29 Rabiul Akhir 1448 H | Sabtu, 10 Oktober 2026
Al-Arba'in An-Nawawiyah

Al-Arba'in An-Nawawiyah #1 | Amalan Tergantung Niat

Al-Arba'in An-Nawawiyah #1 | Amalan Tergantung Niat

Daftar isi

    Pendahuluan

    Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Kita bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Kita juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

    Kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala atas berbagai nikmat yang telah diberikan kepada kita: nikmat Islam, iman, kesehatan, dan waktu luang. Dengan nikmat tersebut, kita masih diberi kesempatan untuk menuntut ilmu syar'i dan mempelajari Al-Qur'an serta Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu 'anhum.

    Kita memohon kepada Allah agar senantiasa memberikan taufik kepada kita untuk memahami Al-Qur'an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat.

    Pada kesempatan ini, kita melanjutkan pembahasan kitab Al-Arba'in An-Nawawiyah, khususnya syarah yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah.

    Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas secara ringkas tentang Imam An-Nawawi rahimahullah serta kontribusinya terhadap Islam. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin menjelaskan bahwa Imam An-Nawawi adalah seorang manusia yang tidak luput dari kesalahan. Beliau juga termasuk seorang mujtahid yang telah memenuhi syarat untuk berijtihad.

    Apabila seorang mujtahid berijtihad kemudian ternyata salah, maka ia mendapatkan satu pahala. Apabila ijtihadnya benar, ia mendapatkan dua pahala.

    Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengampuni dosa Imam An-Nawawi dan dosa-dosa kita semua.

    Hadis Pertama: Amalan Tergantung Niat

    Imam An-Nawawi rahimahullah menyebutkan hadis pertama:

    Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

    “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]

    Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Karena itu, hadis ini termasuk hadis yang sangat kuat kesahihannya.

    Perawi Hadis

    Hadis ini diriwayatkan oleh dua imam besar dalam ilmu hadis:

    1. Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, yang dikenal dengan Imam Al-Bukhari rahimahullah.

    2. Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi An-Naisaburi, yang dikenal dengan Imam Muslim rahimahullah.

    Keduanya meriwayatkan hadis ini dalam kitab Shahih masing-masing.

    Shahih Bukhari dan Shahih Muslim merupakan dua kitab hadis yang paling sahih setelah Al-Qur'an. Bahkan Shahih Bukhari disebut sebagai kitab yang paling sahih setelah Kitabullah.

    Umar bin Khattab Radhiyallahu 'Anhu

    Hadis ini diawali dengan penyebutan Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu.

    Umar bin Al-Khattab memiliki kunyah Abu Hafsh. Beliau menjadi khalifah setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu.

    Pemilihan Umar sebagai khalifah merupakan salah satu kebaikan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu. Abu Bakar memilih Umar untuk menggantikannya sebagai khalifah.

    Kekhalifahan Umar radhiyallahu 'anhu merupakan kekhalifahan yang sah secara syariat. Tidak terdapat perselisihan di kalangan ulama mengenai keabsahan kekhalifahan Umar setelah Abu Bakar.

    Abu Bakar telah melakukan pilihan yang sangat baik ketika menyerahkan urusan kaum muslimin kepada Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu.

    Keistimewaan Hadits Ini

    Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu mengatakan bahwa beliau mendengar langsung hadis tersebut dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

    Hadis ini memiliki keistimewaan karena sahabat yang meriwayatkannya secara langsung dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu.

    Meskipun demikian, makna hadis ini memiliki banyak penguat dari Al-Qur'an dan hadis-hadis Nabi yang lain.

    Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

    وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَلِاَنْفُسِكُمْ ۗ وَمَا تُنْفِقُوْنَ اِلَّا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ اللّٰهِ ۗ

    "Dan apa saja yang kamu infakkan, maka (kebaikannya) untuk dirimu sendiri. Dan janganlah kamu berinfak melainkan karena mencari wajah Allah."

    (QS. Al-Baqarah: 272)

    Ayat ini menunjukkan pentingnya niat dalam beramal. Seseorang hendaknya menginfakkan hartanya karena mencari wajah dan keridaan Allah.

    Allah juga berfirman ketika menyebutkan sifat para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

    مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِ ۗ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗٓ اَشِدَّاۤءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاۤءُ بَيْنَهُمْ تَرٰىهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَّبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانًا ۖ

    "Muhammad adalah utusan Allah. Dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya."

    (QS. Al-Fath: 29)

    Mereka beribadah dengan tujuan mencari karunia dan keridaan Allah. Ini menunjukkan bahwa niat merupakan perkara yang sangat penting dalam amal.

    Niat dalam Perkara yang Mubah

    Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga menjelaskan pentingnya niat dalam perkara yang secara asalnya mubah.

    Beliau bersabda kepada Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu:

    إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فَمِ امْرَأَتِكَ

    "Sesungguhnya engkau tidaklah menginfakkan suatu nafkah yang dengannya engkau mengharapkan wajah Allah, kecuali engkau akan diberi pahala karenanya, bahkan terhadap suapan yang engkau masukkan ke mulut istrimu."

    (HR. Bukhari dan Muslim)

    Hadis ini menunjukkan bahwa aktivitas sehari-hari yang pada asalnya mubah dapat menjadi ibadah apabila disertai niat yang benar.

    Misalnya, ketika seseorang menyuapi istrinya. Jika ia melakukannya hanya sebagai bentuk kasih sayang, maka ia mendapatkan kebaikan dari perbuatan tersebut. Namun apabila ia juga meniatkannya sebagai bentuk menunaikan kewajiban memberi nafkah dan mempergauli istri dengan baik karena Allah, maka perbuatan tersebut menjadi lebih bernilai.

    Dengan demikian, semakin baik niat seseorang, semakin besar pula peluang pahalanya.

    Makna "Amalan Tergantung Niat"

    Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

    إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى

    "Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan."

    Kata innama dalam hadis tersebut menunjukkan pembatasan. Artinya, hukum yang disebutkan setelahnya dibatasi pada perkara tersebut.

    Dengan demikian, hadis ini menunjukkan dua perkara:

    1. Amalan dinilai berdasarkan niatnya.

    2. Seseorang mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang ia niatkan.

    Jadi, dua orang bisa melakukan satu amalan yang sama, tetapi mendapatkan pahala yang berbeda karena niat mereka berbeda.

    Contoh: Hijrah

    Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan contoh:

    فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

    "Barang siapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin ia peroleh atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang ia tuju."

    Hijrah merupakan amal yang sangat agung. Namun seseorang bisa saja melakukan amal yang besar dengan tujuan yang berbeda.

    Ada orang yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya. Ada pula orang yang melakukan perjalanan atau meninggalkan negerinya karena mengejar keuntungan dunia atau karena ingin menikahi seorang wanita.

    Karena itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.

    Menariknya, ketika menyebutkan orang yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, tujuan tersebut disebutkan secara jelas:

    "Maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya."

    Adapun ketika menyebutkan orang yang berhijrah demi tujuan dunia, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menyebutkan secara khusus bahwa ia mendapatkan dunia atau wanita tersebut, tetapi mengatakan:

    "Maka hijrahnya sesuai dengan apa yang ia tuju."

    Hal ini menunjukkan rendahnya tujuan tersebut dibandingkan dengan tujuan hijrah karena Allah dan Rasul-Nya.

    Amal yang secara lahiriah sangat besar tidak otomatis menjadikan pelakunya mendapatkan pahala besar. Yang sangat menentukan adalah tujuan dan niat di balik amal tersebut.

    Amalan Mencakup Perbuatan Hati, Lisan, dan Anggota Badan

    Dalam hadis digunakan kata al-a'mal, bentuk jamak dari amal. Ini menunjukkan bahwa amal mencakup berbagai jenis perbuatan.

    Secara umum, amal manusia dapat dibagi menjadi tiga:

    1. Amalan Hati

    Amalan hati sangat banyak, di antaranya:

    • tawakal kepada Allah,

    • takut kepada Allah,

    • berharap kepada Allah,

    • kembali dan berserah diri kepada Allah,

    • cinta kepada Allah,

    • ikhlas,

    • dan berbagai amal hati lainnya.

    2. Amalan Lisan

    Amalan lisan juga sangat banyak, seperti:

    • membaca Al-Qur'an,

    • berdzikir,

    • berdoa,

    • berkata benar,

    • mengajarkan ilmu,

    • menasihati dalam kebaikan,

    • dan berbagai bentuk ucapan lainnya.

    Lisan merupakan anggota tubuh yang kecil, tetapi memiliki pengaruh yang sangat besar. Dengan lisan seseorang dapat memperoleh pahala yang besar, tetapi dengan lisan pula seseorang dapat terjerumus dalam dosa.

    3. Amalan Anggota Badan

    Amalan anggota badan mencakup berbagai perbuatan yang dilakukan dengan tubuh, seperti:

    • shalat,

    • berjalan menuju masjid,

    • bersedekah,

    • membantu orang lain,

    • berjihad dalam perkara yang disyariatkan,

    • dan berbagai bentuk amal lainnya.

    Karena itu, hadis ini mencakup seluruh amal manusia.

    Apa Itu Niat?

    Niat secara bahasa bermakna tujuan.

    Adapun secara istilah, niat adalah tekad yang kuat untuk melakukan suatu amal ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

    Niat merupakan amalan hati. Tempat niat adalah hati, bukan lisan. Karena itu, seseorang tidak disyariatkan untuk mengucapkan niat dengan lafaz tertentu sebelum setiap ibadah.

    Yang terpenting adalah adanya tujuan dalam hati bahwa ia melakukan ibadah tersebut untuk mendekatkan diri kepada Allah.

    Seseorang yang hendak shalat harus memiliki tujuan untuk melaksanakan perintah Allah. Ia tidak melakukan shalat agar dipuji manusia, mendapatkan perhatian, atau memperoleh kedudukan di hadapan orang lain. Ia shalat karena Allah.

    Ikhlas dalam Niat

    Mengikhlaskan niat bukan perkara ringan. Para ulama menjelaskan bahwa menjaga keikhlasan merupakan salah satu perkara yang sangat berat bagi seorang hamba.

    Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

    "Sesungguhnya perkara yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil."

    Para sahabat bertanya, "Apa itu syirik kecil?" Beliau menjawab, "Riya." (HR. Ahmad)

    Riya adalah melakukan suatu amal agar dilihat dan dipuji manusia.

    Karena itu, seseorang harus senantiasa memeriksa niatnya. Jangan sampai amal yang secara lahiriah terlihat sebagai ibadah ternyata dilakukan untuk memperoleh pujian manusia.

    Pelajaran Penting dari Hadis

    Hadis pertama dalam Al-Arba'in An-Nawawiyah merupakan hadis yang sangat agung dan memiliki makna yang sangat luas. Di antara pelajaran yang dapat diambil:

    1. Niat memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam.

    2. Nilai sebuah amal bergantung pada niat yang melatarbelakanginya.

    3. Satu amalan yang sama dapat menghasilkan pahala yang berbeda karena perbedaan niat.

    4. Amalan duniawi dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar.

    5. Amalan yang besar secara lahiriah tidak bermanfaat apabila tujuan di baliknya rusak.

    6. Seorang muslim hendaknya selalu memperbaiki dan mengoreksi niatnya.

    7. Ikhlas merupakan perkara yang harus terus diperjuangkan.

    8. Tujuan utama seorang muslim dalam beribadah adalah mencari keridaan Allah.

    Perbedaan Dua Bagian Hadis

    Masih terdapat pembahasan penting yang perlu diperhatikan dalam hadis ini, yaitu perbedaan antara:

    "Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya."

    dan:

    "Dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan."

    Kedua bagian tersebut memiliki makna dan pembahasan yang berbeda.

    Bagian pertama berkaitan dengan penilaian suatu amal berdasarkan niatnya, sedangkan bagian kedua berkaitan dengan balasan yang diperoleh seseorang sesuai dengan niatnya.

    Pembahasan mengenai perbedaan keduanya membutuhkan penjelasan tersendiri dan akan dilanjutkan pada pertemuan berikutnya, insya Allah.

    Penutup

    Hadis tentang niat merupakan salah satu hadis yang sangat penting dalam agama Islam. Tidak mengherankan jika Imam Al-Bukhari rahimahullah menjadikan hadis ini sebagai hadis pertama dalam kitab Shahih Bukhari. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya niat dalam setiap amal yang dilakukan seorang muslim.

    Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kita kemudahan untuk menuntut ilmu, mengamalkan ilmu yang telah kita pelajari, dan menjadikan ilmu tersebut sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

    Semoga Allah memudahkan jalan kita menuju surga melalui ilmu dan amal saleh.

    Semoga Allah memberikan keikhlasan kepada kita dalam setiap amal dan menjauhkan kita dari riya serta berbagai penyakit hati. Wallahu a'lam.

    Poster Kajian

    ******

    Penulis:
    Abu Afif
    Share: