama bagi seorang muslim adalah belajar membaca Al-Qur'an terlebih dahulu. Membaca Al-Qur'an merupakan ibadah mulia dan zikir yang paling utama (afdaluz zikr).

    Setelah seseorang mampu membaca Al-Qur'an dengan benar, langkah selanjutnya adalah mendalami terjemahan, membaca tafsirnya, serta mempelajari bahasa Arab untuk memperdalam pemahaman dan tadabur terhadap isi kandungan ayat-ayat Allah. Wallahu a'lam bish-shawab.

    •┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

    “Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

    وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

    Penulis:
    Abu Afif
    Share: