Perhatikan Umurmu: Jangan Sia-siakan Waktu yang Allah Berikan
Pendahuluan
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, serta bertobat kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan diri dan kejelekan amal perbuatan kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada yang dapat menyesatkannya. Barang siapa disesatkan oleh-Nya, tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.
“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan Allah menciptakan pasangannya (Hawa) dari dirinya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. An-Nisa’ [4]: 1).
Hadirin dan hadirat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, alhamdulillah, Allah masih memberikan kepada kita berbagai nikmat sehingga pada kesempatan ini kita dapat berkumpul di tempat yang mulia untuk saling mengingatkan dalam kebaikan, menuntut ilmu agama, dan mengingat kehidupan akhirat yang akan kita jalani selama-lamanya.
Semoga kehadiran kita di majelis ini benar-benar didasari keikhlasan, semata-mata untuk mengharapkan pahala dan keridaan Allah. Semoga Allah melipatgandakan pahala kita, memberikan ilmu yang bermanfaat, serta memberkahi kehidupan kita.
Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga beliau, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.
Tema kajian kita kali ini adalah “Perhatikan Umurmu.” Tema ini mengingatkan kita akan salah satu nikmat terbesar yang sering kali kurang kita sadari, yaitu umur dan waktu yang Allah berikan.
1. Umur Adalah Nikmat yang Sangat Berharga
Umur merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan. Seseorang mungkin masih dapat menjalani kehidupan tanpa memiliki banyak harta atau tanpa kedudukan tinggi. Akan tetapi, tanpa umur dan kesempatan hidup, ia tidak dapat melakukan apa pun di dunia.
Kehidupan kita pada hakikatnya merupakan kumpulan waktu dan hari-hari yang terus berlalu. Setiap hari yang pergi berarti berkurang pula bagian dari kehidupan kita.
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah mengatakan:
يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ
“Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari berlalu, sebagian dari dirimu ikut pergi.”
Perkataan ini mengandung pelajaran yang sangat mendalam. Apabila seseorang kehilangan satu hari, berarti satu hari dari umurnya telah berlalu dan tidak mungkin kembali. Jika hari-hari terus berlalu, semakin berkurang pula kesempatan hidupnya di dunia.
Karena itu, semestinya kita tidak hanya bergembira ketika umur bertambah, tetapi juga merenungkan apa yang telah kita lakukan selama waktu yang berlalu. Ketika seseorang memasuki usia 30, 40, 50, atau 60 tahun, sesungguhnya ia telah melewati puluhan tahun yang tidak mungkin dikembalikan.
Semakin bertambah usia, semakin dekat pula seseorang dengan kematian. Pertanyaannya, sudahkah waktu yang telah berlalu kita gunakan untuk memperbanyak amal saleh?
Dalam kajian ini, pemateri mengingatkan agar kita tidak menjadikan bertambahnya usia sebagai alasan untuk berpuas diri. Yang lebih penting adalah mengevaluasi amal dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.
2. Umur Akan Dipertanggungjawabkan di Hadapan Allah
Umur bukan sekadar nikmat, melainkan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Kita tidak diberi kesempatan hidup tanpa tujuan. Ada kewajiban yang harus ditunaikan dan ada bekal yang harus dipersiapkan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ
“Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya; tentang ilmunya, bagaimana ia mengamalkannya; tentang hartanya, dari mana ia memperolehnya dan ke mana ia membelanjakannya; serta tentang tubuhnya, untuk apa ia menggunakannya.”
HR. At-Tirmidzi, no. 2417. At-Tirmidzi menilai hadis ini hasan sahih.
Perhatikan bahwa umur disebutkan secara khusus dalam hadis ini. Kita akan ditanya tentang waktu yang telah Allah berikan: apakah digunakan untuk ketaatan atau justru dihabiskan dalam kelalaian dan kemaksiatan?
Kelak kita akan berdiri di hadapan Allah dan tidak dapat menyembunyikan apa pun dari-Nya. Jika umur digunakan dengan baik, ia akan menjadi sebab kemuliaan dan kebahagiaan. Sebaliknya, apabila disia-siakan, penyesalan yang muncul pada hari kiamat tidak lagi berguna.
Penyesalan penduduk neraka
Allah menggambarkan keadaan penduduk neraka yang meminta agar dikembalikan ke dunia sehingga mereka dapat memperbaiki amalnya.
وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ
“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan kebajikan, bukan seperti yang pernah kami kerjakan dahulu.’ (Dikatakan kepada mereka), ‘Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir, padahal telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami), dan bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolong pun.’” QS. Fatir [35]: 37.
Ketika masih hidup di dunia, mereka memperoleh umur, kesempatan beramal, dan peringatan melalui wahyu serta para rasul. Namun, ketika kesempatan itu telah habis, barulah mereka berharap dapat kembali untuk memperbaiki diri.
Permintaan tersebut tidak lagi berguna. Allah kemudian menjelaskan bahwa mereka telah diberi umur yang cukup untuk mengambil pelajaran dan telah datang kepada mereka pemberi peringatan.
Ini juga merupakan keadaan yang harus kita renungkan. Kita masih hidup, masih memiliki kesempatan untuk bertobat, memperbaiki salat, menuntut ilmu, bersedekah, dan memperbanyak amal saleh. Jangan sampai kesempatan itu baru kita sadari ketika semuanya telah berakhir.
Allah juga berfirman bahwa orang-orang yang berusaha keluar dari neraka akan dikembalikan ke dalamnya:
كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ أُعِيدُوا فِيهَا وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ
“Setiap kali mereka hendak keluar darinya karena kesengsaraan, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan), ‘Rasakanlah azab yang membakar ini!’” QS. Al-Hajj [22]: 22.
Semoga Allah melindungi kita dari keadaan tersebut. Sebelum datang hari ketika kesempatan beramal telah tertutup, manfaatkanlah umur yang masih tersisa.
3. Ketika Kematian Datang, Manusia Ingin Kembali ke Dunia
Allah juga menceritakan penyesalan orang yang baru menyadari nilai amal ketika kematian telah datang.
حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.” QS. Al-Mu’minun [23]: 99–100.
Ketika kematian datang, orang tersebut memohon agar dikembalikan ke dunia. Ia ingin mengerjakan amal saleh yang dahulu ditinggalkannya. Akan tetapi, permintaan itu tidak akan dikabulkan. Setelah kematian, manusia memasuki alam barzakh hingga hari kebangkitan.
Kesempatan beramal yang dapat kita manfaatkan sekarang adalah kesempatan ketika kita masih hidup di dunia. Oleh karena itu, jangan menunda-nunda kebaikan dengan anggapan bahwa kita masih memiliki banyak waktu.
Penyesalan serupa juga digambarkan dalam ayat tentang perintah berinfak.
وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ
“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)-ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.’” QS. Al-Munafiqun [63]: 10.
Ayat ini secara khusus mengingatkan kita agar berinfak sebelum kematian datang. Ketika seseorang telah meninggal, ia akan mengetahui betapa berharganya kesempatan bersedekah dan melakukan amal saleh yang dahulu tersedia baginya.
Maka, selagi masih hidup, perbanyaklah sedekah, wakaf, dan berbagai bentuk kebaikan sesuai kemampuan. Tidak perlu menunggu kaya untuk memulai amal saleh. Yang terpenting adalah keikhlasan dan kesungguhan dalam memanfaatkan kesempatan yang ada.
4. Jangan Takut Bersedekah: Allah Menjanjikan Gantinya
Sebagian orang merasa berat bersedekah karena mengira bahwa mengeluarkan harta pasti membuatnya rugi. Jika memiliki uang satu juta rupiah lalu menyedekahkan seratus ribu rupiah, secara hitungan kasatmata uang yang tersisa memang menjadi sembilan ratus ribu rupiah.
Namun, persoalannya bukan hanya berapa jumlah uang yang tersisa. Seorang mukmin juga mempertimbangkan pahala, keberkahan, serta balasan yang Allah janjikan.
Allah berfirman:
قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
“Katakanlah, ‘Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang Dia kehendaki).’ Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi Rezeki yang terbaik.”
QS. Saba’ [34]: 39.
Allah menjanjikan pengganti bagi harta yang diinfakkan. Bentuk dan waktu penggantian itu tidak harus selalu berupa uang yang langsung kembali dalam jumlah yang sama. Allah memberikan rezeki sesuai hikmah dan kehendak-Nya, sementara pahala akhirat merupakan balasan yang jauh lebih besar.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meriwayatkan firman Allah dalam hadis qudsi:
قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ، أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ
“Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ‘Wahai anak Adam, berinfaklah, niscaya Aku akan memberikan infak kepadamu.’”
HR. Al-Bukhari, no. 5352, dan Muslim, no. 993.
Janji Allah tidak pernah diingkari. Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ
“Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.” QS. Ali ‘Imran [3]: 9.
Karena itu, jangan menunggu memiliki harta yang banyak untuk bersedekah. Orang yang memiliki seratus ribu rupiah dapat bersedekah dua ribu atau lima ribu rupiah. Bahkan, orang yang memiliki uang lebih sedikit pun masih dapat berbagi sesuai kemampuannya.
Yang perlu diperhatikan bukan semata-mata besarnya nominal, melainkan keikhlasan dan pengorbanan yang menyertainya. Sedekah kecil dari orang yang kekurangan, tetapi diberikan dengan perjuangan yang besar, dapat memiliki keutamaan yang tidak dimiliki oleh sedekah besar dari orang yang berharta melimpah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
“Sedekah tidaklah mengurangi harta.” HR. Muslim, no. 2588.
Sedekah juga merupakan sebab datangnya pahala dan keberkahan. Maka, jangan sampai umur kita berlalu tanpa membiasakan diri untuk memberi, membantu orang lain, dan mendukung kebaikan.
5. Umur Manusia di Dunia Relatif Singkat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ
“Umur umatku berkisar antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, dan sedikit di antara mereka yang melampaui itu.” HR. At-Tirmidzi, no. 2331. Hadis ini dinilai hasan gharib oleh At-Tirmidzi.
Hadis ini mengingatkan bahwa umur manusia pada umumnya tidak panjang. Memang ada orang yang hidup hingga usia delapan puluh, sembilan puluh, atau bahkan lebih. Namun, banyak pula yang meninggal sebelum mencapai usia enam puluh tahun.
Karena itu, jangan menjadikan usia tua sebagai sesuatu yang pasti akan kita capai. Kita tidak mengetahui berapa lama lagi kesempatan hidup yang tersisa.
Umur juga sering kali terasa berlalu begitu cepat. Seseorang merasa baru saja melewati masa muda, tiba-tiba sudah berusia tiga puluh tahun, lalu empat puluh, lima puluh, dan seterusnya. Tanpa disadari, kematian semakin dekat.
Cobalah merenungkan perjalanan hidup sejak lahir hingga hari ini. Meskipun telah menjalani kehidupan selama puluhan tahun, ketika diminta menceritakan seluruh pengalaman tersebut, mungkin kita hanya mampu mengisahkannya dalam beberapa jam. Begitu cepatnya waktu berlalu sehingga banyak peristiwa terasa seolah-olah baru terjadi kemarin.
Maka, jangan sia-siakan setiap bagian umur. Gunakan waktu yang tersisa untuk memperbaiki diri, menunaikan kewajiban, dan memperbanyak amal saleh.
6. Amal Saleh Sesungguhnya Kembali kepada Diri Kita Sendiri
Ketika seseorang melaksanakan salat, membaca Al-Qur’an, bersedekah, atau melakukan kebaikan lainnya, orang yang paling besar memperoleh manfaat dari amal tersebut adalah dirinya sendiri.
Orang yang menjaga salat mendapatkan pahala, ketenangan hati, dan kesempatan untuk memulai hari dengan ketaatan. Orang yang membuka harinya dengan salat dan membaca Al-Qur’an diharapkan lebih bersemangat menjalani sisa waktunya dalam kebaikan.
Allah berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ
“Barang siapa mengerjakan kebajikan, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri, dan barang siapa berbuat jahat, maka (dosanya) menjadi tanggungan dirinya sendiri. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan.” QS. Al-Jatsiyah [45]: 15.
Allah tidak membutuhkan ibadah manusia. Ketaatan kita tidak menambah kekuasaan-Nya, sebagaimana kemaksiatan kita tidak mengurangi kekuasaan-Nya sedikit pun.
Dalam hadis qudsi yang panjang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meriwayatkan firman Allah:
يَا عِبَادِي، إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي، وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan mampu mencapai sesuatu yang dapat membahayakan-Ku sehingga kalian membahayakan-Ku, dan kalian tidak akan mampu mencapai sesuatu yang dapat memberikan manfaat kepada-Ku sehingga kalian memberikan manfaat kepada-Ku.” HR. Muslim, no. 2577.
Dalam hadis yang sama, Allah menjelaskan bahwa seandainya seluruh manusia dan jin memiliki ketakwaan seperti orang yang paling bertakwa di antara mereka, hal itu tidak menambah kekuasaan Allah sedikit pun. Sebaliknya, apabila seluruh manusia dan jin berada dalam keburukan seperti orang yang paling buruk di antara mereka, hal itu juga tidak mengurangi kekuasaan-Nya sedikit pun.
Allah Mahakaya dan tidak membutuhkan makhluk-Nya. Kitalah yang membutuhkan ibadah, ampunan, rahmat, dan pahala dari-Nya.
Karena itu, jangan merasa seolah-olah kita telah berjasa kepada Allah dengan ibadah yang kita lakukan. Justru kita patut bersyukur karena Allah memberikan kesempatan, petunjuk, dan beragam jalan kebaikan agar kita dapat mengumpulkan bekal untuk kehidupan akhirat.
Jika kita tidak beribadah dan menyia-nyiakan umur, kitalah yang menanggung akibatnya. Sebaliknya, jika kita taat, manfaatnya kembali kepada diri kita sendiri.
7. Kehidupan Dunia Terasa Sangat Singkat Ketika Dibandingkan dengan Akhirat
Ketika masih hidup, puluhan tahun mungkin terasa lama. Namun, ketika manusia melihat kenyataan akhirat, kehidupan dunia yang telah dilalui akan terasa sangat singkat.
Allah berfirman:
كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ
“Pada hari mereka melihat azab yang dijanjikan kepada mereka, mereka merasa seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat saja pada siang hari.” QS. Al-Ahqaf [46]: 35.
Allah juga berfirman:
كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا
“Pada hari ketika mereka melihat hari Kiamat itu, mereka merasa seakan-akan hanya (sebentar saja) tinggal (di dunia) pada waktu sore atau pagi hari.” QS. An-Nazi’at [79]: 46.
Dalam ayat lain, Allah menggambarkan keadaan manusia ketika dikumpulkan di Padang Mahsyar:
وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ كَأَنْ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِنَ النَّهَارِ يَتَعَارَفُونَ بَيْنَهُمْ
“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Dia mengumpulkan mereka, (mereka merasa seakan-akan) tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali sesaat saja pada siang hari, (pada waktu itu) mereka saling berkenalan.” QS. Yunus [10]: 45.
Gambaran tersebut menunjukkan betapa singkatnya kehidupan dunia apabila dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang kekal.
Sebagian orang sangat mencintai dunia hingga berharap dapat hidup selama seribu tahun. Allah menyebutkan keadaan tersebut dalam firman-Nya:
وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَىٰ حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ
“Dan sungguh, engkau (Muhammad) akan mendapati mereka (orang-orang Yahudi) sebagai manusia yang paling tamak akan kehidupan (dunia), bahkan (lebih tamak) daripada orang-orang musyrik. Masing-masing dari mereka ingin diberi umur seribu tahun.” QS. Al-Baqarah [2]: 96.
Adapun seorang mukmin memandang singkatnya kehidupan dunia dengan perspektif akhirat. Kehidupan dunia dipenuhi ujian, kesulitan, rasa sakit, dan berbagai keterbatasan. Jika ujian itu hanya berlangsung beberapa puluh tahun, kemudian Allah memberikan kenikmatan surga yang kekal kepada orang-orang beriman yang dirahmati-Nya, sungguh itu merupakan karunia yang sangat besar.
Oleh sebab itu, jangan hanya sibuk memperpanjang kenikmatan dunia. Persiapkanlah kehidupan akhirat yang tidak memiliki akhir.
8. Jadikan Seluruh Aktivitas Bernilai Ibadah
Memprioritaskan akhirat bukan berarti kita harus meninggalkan pekerjaan, olahraga, makan, minum, atau tidur. Semua itu tetap dapat dilakukan. Yang perlu diperhatikan adalah tujuan, niat, dan cara melakukannya.
Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” QS. Adz-Dzariyat [51]: 56.
Ayat ini menjelaskan tujuan penciptaan jin dan manusia, yaitu beribadah kepada Allah.
Karena itu, kita hendaknya mengarahkan seluruh kegiatan kepada tujuan tersebut. Beberapa contohnya adalah:
Bekerja. Niatkan mencari rezeki yang halal untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarga serta menghindarkan diri dari meminta-minta.
Berolahraga. Niatkan menjaga kesehatan agar tubuh mampu menjalankan kewajiban dan melakukan kebaikan.
Makan dan minum. Niatkan menjaga kekuatan tubuh agar dapat beribadah kepada Allah.
Tidur dan beristirahat. Niatkan memulihkan tenaga agar dapat kembali melaksanakan kewajiban dan melakukan aktivitas yang bermanfaat.
Berinteraksi dengan keluarga dan masyarakat. Niatkan memenuhi hak orang lain, menjaga silaturahmi, serta membantu dalam kebaikan.
Dengan niat yang benar, aktivitas yang pada asalnya mubah dapat menjadi sarana memperoleh pahala. Tentu saja, niat baik harus disertai cara yang dibenarkan oleh syariat. Sesuatu yang haram tidak menjadi halal hanya karena diniatkan untuk kebaikan.
Maka, fokuslah menjadikan kehidupan ini sebagai jalan untuk beribadah kepada Allah. Bentuk ibadah itu beragam, tidak terbatas pada salat dan membaca Al-Qur’an saja. Akan tetapi, semua aktivitas harus tetap berada dalam batas-batas yang telah Allah tetapkan.
9. Muhasabah: Periksa Bekal untuk Hari Esok
Agar umur yang singkat ini benar-benar bermanfaat, kita perlu melakukan muhasabah, yaitu mengevaluasi diri dan memperbaiki amal.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” QS. Al-Hasyr [59]: 18.
Ayat ini memerintahkan kita untuk memperhatikan apa yang telah dipersiapkan bagi kehidupan akhirat. Sudah berapa usia kita? Apa yang telah kita kerjakan? Berapa banyak kewajiban yang telah ditunaikan, ilmu yang telah diamalkan, dan kebaikan yang telah disebarkan?
Cobalah sesekali menyendiri untuk mengevaluasi diri dengan pertanyaan-pertanyaan berikut:
Sudahkah kita memperbaiki salat dan menjaga kewajiban?
Sudahkah kita bertobat dari dosa-dosa yang dilakukan?
Sudahkah kita memperbanyak sedekah dan mendukung dakwah Islam?
Sudahkah kita mempelajari serta mengamalkan ilmu agama?
Sudahkah kita mempersiapkan bekal yang manfaatnya tetap mengalir setelah kematian?
Jika kematian datang dalam waktu dekat, apakah kita telah mempersiapkan diri untuk menghadapinya?
Muhasabah bukan sekadar merasa takut atau menyesal. Muhasabah yang benar akan mendorong kita memperbaiki amal, meninggalkan keburukan, dan memanfaatkan waktu yang tersisa.
10. Usahakan Memiliki Amal yang Terus Mengalir Setelah Kematian
Salah satu bentuk persiapan menghadapi kematian adalah memperhatikan amal yang manfaatnya tetap berlangsung setelah seseorang meninggal dunia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” HR. Muslim, no. 1631.
Hadis ini menyebutkan tiga amalan yang pahalanya dapat terus mengalir setelah kematian, dengan izin Allah.
Pertama: Sedekah jariyah, termasuk wakaf
Sedekah jariyah adalah sedekah yang manfaatnya terus berlangsung. Wakaf untuk pembangunan masjid, sarana pendidikan, dan fasilitas bermanfaat lainnya merupakan contoh yang dapat menjadi sedekah jariyah apabila memenuhi ketentuan syariat.
Jangan beranggapan bahwa wakaf hanya dapat dilakukan oleh orang kaya. Jika memiliki kemampuan terbatas, kita dapat berpartisipasi melalui donasi kecil untuk pembangunan masjid, lembaga pendidikan, atau program lain yang terpercaya.
Bisa jadi kontribusi kita tampak sedikit, tetapi apabila manfaatnya terus digunakan oleh banyak orang, pahala dari amal tersebut dapat terus mengalir sesuai janji Allah.
Kedua: Anak saleh yang mendoakan orang tuanya
Mendidik anak agar mengenal Allah, menjaga salat, mencintai Al-Qur’an, dan berakhlak mulia merupakan investasi akhirat yang sangat berharga.
Orang tua hendaknya tidak hanya berusaha memenuhi kebutuhan materi anak, tetapi juga membimbing mereka agar menjadi hamba Allah yang saleh. Doa anak yang saleh untuk orang tuanya merupakan salah satu amalan yang disebutkan secara khusus dalam hadis di atas.
Karena itu, gunakanlah umur untuk mendidik keluarga, memberikan teladan, dan membantu anak tumbuh dalam ketaatan.
Ketiga: Ilmu yang bermanfaat
Tidak semua orang harus menjadi ustaz untuk menyebarkan ilmu. Setiap orang dapat berkontribusi sesuai pengetahuan dan kemampuannya, selama ilmu yang disampaikan benar dan bersumber dari rujukan yang dapat dipercaya.
Di zaman sekarang, ilmu dapat disebarkan melalui tulisan, rekaman kajian, buku, maupun media sosial. Kita dapat membagikan penjelasan ayat, hadis sahih, atau nasihat ulama yang telah dipastikan kebenarannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
“Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat.” HR. Al-Bukhari, no. 3461.
Hadis ini mendorong kita menyampaikan ajaran yang benar meskipun sedikit. Tentu saja, menyampaikan ilmu harus dilakukan dengan amanah, tidak berbicara tanpa pengetahuan, dan tidak menyebarkan informasi agama yang belum dipastikan kebenarannya.
Jika ilmu yang kita sebarkan diamalkan oleh orang lain, kita berharap mendapatkan pahala atas manfaat tersebut sesuai keutamaan yang dijelaskan dalam dalil-dalil syariat.
11. Gunakan Tenaga, Waktu, Harta, dan Ilmu untuk Membantu Islam
Cobalah bertanya kepada diri sendiri: apa yang telah saya berikan untuk agama Islam?
Apakah kita sudah membantu kegiatan dakwah? Apakah kita sudah berkontribusi untuk masjid dan lembaga pendidikan? Apakah kita sudah membantu orang yang membutuhkan atau mendukung kegiatan yang mengajarkan ilmu agama?
Jangan merasa tidak dapat berbuat apa-apa hanya karena tidak memiliki banyak harta atau ilmu yang luas. Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang dapat membantu dengan hartanya, ada yang memiliki tenaga, ada yang mempunyai waktu, dan ada yang mampu menyumbangkan pikiran serta keterampilannya.
Semua kemampuan itu dapat digunakan untuk mendukung kebaikan. Yang terpenting adalah keikhlasan, mengikuti tuntunan agama, dan memilih kegiatan yang benar-benar bermanfaat.
Perhatikan pula hafalan Al-Qur’an
Selain kontribusi kepada masyarakat, kita juga perlu mengevaluasi hubungan pribadi dengan Al-Qur’an. Sudah berapa ayat yang kita hafal? Sudahkah kita berusaha menyelesaikan hafalan Juz 30? Sudahkah kita rutin membaca dan mengulang hafalan yang telah dipelajari? Jangan sampai usia terus bertambah, tetapi hubungan kita dengan Al-Qur’an tetap lemah karena tidak pernah sungguh-sungguh berusaha.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ: اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا، فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا
“Akan dikatakan kepada orang yang menghafal Al-Qur’an, ‘Bacalah dan naiklah, serta tartilkanlah sebagaimana engkau dahulu membacanya dengan tartil di dunia. Sesungguhnya kedudukanmu berada pada akhir ayat yang engkau baca.’” HR. Abu Dawud, no. 1464, dan At-Tirmidzi, no. 2914.
Hadis ini menjadi dorongan untuk memperhatikan Al-Qur’an dan berusaha menghafalnya. Semakin banyak seseorang menghafal dan membaca Al-Qur’an dengan baik, semakin besar pula kesempatan untuk meraih keutamaan yang Allah sediakan.
Apabila kita sudah berusia lanjut, jangan menjadikannya alasan untuk berhenti belajar. Mulailah dari ayat yang mudah, ulangi secara teratur, dan mintalah bantuan orang yang mampu membimbing bacaan.
Jika kita mudah lupa, jangan menyerah. Mengulang hafalan merupakan bagian dari kesungguhan dalam menuntut ilmu. Kita berharap memperoleh pahala dari bacaan, usaha, dan kesulitan yang dihadapi ketika belajar.
12. Jadilah Orang yang Cerdas dengan Menghisab Diri
Sebelum menutup kajian, marilah kita merenungkan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ
“Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Adapun orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya, kemudian berangan-angan terhadap Allah.” HR. At-Tirmidzi, no. 2459. Hadis ini diriwayatkan dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu.
Orang yang cerdas bukan sekadar orang yang pandai dalam urusan dunia. Orang yang benar-benar cerdas adalah orang yang menyadari bahwa kehidupannya akan berakhir dan mempersiapkan diri untuk mempertanggungjawabkan amalnya.
Ia mengevaluasi dirinya, mengakui kekurangan, lalu berusaha memperbaikinya. Ia tidak berhenti pada penyesalan, tetapi meneruskannya dengan amal yang nyata.
Sebaliknya, orang yang lemah adalah orang yang terus mengikuti hawa nafsunya, menunda-nunda kebaikan, dan hanya mengandalkan harapan akan ampunan Allah tanpa memperbaiki amalnya.
Memang benar bahwa Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Namun, harapan kepada rahmat Allah seharusnya mendorong seseorang untuk bertobat dan taat, bukan menjadi alasan untuk terus-menerus melakukan kemaksiatan.
Seorang mukmin berusaha melakukan kebaikan, tetapi tetap khawatir jika amalnya tidak diterima. Allah menggambarkan sifat orang beriman yang demikian:
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” QS. Al-Mu’minun [23]: 60.
Ayat ini menjelaskan bahwa orang beriman tetap memiliki rasa takut dan khawatir ketika memikirkan kepulangan mereka kepada Allah, meskipun telah berusaha melakukan kebaikan.
Sikap tersebut tidak membuat mereka berputus asa. Justru mereka semakin bersungguh-sungguh dalam beramal, berharap kepada rahmat Allah, dan memohon agar amal mereka diterima.
Penutup
Hadirin yang dirahmati Allah, umur adalah nikmat besar yang tidak dapat diulang. Setiap hari yang berlalu mengurangi kesempatan kita untuk beramal di dunia. Kita tidak mengetahui kapan kematian akan datang, sehingga tidak sepantasnya kita menunda-nunda kebaikan.
Marilah kita memperhatikan umur masing-masing. Gunakanlah waktu untuk memperbaiki salat, mempelajari dan mengamalkan ilmu agama, membaca serta menghafal Al-Qur’an, bersedekah, membantu dakwah, mendidik keluarga, dan melakukan berbagai amal saleh lainnya.
Jangan hanya menghitung berapa lama kita telah hidup. Hitunglah pula apa yang telah kita persiapkan untuk kehidupan setelah kematian. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk memanfaatkan sisa umur dalam ketaatan, menerima amal-amal kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menutup kehidupan kita dengan husnul khatimah.
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ.