Pembukaan dan Rasa Syukur
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala atas seluruh limpahan nikmat-Nya, terutama nikmat Islam dan iman. Kedua nikmat ini merupakan karunia tertinggi yang wajib kita jaga agar Allah memberikan keistikamahan hingga akhir hayat. Melalui rahmat Allah dan keberkahan dua nikmat inilah seorang hamba memperoleh jalan menuju surga-Nya.
Selain itu, nikmat kesehatan dan waktu luang juga patut kita syukuri. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengingatkan bahwa banyak manusia terlena dengan kedua nikmat ini. Ketika diberi kesehatan dan kesempatan, tidak sedikit orang yang tidak menggunakannya untuk ketaatan, beribadah, atau menuntut ilmu syar'i, sehingga waktunya terbuang sia-sia tanpa keberkahan.
Dengan senantiasa bersyukur, Allah akan menambahkan hidayah, taufik, serta semangat untuk terus belajar dan beramal di atas jalan-Nya.
Pengantar Kajian Kitab Al-Arba'in An-Nawawiyah
Dalam kesempatan kajian ini, kita akan mempelajari sebuah karya monumental, yaitu kitab Al-Arba'in An-Nawawiyah susunan Asy-Syeikh Muhyiddin Abi Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi rahimahullahu ta'ala. Pembahasan ini akan merujuk pada penjelasan (syarah) dari Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah.
Syeikh Al-Utsaimin menekankan pentingnya kitab ini bagi setiap penuntut ilmu maupun umat Islam secara umum:
Mencakup Seluruh Cabang Ilmu Agama: Berbeda dengan kitab Umdatul Ahkam yang spesifik membahas hadis-hadis hukum (ahkam), Al-Arba'in An-Nawawiyah merangkum landasan akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah.
Jumlah Hadis: Meskipun dinamakan Al-Arba'in (artinya empat puluh), kitab ini memuat 42 hadis. Penyebutan angka ini menggunakan pembulatan yang lumrah dalam tradisi penulisan.
Anjuran Menghafal: Setiap muslim dianjurkan untuk mempelajari dan menghafal hadis-hadis di dalamnya karena posisinya sebagai fondasi ajaran Islam.
Biografi Singkat Imam An-Nawawi
Imam An-Nawawi lahir pada tahun 631 H dan wafat pada tahun 676 H. Beliau adalah salah satu ulama besar mazhab Syafi'i yang pendapatnya sangat diperhitungkan (ashabus Syafi'i). Syeikh Al-Utsaimin menyebut beliau dengan julukan Al-Hafizh (seorang pakar hadis dengan hafalan yang sangat banyak).
Beberapa keutamaan dan keluasan ilmu Imam An-Nawawi meliputi:
Penguasaan Multidisiplin Ilmu: Beliau bukan hanya seorang muhaddits (ahli hadis), tetapi juga ahlul lughah (ahli bahasa Arab), serta menguasai berbagai cabang ilmu fikih dan syariat lainnya.
Keikhlasan dalam Berkarya: Tanda keikhlasan beliau terlihat dari tersebarnya karya-karya beliau secara luas di seluruh dunia Islam. Contohnya adalah kitab Riyadhus Shalihin, yang hampir tidak ada satu masjid pun di dunia melainkan dipelajari kitab tersebut di dalamnya. Para ulama berpendapat bahwa karya yang ditujukan ikhlas karena Allah akan kekal dan terus memberi manfaat (mâ kâna lillâhi abqâ).
Kedudukan sebagai Mujtahid: Imam An-Nawawi diakui oleh para ulama sebagai seorang mujtahid yang memiliki kapasitas ilmu untuk berijtihad dalam menentukan hukum syariat.
Memahami Kedudukan Ijtihad dan Kesalahan Mujtahid
Sebagai seorang mujtahid, Imam An-Nawawi adalah manusia yang tidak luput dari kesalahan. Sesuai prinsip syariat mengenai ijtihad:
Ijtihad yang Benar: Jika ijtihad seorang mujtahid benar, ia mendapatkan dua pahala (pahala ijtihad dan pahala kebenaran).
Ijtihad yang Salah: Jika ijtihadnya keliru, ia tetap mendapatkan satu pahala (pahala ijtihadnya), karena usahanya dibangun di atas ilmu dan keikhlasan, bukan hawa nafsu.
Sikap Terhadap Penafsiran Sifat Allah (Asma' wa Sifat)
Syeikh Al-Utsaimin dan Syeikh Hisyam Thahiri menjelaskan kedudukan Imam An-Nawawi terkait beberapa pembahasan asma' wa sifat:
Bukan Pengingkaran Mutlak (Nafi): Kesalahan penafsiran yang terjadi pada sebagian sifat Allah oleh Imam An-Nawawi berbentuk takwil (mengalihkan makna ke arti lain), bukan pengingkaran total (nafi). Contohnya, beliau mengartikan istiwa' dengan istaula.
Memiliki Dasar Bahasa Arab: Takwil yang dilakukan beliau masih memiliki pijakan kemungkinan dalam struktur bahasa Arab, sehingga pelakunya tidak dikafirkan.
Akidah Secara Umum: Beliau tetap digolongkan sebagai ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Beliau menerima hadis ahad yang sahih sebagai hujjah (berbeda dengan kelompok Asy'ariyah ekstrem yang hanya menerima hadis mutawatir), menetapkan sifat-sifat dzatiyah Allah, serta mengimani bahwa hamba memiliki kehendak (iradah) dan perbuatan (fi'il) di bawah kehendak Allah (berbeda dengan pemahaman Jabriyah maupun Qadariyah).
Banyaknya Kebaikan Menghapus Kesalahan: Luasnya kontribusi, pengorbanan, dan keutamaan ilmu Imam An-Nawawi bagi Islam diharapkan menjadi sebab diampuninya kesalahan-kesalahan ijtihad beliau oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebagaimana firman-Nya bahwa kebaikan-kebaikan dapat menghapuskan kesalahan.
Penutup
Mempelajari biografi penulis sebelum mendalami karyanya membantu kita memahami latar belakang keilmuan dan keikhlasan sang pengarang. Pada pertemuan-pertemuan berikutnya, kajian akan dilanjutkan dengan membahas satu per satu hadis dalam Syarah Al-Arba'in An-Nawawiyah karya Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Semoga Allah memberikan kemudahan dan pemahaman yang bermanfaat bagi kita semua.
Poster Ringkasan
