29 Rabiul Akhir 1448 H | Sabtu, 10 Oktober 2026
Tematik

Muslim dari Lahir | Ustadz Mufy Hanif Thalib, Lc. M.A. Hafidzahullah

Muslim dari Lahir | Ustadz Mufy Hanif Thalib, Lc. M.A. Hafidzahullah

Daftar isi

    ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ

    📚┃Materi : Muslim dari Lahir
    🎙┃ Pemateri : Ustadz Mufy Hanif Thalib, Lc. M.A. Hafidzahullah
    🗓┃ Hari, Tanggal : Jum'at [Sebelum Maghrib], 25 September 2026 M / 14 Rabi’ul Akhir 1448 H
    🕌┃Tempat : Masjid Ar Rahman. Jl. Babar Layar No.3, RT.01/RW.14, Danukusuman, Kec. Serengan Surakarta



    Fenomena muslim dari lahir yang tidak pernah menambah ilmu agama sering disebut sebagai fenomena "Muslim KTP" atau Muslim kultural. Mereka adalah individu yang memeluk Islam karena faktor keturunan dan lingkungan, namun pemahaman agamanya mandek pada tingkat dasar yang diterima saat masa kanak-kanak (seperti sebatas tahu rukun Islam dan rukun iman tanpa memahami maknanya).

    Dalam Islam, ada batas minimal ilmu yang wajib dimiliki setiap individu (Fardhu 'Ain). Ilmu ini mencakup tata cara bersuci (thaharah), syarat dan rukun shalat, serta kewajiban dasar lainnya. Tanpa menambah ilmu, seseorang berisiko melakukan ibadah ritual secara keliru selama bertahun-tahun karena hanya ikut-ikutan (taklid buta) tanpa tahu syarat sahnya.

    Orang yang tidak meng-upgrade ilmu agamanya cenderung kesulitan menemukan hakikat ketenangan dalam Islam. Akibatnya, mereka sering kali mencari pelarian kebahagiaan pada materi, jabatan, atau tren duniawi secara berlebihan. Ketika diterpa ujian hidup, mereka rentan mengalami krisis eksistensial karena tidak memahami konsep takdir, sabar, dan tawakal dengan benar.

    Menjaga Agama, Menuntut Ilmu, dan Menyelamatkan Diri dari Fitnah

    Kisah Ja’far bin Abi Thalib di Hadapan Najasyi

    Ada lima orang keturunan Abdi Manaf yang sangat mirip dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang tidak jeli, terkadang susah membedakannya. Di antara kelima orang tersebut ialah Ja’far bin Abi Thalib, saudara kandung Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Dialah Sayyidul Asy-Syuhada, pemimpin para mujahidin, Abu Abdillah anak paman Rasulullah bin Abdul Mutthalib bin Hasim bin Abdi Manaf Al-Quraisy.

    Dia dikenal sebagai orang yang sangat lemah lembut, penuh kasih sayang, sopan santun, rendah hati dan sangat pemurah. Di samping itu, ia juga dikenal sangat pemberani, tidak mengenal rasa takut. Beliau diberi gelar sebagai orang yang memiliki dua sayap di surga dan bapak bagi si miskin. Masuk Islam berkat ajakan Abu Bakar Ash-Shiddiq, tepatnya sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumah Al Arqam.

    Ummu Salamah menceritakan:

    Ketika orang-orang Quraisy mengetahui keadaan kami di Habasyah, mereka tidak ridha dan mengirimkan dua utusan untuk menemui Najasyi. Mereka adalah Amru bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah, serta membawah hadiah-hadiah yang mereka berikan kepada para menterinya, dengan maksud agar tujuan serta niat mereka mendapat dukungan.

    Ketika telah sampai di Habasyah, mereka segera menemui para menterinya serta menyerahkan hadiah tersebut seraya berkata, “Sungguh telah datang di negerimu orang-orang yang bodoh dari kaum kami yang keluar dari agama nenek moyang, serta memecah-belah persatuan. Maka, kalau kami berbicara kepada raja, dukunglah kami. Karena tokoh-tokoh kaum mereka lebih tahu akan mereka.”

    Maka para menteri itu mengatakan, “Ya, kami akan mendukung kalian berdua.”

    Setelah itu, masuklah mereka berdua menemui Najasyi dengan membawa hadiah yang banyak dan berkata, “Wahai Raja, sesungguhnya telah datang di dalam kerajaanmu orang-orang yang rendah dari kaum kami. Mereka datang dengan membawa agama yang tidak pernah kami ketahui atau engkau ketahui. Mereka keluar dari agama kami, tidak pula masuk kepada agamamu. Dan orang-orang yang mulia di antara kami telah mengutus kami, agar engkau mau mengembalikan mereka kepada kami dan mereka lebih mengetahui akan apa yang telah mereka perbuat,” maka Najasyi menoleh kepada para menterinya dan berkatalah mereka, “Benar wahai Raja. Sesungguhnya kaum mereka lebih mengetahui tentang mereka. Maka kembalikanlah orang-orang tiu kepada mereka.”

    Mendengar hal itu, Raja Najasyi marah, seraya berkata, “Demi Allah, aku tidak akan mengembalikan mereka kepada kaumnya sampai aku menemui mereka. Sehingga aku bisa mengetahui, apakah yang telah dikatakan oleh dua orang ini benar? Kalau memang benar, maka akan aku kembalikan, mereka. Akan tetapi, kalau tidak, aku akan melindungi dan berbuat baik kepada mereka.”

    Kemudian Raja Najasyi mengutus orang agar memanggil kami. Sebelum berangkat untuk menemuinya, kami berkumpul dan saling mengatakan, “Sesungguhnya Najasyi akan bertanya kepada kalian tentang agama kalian. Maka terangkanlah dengan apa yang telah kalian imani.” Dan kami bersepakat mengangkat Ja’far sebagai juru bicaranya.

    Berangkatlah kami untuk menemuinya. Kami mendapatkan Raja Najasyi tengah duduk di antara para menterinya yang memakai pakaian kebesaran mereka. Kami juga mendapatkan Amru bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah telah ada di hadapan mereka. Ketika semuanya telah siap, Najasyi menoleh kepada kami dan berkata, “Apakah agama yang kalian peluk, sehingga kalian meninggalkan agama kaum kalian dan tidak pula kalian masuk ke dalam agamaku atau agama yang lainnya?”

    Maka berkatalah Ja’far bin Abi Thalib, “Wahai Raja, kami dahulu adalah orang-orang jahiliyah. Kami menyembah berhala, memakan bangkai, melaksanakan perbuatan keji, memutus silaturrahim, berbuat jelek kepada tetangga, yang kuat menekan yang lemah dan kami tetap berada dalam keadaan demikian, sampai Allah mengutus kepada kami seorang Rasul yang kami mengetahui nasabnya, kejujurannya, keamanahannya dan sangat memelihara diri. Dia mengajak kami agar beribadah hanya kepada Allah dan meninggalkan patung-patung yang disembah oleh nenek moyang kami. Dia juga memerintahkan kepada kami agar jujur dalam berkata, menunaikan amanah, menyambung silaturrahmi, meninggalkan perbuatan keji, memelihara darah, dan melarang kami dari berkata dusta, memakan harta anak yatim, menuduh wanita yang shalihah dengan perbuatan zina serta memerintahkan kami agar mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan. Maka kami membenarkannya, beriman kepadanya, dan mengikuti apa yang dibawanya dari sisi Allah. Kami menghalalkan apa yang dihalalkannya dan mengharamkan apa yang diharamkannya. Wahai Raja, ketika kaum kami mengetahui tentang apa yang kami lakukan, mereka memusuhi kami, menyiksa kami dengan siksaan yang berat dan berusaha mengembalikan kami kepada agama nenek moyang, dan agar kami kembali menyembah berhala. Maka tatkala mereka terus menekan kami, memaksa kami, akhirnya kami memilih engkau dari yang lainnya dan kami sangat berharap engkau berbuat baik kepada kami dan tidak menzalimi kami.”

    Raja Najasyi kembali bertanya kepada Ja’afar, “Apakah engkau memiliki apa yang dibawa oleh Nabimu dari Allah?” Ja’far menjawab, “Ya.” Maka Raja Najasyi memerintahkan, “Bacakanlah untukku!” Ja’far pun membaca surat maryam.

    Ketika mendengar ayat tersebut, menangislah Raja Najasyi, sehingga air matanya membasahi jenggotnya. Menangis pula para menterinya, sehingga basah buku-buku mereka. Dan Najasyi berkata, “Sesungguhnya, apa yang dibawa oleh Nabi kalian dan apa yang dibawa oleh Isa bin Maryam merupakan satu sumber.” Najasyi menoleh kepada Amru bin Ash dan berkata, “Pergilah kalian! Demi Allah, mereka tidak akan aku serahkan kepada kalian!”

    Ketika kami keluar dari Istana Najasyi, Amru bin Ash mengancam kami dan berkata, “Demi Allah, besok pagi aku akan menemuinya lagi. Akan aku kabarkan dengan satu berita yang bisa membuatnya marah.”

    Maka keesokan harinya, mereka kembali menemui Raja Najasyi dan berkata, “Wahai Raja, sesungguhnya orang yang engkau lindungi itu mengatakan tentang Isa, suatu perkataan yang besar!”

    Raja Najasyi kembali memanggil kami, hingga kami merasa khawatir dan takut. Sebagian kami bertanya-tanya, “Apa yang akan kita katakan kepadanya tentang Isa bin Maryam?” Akhirnya kami bersepakat untuk mengatakan tentang Isa, sebagaimana yang telah dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta kembali menunjuk Ja’far sebagai juru bicara. Kemudian kami datang untuk menemui Najasyi. Kami dapatkan Amru bin Ash telah berada di sana bersama temannya.

    Bertanyalah Najasyi, “Apa yang kalian katakan tentang Isa bin Maryam?”

    Ja’far menjawab, “Kami mengatakan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Nabi kami.”

    Najsyi berkata, “Apa yang dia katakan?”

    Ja’far menjawab, “Dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya Ruh-Nya, kalimat-Nya, yang Dia berikan kepada Maryam yang suci.”

    Mendengar hal tersebut, Najsyi memukul meja sembari berkata, “Demi Allah, apa yang dikatakannya sesuai dengan keadaan Isa bin Maryam. Pergilah kalian dengan aman. Siapa yang mencela kalian, dia adalah orang yang merugi. Dan siapa yang mengganggu kalian, dia akan disiksa.” Kemudian Najasyi berkata kepada para menterinya, “Kembalikanlah hadiah-hadiah itu kepada dua orang ini, karena aku tidak butuh kepadanya.” Akhirnya keduanya keluar dengan perasaan sedih, karena tidak berhasil melaksanakan apa yang mereka niatkan.

    Ja’far bersama istrinya tinggal beberapa saat di Habasyah; bisa merasakan ketenangan serta lindungan dari Najasyi.

    Pelajaran Penting dari Kisah Ja’far

    Dari kisah tersebut kita belajar bagaimana seorang muslim harus memahami agamanya. Bagaimana kita bisa menunjukkan syiar Islam jika kita sendiri tidak memahami agama kita? Jangan sampai pemahaman kita terhadap Islam berhenti pada hal-hal yang sama selama puluhan tahun tanpa ada keinginan untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

    Ja’far baru beberapa tahun masuk Islam, tetapi mampu menjelaskan prinsip-prinsip Islam dengan begitu baik di hadapan seorang raja dan para pendeta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan pentingnya menuntut ilmu agar seorang muslim tidak tersesat. Dengan ilmu, ketika menghadapi persoalan besar, seorang muslim dapat memberikan jawaban yang benar dan mewakili agamanya dengan baik.

    Kebodohan dapat menjadi sumber berbagai kerusakan. Orang yang tidak memiliki ilmu sangat mudah melakukan kesalahan, bahkan dapat melakukan kerusakan tanpa menyadari bahwa perbuatannya salah.

    Bahaya Kebodohan

    Banyak kisah dalam Al-Qur’an yang menunjukkan bagaimana kebodohan dapat menyeret manusia kepada kesalahan dan kerusakan. Salah satunya adalah kisah Bani Israil.

    Setelah Allah menyelamatkan mereka dari kejaran Fir’aun dan menyeberangkan mereka melalui laut, mereka melewati suatu kaum yang sedang menyembah berhala. Melihat hal tersebut, sebagian Bani Israil meminta kepada Nabi Musa agar dibuatkan sesembahan seperti yang dimiliki kaum tersebut. Padahal mereka baru saja diselamatkan Allah dari Fir’aun.

    Nabi Musa menegur mereka karena permintaan tersebut muncul dari kebodohan. Ini menunjukkan bahwa kebodohan dapat menyeret seseorang kepada kesyirikan.

    Demikian pula berbagai praktik yang tidak memiliki dasar agama dapat muncul karena ketidaktahuan. Seseorang dapat meyakini adanya sebab-sebab tertentu yang sebenarnya tidak pernah dijadikan sebab oleh Allah.

    Karena itu, seorang muslim harus berhati-hati. Jangan sampai ketidaktahuan membuat seseorang melakukan perkara yang bertentangan dengan tauhid.

    Kisah kaum Nabi Luth juga menunjukkan bagaimana kebodohan dapat menyeret manusia kepada perbuatan keji. Allah menjelaskan bahwa mereka melakukan perbuatan yang belum pernah dilakukan oleh umat sebelum mereka. Nabi Luth menegur mereka dan menyebut mereka sebagai kaum yang jahil.

    Pelajarannya jelas: kebodohan dapat menggiring seseorang kepada berbagai bentuk penyimpangan.

    Karena itu, pertanyaannya adalah: sampai kapan kebodohan akan kita pelihara?

    Menuntut Ilmu Tidak Mengenal Usia

    Alhamdulillah, di antara kita banyak penuntut ilmu yang masih muda. Namun orang yang sudah tua juga jangan merasa bahwa dirinya sudah tidak memiliki kesempatan untuk belajar.

    Jangan mengatakan, “Saya sudah tua. Sudah bukan waktunya lagi belajar.” Selama seseorang masih hidup, ia tetap membutuhkan ilmu. Kita wajib mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Ada beberapa ilmu penting yang dapat membantu seorang muslim memperkuat agamanya.

    1. Mentadaburi Al-Qur’an

    Ilmu pertama yang penting dipelajari adalah mentadaburi Al-Qur’an dan memahami makna-maknanya.

    Seorang muslim jangan hanya membaca Al-Qur’an, tetapi hendaknya berusaha memahami apa yang Allah sampaikan di dalamnya. Bahkan minimal seorang muslim harus memahami makna Surah Al-Fatihah.

    Kita membaca Al-Fatihah dalam setiap rakaat. Namun sangat disayangkan apabila seseorang membaca ayat-ayat tersebut berulang kali tetapi tidak memahami maknanya. Ketika membaca ayat yang bermakna bahwa hanya kepada Allah kita beribadah dan hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan, seharusnya kita memahami konsekuensi dari ucapan tersebut dalam kehidupan.

    2. Mempelajari Nama dan Sifat Allah

    Ilmu berikutnya adalah mempelajari fikih, nama-nama Allah yang indah, dan sifat-sifat-Nya. Dengan mengenal Allah, seorang hamba semakin mengetahui siapa Rabb-nya. Semakin mengenal Allah, semakin besar rasa takutnya kepada Allah, semakin besar harapannya kepada Allah, dan semakin ikhlas ibadahnya.

    Ia tidak lagi menggantungkan harapannya kepada selain Allah. Ia memahami bahwa hidupnya adalah untuk mencari keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    3. Mempelajari Sirah Nabi Muhammad

    Ilmu ketiga adalah mempelajari sirah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Bagaimana mungkin seseorang dapat mencintai Nabi jika ia tidak mengetahui perjalanan hidup beliau? Sirah Nabi bukan sesuatu yang cukup dipelajari setahun sekali. Pembahasan perjalanan hidup Rasulullah sangat luas dan membutuhkan banyak pertemuan untuk mempelajarinya.

    Dengan mempelajari sirah, kita mengetahui perjuangan Nabi, pengorbanannya, kesulitan yang beliau hadapi, serta berbagai pelajaran yang beliau berikan. Semakin seseorang mengenal perjuangan Nabi, semakin mudah baginya memahami mengapa ia harus mencintai dan mengikuti sunnah beliau.

    4. Mempelajari Sirah Salafus Saleh

    Ilmu keempat adalah mempelajari perjalanan hidup para salafus saleh.

    Kisah para sahabat dan generasi terdahulu dapat menjadi sebab bertambahnya iman. Ketika seseorang sedang mengalami futur atau merasa malas dalam beribadah, ia dapat membaca kisah para sahabat seperti Khalid bin Walid dan Umar bin Khattab. Kisah perjuangan mereka dapat membangkitkan semangat untuk kembali beramal.

    Karena itu, para ulama menganjurkan untuk mempelajari sirah Nabi, mentadaburi Al-Qur’an, dan memahami kisah orang-orang saleh.

    Menjaga Diri Sebelum Fitnah Datang

    Kisah Ja’far juga mengajarkan bagaimana seorang muslim menyelamatkan agamanya ketika menghadapi fitnah. Para sahabat dahulu rela meninggalkan negeri mereka demi menyelamatkan agama. Hal ini selaras dengan berbagai nasihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang fitnah.

    Ketika fitnah datang, keadaan dapat menjadi sangat sulit. Karena itu, Rasulullah menganjurkan agar seorang muslim segera beramal saleh sebelum fitnah datang. Jangan menunggu sampai keadaan menjadi kacau baru ingin memperbaiki diri. Ketika fitnah sudah datang, seseorang dapat kesulitan membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Keadaan menjadi seperti malam yang gelap gulita tanpa penerangan.

    Karena itu, sebelum masa tersebut datang, perbanyak amal saleh. Fitnah dapat membuat seseorang berubah dengan cepat. Seseorang yang pagi harinya masih beriman dapat berubah pada sore hari, atau sebaliknya. Ketika fitnah datang, sebagian orang dapat menjual agamanya demi mendapatkan sedikit keuntungan dunia. Maka, sebelum masa tersebut datang, kita harus memperkuat iman dan memperbanyak amal.

    Jangan Mendekati Fitnah

    Para sahabat tidak mencari-cari fitnah. Mereka berusaha menyelamatkan agama. Ini adalah pelajaran penting bagi seorang muslim.

    Jangan merasa diri kita kuat menghadapi semua fitnah. Jika kita mengetahui bahwa diri kita lemah dan suatu lingkungan dapat membuat kita tergoda, jangan sengaja mendekatinya. Jangan menguji diri sendiri dengan sesuatu yang dapat merusak agama. Banyak orang yang sebelumnya telah mendapatkan hidayah kemudian tergelincir karena fitnah. Kadang-kadang seseorang merasa dirinya pintar dan mampu menghadapi syubhat, padahal sebenarnya ia belum memiliki ilmu dan kekuatan untuk menolaknya. Karena itu, keselamatan agama harus menjadi prioritas.

    Agama Harus Didahulukan

    Di antara pelajaran dari kisah Ja’far adalah bahwa agama harus ditempatkan di atas kepentingan dunia. Jangan menjadikan agama sebagai sesuatu yang nomor dua.

    Apa pun masalah dan kesulitan hidup yang kita hadapi, agama harus kita jaga terlebih dahulu karena agama merupakan modal keselamatan kita di akhirat. Jangan meremehkan agama atau menganggap urusan agama sebagai sesuatu yang tidak penting.

    Ketika seseorang tidak peduli terhadap agamanya, ia dapat terjerumus ke dalam berbagai kemaksiatan. Jika keadaan tersebut semakin parah, seseorang bahkan dapat terjatuh ke dalam kemunafikan. Karena itu, jangan menjadikan kepentingan dunia sebagai alasan untuk mengorbankan agama.

    Ketika Hukum Agama Tidak Lagi Menjadi Rujukan

    Di antara masalah yang perlu diperhatikan adalah ketika seseorang menghadapi persoalan tetapi tidak mau mengembalikannya kepada agama. Ia mencari aturan lain yang lebih sesuai dengan keinginannya. Padahal seorang muslim seharusnya menjadikan agama sebagai rujukan dalam kehidupannya.

    Jika ada persoalan, jangan memilih hukum hanya berdasarkan mana yang paling menguntungkan diri sendiri. Jangan mengambil aturan agama ketika sesuai dengan kepentingan kita, tetapi meninggalkannya ketika tidak sesuai dengan keinginan kita. Para sahabat dahulu rela menghadapi kesulitan dunia demi menjaga keselamatan akhirat.

    Mereka tidak menjadikan kenyamanan dunia sebagai ukuran utama.

    Hijrah Demi Menyelamatkan Agama

    Kaum muslimin yang hijrah ke Habasyah menempuh perjalanan yang sangat jauh demi menyelamatkan agama. Mereka meninggalkan negeri, keluarga, dan berbagai kenyamanan dunia. Tujuan mereka bukan bisnis atau kepentingan dunia, tetapi menyelamatkan agama. Mereka khawatir jika tetap tinggal dalam kondisi penuh tekanan dan fitnah, mereka tidak mampu mempertahankan agama.

    Ini menunjukkan betapa besar perhatian generasi awal Islam terhadap keselamatan iman. Kita perlu membandingkan hal tersebut dengan keadaan diri kita. Kita hidup dalam banyak kenikmatan, tetapi jangan sampai kenikmatan tersebut membuat kita lupa kepada Allah dan lupa kepada agama.

    Menerima Nasihat

    Seorang muslim juga harus belajar menerima nasihat. Ketika seseorang mengingatkan kita dengan mengatakan, “Bertakwalah kepada Allah, wahai saudaraku,” jangan langsung menjawab, “Urus dirimu sendiri.”

    Sikap seperti itu justru menunjukkan bahwa seseorang tidak mau menerima nasihat. Nasihat merupakan bagian dari upaya saling mengingatkan dalam kebaikan. Karena itu, jangan sampai kita membenci orang yang mengingatkan kita kepada Allah. Jika ada kekurangan dalam diri kita, hendaknya kita berusaha memperbaikinya.

    Jangan Berhenti Belajar

    Kisah Ja’far bin Abi Thalib perlu terus diulang sebagai bahan pengingat. Jangan sampai pemahaman Islam kita berhenti pada tingkat yang sama selama bertahun-tahun.

    Pertanyaannya: sampai kapan kita tidak menuntut ilmu agama? Jangan sampai Islam kita hanya menjadi identitas di kartu tanda penduduk, sementara salat masih bolong-bolong dan kewajiban agama tidak dijalankan dengan baik.

    Alhamdulillah, ada masjid dan majelis ilmu yang dapat menjadi tempat untuk belajar agama. Ilmu tersebut bukan hanya untuk diketahui, tetapi harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan proses belajar serta mengamalkan agama harus terus dilakukan sampai kita meninggal dunia.

    Allah memerintahkan agar kita jangan meninggal kecuali dalam keadaan sebagai seorang muslim. Jangan hanya mengaku sebagai seorang muslim, tetapi berusahalah memahami dan menjalankan Islam dengan benar. Masih sangat banyak ilmu agama yang harus dipelajari.


    Sesi Tanya Jawab

    Pertanyaan tentang Tahun Hijrah ke Habasyah

    Pertanyaan pertama adalah mengenai tahun hijrah ke Habasyah yang kedua.

    Pemateri meluruskan bahwa penyebutan “tahun hijriah” kurang tepat karena istilah tahun Hijriah merujuk kepada kalender setelah hijrah Nabi ke Madinah. Hijrah ke Habasyah terjadi pada masa kenabian. Hijrah yang kedua ke Habasyah terjadi sekitar tahun keenam kenabian.

    Pertanyaan tentang Ja’far bin Abi Thalib

    Pertanyaan berikutnya: siapa hubungan Ja’far dengan Nabi Muhammad?

    Ja’far bin Abi Thalib adalah sepupu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ja’far merupakan putra Abu Thalib. Saudaranya adalah Ali bin Abi Thalib.

    Pertanyaan tentang Hijrah Pertama ke Habasyah

    Kemudian jamaah ditanya mengenai tahun hijrah pertama ke Habasyah. Hijrah pertama dan kedua ke Habasyah sama-sama terjadi pada masa sekitar tahun keenam kenabian, meskipun berbeda waktunya.

    Ciri-Ciri Masyarakat Jahiliah

    Pertanyaan terakhir berkaitan dengan ciri-ciri kehidupan masyarakat jahiliah yang disebutkan dalam kisah Ja’far.

    Beberapa ciri tersebut antara lain:

    1. Penyembahan kepada selain Allah.

    2. Memutuskan tali silaturahmi.

    3. Melakukan berbagai perbuatan keji.

    4. Orang kuat menindas orang yang lemah.

    5. Berbagai bentuk kerusakan dan penyimpangan lainnya.

    Pemateri menegaskan bahwa berbagai bentuk perilaku tersebut masih dapat ditemukan di tengah masyarakat pada zaman sekarang. Karena itu, seorang muslim harus menjaga diri dan keluarganya agar tidak terjerumus ke dalam perilaku jahiliah.


    Cara Menyaring Kajian dan Memilih Tempat Menuntut Ilmu

    Salah seorang jamaah kemudian bertanya mengenai bagaimana cara menyaring kajian.

    Ia menyampaikan bahwa seseorang terkadang tidak dapat mengikuti kajian secara rutin. Bahkan, dalam beberapa kajian yang diikuti, tiba-tiba muncul berbagai syubhat atau pembahasan yang membingungkan.

    Pertanyaannya adalah bagaimana seorang awam dapat mengetahui apakah seorang pengajar berada di atas jalan yang benar atau justru membawa perkara yang membingungkan.

    Jawabannya, bagi orang awam, tugas utama bukanlah memfilter semua perkara sendiri karena ilmunya masih terbatas.

    Jika seseorang sudah mengetahui seorang ustaz yang ia yakini lurus dan konsisten, maka hendaknya ia mendatangi ustaz tersebut dan menjadikannya sebagai tempat bertanya.

    Ketika menemukan suatu persoalan yang belum dipahami, tanyakan kepada ustaz yang dipercaya:

    “Ustaz, bagaimana dengan perkara ini?”

    Jika ustaz tersebut menjelaskan bahwa perkara itu bermasalah, maka ia dapat meninggalkannya.

    Orang awam tidak perlu merasa harus mendatangi banyak ustaz dan mengikuti semua majelis untuk kemudian menyaring semuanya sendiri.

    Waktu manusia terbatas. Kemampuan untuk melakukan penyaringan juga terbatas, terutama bagi orang yang belum memiliki dasar ilmu yang cukup. Karena itu, bagi orang awam, salah satu jalan yang lebih aman adalah memiliki satu atau dua ustaz yang dipercaya dan dijadikan tempat bertanya.

    Jika apa yang diketahui seseorang tentang kebenaran selaras dengan penjelasan ustaz yang ia percaya, maka ia dapat berpegang terlebih dahulu pada hal tersebut sambil terus belajar dan bertanya. Yang terpenting adalah jangan berhenti belajar. Semoga jawaban tersebut dapat menjawab pertanyaan jamaah.

    Penutup

    Karena waktu terbatas dan kajian berikutnya akan dilanjutkan di tempat lain, pembahasan kemudian ditutup. Semoga Allah memberikan kita ilmu yang bermanfaat, menjaga agama kita dari berbagai fitnah, dan memberikan kemampuan kepada kita untuk terus belajar serta mengamalkan agama sampai akhir hayat.

    Poster Ringkasan

    ******

    Penulis:
    Abu Afif
    Share: