بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
📘 | Materi : Kitab Mandzumah Hā’iyyah - Imam Abu Bakar ‘Abdullah bin Abi Dawud As-Sijistāni Rahimahullah
📖 | Syarah: Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan Hafidahullah | Download Kitab
🎙| Bersama: Ustadz Adi Abdul Jabbar Hafidzahullah
🗓 | Hari : Selasa, 23 Dzulhijah 1447 H / 9 Juni 2026 M
🕰 | Waktu: Ba'da Maghrib - Isya'
🕌 | Tempat: Masjid Al-Ikhlas Adi Sucipto.
[التَّمسُّكُ بالكِتابِ والسُّنَّةِ]
Berpegang Teguh pada Kitab dan Sunnah
Imam Abu Bakar ‘Abdullah bin Abi Dawud As-Sijistāni Rahimahullah berkata:
٢- ودِنْ بِكِتَابِ اللهِ والسُّنَنِ الَّتِي أَتَتْ عَنْ رَسُولِ الله تَنْجُو وَتَرْبَعُ
2. Dan beragamalah dengan Kitab Allah dan Sunnah yang telah datang dari Rasulullah, niscaya kamu akan selamat dan beruntung.
Meneladani Para Imam Mazhab dalam Berpegang Teguh pada Dalil dan Akidah Kitabullah
Dalam pembahasan Syarah Manzhumah Al-Ha'iyyah karya Al-Imam Ibn Abi Daud rahimahullah yang disyarah oleh Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, kita kembali mengulas bait kedua dari bait-bait syair beliau di atas: 2. Dan beragamalah dengan Kitab Allah dan Sunnah yang telah datang dari Rasulullah, niscaya kamu akan selamat dan beruntung.
Sikap Para Imam Ahlus Sunnah Terhadap Dalil
Pada pembahasan sebelumnya, telah disebutkan bagaimana kewajiban berpegang teguh pada dalil Al-Qur'an dan As-Sunnah. Para imam mazhab yang empat—Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy-Syafi'i, dan Imam Ahmad rahimahumullah—sangat menekankan pentingnya mengutamakan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di atas pendapat pribadi siapa pun.
- Imam Asy-Syafi'i rahimahullah menegaskan: “Jika perkataanku menyelisihi sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka ambillah sabda Rasulullah dan lemparkanlah perkataanku ke dinding.”
- Imam Malik rahimahullah, saat mengajar di Masjid Nabawi seraya menunjuk ke arah makam Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, menyampaikan: “Setiap kita bisa diterima atau ditolak perkataannya, kecuali penghuni makam ini (Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam).”
Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak boleh ditolak sedikit pun karena beliau tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu, melainkan berdasarkan wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Adapun pendapat selain beliau, apabila selaras dengan Al-Qur'an dan Sunnah maka diambil, dan jika menyelisihi maka wajib ditinggalkan.
- Imam Abu Hanifah rahimahullah menyatakan: “Jika datang hadis dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka wajib tunduk dan menerima sepenuh hati. Begitu pula jika datang dari para sahabat. Namun jika datang dari para tabiin, mereka adalah laki-laki (perawi) dan kita juga laki-laki.”
Maksud beliau adalah perkataan tabiin, ulama, maupun tokoh agama lainnya perlu ditimbang terlebih dahulu. Apabila sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah, kita terima; jika bertentangan, kita tinggalkan. Sebab, tolok ukur kebenaran adalah dalil.
- Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengungkapkan keheranan beliau terhadap orang-orang yang telah mengetahui keabsahan suatu hadis namun justru berpaling kepada pendapat manusia: “Aku heran kepada orang-orang yang mengetahui sanad dan kesahihannya, namun mereka justru cenderung kepada pendapat Sufyan (At-Tsauri).”
Beliau kemudian membacakan firman Allah Ta'ala:
فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ اَمْرِهٖٓ اَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ اَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ٦٣
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nur: 63)
Larangan Fanatisme Mazhab (Ta'assub)
Para imam sepakat dengan prinsip: "Apabila hadis itu sahih, maka itulah mazhabku." Hal ini menunjukkan bahwa para imam Ahlus Sunnah sangat gigih memerangi sikap fanatik mazhab (ta'assub).
Sangat disayangkan, sebagian orang pada hari ini justru berbalik arah. Ketika dihadapkan pada suatu permasalahan, mereka tidak lagi bertanya "apa dalilnya", melainkan "apa kata mazhab ini". Pendapat seorang ulama atau fukaha—setinggi apa pun ilmunya—tidak boleh diambil apabila bertentangan dengan dalil yang sahih. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat: 1)
Sebagaimana ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah, tidak ada satu pun manusia yang wajib diikuti secara mutlak perkataannya kecuali Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
******
Prinsip Akidah Ahlus Sunnah: Al-Qur'an Adalah Kalamullah
Memasuki bait ketiga dari Manzhumah Al-Ha'iyyah, Al-Imam Ibn Abi Daud rahimahullah mulai membawakan pokok akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah terkait dengan Kalamullah (perkataan Allah):
٣- وَقُلْ: غَيْرُ مَخْلُوقٍ كَلامُ مَلِيكِنَا بِذَلِكَ دَانَ الأَثْقِيَاءُ وَأَفْصَحُوا
3. “Dan katakanlah bahwa Kalam (perkataan) Raja Kita (Allah) bukanlah makhluk; dengan keyakinan itulah orang-orang yang bertakwa, beragama dan menyatakannya.”
Di antara prinsip dasar akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah—yang disepakati oleh para sahabat, tabiin, dan seluruh imam mazhab—adalah meyakini tanpa keraguan sedikit pun bahwa Al-Qur'an adalah Kalamullah secara hakiki, dan bukan makhluk.
Proses Turunnya Al-Qur'an
- Allah Subhanahu wa Ta'ala difahami berkalam (berbicara) dengan Al-Qur'an secara hakiki.
- Malaikat Jibril 'alaihissalam mendengarkan Al-Qur'an langsung dari Allah Ta'ala.
- Jibril menurunkannya kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
- Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam menyampaikannya kepada seluruh umat manusia.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَاِنَّهٗ لَـتَنۡزِيۡلُ رَبِّ الۡعٰلَمِيۡنَؕ ١٩٢ نَزَلَ بِهِ الرُّوۡحُ الۡاَمِيۡنُۙ ١٩٣ عَلٰى قَلۡبِكَ لِتَكُوۡنَ مِنَ الۡمُنۡذِرِيۡنَۙ ١٩٤
“Dan sesungguhnya Al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, (QS As-Syu'ara ayat192-194)
Malaikat Jibril sebagai Pemegang Amanah Wahyu
Malaikat Jibril 'alaihissalam disifati sebagai Ar-Ruh Al-Amin (utusan yang terpercaya). Beliau memiliki kekuatan, kedudukan yang tinggi di sisi Allah, serta ditaati oleh para malaikat lainnya. Jibril menyampaikan wahyu sebagaimana yang ia dengar dari Allah tanpa menambah atau menguranginya sedikit pun.
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melihat wujud asli Malaikat Jibril sebanyak dua kali:
- Di kota Mekkah (di ufuk langit).
- Di Sidratul Muntaha pada malam Isra Mikraj.
Dalam hadis riwayat Imam Ahmad, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menceritakan bahwa Jibril memiliki 600 sayap. Selain penglihatan dalam bentuk aslinya tersebut, Jibril biasanya mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam wujud seorang laki-laki agar para sahabat dapat duduk dan belajar bersama, sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu.
Mata rantai penyampaian ini menunjukkan betapa agungnya sanad Al-Qur'anul Karim: diambil oleh umat Islam dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, dari Malaikat Jibril 'alaihissalam, langsung dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka dari itu, setiap ayat yang tertera di dalam mushaf yang kita baca adalah benar-benar firman dan perkataan Allah (Kalamullah), bukan ciptaan manusia maupun malaikat. Wallahu a'lam bish-shawab.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم