Tujuan Penciptaan Manusia
Ibadah dalam Islam secara garis besar dibagi menjadi tiga jenis utama berdasarkan unsur pelaksanaannya: ibadah hati (qalbiyah), ibadah lisan (qauliyyah), dan ibadah fisik/anggota badan (badaniyyah).
1. Ibadah Hati (Qalbiyah)
Ibadah hati adalah amalan yang letaknya di dalam batin atau hati, yang mencakup keimanan, pengagungan, dan rasa ketergantungan kepada Allah.
Contoh:
Rasa cinta (mahabbah) kepada Allah.
Takut (khauf) dan berharap (raja') kepada-Nya.
Tawakal (berserah diri) dan ikhlas.
2. Ibadah Lisan (Qauliyyah)
Ibadah lisan adalah amalan yang diucapkan melalui perkataan lidah sebagai bentuk dzikir dan pengakuan terhadap kebesaran Allah.
Contoh:
Membaca dua kalimat syahadat.
Membaca Al-Qur'an (tilawah).
Berdzikir (tasbih, tahmid, tahlil) dan berdoa.
3. Ibadah Fisik dan Anggota Badan (Badaniyyah)
Ibadah fisik adalah amalan yang dikerjakan oleh anggota tubuh secara lahiriah. Seringkali ibadah ini juga harus disempurnakan dengan kehadiran hati agar bernilai sempurna di sisi Allah.
Contoh:
Shalat (menggabungkan gerakan fisik, lisan, dan khusyuk hati).
Puasa menahan diri dari hawa nafsu.
Thawaf, haji, dan jihad di jalan Allah.
Namun, yang perlu ditekankan adalah bahwa ibadah merupakan tujuan penciptaan manusia. Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan jin dan manusia memang untuk beribadah kepada-Nya.
Tujuan Hidup adalah Beribadah kepada Allah
Banyak orang pada zaman sekarang yang kehilangan arah dan tujuan hidup. Ketika tidak ada kegiatan, mereka bingung hendak melakukan apa. Istilah yang sering digunakan sekarang adalah "gabut".
Padahal, tujuan kita diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah untuk beribadah. Karena itu, ketika memiliki waktu kosong, hendaknya kita mengisinya dengan sesuatu yang bermanfaat, terutama untuk kehidupan akhirat. Minimal, waktu tersebut diisi dengan perkara-perkara yang baik dan tidak melanggar syariat. Jangan sampai ketika memiliki waktu kosong, seseorang justru mengisinya dengan kemaksiatan.
Sebagian anak muda, misalnya, ketika malam hari keluar tanpa tujuan, mengendarai sepeda motor dengan suara bising, melakukan balap liar, dan berbagai kegiatan yang tidak bermanfaat. Hal seperti ini menunjukkan kurangnya pemahaman tentang tujuan penciptaan manusia.
Jika seseorang memahami untuk apa dirinya diciptakan, tentu ia akan berusaha mengisi waktunya dengan perkara yang bermanfaat. Minimal bermanfaat bagi kehidupan dunianya, terlebih lagi bagi akhiratnya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." QS. Adz-Dzariyat [51]: 56.
Para ulama ahli tafsir menjelaskan bahwa makna liya'budun bukan sekadar melakukan ibadah, tetapi mentauhidkan Allah dalam ibadah. Artinya, manusia diciptakan untuk beribadah hanya kepada Allah dan mengesakan-Nya dalam seluruh bentuk ibadah.
Ibadah Harus Disertai Tauhid
Jadi, tidak cukup seseorang mengatakan, "Yang penting saya sudah beribadah kepada Allah." Ibadah harus dibangun di atas tauhid.
Ibadah tanpa tauhid adalah sia-sia. Karena itu, kita perlu merasa prihatin melihat sebagian kaum muslimin yang bersemangat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, tetapi belum memurnikan tauhidnya.
Demikian pula, dakwah tidak cukup hanya mengajak manusia untuk beribadah. Dakwah juga harus mengajak manusia kepada tauhid.
Hal ini ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala:
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang yang sebelum kamu: Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang rugi." QS. Az-Zumar [39]: 65.
Ayat ini merupakan peringatan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan juga kepada para nabi sebelum beliau. Mereka semua diperingatkan agar tidak melakukan kesyirikan.
Kalau para nabi dan rasul saja mendapatkan peringatan tentang tauhid, tentu kita sebagai manusia biasa lebih membutuhkan peringatan tersebut. Kita bukan nabi, bukan rasul, dan bukan pula orang-orang yang memiliki kedudukan seperti para sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.
Maka, hendaknya selalu kita ingat bahwa keberadaan kita di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan tauhid.
Beribadah Bukan Berarti Meninggalkan Dunia
Memahami bahwa tujuan penciptaan kita adalah ibadah bukan berarti kita harus meninggalkan kehidupan dunia sama sekali.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menetapkan berbagai perkara yang halal bagi manusia. Di antaranya adalah pernikahan. Manusia memiliki kebutuhan biologis, dan Allah memberikan jalan yang halal untuk menyalurkannya melalui pernikahan.
Pernikahan yang sesuai syariat merupakan jalan yang halal dan insyaallah membawa keselamatan serta kebaikan bagi kehidupan dunia dan akhirat.
Karena itu, seseorang tidak boleh memahami ibadah dengan cara yang keliru sehingga meninggalkan berbagai perkara halal yang telah Allah syariatkan.
Pilar-Pilar Ibadah
Dalam pembahasan ibadah, terdapat tiga pilar penting yang harus ada dalam hati seorang hamba:
Al-Mahabbah — cinta kepada Allah.
Al-Khauf — takut kepada Allah.
Ar-Raja' — berharap kepada Allah.
Ketiganya harus berjalan bersama. Ibadah yang benar tidak dibangun hanya dengan satu unsur saja.
1. Al-Mahabbah: Cinta kepada Allah
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
"Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya; mereka bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, berjihad di jalan Allah, dan tidak takut kepada celaan orang yang mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui." QS. Al-Ma'idah [5]: 54.
Cinta merupakan salah satu unsur penting dalam ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kita harus mencintai Allah.
Ada ungkapan, "Tak kenal maka tak sayang." Jika seseorang tidak mengenal Allah, bagaimana mungkin ia dapat mencintai Allah dengan benar? Karena itu, semakin seseorang mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala, semestinya semakin besar pula cintanya kepada Allah.
Kita terkadang mengenal seseorang hanya karena mengetahui satu atau dua kebaikannya. Namun, hanya dengan mengetahui sedikit kebaikannya saja, kita sudah mencintainya dan mengatakan, "Masyaallah, beliau orang baik." Lalu bagaimana dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita begitu banyak nikmat?
Allah berfirman:
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang." QS. An-Nahl [16]: 18.
Allah juga memiliki nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang sempurna. Semua itu perlu kita pelajari. Semakin seseorang mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah, insyaallah semakin ia mengenal Allah, dan semakin besar pula kecintaannya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Karena itu, penting bagi kita untuk mempelajari Asmaul Husna dan sifat-sifat Allah melalui kajian dan buku-buku yang membahasnya.
2. Al-Khauf: Takut kepada Allah
Pilar kedua adalah al-khauf, yaitu rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Rasa takut kepada Allah merupakan benteng bagi seorang hamba agar tidak berani melanggar perintah dan larangan-Nya. Kita bisa membuat perumpamaan sederhana. Seorang anak yang mencintai orang tuanya tetapi sama sekali tidak takut kepada orang tuanya, apakah ia akan berani melawan? Bisa saja.
Demikian pula seorang hamba. Jika ia tidak memiliki rasa takut kepada Allah, ia akan berani melanggar perintah dan larangan Allah. Karena itu, rasa takut kepada Allah menjadi benteng agar seseorang tidak bermaksiat. Kemaksiatan bukan hanya melakukan perkara-perkara seperti zina, mabuk, mencuri, korupsi, berkhianat, berdusta, atau membunuh. Maksiat juga mencakup meninggalkan kewajiban yang telah Allah tetapkan. Salah satu contoh yang paling jelas adalah meninggalkan salat lima waktu.
Betapa banyak kaum muslimin yang meremehkan salat. Ketika seseorang meninggalkan salat, sering kali orang di sekitarnya menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Padahal meninggalkan kewajiban kepada Allah bukan perkara ringan. Sebaliknya, ketika terjadi kemaksiatan seperti zina, mabuk, pencurian, atau penganiayaan, masyarakat bisa menjadi sangat ramai membicarakannya. Bahkan terkadang berita dan videonya disebarkan ke berbagai tempat. Padahal seorang muslim seharusnya memahami bahwa meninggalkan kewajiban kepada Allah juga merupakan kemaksiatan yang sangat serius.
Salat Bukan Masalah Mampu atau Tidak Mampu
Sering kali persoalan salat bukan masalah mampu atau tidak mampu, tetapi mau atau tidak mau. Ada orang yang memiliki keterbatasan fisik tetapi tetap berusaha datang ke masjid untuk salat berjamaah.
Bahkan ada seorang jamaah yang, karena tidak memiliki kedua kaki dari bagian paha ke bawah, datang ke masjid dengan berjalan menggunakan telapak tangannya dan tetap berusaha menghadiri salat berjamaah.
Kondisi seperti ini semestinya menjadi pelajaran bagi kita. Banyak orang yang secara fisik sehat, tetapi sangat jarang datang ke masjid. Sementara ada orang yang memiliki keterbatasan fisik namun tetap memiliki semangat besar untuk beribadah. Maka, rasa takut kepada Allah harus menjadi benteng bagi kita untuk menjaga dua perkara:
Tidak melakukan larangan Allah.
Tidak meninggalkan kewajiban yang Allah perintahkan.
3. Ar-Raja': Berharap kepada Allah
Pilar ketiga adalah ar-raja', yaitu berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Berharap kepada Allah berarti berharap mendapatkan balasan terbaik dari Allah, mendapatkan surga, dan diselamatkan dari neraka. Harapan seperti ini harus selalu kita tanamkan ketika beribadah kepada Allah.
Meminta surga dan berlindung dari neraka tidak bertentangan dengan keikhlasan. Justru Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam mengajarkan kita untuk memohon kepada Allah agar diberikan surga dan diselamatkan dari neraka.
Di antara doa yang dibaca dalam salat adalah:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ
"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu surga dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka." HR. Abu Dawud no. 792; Ahmad no. 15898. Hadits ini dinilai sahih.
Dalam hadits tersebut, seorang sahabat menjelaskan bahwa dalam salat ia memohon surga dan berlindung dari neraka. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam kemudian bersabda:
حَوْلَهَا نُدَنْدِنُ
"Di sekitar itulah kami berdoa."
Ini menunjukkan bahwa berharap masuk surga dan takut terhadap neraka merupakan bagian dari ibadah yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Karena itu, tidak tepat jika seseorang mengatakan bahwa meminta surga berarti tidak ikhlas.
Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling ikhlas dalam beribadah kepada Allah, tetapi beliau tetap memohon surga dan perlindungan dari neraka. Maka, kita mengikuti Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam dalam keikhlasan dengan memohon kepada Allah sebagaimana yang beliau ajarkan.
Tidak Ada Tempat Ketiga di Akhirat
Ada ungkapan yang sering dinyanyikan atau disampaikan:
"Aku tidak pantas masuk surga, tetapi aku juga tidak kuat masuk neraka."
Namun, di akhirat tidak ada tempat ketiga yang netral. Pilihannya hanya surga atau neraka.
Karena itu, kita diperintahkan untuk memohon surga kepada Allah dan memohon perlindungan dari neraka. Berharap kepada Allah justru mendorong seseorang untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah, mengikuti syariat, dan mengejar target yang telah Allah tetapkan.
Ibadah Tidak Cukup Sekadar "Yang Penting Ibadah"
Ibadah tidak boleh dilakukan semaunya sendiri. Jika ibadah cukup dengan prinsip "yang penting saya beribadah", lalu untuk apa Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam diutus? Untuk apa Al-Qur'an diturunkan dan Sunnah Nabi dijelaskan kepada kita?
Dalam kehidupan dunia saja, seorang siswa memiliki buku pedoman dan guru. Tidak mungkin seorang siswa berkata, "Saya bebas melakukan apa saja karena yang penting saya belajar." Demikian pula dalam ibadah. Kita memiliki Al-Qur'an dan Sunnah sebagai petunjuk. Ibadah harus sesuai dengan syariat dan mengikuti tuntunan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.
Karena itu, cinta, takut, dan harapan harus berjalan bersama.
Bahaya Beribadah Hanya dengan Satu Pilar
Sebagian ulama salaf menjelaskan bahwa ibadah yang hanya dibangun di atas satu unsur akan membawa seseorang kepada penyimpangan. Jika seseorang hanya mengedepankan cinta, tanpa rasa takut dan harapan, maka ia bisa mengaku mencintai Allah tetapi tidak menjalankan perintah-Nya dan tidak meninggalkan larangan-Nya.
Jika seseorang hanya mengedepankan harapan, tanpa rasa takut dan cinta yang benar, ia bisa meremehkan amal dan kewajiban. Jika seseorang hanya mengedepankan rasa takut, tanpa cinta dan harapan, ia dapat terjatuh pada sikap berlebihan, mudah memvonis, dan menyerupai pemahaman Khawarij.
Maka, ketiganya harus seimbang:
Cinta mendorong kita untuk mendekat kepada Allah.
Takut menahan kita dari maksiat.
Harapan mendorong kita untuk terus beramal dan mengharapkan pahala dari Allah.
Dengan demikian, ibadah menjadi lebih sempurna.
Syarat Diterimanya Ibadah
Pada bagian akhir pembahasan, ditekankan kembali pentingnya memahami syarat diterimanya ibadah. Tidak cukup seseorang berkata, "Yang penting saya sudah beribadah. Niat saya baik, berarti saya mendapatkan pahala." Tidak sesederhana itu.
Salah satu syarat yang paling penting adalah ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Namun, ikhlas bukan sekadar mengatakan, "Saya ingin pahala dari Allah." Ikhlas dalam pembahasan ini berkaitan erat dengan iman dan tauhid. Seorang hamba harus membersihkan ibadahnya dari kesyirikan, baik syirik besar maupun syirik kecil.
Syirik Besar Membatalkan Amal
Syirik besar yang mengeluarkan seseorang dari Islam akan membatalkan amalnya. Allah telah menegaskan hal tersebut dalam QS. Az-Zumar ayat 65:
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang yang sebelum kamu: Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang rugi." QS. Az-Zumar [39]: 65.
Adapun syirik kecil, para ulama menjelaskan bahwa pengaruhnya terhadap amal bergantung pada bentuk dan kadarnya. Riya, misalnya, dapat merusak amal yang dilakukan karena riya tersebut dan mengurangi kesempurnaan pahala apabila bercampur dengan amal yang semestinya dilakukan karena Allah.
Karena itu, keikhlasan harus benar-benar dijaga.
Waspada terhadap Riya dalam Beribadah
Pada zaman sekarang, salah satu perkara yang perlu diwaspadai adalah penggunaan kamera dan media sosial dalam aktivitas ibadah. Misalnya, seseorang sedikit-sedikit membuat vlog tentang aktivitas ibadahnya. Kita perlu berhati-hati agar tidak latah mengikuti kebiasaan semacam itu.
Bukan berarti semua dokumentasi otomatis haram. Ada kebutuhan dan maslahat tertentu, misalnya agar ilmu dapat direkam, disimpan, didokumentasikan, dan disebarluaskan sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak orang. Namun, seorang muslim tetap harus menjaga keikhlasannya.
Para ulama yang direkam dalam kegiatan ilmu pun terkadang bersedia direkam karena adanya maslahat untuk umat, bukan karena ingin menampilkan amal pribadi. Maka, semakin seseorang memahami ilmu, seharusnya semakin ia berhati-hati dalam menjaga keikhlasan.
Jangan sampai seseorang yang telah lama belajar agama justru ikut-ikutan melakukan sesuatu yang dapat membuka pintu riya hanya karena melihat orang lain melakukannya. Sebaliknya, orang yang telah lebih dahulu belajar hendaknya menjadi contoh dalam kebaikan dan menularkan kebiasaan yang baik kepada orang lain.
Ittiba' Kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam
Syarat kedua diterimanya amal ibadah adalah ittiba' (mengikuti atau mencocoki tuntunan dan syariat Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam).
Definisi Ittiba': Melakukan ibadah atau amal sesuai dengan cara, tuntunan, petunjuk, dan sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, bukan berdasarkan hawa nafsu, akal semata, atau buatan manusia (bid'ah).
Kedudukan: Niat yang ikhlas saja tidak cukup untuk membuat suatu amalan diterima oleh Allah ta'ala; tata cara pelaksanaannya wajib benar dan sesuai dengan ajaran Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam.
Konsekuensi: Segala bentuk ibadah atau perkara baru dalam urusan agama yang tidak ada contohnya dari Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam akan tertolak dan tidak bernilai pahala.
Kunci Pelaksanaan: Agar bisa ittiba', seseorang wajib membekali diri dengan ilmu (mempelajari Al-Qur'an dan sunnah) sebelum beramal.
Penutup
Kesimpulannya, kita perlu terus mengingat tujuan penciptaan kita: beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan tauhid. Ibadah yang benar dibangun di atas tiga pilar:
Cinta kepada Allah (mahabbah).
Takut kepada Allah (khauf).
Berharap kepada Allah (raja').
Ketiga unsur tersebut harus berjalan bersama. Cinta mendorong kita untuk taat, takut menjaga kita dari maksiat, dan harapan membuat kita terus bersemangat dalam beribadah serta mengharapkan surga dan keselamatan dari neraka.
Selain itu, ibadah harus dilakukan dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan syariat. Jangan hanya mengejar banyaknya amal, tetapi perhatikan pula tauhid, keikhlasan, dan kesesuaian amal dengan Sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.
Semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia mencintai-Nya. Semakin ia takut kepada Allah, semakin ia berhati-hati dari maksiat. Dan semakin besar harapannya kepada Allah, semakin kuat pula semangatnya untuk beramal.
Karena itu, ilmu menjadi kebutuhan yang sangat penting. Kita perlu terus belajar agar mengetahui bagaimana beribadah kepada Allah dengan benar, ikhlas, bertauhid, dan sesuai dengan petunjuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.