Memuat tanggal...
Mandzumah Haiyyah

Mandzumah Haiyyah#8 | Akidah Ahlus Sunnah: Meneladani Keyakinan Bahwa Al-Qur'an Adalah Kalamullah dan Bukan Makhluk

Abu Afif
22 September 2026 6 mnt baca 4 tayangan
Mandzumah Haiyyah#8 | Akidah Ahlus Sunnah: Meneladani Keyakinan Bahwa Al-Qur'an Adalah Kalamullah dan Bukan Makhluk

Daftar isi

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

    📘 | Materi : Kitab Mandzumah Hā’iyyah - Imam Abu Bakar ‘Abdullah bin Abi Dawud As-Sijistāni Rahimahullah
    📖 | Syarah: Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan Hafidahullah | Download Kitab
    🎙| Bersama: Ustadz Adi Abdul Jabbar Hafidzahullah
    🗓 | Hari : Selasa, 29 Muharam 1448 H /  14 Juli 2026 M
    🕰 | Waktu: Ba'da Maghrib - Isya'
    🕌 | Tempat: Masjid Al-Ikhlas Adi Sucipto.



     [عَقِيدَةُ السَّلَفِ فِي كَلامِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ]

    Aqidah Salaf terhadap Kalamullah 'Azza wa Jalla

    Imam Abu Bakar ‘Abdullah bin Abi Dawud As-Sijistāni Rahimahullah berkata:

        ٣- وَقُلْ: غَيْرُ مَخْلُوقٍ كَلامُ مَلِيكِنَا بِذَلِكَ دَانَ الأَثْقِيَاءُ وَأَفْصَحُوا

    3. “Dan katakanlah bahwa Kalam (perkataan) Raja Kita (Allah) bukanlah makhluk; dengan keyakinan itulah orang-orang yang bertakwa,  beragama dan menyatakannya.”


    Akidah Ahlus Sunnah: Meneladani Keyakinan Bahwa Al-Qur'an Adalah Kalamullah dan Bukan Makhlukh 

    Dalam melanjutkan kajian kitab Syarah Manzhumah Al-Ha'iyyah karya Al-Imam Ibn Abi Daud As-Sijistani rahimahullah—sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah—kita kembali mengulas bait ketiga yang membahas tentang dasar-dasar akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah terkait Al-Qur'anul Karim:

    “Dan katakanlah bahwa Kalam (perkataan) Raja Kita (Allah) bukanlah makhluk; dengan keyakinan itulah orang-orang yang bertakwa beragama dan menyatakannya.”

    Makna Sandaran (Idhafah) Al-Qur'an dalam Al-Qur'an

    Di dalam Al-Qur'an, terdapat ayat yang menyandarkan Al-Qur'an kepada utusan dari kalangan malaikat (Jibril 'alaihissalam):

    اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ ۝١٩

    “Sesungguhnya Al-Qur'an itu benar-benar firman (yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril).” (QS. At-Takwir: 19)

    Di ayat lain, Al-Qur'an juga disandarkan kepada utusan dari kalangan manusia (Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam):

    اِنَّهٗ لَقَوۡلُ رَسُوۡلٍ كَرِيۡمٍۚ ۙ‏ ٤٠ وَّمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَاعِرٍ​ؕ قَلِيۡلًا مَّا تُؤۡمِنُوۡنَۙ‏ ٤١

    “Sesungguhnya Al-Qur'an itu adalah benar-benar wahyu yang diturunkan kepada Rasul yang mulia, dan Al-Qur'an itu bukanlah perkataan seorang penyair.” (QS. Al-Haqqah: 40-41)

    Penyandaran (idhafah) ini sama sekali tidak berarti bahwa Al-Qur'an adalah ciptaan atau perkataan Malaikat Jibril maupun Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Kedudukan keduanya dalam hal ini adalah idhafatut-tabligh, yakni penyandaran dalam kapasitas sebagai penyampai (muballigh) wahyu Allah.

    Satu kaidah penting dalam bahasa dan syariat menegaskan: Perkataan (kalam) selalu disandarkan kepada pihak yang pertama kali mengucapkannya (mubtadi'an), bukan kepada pihak yang hanya meneruskan atau menyampaikannya (muballighan).

    Sebagai ilustrasi, jika seorang pengajar menitipkan pesan nasihat melalui seorang murid untuk disampaikan kepada murid-murid lainnya, nasihat tersebut tetaplah perkataan sang pengajar, bukan hasil pemikiran murid yang mengantarkannya. Karena itu, Al-Qur'an secara mutlak adalah Kalamullah (perkataan Allah)—Allah-lah yang berfirman dengannya pertama kali—sementara Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bertindak sebagai penyampai amanah risalah tersebut.

    Al-Qur'an Adalah Kalamullah yang Diturunkan (Munazzal)

    Seluruh umat Islam sepakat tanpa ragu bahwa Al-Qur'an adalah Kalamullah yang diturunkan (munazzal) dan bukan makhluk (ghairu makhluq). Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskan sifat Al-Qur'an sebagai firman-Nya dalam berbagai ayat:

    وَاِنْ اَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِيْنَ اسْتَجَارَكَ فَاَجِرْهُ حَتّٰى يَسْمَعَ كَلٰمَ اللّٰهِ

    • “Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar Kalamullah (Al-Qur'an).” (QS. At-Taubah: 6)

    يُرِيْدُوْنَ اَنْ يُّبَدِّلُوْا كَلٰمَ اللّٰهِۗ 

    • “Mereka hendak mengubah Kalamullah (janji Allah).” (QS. Al-Fath: 15)

    Sanggahan Terhadap Pandangan Asy-'ariah

    Kelompok Asy-'ariah beranggapan bahwa Malaikat Jibril mengambil Al-Qur'an dari Lauhul Mahfuz, bukan mendengarnya langsung dari Allah.

    Pandangan ini dibantah oleh para ulama Ahlus Sunnah, di antaranya oleh Syekh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah dalam risalah beliau Al-Jawab Al-Wadhih Al-Mustaqim fi Kaifiyyati Nuzulil Qur'anil Karim. Meskipun Al-Qur'an memang tercatat di Lauhul Mahfuz (QS. Al-Buruj: 21-22), Malaikat Jibril 'alaihissalam menerimanya langsung dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Menganggap Jibril hanya mengambil tulisan dari Lauhul Mahfuz dapat menggiring pada pemahaman keliru kaum Jahmiyah yang menganggap Al-Qur'an sebagai makhluk yang diciptakan di Lauhul Mahfuz.

    Sifat Kalam Bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala

    Ahlus Sunnah wal Jama'ah meyakini bahwa di antara sifat fi'liyah (perbuatan) Allah adalah berbicara (yatakallam), sebagaimana Dia juga memiliki sifat mencipta, memberi rezeki, menghidupkan, dan mematikan. Allah berbicara sesuai dengan keagungan-Nya, kapan pun Dia berkehendak (idza sya'a), dengan siapa pun yang Dia kehendaki, dan dengan cara yang sesuai dengan kemuliaan-Nya tanpa menyamai makhluk-Nya.

    Para ulama menjelaskan kaidah sifat Kalam:

    • Qadimun-Nau': Sifat berbicara pada zat Allah bersifat terdahulu (qadim); Allah senantiasa tersifati dengan kemampuan berbicara.
    • Haditsul-Ahad: Kejadian pembicaraan-Nya berlangsung pada waktu-waktu tertentu sesuai kehendak Allah (hadits).

    Allah berbicara kepada Malaikat Jibril saat menurunkan Al-Qur'an, berbicara langsung kepada Nabi Musa 'alaihissalam, berbicara kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam pada malam Mikraj, serta akan berbicara kepada para penghuni surga kelak di akhirat.

    Kekeliruan kelompok ahlul bid'ah bersumber dari kaidah rusak yang mereka buat sendiri, yaitu menganggap bahwa menetapkan sifat bagi Allah (itsbatush-shifat) pasti berkonsekuensi menyamakan Allah dengan makhluk (tasbih). Akibat pemikiran ini, mereka mengkiaskan Allah dengan makhluk lalu menolak sifat Kalam, atau melakukan interpretasi menyimpang (tahrif) dengan mengklaim adanya Kalam Nafsi (pembicaraan tanpa suara dan huruf).

    Padahal, Al-Qur'an adalah Kalamullah secara hakiki yang Allah firmankan dengan huruf dan suara yang diperdengarkan kepada siapa yang Dia kehendaki, tanpa ada kemiripan sedikit pun dengan suara makhluk.

    Bahaya Menganggap Al-Qur'an Sebagai Makhluk

    Sebab utama para ulama Ahlus Sunnah di setiap lintas mazhab fikih memberikan perhatian besar terhadap bab ini adalah karena besarnya konsekuensi bahaya yang ditimbulkan jika Al-Qur'an dianggap sebagai makhluk:

    1. Meniadakan Sifat Bicara dari Allah: Mengatakan Al-Qur'an adalah makhluk sama saja menuduh bahwa Allah tidak berbicara. Pihak atau sesembahan yang tidak berbicara dan tidak dapat memberi petunjuk tidak layak menjadi Ilah (Tuhan yang diibadahi), sebagaimana argumen Nabi Ibrahim 'alaihissalam terhadap patung-patung sembahan kaumnya.
    2. Meruntuhkan Keabsahan Syariat: Perkataan makhluk tidak ada yang sempurna. Jika Al-Qur'an dianggap sebagai perkataan makhluk, runtuhlah kedudukannya sebagai sumber hukum syariat yang mutlak benar.

    Oleh karena itu, para ulama terdahulu gigih mempertahankan kebenaran ini. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah bahkan rela dipenjara dan dicambuk pada masa fitnah Khalqul Qur'an demi mempertahankan prinsip akidah yang lurus: Al-Qur'an adalah Kalamullah, bukan makhluk, berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah.

    Sebagai muslim, keyakinan kita cukup bersandar pada prinsip kesederhanaan para sahabat Nabi radhiyallahu 'anhum. Mereka menerima dan mengimani seluruh sifat Allah yang termaktub dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah secara utuh tanpa memperpertanyakan kaifiyah (cara/bentuknya) dengan akal pikiran yang terbatas. Wallahu a'lam bish-shawab.

    •┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

    “Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

    وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

    Penulis:
    Abu Afif
    Share: