ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ
📚┃Materi : Saudaraku, belum Waktunya Kita Istirahat
🎙┃ Pemateri : Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A. hafizhahullah
🗓┃ Hari, Tanggal : Sabtu, 26 September 2026 M / 15 Rabi’ul Akhir 1448 H
🕌┃Tempat : Masjid Umar bin Khathab Singopuran Solo
ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩْ ﻭَﻧَﻌُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ، ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِﻩِ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﻼَ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻼَ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ. ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ. ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺣَﻖَّ ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻻَ ﺗَﻤُﻮْﺗُﻦَّ ﺇِﻻَّ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﻣُّﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ. ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍﺗَّﻘُﻮْﺍ ﺭَﺑَّﻜُﻢُ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ ﻣِّﻦْ ﻧَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ ﻭَﺧَﻠَﻖَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺯَﻭْﺟَﻬَﺎ ﻭَﺑَﺚَّ ﻣِﻨْﻬُﻤَﺎ ﺭِﺟَﺎﻻً ﻛَﺜِﻴْﺮًﺍ ﻭَﻧِﺴَﺂﺀً ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺗَﺴَﺂﺀَﻟُﻮْﻥَ ﺑِﻪِ ﻭَﺍْﻷَﺭْﺣَﺎﻡَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺭَﻗِﻴْﺒًﺎ.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا
Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi-Nya serta berdo'a dengan banyak do'a keselamatan, Ustadz mengawali kajian dengan mengucapkan terima kasih kepada panitia dan para thulab yang telah meluangkan waktu untuk datang dalam majelis ilmu.
Semua kita menginginkan kita masuk ke dalam surga, untuk itu belum saatnya kita istirahat.
Ustadz memberikan pertanyaan tujuan dari kita beramal. Kita semua tentu menginginkan masuk surga, tetapi tidak semua akan dijamin masuk surga.
Kelak di akhirat, seluruh umat manusia terbagi menjadi dua golongan utama berdasarkan amal perbuatannya di dunia, yaitu golongan yang masuk ke dalam surga dan golongan yang masuk ke dalam neraka.
Berbisnis dengan Allah ﷻ
Nabi ﷺ bersabda:
عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعاً: «مَنْ خَافَ أَدْلَجَ، ومَنْ أَدْلَجَ بَلَغَ المنْزِلَ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ غَالِيَةٌ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ الجَنَّةُ». [صحيح] - [رواه الترمذي]
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Siapa yang takut, hendaknya ia berjalan di awal malam. Siapa yang berjalan di awal malam, niscaya dia sampai tujuan. Ketahuilah bahwa barang dagangan Allah itu mahal. Ingatlah bahwa barang dagangan Allah itu adalah surga."
[Hadis sahih] - [Diriwayatkan oleh Tirmiżi]
Maka, sesungguhnya kita sedang berbisnis dengan Allah ﷻ, kita menjual keimanan dan Allah ﷻ membelinya dengan saksi Rasulullah ﷺ, berupa surga.
Firman-Nya dalam surat Surat At-Taubah Ayat 111:
۞ إِنَّ ٱللَّهَ ٱشْتَرَىٰ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَٰلَهُم بِأَنَّ لَهُمُ ٱلْجَنَّةَ ۚ
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.
Maka, belum waktunya kita beristirahat atau bersenang-senang, dalam arti terus berlomba-lomba dalam kebaikan.
Allah ﷻ berfirman dalam Surat Al-Hadid Ayat 21:
سَابِقُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ ٱللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَآءُ ۚ وَٱللَّهُ ذُو ٱلْفَضْلِ ٱلْعَظِيمِ
Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.
Kapan Kita Istirahat?
سئل الإمام أحمد بن حنبل : متى الراحة يا إمام ؟ فأجاب : عند أول قدم تضعها في الجنة .
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya: “Wahai Imam, kapankah waktu istirahat itu?” Beliau jawab: “(istirahat yang sesungguhnya ialah) pada saat engkau pertama kali menginjakkan kakimu di dalam Surga.”
Seorang Tabi'in berkata saat ditanya kita akan tenang, Ketenangan dan istirahat yang sesungguhnya adalah saat kaki pertamamu berhasil melintasi jembatan sirath dan jembatan itu ada di belakang kita.
Ilmu Jalan Menuju Surga
Kembali pada hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699)
Berkaca kepada Ulama dalam Menuntut Ilmu
Ibnul Mubarak adalah ulama yang terus berbisnis. Dan di antara orang-orang yang paling beliau cintai yang menjadi alasan beliau untuk berdagang adalah para ulama dan penuntut ilmu. Beliau sangat memuliakan mereka, menafkahi mereka dengan nafkah yang besar, mempererat hubungan dengan mereka, dan memperhatikan keadaan mereka semua. Beliau membantu mereka untuk terus belajar dan mengajar. Suatu hari, beliau pernah berkata kepada Fudhail bin ‘Iyadh, “Seandainya bukan karena dirimu dan sahabat-sahabatmu, niscaya aku tidak akan berdagang.” Dikatakan juga bahwa beliau menafkahi orang-orang fakir setiap tahunnya seratus ribu dirham. (Tahdzib At-Tahdzib, karya Ibnu Hajar, 20: 355).
Ibnu al-Mubarak berpendapat bahwa ilmu adalah kemuliaan terbesar yang seseorang tidak memerlukan kemuliaan lain selainnya. Beliau pernah berkata,
عجبت لمن لم يطلب العلم، كيف تدعوه نفسه إلى مكرمة
“Aku heran kepada seseorang yang tidak menuntut ilmu, bagaimana caranya jiwanya dapat mendorongnya untuk meraih kemuliaan?!” (Siyar A’lam an-Nubala’, karya adz-Dzahabi, 8: 398)
Diriwayatkan bukan hanya seorang, bahwa Ibnu Mubarak pernah ditanya, “Sampai kapan engkau akan menulis hadits? Beliau menjawab, “Mungkin ada kata yang bermanfaat bagiku yang belum sempat aku menulisnya”.
Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya ketika rambut beliau sudah tampak memutih,
إلى متى وأنت مع المحبرة
”Sampai kapan Engkau masih bersama dengan wadah tinta?”
Maksudnya, orang tersebut heran ketika Imam Ahmad rahimahullah tetap bersama dengan alat-alat untuk mencari ilmu seperti kertas dan wadah tinta, padahal usia beliau tidak lagi muda. Sehingga dikatakan dalam sebuah kalimat yang terkenal,
مع المحبرة إلى المقبرة
“Bersama wadah tinta sampai ke liang kubur”.
Maksudnya, janganlah terputus untuk meraih ilmu agama. Raihlah ilmu agama sampai ajal menjemput.
Istiqamah Hingga Ajal
Firman-Nya dalam Surat Al-Hijr Ayat 99:
وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ
Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).
Kata al-yaqin dalam ayat ini ditafsirkan sebagai kematian atau ajal, karena setiap yang hidup pasti akan meyakini dan menghadapinya.
Ibadah dan ketaatan kepada Allah tidak mengenal batas waktu, usia, ataupun musim tertentu (seperti selesai bulan Ramadhan). Amal seorang mukmin baru berhenti ketika nyawa meninggalkan raga.
Dunia ini hina, tidak sebanding dengan nilai seekor nyamuk yang lemah tanpa daya. Bahkan dunia ini pun terlaknat, beserta apa yang ada di dalamnya, kecuali kebaktian, kebajikan, dan amal saleh.
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (QS. al-Hadîd [57]: 20).
Hidup adalah Ujian
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.” [Al-Mulk/67:2]
Makna “…untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya…” Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah mengatakan, “Yang paling ikhlas dan paling benar.”
Allah ﷻ berfirman dalam Surat Adz-Dzariyat ayat 56 bahwa Dia tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Nya. Ibadah ini mencakup segala amal kebaikan, ketaatan, serta menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Baik ibadah lahir berupa amalan yang terlihat atau amalan hati.
Kita lihat dakwah Nabi Nuh alaihi salam yang berumur lebih dari 1000 tahun dan berdakwah 950 tahun, sementara umur kita hanya sekitar 60-70 tahun, maka, manfaatkan sisa umur kita.
Hiduplah Seperti Musafir
Hakekatnya hidup kita seperti musafir. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ [وَعُدَّ نَفْسَكَ مِنْ أَهْلِ الْقُبُوْرِ] وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua pundakku, lalu bersabda, ‘Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau seorang musafir’ [dan persiapkan dirimu termasuk orang yang akan menjadi penghuni kubur (pasti akan mati)].”
Dan Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma pernah mengatakan, “Jika engkau berada di sore hari, janganlah menunggu pagi hari. Dan jika engkau berada di pagi hari, janganlah menunggu sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum sakitmu dan hidupmu sebelum matimu.”
Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhâri, no. 6416; at-Tirmidzi, no. 2333; Ibnu Mâjah no. 4114; Ahmad, II/24 dan 41; al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, XIV/230, no. 4029; Ibnu Hibbân, at-Ta’lîqâtul Hisân– no. 696 dan lain-lain
Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh al-Albâni dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah, no. 1157. Kalimat di dalam tanda kurung [ ] tidak terdapat dalam riwayat al-Bukhâri.
Umur kita Terbatas
Karena hakekat umur bertambah, sebenarnya umur kita jatahnya berkurang. Kita tidak tahu kapan selesainya umur kita.
Ingatlah firman-Nya dalam surat Al-'Ashr:
وَالْعَصْرِۙ ١
Demi masa,
اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ ٢
sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian,
اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِࣖ ٣
kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran
Sudah cukup lama kita menjalani hari, dan betapa banyak yang sering kaget sendiri ketika mengingat-ingat waktu yang telah dilewatinya. Memandang umurnya sudah sudah cukup tua dan tak tahu akan sampai kapan kakinya masih bisa menapak. Kumpulan hari-hari dalam kehidupannya selalu berkurang seiring berlalunya waktu. Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan,
ابن آدم إنما أنت أيام كلما ذهب يوم ذهب بعضك
“Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.” (Hilyatul Awliya’, 2: 148)
'Adiy bin Ḥātim -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda,
"Tidaklah ada salah seorang dari kalian kecuali Tuhannya akan berbicara kepadanya, tanpa ada seorang penerjemah pun sebagai perantara. Lalu dia melihat ke sebelah kanannya, tidak ada yang dia lihat kecuali amal yang telah dia kerjakan....
(Shahih Muslim no. 1016).
Ingat, Waktu Mudamu Akan Ditanya
Dari Abu Barzah Al-Aslami, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ
“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417, dari Abi Barzah Al Aslami. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفِرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتِكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: waktu mudamu sebelum masa tuamu, waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, waktu kayamu sebelum waktu fakirmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, dan waktu hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrok, 4: 341. Hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim)
Jangan Menunda Amalan
Hidup ini hanyalah rangkaian detik yang terus berjalan tanpa pernah kembali. Betapa sering kita menunda untuk berbuat baik dengan alasan, “Nanti saja kalau ada waktu, nanti kalau sudah siap, nanti kalau sudah sempat.” Namun, siapa yang bisa menjamin “nanti” itu akan datang? Bisa jadi kesempatan itu hilang, umur kita berakhir, atau hati kita berubah.
Setiap manusia memang memiliki kecenderungan untuk menunda, terutama ketika dihadapkan pada sesuatu yang dianggap tidak mendesak. Padahal, Islam sebagai agama yang sempurna, telah memberikan panduan untuk senantiasa bergerak cepat dalam amal saleh.
Setiap hari membawa peluang yang berbeda. Kebaikan yang bisa kita lakukan hari ini, belum tentu bisa kita ulangi esok hari. Bisa jadi karena kondisi yang berubah, kesempatan yang hilang, atau bahkan usia yang tidak lagi diberikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ
“Bersegeralah melakukan amalan saleh sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap.” (HR. Muslim)
Tidak ada yang Menjamin Diterimanya Amal Kita
Bahkan para nabi dan orang-orang saleh terdahulu pun tetap merasa cemas dan takut jika amal mereka tertolak, terlepas dari seberapa banyak atau ikhlasnya mereka beribadah.
Hal ini menjadi pengingat penting agar kita terhindar dari sifat ujub (bangga diri) dan merasa aman dari siksa-Nya.
Ketika membangun fondasi Ka’bah atas perintah Allah, Nabi Ibrahim dan Ismail tak hanya bekerja keras secara fisik. Mereka juga tak lepas dari berdoa dan menggantungkan harapan pada Allah. Allah Ta‘ala mengabadikan doa mereka dalam firman-Nya:
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَٰهِيمُ ٱلْقَوَاعِدَ مِنَ ٱلْبَيْتِ وَإِسْمَٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): ‘Ya Tuhan kami, terimalah daripada kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’” (QS. Al-Baqarah: 127)
Pentingnya Beramal Kontinu (Rutin), Walaupun Sedikit
Di antara keunggulan suatu amalan dari amalan lainnya adalah amalan yang rutin (kontinu) dilakukan. Amalan yang kontinu –walaupun sedikit- itu akan mengungguli amalan yang tidak rutin –meskipun jumlahnya banyak-. Amalan inilah yang lebih dicintai oleh Allah Ta’ala. Di antara dasar dari hal ini adalah dalil-dalil berikut.
Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. (HR. Muslim no. 783, Kitab shalat para musafir dan qasharnya, Bab Keutamaan amalan shalat malam yang kontinu dan amalan lainnya).
Apa yang perlu diperbaiki?
1. Perbaiki Hubungan Kita dengan Allah ﷻ
Terutama dengan memupuk amalan-amalan hati. Inilah sumber amalan lahiriah. Hal ini akan menambah kecintaan kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya, dengannya akan menambah amalan jawarih.
2. Berjihad Melawan Hawa Nafsu
Yaitu berjihad untuk belajar ilmu, mengamalkannya, mendakwahkan dan bersabar di atasnya.
3. Kerjasama dengan anggota keluarga dalam kebaikan dan takwa
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat at-Tahrim ayat 6:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا
"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..."
4. Memohon pertolongan kepada Allâh
Karena semua yang kita lakukan dan inginkan tidak akan tercapai kecuali hanya dengan Pertolongan dari Allah ﷻ.
Semua hasil bukan karena kekuatan kita, tetapi murni taufik dari Allah ﷻ. Manusia pada hakikatnya lemah. Tanpa kekuatan (la hawla wa la quwwata illa billah) yang diberikan oleh Allah, kita bahkan tidak akan mampu menggerakkan satu jari pun untuk berusaha.
Iyyaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin
"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan." (QS. Al-Fatihah ayat 5)
Sabda Rasulullah ﷺ:
Ihrish 'alaa maa yanfa'uka, wasta'in billahi wa laa ta'jaz
"Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau merasa lemah (patah semangat) (HR. Muslim)
Doa agar Kuat Dzikir, Syukur, and Ibadah
Rasulullah ﷺ bersabda kepada Mu'adz bin Jabal, "Demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu. Aku berwasiat kepadamu wahai Mu'adz, janganlah kamu tinggalkan di setiap akhir shalat (sebelum salam) bacaan doa ini:"
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Allāhumma a'innī ‘alā dzikrika, wa syukrika, wa husni ‘ibādatika.
"Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu." (HR. Abu Dawud).
Diantara kecelakaan terbesar adalah ketika Allah murka dan membiarkan kita mengurus diri sendiri, tanpa perhatian dan dukungan dari-Nya?
Oleh karenanya, diantara wirid tawajjuhat pagi/sore yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terdapat pernyataan ini:
يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ
(Yaa hayyu yaa qayyuum bi rahmatika astaghiitsu ashlih liy sya’niy kullahu wa laa takilniy ilaa nafsiy tharfata ‘ain)
“Wahai Tuhan yang Maha Hidup; wahai Tuhan yang Maha Mengurusi segala sesuatu; aku mohon pertolongan kepada-Mu, dengan kasih sayang-Mu. Perbaikilah segala urusanku dan jangan serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata pun” [Riwayat Ibnus Sunniy dan al-Hakim yang men-shahih-kannya, dan disepakati oleh adz-Dzahabi].
Kita memohon kepada Allah karena sadar akan keterbatasan diri ini. Kita mengharapkan bantuan, pertolongan, dan dukungan-Nya. Tanpa-Nya kita tidak bisa berbuat apa-apa.
Semoga Allah Ta’ala memudahkan urusan kita dalam beribadah menjalankan perintah-Nya berlandaskan sunnah-sunnah Nabi ﷺ dan istiqomah di dalamnya.
Poster Rangkuman

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم