بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
📘 | Materi : Kitab Mandzumah Hā’iyyah - Imam Abu Bakar ‘Abdullah bin Abi Dawud As-Sijistāni Rahimahullah
📖 | Syarah: Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan Hafidahullah | Download Kitab
🎙| Bersama: Ustadz Adi Abdul Jabbar Hafidzahullah
🗓 | Hari : Selasa, 27 Safar 1448 H / 11 Agustus 2026 M
🕰 | Waktu: Ba'da Maghrib - Isya'
🕌 | Tempat: Masjid Al-Ikhlas Adi Sucipto.
[عَقِيدَةُ السَّلَفِ فِي كَلامِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ]
Aqidah Salaf terhadap Kalamullah 'Azza wa Jalla
Imam Abu Bakar ‘Abdullah bin Abi Dawud As-Sijistāni Rahimahullah berkata:
٣- وَقُلْ: غَيْرُ مَخْلُوقٍ كَلامُ مَلِيكِنَا بِذَلِكَ دَانَ الأَثْقِيَاءُ وَأَفْصَحُوا
3. “Dan katakanlah bahwa Kalam (perkataan) Raja Kita (Allah) bukanlah makhluk; dengan keyakinan itulah orang-orang yang bertakwa, beragama dan menyatakannya.”
Kekuasaan Mutlak Allah: Pelajaran dari Sifat Al-Malik dan Bergantinya Kekuasaan Manusia
Kekuasaan Mutlak Allah: Pelajaran dari Sifat Al-Malik dan Bergantinya Kekuasaan Manusia
Dalam bait-bait syair akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah—sebagaimana dijelaskan dalam syarah risalah akidah—penulis menyebutkan frasa kalamu malikina (firman Raja kita). Sebutan ini menegaskan salah satu nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala, yaitu Al-Malik (Maha Merajai/Maha Memiliki Kerajaan).
Allah Tabaraka wa Ta'ala adalah Penguasa dan Pemilik kekuasaan yang hakiki. Penegasan ini termaktub di dalam berbagai ayat Al-Qur'an, di antaranya:
تَبٰرَكَ الَّذِىۡ بِيَدِهِ الۡمُلۡكُ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيۡرُۙ ١
“Maha Suci Allah yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Mulk: 1)
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman:
قُلِ اللّٰهُمَّ مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَاۤءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاۤءُۖ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاۤءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاۤءُۗ بِيَدِكَ الْخَيْرُۗ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ٢٦
“Katakanlah: ‘Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engaki. Di tangan Engkaulah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.’” (QS. Ali 'Imran: 26)
Kekuasaan Manusia Hanyalah Pinjaman Sementara
Kekuasaan yang dipegang oleh raja-raja atau para penguasa dari kalangan manusia (Bani Adam) pada hakikatnya hanyalah 'ariyah—yaitu pinjaman sementara dari Allah.
Dari zaman ke zaman, Allah memberikan kekuasaan kepada siapa yang Dia kehendaki, lalu mencabutnya kembali untuk diberikan kepada yang lain. Tidak ada satu pun kekuasaan manusia di dunia ini yang bersifat abadi, sekuat apa pun posisi atau militer yang mereka miliki.
- Firaun dan Tentaranya: Al-Qur'an mengabadikan kisah Firaun yang memiliki pasukan (al-autad) dan melakukan kesewenang-wenangan di negerinya. Meskipun memiliki tentara yang kuat, Allah membinasakannya dan mencabut kekuasaannya seketika.
- Pergantian Dinasti Islam: Setelah masa Khulafaur Rasyidin, Allah memberikan kekuasaan kepada Dinasti Umayyah. Ketika masanya usai, kekuasaan itu dicabut dan dialihkan kepada Dinasti Abbasiyah. Begitu seterusnya kekuasaan berpindah dari satu tangan ke tangan lain.
Sifat kekuasaan di dunia adalah tadawul (saling berganti). Sebaliknya, kekuasaan yang tetap, abadi, dan tidak akan pernah sirna hanyalah kekuasaan milik Allah Jalla wa 'Ala.
Sikap terhadap Penguasa
Para ulama mengambil faedah penting dari ayat-ayat kekuasaan ini: karena seseorang yang berhasil berkuasa (dengan cara yang diakui) pada hakikatnya telah mendapatkan takdir kekuasaan tersebut dari Allah, maka tidak diperbolehkan bagi masyarakat untuk memberontak atau menggulingkannya secara inkonstitusional (khuruj). Hal ini dikarenakan kekuasaan pada dasarnya diberikan dan diatur oleh Allah Tabaraka wa Ta'ala.
Raja di Hari Pembalasan
Keagungan kekuasaan Allah juga tercermin dalam surah Al-Fatihah, di mana terdapat dua cara pembacaan (qira'at): Maliki Yaumiddin (Pemilik hari pembalasan) dan Maliki Yaumiddin (Raja pada hari pembalasan). Allah adalah Penguasa mutlak yang berbuat apa saja terhadap kerajaan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya.
Ketika hari kiamat telah tegak, Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menyeru seluruh makhluk sebagaimana firman-Nya:
لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَۗ
“Milik siapakah kerajaan pada hari ini?” (QS. Ghafir: 16)
Pada momen dahsyat tersebut, tidak ada satu pun makhluk yang mampu menjawab, dan tidak ada seorang pun yang berani berbicara. Jika ada manusia yang gemar mengklaim kekuasaan sewaktu di dunia, pada hari itu tidak ada satu pun yang sanggup mengaku-aku. Segala bentuk kekuasaan manusia telah sirna, dan yang tersisa hanyalah kekuasaan mutlak Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan. Wallahu a'lam bish-shawab.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم