Dalam ajaran Islam, keimanan bukanlah sesuatu yang bersifat statis, melainkan dinamis. Berdasarkan risalah Ad-Durar al-Nafisah Fi Rihlati ila Makkah wal-Madinah karya Ustadz Mohammad Alif, Lc., M.Pd., dijelaskan prinsip dasar akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah mengenai hakikat iman, dalil-dalil pembuktinnya, serta faktor-faktor yang menyebabkan iman bertambah maupun berkurang.
Prinsip Utama: Iman Bertambah dan Berkurang
Salah satu pokok akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah meyakini bahwa iman dapat bertambah dan berkurang (al-imanu yazidu wa yanqus). Keimanan yang diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan melalui anggota badan ini tidak berada pada satu tingkatan yang konstan.
Prinsip ini berlandaskan pada dalil-dalil Al-Qur'an dan As-Sunnah:
- Dalil Al-Qur'an: Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Fath ayat 4:"...supaya bertambah keimanan mereka di samping keimanan mereka (yang telah ada)."
- Dalil As-Sunnah: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda mengenai wanita bahwa mereka adalah sosok yang naqishatu 'aqlin wa din (memiliki kekurangan dalam akal dan agama). Kekurangan dalam hal agama di sini merujuk pada kondisi alamiah seperti haid atau nifas yang membuat wanita diberi keringanan untuk tidak melaksanakan salat dan puasa pada waktu tertentu.
Setiap dalil yang menunjukkan bertambahnya iman secara implisit juga membuktikan bahwa iman bisa berkurang, begitu pula sebaliknya. Kedua kondisi ini saling berkaitan (mutalaziman) dan merupakan kesepakatan (ijma') para sahabat serta mayoritas ulama salaf. Imam Ibnu 'Abdil Barr rahimahullah menegaskan bahwa pandangan ini dipegang teguh oleh para ahli hadis dan fuqaha di seluruh penjuru dunia.
Penyimpangan Dua Kelompok Ekstrem
Terdapat dua kelompok yang menyelisih pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama'ah terkait konsep iman:
- Murji'ah Murni (Al-Murji'atul Khalisah)Kelompok ini berpendapat bahwa iman hanya sebatas keyakinan dalam hati dan tidak bertingkat-tingkat. Bagi mereka, kadar iman orang yang fasik (pelaku dosa) dan orang yang jujur/saleh adalah sama. Pemahaman ini berbahaya karena berpotensi membuat seseorang meremehkan dosa dan enggan beramal saleh.
- Al-Wa'idiyyah (Khawarij dan Mu'tazilah)Kelompok ini beranggapan bahwa iman bersifat mutlak—harus ada seluruhnya atau hilang sama sekali. Mereka mengeluarkan pelaku dosa besar dari keimanan dan memvonisnya sebagai kafir. Padahal, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menegaskan adanya syafaat bagi pelaku dosa besar dari umatnya, dan Allah tetap menyapa para pelaku dosa tertentu dengan sebutan orang-orang beriman (al-mu'minin).
Sebab-Sebab Bertambahnya Keimanan
Keimanan seseorang dapat menguat dan meningkat melalui beberapa faktor utama:
- Mengenal Nama dan Sifat Allah (Ma'rifatullah): Semakin seorang hamba memahami Asmaul Husna dan sifat-sifat Allah beserta konsekuensinya, semakin bertambah pula rasa cinta, pengagungan, dan rasa takutnya kepada Allah.
- Merenungi Ayat-Ayat Allah (An-Nazhar fi Ayatillah): Memperhatikan dan mentadaburi tanda-tanda kekuasaan Allah, baik yang tercipta di alam semesta (ayat kauniyah) maupun yang tertuang dalam wahyu (ayat syar'iyah), akan memperkokoh keyakinan tanpa keraguan.
- Melakukan Ketaatan (Fi'lut Tha'ah): Ketaatan memperkuat iman berdasarkan tiga aspek:
- Kualitas amalan: Tingkat keikhlasan dan kesesuaian (itba') dengan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
- Jenis amalan: Amalan wajib lebih utama daripada amalan sunnah, dan sebagian amalan memiliki keutamaan khusus dibanding yang lain.
- Kuantitas amalan: Semakin banyak amalan saleh yang dikerjakan, semakin bertambah pula keimanan.
- Meninggalkan Maksiat karena Takut kepada Allah: Ketika dorongan dan fasilitas untuk bermaksiat sangat kuat, namun seseorang memilih untuk meninggalkannya semata-mata demi meraih keridaan Allah, hal itu menjadi bukti nyata dari kekuatan imannya.
Sebab-Sebab Berkurangnya Keimanan
Sebaliknya, keimanan seseorang dapat melemah dan menyusut disebabkan oleh:
- Ketidaktahuan (Al-Jahl): Apatis dan tidak mau mempelajari nama-nama serta sifat-sifat Allah.
- Kelalaian dan Berpaling (Al-Ghaflah wal-I'radh): Enggan merenungi ayat-ayat Allah, yang lambat laun dapat menyebabkan hati menjadi sakit bahkan mati karena dikuasai oleh syubhat dan syahwat.
- Berbuat Maksiat (Fi'lul Ma'asi): Tingkat penurunan iman bergantung pada jenis dosa (dosa besar menurunkan iman lebih drastis dibanding dosa kecil), frekuensi perbuatan dosa, serta sikap batin pelaku—apakah ia meremehkan dosa tersebut atau merasa takut dan menyesali perbuatannya.
- Meninggalkan Ketaatan (Tarkut Tha'ah): Mengabaikan kewajiban dan amalan-amalan yang diperintahkan dalam agama secara bertahap akan mengikis kadar keimanan di dalam dada.