Memuat tanggal...
Mandzumah Haiyyah

Mandzumah Haiyyah#12 | Akidah Ahlussunnah wal Jama'ah: Melihat Allah (Rukyatullah)

Abu Afif
22 September 2026 6 mnt baca 4 tayangan
Mandzumah Haiyyah#12 | Akidah Ahlussunnah wal Jama'ah: Melihat Allah (Rukyatullah)

Daftar isi

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

    📘 | Materi : Kitab Mandzumah Hā’iyyah - Imam Abu Bakar ‘Abdullah bin Abi Dawud As-Sijistāni Rahimahullah
    📖 | Syarah: Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan Hafidahullah | Download Kitab
    🎙| Bersama: Ustadz Adi Abdul Jabbar Hafidzahullah
    🗓 | Hari : Selasa, 26 Rabiul Awal 1448 H / 8 September 2026 M
    🕰 | Waktu: Ba'da Maghrib - Isya'
    🕌 | Tempat: Masjid Al-Ikhlas Adi Sucipto.



     [رُؤْيَةُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ]

    Melihat Allah 'Azza wa Jalla

    Imam Abu Bakar ‘Abdullah bin Abi Dawud As-Sijistāni Rahimahullah berkata:

    ٦- وَقُلْ يَتَجَلَّى اللهُ لِلْخَلْقِ جَهْرَةً | كَمَا الْبَدْرُ لا یَخْفَی وَرَبُّكَ أَوْضَحُ

    6- Dan katakanlah: Allah akan menampakkan Diri-Nya kepada makhluk dengan jelas, sebagaimana bulan purnama yang tidak tersembuni, dan Rabmu lebih jelas.


    Melihat Allah (Rukyatullah): Prinsip Akidah Ahlussunnah wal Jama'ah 

    Setelah sebelumnya membahas kedudukan Al-Qur'an sebagai kalamullah yang bukan makhluk, Imam Ibnu Abi Daud As-Sijistani rahimahullah dalam bait keenam Manzumah Al-Ha'iyah masuk pada pembahasan penting lainnya dalam akidah Ahlussunnah wal Jama'ah, yaitu tentang rukyatullah (kemampuan melihat Allah Subhanahu wa Ta'ala).

    Beliau rahimahullah berkata:

    "Dan katakanlah: Allah menampakkan diri-Nya kepada makhluk secara nyata, sebagaimana bulan purnama yang tidak tersembunyi, dan Rabbmu tentu lebih jelas."

    Bait ini menegaskan keyakinan Ahlussunnah wal Jama'ah bahwa kaum mukminin kelak akan melihat Allah secara langsung di akhirat. Penglihatan ini merupakan nikmat tertinggi dan paling agung yang Allah anugerahkan kepada para penghuni surga.

    Tiga Pandangan Mengenai Rukyatullah

    Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa terdapat tiga kelompok utama dalam menyikapi permasalahan apakah manusia dapat melihat Allah:

    1. Jahmiyah dan Mu'tazilah (Meniadakan Secara Mutlak): Kelompok ini menolak rukyatullah baik di dunia maupun di akhirat. Logika pemikiran mereka didasarkan pada anggapan bahwa sesuatu yang dapat dilihat pastilah memiliki jisim (bentuk fisik material), sedangkan Allah disucikan dari jisim. Karena beragama dengan mengedepankan akal semata di atas dalil, mereka akhirnya sampai pada kesimpulan yang sesat dengan mengingkari ayat dan hadis tentang rukyatullah.
    2. Sebagian Kelompok Sufi (Menetapkan di Dunia dan Akhirat): Berada di kutub ekstrem sebaliknya, sebagian pengikut sufisme meyakini bahwa Allah dapat dilihat di dunia maupun di akhirat. Sikap berlebih-lebihan (ghuluw) ini berakar dari keyakinan yang tidak berpijak pada dalil syari, melainkan pada perasaan semata. Paham ini bahkan menggiring sebagian dari mereka pada keyakinan menyimpang seperti Wahdatul Wujud (menyatunya makhluk dengan Sang Pencipta).
    3. Ahlussunnah wal Jama'ah (Pandangan yang Haq): Ahlussunnah menetapkan bahwa Allah tidak dapat dilihat di dunia, tetapi kelak akan dilihat oleh kaum mukminin di akhirat (di dalam surga). Penetapan ini berlandaskan dalil-dalil dari Al-Qur'an dan Hadis Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang berstatus mutawatir (diriwayatkan melalui banyak jalur yang shahih).

    Mengapa Allah Tidak Dapat Dilihat di Dunia?

    Manusia tidak mampu melihat Allah di dunia bukan karena Allah tidak ada, melainkan karena keterbatasan fisik dan kemampuan penglihatan manusia selama hidup di alam dunia.

    Keterbatasan ini dapat dipahami dari kisah Nabi Musa alaihissalam yang termaktub dalam Al-Qur'an:

    وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِىٓ أَنظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِى وَلَٰكِنِ ٱنظُرْ إِلَى ٱلْجَبَلِ فَإِنِ ٱسْتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوْفَ تَرَىٰنِى ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبْحَٰنَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلْمُؤْمِنِينَ

    Wa lammā jā`a mụsā limīqātinā wa kallamahụ rabbuhụ qāla rabbi arinī anẓur ilaīk, qāla lan tarānī wa lākininẓur ilal-jabali fa inistaqarra makānahụ fa saufa tarānī, fa lammā tajallā rabbuhụ lil-jabali ja'alahụ dakkaw wa kharra mụsā ṣa'iqā, fa lammā afāqa qāla sub-ḥānaka tubtu ilaika wa ana awwalul-mu`minīn

    Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".  (QS. Al-A'raf ayat 143).

    Perubahan Fisik dan Pemuliaan bagi Penghuni Surga

    Adapun di akhirat kelak, Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memberikan kekuatan baru dan khusus kepada para penghuni surga. Keadaan manusia di akhirat tidak dapat dianalogikan (diqiaskan) dengan fisik mereka selama di dunia—sebagaimana postur tubuh manusia saat dibangkitkan kelak setinggi 60 hasta.

    Dengan kekuatan khusus tersebut, Allah memuliakan kaum mukminin yang dahulu beriman kepada-Nya di dunia tanpa pernah melihat-Nya, dengan cara menampakkan diri-Nya di surga agar mereka dapat merasakan kelezatan tertinggi dengan memandang Wajah-Nya.

    Sebaliknya, orang-orang kafir akan terhalangi dari nikmat ini. Allah Berfirman:

    كَلَّآ اِنَّهُمْ عَنْ رَّبِّهِمْ يَوْمَىِٕذٍ لَّمَحْجُوْبُوْنَ

    Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka. (QS. Al-Mutaffifin: 15)

    Ayat ini secara implisit (pemahaman terbalik - مفهوم المخالفة) menegaskan bahwa jika orang kafir terhalang dari melihat Allah, maka kaum mukminin tidak terhalang untuk melihat-Nya. Apabila kaum mukminin juga tidak dapat melihat Allah, niscaya tidak ada perbedaannya antara orang beriman dan orang kafir di akhirat.

    Cara Melihat, Bukan Menyamakan Dzat

    Dalam hadis sahih, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

    إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لَيْلَةَ الْبَدْرِ

    "Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini (pada malam purnama)..."

    Para ulama memberikan penekanan penting pada kalimat tersebut:

    • Penyerupaan Cara Melihat (Tasybihur Rukyah bi Rukyah): Kalimat tersebut menyerupakan proses atau cara melihatnya, yaitu terang, jelas, tanpa penghalang, dan tanpa perlu berdesak-desakan.
    • Bukan Penyerupaan Zat (Laa Tasybihul Mar'i bil Mar'i): Perumpamaan ini sama sekali tidak menyerupakan Allah dengan bulan atau matahari. Maha Suci Allah dari segala bentuk penyerupaan dengan makhluk-Nya.

    Kesimpulan

    Ahlussunnah wal Jama'ah menerima dan menetapkan akidah rukyatullah ini secara taslim (tunduk pada dalil Al-Qur'an dan As-Sunnah) tanpa bagaimanakah (takyiif) bentuknya, tanpa membagaimanakah caranya, dan tanpa menyerupakannya dengan makhluk (tatsbiih). Melihat Wajah Allah Subhanahu wa Ta'ala kelak di surga adalah bentuk keutamaan dan nikmat terbesar bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.

    •┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

    “Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

    وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

    Penulis:
    Abu Afif
    Share: