Pengaruh Akidah yang Lurus terhadap Kepribadian Seorang Muslim
Pendahuluan: Pentingnya Akidah yang Benar
Bismillahirrahmanirrahim.
Para jama'ah sekalian, rahimana wa rahimakumullah.
Akidah adalah keyakinan yang tertanam di dalam hati seseorang dan tidak menyisakan keraguan sedikit pun. Akidah bisa benar dan bisa pula salah. Apabila seseorang meyakini bahwa semua agama itu benar, misalnya, maka keyakinan tersebut merupakan akidah yang batil dan menyimpang.
Oleh karena itu, kita harus memperhatikan akidah dan memastikan bahwa keyakinan kita sesuai dengan dalil-dalil yang sahih. Sumber akidah kita adalah Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sahih, dengan pemahaman para ulama salaf.
Akidah sangat berpengaruh terhadap kepribadian seseorang karena tempatnya di dalam hati. Hati yang baik akan memengaruhi seluruh anggota badan menjadi baik, sedangkan hati yang rusak akan memengaruhi anggota badan menjadi rusak pula.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
Dari An-Nu‘man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, seluruh tubuh akan baik. Jika ia rusak, seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599.
Hati yang dipenuhi keyakinan dan akidah yang benar akan mendorong seseorang melakukan kebaikan. Sebaliknya, akidah yang batil dapat menyeret seseorang kepada penyimpangan dalam perkataan maupun perbuatan.
Karena itulah, mempelajari akidah yang benar merupakan perkara yang sangat penting bagi setiap muslim.
Akidah Merupakan Sumber Kekuatan Kaum Muslimin
Akidah adalah salah satu sebab utama kekuatan kaum muslimin. Apabila akidah mereka lemah, mereka akan mudah mengalami kelemahan. Sebaliknya, akidah yang kuat akan membentuk pribadi-pribadi yang teguh dalam menghadapi berbagai keadaan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian besar terhadap pendidikan akidah. Selama kurang lebih 13 tahun berdakwah di Makkah, beliau menanamkan keimanan dan menguatkan keyakinan para sahabat. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kemampuan berbicara yang sangat jelas, sedangkan para sahabat adalah orang-orang yang cerdas. Meskipun demikian, pendidikan akidah tetap menjadi bagian utama dari dakwah beliau.
Hasilnya terlihat ketika kaum muslimin menghadapi berbagai ujian dan peperangan. Dalam Perang Badar, kaum muslimin berjumlah sekitar 313 orang, sedangkan kaum musyrikin sekitar 1.000 orang. Dengan pertolongan Allah, kaum muslimin memperoleh kemenangan.
Dalam Perang Uhud, kaum muslimin berjumlah sekitar 700 orang, sedangkan pasukan Quraisy sekitar 3.000 orang. Pada awal pertempuran, kaum muslimin berhasil mendesak pasukan musyrikin. Namun, jalannya peperangan kemudian berubah setelah sebagian pemanah meninggalkan posisi yang telah diperintahkan untuk mereka jaga.
Peristiwa-peristiwa tersebut mengingatkan kita bahwa kekuatan tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah pasukan dan kelengkapan persenjataan. Keimanan, ketaatan, keteguhan, dan pertolongan Allah memiliki peranan yang sangat besar.
Oleh karena itu, kita harus mempelajari akidah berdasarkan Al-Qur’an, hadis-hadis yang sahih, serta pemahaman para ulama salaf.
Bahaya Menyepelekan Akidah
Di antara kesalahan yang perlu diwaspadai adalah anggapan bahwa yang terpenting hanyalah akhlak, sedangkan masalah akidah tidak perlu terlalu diperhatikan. Bahkan, ada anggapan bahwa semua agama sama benarnya dan siapa pun bisa masuk surga tanpa memandang keyakinannya.
Akhlak yang baik memang penting, tetapi akhlak tidak menggantikan kewajiban untuk memiliki akidah yang benar. Seorang muslim harus memperbaiki akhlak sekaligus menjaga kemurnian akidahnya.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman,
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam.” QS. Ali ‘Imran [3]: 19.
Allah juga berfirman,
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barang siapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” QS. Ali ‘Imran [3]: 85.
Ayat-ayat ini menunjukkan pentingnya menjadikan Islam sebagai agama yang kita ikuti dan menjaga akidah agar tetap sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
Pengaruh Akidah yang Lurus terhadap Kepribadian
1. Membentuk Jiwa yang Mulia
Akidah yang lurus akan membentuk kepribadian yang mulia. Seseorang menjadi terhormat karena ia memahami kepada siapa dirinya harus tunduk dan merendahkan diri.
Seorang muslim seharusnya tidak menghinakan dirinya dengan menjadi budak harta, kedudukan, atau makhluk lainnya. Ia menempatkan penghambaan tertinggi hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala, Zat Yang Mahamulia.
Allah berfirman,
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang beriman.” QS. Ali ‘Imran [3]: 139.
Kemuliaan yang dimaksud bukanlah kesombongan atau merasa lebih baik daripada orang lain. Kemuliaan itu lahir dari iman, ketundukan kepada Allah, dan keteguhan memegang kebenaran.
Sebaliknya, orang yang diperbudak oleh harta akan menjadikan kekayaan sebagai tujuan hidupnya. Padahal, harta seharusnya menjadi sarana untuk menaati Allah dan memperoleh kebaikan di akhirat.
Allah berfirman,
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا
“Dialah yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu.” QS. Al-Baqarah [2]: 29.
Harta dan berbagai kenikmatan dunia merupakan karunia yang dapat dimanfaatkan untuk kebaikan. Jangan sampai manusia justru menjadi budak dari sesuatu yang seharusnya ia manfaatkan untuk beribadah kepada Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ، وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ
“Celakalah hamba dinar, hamba dirham, dan hamba pakaian mewah. Jika diberi, ia senang; tetapi jika tidak diberi, ia marah.” HR. Bukhari no. 2887.
Akidah yang lurus juga menjaga manusia agar tidak menghinakan diri dengan menyembah makhluk atau benda yang tidak memiliki kemampuan apa pun untuk memberikan manfaat dan menolak mudarat secara mandiri.
Karena itu, hendaknya seorang muslim menjaga kemuliaan dirinya dengan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah.
2. Menumbuhkan Kekayaan Jiwa
Pengaruh berikutnya adalah terbentuknya jiwa yang kaya. Kaya di sini bukan semata-mata memiliki banyak harta, melainkan merasa cukup, tidak menggantungkan hati secara berlebihan kepada manusia, dan menjadikan Allah sebagai tempat bergantung.
Orang yang akidahnya lurus memahami bahwa kebutuhan dan permasalahan hidup hendaknya diadukan kepada Allah. Ia tetap boleh meminta pertolongan kepada manusia dalam perkara yang mampu mereka lakukan, tetapi hatinya tidak menjadikan manusia sebagai tempat bergantung yang utama.
Kita dapat mengambil pelajaran dari Nabi Ya‘qub ‘alaihissalam ketika kehilangan putranya, Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Beliau mengadukan kesedihan dan kegundahannya kepada Allah.
Allah berfirman,
قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Dia (Ya‘qub) berkata, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” QS. Yusuf [12]: 86.
Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika menghadapi perkara yang memberatkan, beliau mengerjakan salat dan memohon pertolongan kepada Allah.
Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى
“Apabila suatu perkara membuat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa berat, beliau mengerjakan shalat.” HR. Abu Dawud no. 1319.
Pelajaran ini penting dalam kehidupan kita. Ada orang yang merasa dunianya runtuh ketika dijauhi teman, tidak disukai orang lain, atau kehilangan dukungan manusia. Padahal, seorang mukmin memiliki tempat bergantung yang tidak pernah lemah, yaitu Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
Kita tetap perlu menjaga hubungan baik dengan sesama, tetapi jangan sampai kebahagiaan dan ketenangan hati sepenuhnya bergantung pada penerimaan manusia. Ketika menghadapi masalah, berdoalah kepada Allah, perbaiki diri, dan tempuh sebab-sebab yang dibenarkan syariat.
3. Menguatkan Jiwa dalam Menghadapi Ujian
Akidah yang lurus menjadikan seseorang lebih kokoh dalam menghadapi ujian kehidupan. Ia yakin bahwa Allah akan menolong hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa, sehingga ia tidak mudah diombang-ambingkan oleh keadaan.
Kita tidak perlu takut menjadi orang yang semakin kuat agamanya hanya karena khawatir ujiannya semakin berat. Yang perlu kita pahami adalah bahwa semakin kuat keimanan, semakin besar pula bekal untuk menghadapi ujian dengan sabar dan tawakal.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman,
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” QS. At-Talaq [65]: 2–3.
Allah juga berfirman,
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.” QS. At-Talaq [65]: 4.
Ayat-ayat tersebut mengajarkan bahwa ketakwaan merupakan sebab datangnya pertolongan dan kemudahan dari Allah. Ujian mungkin tetap ada, tetapi seorang mukmin mempunyai pegangan yang kuat untuk menghadapinya.
Salah satu landasan penting dalam membentuk keteguhan jiwa adalah iman kepada takdir. Seorang muslim meyakini bahwa segala sesuatu terjadi dengan ilmu, ketetapan, dan kehendak Allah.
Allah berfirman,
لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ
“(Yang demikian itu) agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” QS. Al-Hadid [57]: 23.
Memahami takdir dengan benar membuat seseorang tidak larut dalam penyesalan ketika kehilangan sesuatu dan tidak menjadi sombong ketika mendapatkan keberhasilan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma,
وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ، لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ، لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ
“Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat kecuali sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Sebaliknya, seandainya mereka berkumpul untuk mencelakakanmu, mereka tidak akan dapat mencelakakanmu kecuali sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering.” HR. Tirmidzi no. 2516.
Keyakinan terhadap takdir bukan berarti meninggalkan usaha. Seorang muslim tetap berikhtiar, berdoa, dan menempuh jalan yang benar. Namun, ketika hasilnya tidak sesuai harapan, ia menerima ketetapan Allah dengan sabar dan tidak kehilangan harapan.
Inilah salah satu buah akidah yang benar: jiwa menjadi lebih stabil, tidak mudah putus asa ketika tertimpa musibah, dan tidak mudah sombong ketika memperoleh keberhasilan.
4. Menumbuhkan Keberanian
Akidah yang lurus menumbuhkan keberanian karena seseorang memahami bahwa rasa takut yang berkaitan dengan penghambaan dan ibadah harus diarahkan kepada Allah. Ia tidak boleh membiarkan ketakutan kepada makhluk menghalanginya dari menaati Allah.
Keberanian ini tampak dalam kesanggupan meninggalkan pekerjaan yang haram, menolak kemungkaran, dan memperjuangkan kebenaran sesuai tuntunan syariat. Seseorang tidak seharusnya terus melakukan sesuatu yang dilarang Allah hanya karena takut kehilangan penghasilan atau tidak disukai manusia.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman,
فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar orang beriman.” QS. Ali ‘Imran [3]: 175.
Para nabi merupakan teladan dalam keberanian menyampaikan kebenaran. Nabi Musa ‘alaihissalam menghadapi Fir‘aun yang memiliki kekuasaan besar. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tetap teguh meskipun diancam akan dibakar. Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyampaikan risalah dengan penuh keberanian di tengah berbagai ancaman.
Keberanian seorang muslim bukan berarti bertindak ceroboh atau mengabaikan pertimbangan. Keberanian yang benar adalah keteguhan dalam menaati Allah, disertai ilmu, hikmah, kesabaran, dan cara yang sesuai dengan syariat.
Akidah yang benar juga melindungi seseorang dari ketakutan berlebihan kepada makhluk gaib. Ia memahami bahwa jin dan setan adalah makhluk Allah, bukan tandingan Allah yang memiliki kekuasaan mutlak atas manusia.
Allah berfirman,
وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
“Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka menjadikan jin-jin itu bertambah sombong.” QS. Al-Jinn [72]: 6.
Ayat ini mengingatkan agar manusia tidak mencari perlindungan kepada jin. Seorang muslim hendaknya berlindung kepada Allah dan menggunakan doa serta zikir yang disyariatkan, bukan menggantungkan keselamatannya kepada makhluk gaib.
5. Membentuk Jiwa yang Optimistis
Akidah yang lurus menjadikan seseorang optimistis karena ia yakin bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Keyakinan ini mendorongnya untuk memiliki cita-cita yang tinggi, berusaha dengan sungguh-sungguh, dan tidak mudah menyerah.
Seorang muslim tidak seharusnya membatasi harapannya hanya karena melihat keterbatasan dirinya. Ia perlu berusaha semaksimal mungkin sambil menyadari bahwa hasil akhir berada dalam ketetapan Allah.
Optimisme bukan berarti memastikan bahwa semua keinginan akan terwujud persis seperti yang direncanakan. Optimisme yang benar adalah berharap kepada Allah, melakukan usaha yang dibenarkan, dan tetap menerima hasil yang Allah tetapkan.
Dengan demikian, seseorang dapat memiliki target hidup yang besar tanpa kehilangan kerendahan hati. Jika hasilnya belum sesuai harapan, ia mengevaluasi usahanya, bersabar, dan kembali memohon pertolongan Allah.
6. Mengantarkan kepada Kebahagiaan
Akidah yang lurus dan kuat mendorong seseorang untuk semakin dekat kepada Allah. Kedekatan kepada Allah melalui iman, ibadah, zikir, membaca Al-Qur’an, dan amal saleh merupakan sebab penting ketenangan dan kebahagiaan hati.
Manusia secara fitrah membutuhkan kebaikan dan kasih sayang. Allah adalah Pencipta yang memberikan berbagai nikmat kepada hamba-Nya. Karena itu, seorang mukmin akan menemukan kebahagiaan ketika ia mengenal Allah, mencintai-Nya, dan berusaha menaati-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman,
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” QS. Ar-Ra‘d [13]: 28.
Kita dapat merasakan pengaruh ibadah dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang sebelumnya jarang membaca Al-Qur’an dapat mulai membiasakan diri membacanya setiap hari. Orang yang sebelumnya melalaikan salat hendaknya berusaha menjaga salat lima waktu.
Ketika seseorang memperbanyak ketaatan dengan ikhlas, ia sedang menempuh jalan untuk mendekat kepada Allah. Ia dapat merasakan ketenangan dan kebahagiaan yang tidak semata-mata bergantung pada keadaan duniawi.
Salah satu contoh yang disampaikan dalam kajian adalah orang yang baru masuk Islam. Sebagian dari mereka menangis karena merasakan kebahagiaan setelah mengenal Islam dan menemukan jalan untuk beribadah kepada Allah.
Perubahan dari keadaan jauh dari petunjuk menuju keimanan dapat menjadi pengalaman yang sangat mendalam bagi seseorang.
Allah berfirman,
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.” QS. An-Nahl [16]: 97.
Ayat ini mengaitkan iman dan amal saleh dengan kehidupan yang baik serta pahala di sisi Allah. Kebahagiaan seorang mukmin bukan berarti ia tidak pernah mengalami kesedihan atau kesulitan. Akan tetapi, iman memberinya arah, harapan, dan pegangan ketika menghadapi berbagai keadaan.
7. Memberikan Arah Hidup yang Jelas
Akidah yang benar menjadikan seseorang memahami tujuan penciptaannya. Ia tidak menjalani hidup tanpa arah atau sekadar mengikuti keinginan manusia dan tuntutan dunia.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” QS. Adz-Dzariyat [51]: 56.
Ayat ini memberikan landasan bagi seorang muslim dalam menentukan tujuan hidupnya, yaitu beribadah kepada Allah. Pekerjaan, pendidikan, keluarga, harta, dan berbagai aktivitas duniawi hendaknya diarahkan agar menjadi sarana ketaatan kepada-Nya.
Ketika tujuan hidup sudah jelas, seseorang akan lebih mudah menentukan prioritas. Ia tidak mudah tergoda untuk meninggalkan prinsip agama hanya demi memperoleh keuntungan sesaat.
Dalam salat, kita senantiasa memohon petunjuk kepada Allah melalui firman-Nya,
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.” QS. Al-Fatihah [1]: 6–7.
Seorang muslim yang memahami tujuan hidupnya akan terus berusaha mengikuti jalan yang lurus dan menghindari jalan yang menyimpang. Akidah yang benar membantunya menjaga arah hidup agar tetap sesuai dengan petunjuk Allah.
8. Menumbuhkan Jiwa Sosial yang Tinggi
Akidah yang lurus tidak hanya memberikan manfaat bagi diri sendiri, tetapi juga mendorong seseorang untuk memberikan manfaat kepada orang lain.
Orang yang memahami agama dengan benar akan menyadari bahwa syariat Islam mengandung petunjuk yang membawa kebaikan. Ia pun berusaha mengingatkan saudara-saudaranya ketika melihat kemungkaran dan mengajak mereka melakukan kebaikan.
Inilah salah satu bentuk amar makruf nahi mungkar, yaitu mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dengan ilmu, hikmah, dan cara yang dibenarkan syariat.
Kepedulian sosial tidak terbatas pada pemberian uang. Ia juga mencakup berbagai bentuk kebaikan, seperti:
Mengingatkan saudara sesama muslim agar menjauhi kemaksiatan.
Menjenguk teman atau tetangga yang sedang sakit.
Bersedekah dan membantu orang yang membutuhkan.
Menolong sesama dalam perkara yang baik.
Menjaga persaudaraan dan memberikan nasihat dengan cara yang baik.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” QS. Al-Hujurat [49]: 10.
Persaudaraan iman seharusnya mendorong seorang muslim untuk peduli terhadap keadaan saudaranya. Ia tidak hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri, tetapi juga menginginkan kebaikan bagi orang lain.
Dengan demikian, akidah yang benar melahirkan kepedulian yang nyata, baik melalui nasihat, tenaga, harta, maupun berbagai bentuk pertolongan yang bermanfaat.
9. Mendorong Semangat Mengamalkan Syariat Islam
Pengaruh berikutnya sekaligus salah satu buah terpenting dari akidah yang lurus adalah semangat untuk menerapkan syariat Allah dalam kehidupan.
Akidah tauhid yang kuat diumpamakan oleh Allah seperti pohon yang baik: akarnya kokoh dan cabangnya menjulang tinggi ke langit. Pohon tersebut menghasilkan buah dengan izin Allah. Demikian pula akidah yang benar, yang seharusnya tampak dalam amal saleh dan perilaku seseorang.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman,
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا
“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya.” QS. Ibrahim [14]: 24–25.
Akidah yang kokoh seharusnya menghasilkan buah berupa ketaatan. Semakin benar keyakinan seseorang, semakin besar pula dorongannya untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Kapan seseorang dapat memberikan manfaat yang besar kepada orang lain? Ketika ia memahami agama Islam dan berusaha menerapkannya dalam kehidupan.
Allah berfirman,
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” QS. Al-Anbiya’ [21]: 107.
Islam mengajarkan akhlak mulia, keadilan, kasih sayang, dan kebaikan terhadap sesama. Karena itu, orang yang menerapkan syariat dengan benar semestinya memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” HR. Tirmidzi no. 1162.
Hadis ini menunjukkan eratnya hubungan antara kesempurnaan iman dan kemuliaan akhlak. Akidah yang benar bukan sekadar keyakinan yang diucapkan, tetapi harus membuahkan kebaikan dalam perilaku.
Syariat Islam juga memberikan pedoman agar ibadah dilakukan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Tanpa petunjuk wahyu, manusia dapat menjadikan pendapatnya sendiri sebagai ukuran untuk menentukan apa yang benar dalam beribadah.
Dengan mengikuti syariat, seorang muslim berusaha menjalani kehidupan yang baik di dunia dan memperoleh balasan yang baik di akhirat. Ia tidak hanya mengejar keuntungan dunia, tetapi juga memperhatikan keselamatan dan kebahagiaan akhirat.
Oleh karena itu, akidah yang lurus harus tampak dalam pelaksanaan ibadah, akhlak, hubungan sosial, dan seluruh aspek kehidupan yang berada dalam tuntunan syariat.
Penutup: Pelajari dan Amalkan Akidah yang Benar
Para jama'ah sekalian, rahimana wa rahimakumullah.
Dari pembahasan ini, kita memahami bahwa akidah yang lurus memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kepribadian seorang muslim. Akidah bukan sekadar pengetahuan yang disimpan dalam pikiran atau keyakinan yang diucapkan dengan lisan, melainkan landasan yang membentuk cara seseorang berpikir, bersikap, dan menjalani kehidupan.
Di antara pengaruh akidah yang benar terhadap kepribadian adalah:
Membentuk jiwa yang mulia, sehingga tidak menjadi budak harta dan makhluk.
Menumbuhkan kekayaan jiwa, sehingga hati tidak bergantung secara berlebihan kepada manusia.
Menguatkan jiwa dalam menghadapi ujian, dengan kesabaran, tawakal, dan iman kepada takdir.
Menumbuhkan keberanian untuk menaati Allah dan meninggalkan kemaksiatan.
Membentuk jiwa yang optimistis dan tidak mudah berputus asa.
Mengantarkan kepada kebahagiaan melalui keimanan dan ketaatan kepada Allah.
Memberikan arah hidup yang jelas, yaitu beribadah kepada Allah.
Menumbuhkan kepedulian sosial dan semangat menolong sesama.
Mendorong semangat untuk mengamalkan syariat Islam dalam kehidupan.
Oleh karena itu, marilah kita mempelajari akidah yang benar berdasarkan Al-Qur’an dan hadis-hadis sahih sesuai dengan pemahaman para ulama salaf. Setelah mempelajarinya, kita berusaha mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala melimpahkan keberkahan kepada ilmu yang kita pelajari, memberikan taufik kepada kita untuk mengamalkannya, serta menjadikan kita termasuk orang-orang yang teguh di atas akidah yang benar.
وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Semoga shalawat, salam, dan keberkahan senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga beliau, dan seluruh sahabat beliau.
والله تعالى أعلم.
Wallahu ta‘ala a‘lam.