Memuat tanggal...
ad-Durar an-Nafisah

Aqidah Ahlussunnah terhadap Sahabat dan Bahaya Perkara Baru dalam Agama

Abu Afif
15 September 2026 7 mnt baca 47 tayangan
Aqidah Ahlussunnah terhadap Sahabat dan Bahaya Perkara Baru dalam Agama

Daftar isi

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ 

     

    Mukadimah

     

    Innal hamdalillah. Nahmaduhu wa nasta'iinuhu wa nastaghfiruh. Wa na'uudzubillahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyi-ati a me'maalinaa. May yahdihillahu falaa mudhillalah, wa may yudhlil falaa haadiyalah. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syariikalah, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuuluh. Allahumma shalli wa sallim wa zid wa baarik wa an'im 'ala nabiyyina Muhammadin wa 'ala alihi wa ash-haabihi wa man saara 'ala nahjihi ila yaumiddin, amma ba'd.

     

    Segala puji bagi Allah Tabaraka wa Ta'ala yang telah memudahkan kita untuk kembali berkumpul dalam majelis ilmu ini. Semoga Allah menjadikan pertemuan ini penuh keberkahan dan melimpahkan ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.

     

    Pada kesempatan kali ini, kita melanjutkan pembahasan dari kitab Ad-Durar An-Nafisah, masuk pada bab mutiara ke-22: 'Aqiidatu Ahlis-Sunnah fis-Sahaabah Radhiyallahu 'Anhum (Akidah Ahlussunnah wal Jama'ah terhadap Para Sahabat radhiyallahu 'anhum).



    Akidah Ahlussunnah wal Jama'ah terhadap Para Sahabat


    Prinsip utama Ahlussunnah wal Jama'ah adalah menjaga keselamatan hati dan lisan untuk para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

    1. Keselamatan Hati (Salamatul Qalbi): Menjaga hati dari rasa benci, dengki, iri, dan dendam kepada para sahabat. Hati Ahlussunnah dipenuhi dengan rasa cinta, penghormatan, dan pengagungan kepada sahabat sesuai dengan porsinya.
    2. Keselamatan Lisan (Salamatul Alsinah): Menjaga lisan dari segala ucapan yang tidak pantas, seperti mencela, merendahkan, memvonis fasik, melaknat, hingga mengafirkan sahabat. Sebaliknya, lisan senantiasa dipenuhi dengan pujian, penyebutan kebaikan, serta doa agar Allah meredhai (taraddhi), merahmati (tarahhum), dan mengampuni (istighfar) mereka.

     

    Ahlussunnah mencintai para sahabat dan mengutamakan mereka di atas seluruh manusia setelah para nabi. Penghormatan ini dilakukan secara proporsional, tanpa sikap ghuluw (berlebih-lebihan)—seperti menganggap mereka mengetahui hal gaib atau dapat mendatangkan manfaat dan mudarat independen.



    Mengapa Kita Harus Mencintai Para Sahabat?


    Ada empat alasan utama mengapa kita wajib mencintai dan memuliakan para sahabat radhiyallahu 'anhum:



    1. Generasi Terbaik Manusia: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:



    خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

     


    “Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 3651, dan Muslim, no. 2533)

     

    1. Perantara (Al-Wasithah) Syariat: Umat Islam menerima Al-Qur'an, Sunnah, dan ajaran agama melalui jalur periwayatan para sahabat. Jika peran sahabat diabaikan, wahyu tidak akan sampai kepada kita.

     

    1. Jasa Penaklukan dan Penyebaran Islam: Melalui perjuangan dan jihad para sahabat—baik dengan harta, jiwa, maupun lisan—Islam tersebar luas ke berbagai pelosok benua.

     

    1. Teladan Akhlak dan Pengorbanan: Para sahabat mendahului umat ini dalam kejujuran, ketulusan nasihat, adab, dan pengorbanan. Mereka rela berpisah dengan keluarga dan kerabat demi mendahulukan Allah dan Rasul-Nya.

     

    Oleh karena itu, kita berlepas diri (bara') dari dua kelompok yang tersesat:

    • Syi'ah Rafidhah: Kelompok yang mencela para sahabat namun ghuluw terhadap Ahlu Bait (keluarga Nabi).

     

    • Nawasib: Kelompok yang membenci Ahlu Bait.

     

    Adapun terhadap keluarga Nabi (Ahlu Bait) yang beriman dan tergolong sahabat, mereka memiliki tiga hak sekaligus: Hak Sahabat, Hak Iman, dan Hak Kerabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.



    Kewajiban Berpegang Teguh pada Sunnah dan Menjauhi Bidah



    Pembahasan selanjutnya berpindah pada mutiara ke-23: Wujuubut-Tamassuki bi Sunnatin-Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam wat-Tahdhiiru minal-Bida' (Wajibnya Berpegang Teguh pada Sunnah dan Peringatan dari Bahaya Bidah).

     

    Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadis yang masyhur:



    الحَدِيْثُ الثَّامِنُ وَالعِشْرُوْنَ

    عَنْ أَبِي نَجِيْحٍ العِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قاَلَ : وَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظًةً وَجِلَتْ مِنْهَا القُلُوْبُ وَذَرَفَتْ مِنْهَا العُيُوْنُ فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ كَأَنَّهَا مَوْعِظَةً مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا قَالَ أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَي اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَقَالَ : حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ

     

    Dari Abu Najih Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat kepada kami dengan nasihat yang membuat hati menjadi bergetar dan mata menangis, maka kami berkata, ‘Wahai Rasulullah! Sepertinya ini adalah wasiat dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah wasiat kepada kami.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meskipun kalian dipimpin seorang budak. Sungguh, orang yang hidup di antara kalian sepeninggalku, ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan Sunnah khulafaur rosyidin al-mahdiyyin (yang mendapatkan petunjuk dalam ilmu dan amal). Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, serta jauhilah setiap perkara yang diada-adakan, karena setiap bidah adalah sesat.”

     

    (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, ia berkata bahwa hadits ini hasan sahih). [HR. Abu Daud, no. 4607 dan Tirmidzi, no. 2676. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih].

     

    Ahlussunnah Meneladani Sunnah

     

    Ahlussunnah senantiasa mengikuti petunjuk Nabi dan Khulafaur Rashidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu 'anhum). Apabila ada ucapan atau ijtihad seorang sahabat yang bertentangan secara jelas dengan hadis sahih Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka yang didahulukan adalah ucapan Rasulullah, seraya tetap memberikan uzur (ijtihad ma'dzur) kepada sahabat tersebut.

     

    Memahami Larangan Perkara Baru

     

    Sabda Nabi 'wa iyyakum wa muhdatsatil-umur' merupakan bentuk peringatan tegas (tahdzir). Kata 'al-umur' di sini bermakna urusan-urusan agama.



    • Dalam Urusan Dunia: Hukum asalnya adalah halal dan diperbolehkan selama tidak melanggar syariat. Inovasi teknologi, transportasi, dan sarana komunikasi modern adalah hal yang diperbolehkan.

     

    • Dalam Urusan Agama (Ibadah): Hukum asalnya adalah terlarang (al-ashlu fihal-hadr). Setiap amalan ritual agama yang diada-adakan tanpa petunjuk Al-Qur'an, Sunnah, maupun contoh dari para sahabat tergolong bidah yang diharamkan.

     

    Empat Kelengkapan Diri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

     

    Ketegasan sabda Nabi 'kulla bid'atin dhalalah' (setiap bidah itu sesat) bersifat umum (ta'mim) dan tegas (muhkam). Sabda ini bersumber dari insan yang menghimpun empat sifat utama:



    1. 'Ilmun: Orang yang paling berilmu dan tahu tentang syariat Allah.

     

    1. Nush'un: Orang yang paling tulus dalam memberi nasihat kepada umatnya.

     

    1. Fasahatun: Orang yang paling fasih penjelasannya (afsahul-khalq).

     

    1. Sidqun: Orang yang paling jujur berita dan lisannya.

     

    Ketika sosok yang paling berilmu, tulus, fasih, dan jujur menyatakan bahwa semua bidah itu sesat, tidak sepantasnya ucapan tersebut ditolak dengan dalih adanya "bidah hasanah" dalam ritual ibadah.

    Bahaya Bidah yang Dianggap Ringan

     

    Al-Imam Al-Barbahari rahimahullah berkata :


    واحذر صغار المحدثات من الأمور؛ فإن صغير البدع يعود حتى يصير كبيرا، وكذلك كل بدعة أحدثت في هذه الأمة، كان أولها صغيرا يشبه الحق، فاغتر بذلك من دخل فيها، ثم لم يستطع الخروج منها، فعظمت وصارت دينا يدان [به] فخالف الصراط المستقيم، فخرج من الإسلام.
     

    شرح السنة للبربهاري

     

    Berhati-hatilah kamu dari segala perkara baru di dalam urusan agama yang dianggap kecil! Karena sesungguhnya kebid’ahan yang kecil akan berulang hingga berubah menjadi besar.

    Demikian pula setiap kebid’ahan yang terjadi pada umat ini. Awalnya kecil dan menyerupai kebenaran, sehingga tertipulah orang yang masuk ke dalamnya, kemudian ia tidak mampu keluar darinya. Akhirnya membesar dan menjadi sebuah agama yang dikerjakan, sehingga ia menyelisihi jalan yang lurus, kemudian keluar dari Islam.

    Syarhus Sunnah lil-Barbahari

     

    Banyak amalan ibadah yang dianggap sepele atau berniat baik—seperti melafalkan niat secara khusus, zikir-zikir ciptaan sendiri pada setiap usapan wudu, atau berkumpul menghitung zikir dengan metode baru—sering dibela dengan alasan "kan tujuannya baik". Namun, ketika amalan tersebut tidak mencontoh Nabi dan sahabat, amalan itu telah menyimpang dari prinsip dasar ibadah.

     

    Secara sejarah, fitnah Khawarij diawali dari halaqah-halaqah zikir berkelompok menggunakan kerikil yang ditegur oleh Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Meski pelakunya berdalih menginginkan kebaikan, penyimpangan awal yang dianggap kecil itu kelak membesar hingga memicu pemberontakan dan pertumpahan darah.

     

    Maka, perbuatan bidah dalam ibadah senantiasa berkembang: dari perkara yang diada-adakan, hingga berujung pada pencampuran dengan tradisi kemaksiatan bahkan kesyirikan.

     

    Penutup

     

    Tidak ada nikmat yang lebih besar daripada hidayah untuk berjalan di atas Sunnah. Wajib bagi kita untuk senantiasa bersyukur dan memohon ketetapan hati kepada Allah agar terhindar dari fitnah bidah serta syubhat yang memalingkan manusia dari ajaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.


    Ringkasan Kajian

     

    Wallahu a'lam. Wa sallallahu 'ala nabiyyina Muhammadin wa 'ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil 'alamin.

     

    Penulis:
    Abu Afif
    Share: