Memuat tanggal...
Mandzumah Haiyyah

Mandzumah Haiyyah#11 | Meluruskan Syubhat "Lafaz Al-Qur'an Adalah Makhluk"

Abu Afif
22 September 2026 4 mnt baca 2 tayangan
Mandzumah Haiyyah#11 | Meluruskan Syubhat "Lafaz Al-Qur'an Adalah Makhluk"

Daftar isi

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

    📘 | Materi : Kitab Mandzumah Hā’iyyah - Imam Abu Bakar ‘Abdullah bin Abi Dawud As-Sijistāni Rahimahullah
    📖 | Syarah: Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan Hafidahullah | Download Kitab
    🎙| Bersama: Ustadz Adi Abdul Jabbar Hafidzahullah
    🗓 | Hari : Selasa, 12 Rabiul Awal 1448 H /  25 Agustus 2026 M
    🕰 | Waktu: Ba'da Maghrib - Isya'
    🕌 | Tempat: Masjid Al-Ikhlas Adi Sucipto.



     [عَقِيدَةُ السَّلَفِ فِي كَلامِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ]

    Aqidah Salaf terhadap Kalamullah 'Azza wa Jalla

    Imam Abu Bakar ‘Abdullah bin Abi Dawud As-Sijistāni Rahimahullah berkata:

    ٥- وَلا تَقُلِ الْقُرْآنُ خَلْقاً قِرَاءةً | فَإِنَّ كَلامَ اللهِ بِاللَّفْظِ یُوضَحُ

    5. Dan jangan engkau mengatakan bahwa Al-Qur'an itu makhluk ketika membacanya. Karena kalamullah dengan lafaznya dijelaskan.


    Meluruskan Syubhat "Lafaz Al-Qur'an Adalah Makhluk" 

    Meluruskan Syubhat "Lafaz Al-Qur'an Adalah Makhluk": Penjelasan Bait Kelima Matan Al-Ha'iyah

    Pembahasan ini melanjutkan penjelasan bait sebelumnya dari Manzumah Al-Ha'iyah karya Imam Ibn Abi Daud As-Sijistani rahimahullah. Memasuki bait kelima, beliau kembali menegaskan prinsip akidah Ahlussunnah wal Jama'ah mengenai status Al-Qur'an sebagai kalamullah (firman Allah) dan bukan makhluk.

    Imam Ibn Abi Daud rahimahullah berkata:

    Wala taqulil-qur'anu khalqan qira'atan, fa inna kalamallahi bil-lafdzi yudahu. "Dan janganlah engkau mengatakan bahwa Al-Qur'an itu makhluk saat membacanya, karena kalamullah dijelaskan dengan lafaznya."

    Tiga Mazhab Menyimpang dalam Memahami Al-Qur'an

    Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa frasa dalam bait ini merujuk pada mazhab ketiga dari kelompok-kelompok yang menyimpang dalam memahami hakikat Al-Qur'an:

    1. Mazhab Jahmiyah dan Mu'tazilah: Menyatakan secara terang-terangan bahwa Al-Qur'an adalah makhluk.
    2. Mazhab At-Tawaqquf (Sikap Diam): Enggan bersikap dan menolak mengatakan Al-Qur'an itu makhluk maupun bukan makhluk. Ini juga merupakan bagian dari pemikiran Jahmiyah.
    3. Mazhab Lafdziyah: Menyatakan "Lafdzi bil-Qur'ani makhluq" (Lafaz/pelafalanku terhadap Al-Qur'an adalah makhluk).

    Pendapat ketiga ini pada hakikatnya adalah hilah (tipu daya atau kilahan) untuk secara terselubung menyimpulkan bahwa Al-Qur'an adalah makhluk. Karena itulah Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah bersikap sangat tegas terhadap kelompok ini. Beliau menyatakan:

    "Barang siapa yang mengatakan 'lafadzi bil-Qur'ani makhluq', maka ia kafir (mengikuti paham Jahmiyah). Dan barang siapa yang mengatakan 'ghairu makhluq', maka ia mubtadi' (pelaku bidah)."

    Pernyataan tersebut dilarang karena mengandung kalimat mujmal (global/samar) yang berpotensi menggiring seseorang pada pemahaman yang keliru dan tidak pernah dicontohkan oleh para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

    Kewajiban Mengurai Kalimat yang Samar (At-Tafsil)

    Kalimat yang bersifat mujmal tidak boleh digunakan begitu saja tanpa penjelasan mendetail (tafsil). Apabila seseorang berucap "Lafdzi bil-Qur'ani makhluq" atau "ghairu makhluq", perlu diperjelas apa yang dimaksud dengan kata "lafaz" dalam ucapan tersebut:

    • Sifat Qadariyah: Jika seseorang menyatakan "Lafdzi bil-Qur'ani ghairu makhluq" dengan maksud bahwa perbuatannya (melafazkan) bukanlah makhluk, ia telah menjerumuskan dirinya ke dalam pemahaman Qadariyah yang menganggap hamba menciptakan perbuatannya sendiri dan lepas dari takdir Allah. Padahal Allah berfirman:
    • “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (QS. As-Saffat: 96)
    • Penyelesaian Rincian (Tafsil):
      • Jika yang dimaksud dengan "lafaz" adalah proses melafazkan, gerakan lisan, dan suara manusia, maka hal itu adalah makhluk (karena manusia, lisan, dan suaranya adalah ciptaan Allah).
      • Jika yang dimaksud adalah sesuatu yang dilafazkan (al-malfuzh bihi), yaitu isi bacaan Al-Qur'an itu sendiri, maka itu adalah kalamullah dan bukan makhluk.

    Kaidah Utama Ahlussunnah wal Jama'ah

    Untuk mengakhiri kerancuan yang sengaja dibuat oleh para pengikut kebidahan, Ahlussunnah menetapkan kaidah yang ringkas dan jelas:

    "As-Sautu sautul-qari, wal-kalamu kalamul-Bari."

    (Suara adalah suara pembaca, sedangkan kalimat/firman yang dibaca adalah kalam Allah Sang Pencipta).

    Suara manusia beraneka ragam; ada yang merdu dan ada yang tidak. Perbedaan ini membuktikan bahwa suara manusia adalah makhluk. Adapun kalamullah berada pada puncak kesempurnaan dan tidak memiliki kekurangan sedikit pun.

    Ciri Khas Pengikut Bidah: Menggunakan Kalimat Samar

    Kebiasaan pengikut kebidahan adalah selalu berpegang pada pernyataan yang mujmal (bermakna ganda) untuk mengelabui umat:

    • Tudingan Ziarah Kubur: Ketika amar ma'ruf nahi munkar dilakukan terhadap praktik meminta-minta kepada penghuni kubur, mereka membuat framing global bahwa ziarah kubur dilarang secara mutlak.
    • Tudingan Selawat: Ketika ucapan selawat yang tidak sesuai syariat dikritik, mereka menuduh adanya larangan berselawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
    • Syubhat Istiwa dan Sifat Allah: Mereka menggunakan istilah seperti jihah (arah) atau jisim (jasad)—yang tidak pernah di sebutkan dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah—untuk menolak sifat-sifat Allah yang telah Allah tetapkan sendiri bagi diri-Nya.

    Sikap Ahlussunnah wal Jama'ah dalam menghadapi seluruh syubhat ini adalah taslim (tunduk dan berserah diri) kepada dalil Al-Qur'an dan As-Sunnah tanpa memutarbalikkan makna. Al-Qur'an adalah kalamullah, baik yang dihafalkan dalam dada, diucapkan oleh lisan, maupun yang tertulis di dalam mushaf—seseorang tidak perlu terjebak dalam perdebatan mujmal mengenai zat fisik kertas atau tinta, sebab yang tertulis di dalamnya tetaplah firman Allah yang bukan makhluk.

    •┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

    “Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

    وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

    Penulis:
    Abu Afif
    Share: