Mencintai dan menghormati para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, mengakui keutamaan dan derajat mereka yang tinggi, serta menjaga lisan dari pembicaraan negatif tentang mereka merupakan salah satu pokok ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Sikap mulia ini menjadi pembeda utama antara Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan kelompok-kelompok lainnya.
Bumi ini pernah dipijak oleh insan-insan mulia yang bukan nabi maupun rasul, tetapi memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah meridhai mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Keutamaan mereka bermula dari hidayah iman yang Allah tancapkan dalam dada mereka—iman kepada Allah dan Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Di saat mayoritas masyarakat tenggelam dalam kekufuran dan kesyirikan, para sahabat berdiri teguh sebagai pendamping setia Nabi dalam membela dakwah Islam, berjuang menegakkan kalimat tauhid, dan meneruskannya ke generasi selanjutnya.
Para sahabat hidup bagaikan orang-orang yang terasing (al-ghuraba) di tanah kelahiran mereka sendiri. Mereka terasing karena akidah tauhid yang lurus, ibadah yang murni, serta akhlak mulia yang menjauhi khamar, perzinaan, dan perbuatan keji yang kala itu merebak luas. Karena keteguhan memegang hidayah tersebut, mereka harus menghadapi berbagai penderitaan, intimidasi, siksaan fisik, hingga pengusiran dari kampung halaman. Namun, seluruh pengorbanan itu mereka jalani demi tegaknya agama Islam dan keselamatan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.
Pujian Allah terhadap Kaum Muhajirin dan Anshar
Keutamaan para sahabat terekam abadi di dalam Al-Qur'an. Allah Subhanahu wa Ta'ala memuji ketulusan dan keteguhan kaum Muhajirin serta kaum Anshar.
1. Keutamaan Kaum Muhajirin
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surat Al-Hasyr (59) Ayat 8:
لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
" (Nafkah itu juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka karena mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar."
Ayat ini menegaskan bahwa kaum Muhajirin rela meninggalkan harta benda dan rumah mereka bukan demi keuntungan duniawi, melainkan murni untuk meraih ridha Allah serta membela Rasul-Nya. Allah menyifati mereka sebagai ash-shadiqun (orang-orang yang jujur/benar), membuktikan tidak ada kontradiksi antara ucapan, isi hati, dan perbuatan mereka.
2. Keutamaan Kaum Anshar
Allah Subhanahu wa Ta'ala melanjutkan pujian-Nya bagi kaum Anshar dalam Surat Al-Hasyr (59) Ayat 9:
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
"Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung."
Pujian Allah terhadap Muhajirin dan Anshar bersumber dari ilmu Allah yang Maha Luas dan Meliputi segala sesuatu. Allah mengetahui keadaan mereka sebelum dan sesudah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Oleh karena itu, sungguh batil tuduhan yang menyatakan bahwa para sahabat berubah menjadi murtad atau gila kedudukan sepeninggal Beliau, sebab berita keridhaan dari Allah bersifat mutlak dan tidak akan salah alamat.
Sosok dan Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu
Di antara seluruh sahabat dari unsur Muhajirin dan Anshar, sosok yang paling mulia dan utama adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu.
Nama dan Nasab: Nama asli beliau adalah Abdullah bin Utsman (Abu Quhafah) bin Amir bin Amr bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah. Nasab beliau bersambung dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pada kakek bernama Murrah bin Ka'ab, sehingga beliau digelari At-Taimi Al-Qurasyi.
Keistimewaan Keluarga: Kedua orang tua beliau (Abu Quhafah dan Ummul Khair Salma binti Sakhr) serta seluruh anak-anak beliau memeluk agama Islam. Ini merupakan keutamaan khusus yang tidak dimiliki oleh sahabat lainnya.
Kedudukan Sosial: Sebelum Islam datang, beliau sudah dikenal sebagai pedagang dermawan, berakhlak mulia, dihormati, serta pakar dalam ilmu nasab bangsa Arab.
Ulama menyimpulkan keutamaan beliau dalam satu kalimat: "Fahuwa asbaqush-shahabati ilal-khairat" (Beliau adalah sahabat yang paling terdepan dalam seluruh kebaikan).
Poin-Poin Terdepan Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq:
1. Orang Pertama yang Masuk Islam dari Kalangan Pria Dewasa:
Berbeda dengan Khadijah (istri Nabi), Ali bin Abi Thalib (anak dalam pengasuhan Nabi), dan Zaid bin Haritsah (mantan budak Nabi), Abu Bakar memeluk Islam sebagai pria dewasa mandiri dari luar lingkar rumah tangga Nabi melalui proses perenungan yang matang.
2. Pembela Pertama Rasulullah dari Gangguan Fisik:
Ketika Uqbah bin Abi Mu'aith melilitkan kain di leher Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam saat beliau shalat di Ka'bah untuk mencekiknya, Abu Bakar datang menerjang dan membebaskan Beliau. Ali bin Abi Thalib pernah menegaskan bahwa Abu Bakar adalah orang yang paling berani karena keberaniannya melindungi Nabi di saat-saat paling genting.
3. Pelopor Dakwah Islam:
Melalui perantara dakwah Abu Bakar, para tokoh besar yang dijamin masuk surga memeluk Islam, seperti Utsman bin Affan, Az-Zubair bin Al-Awwam, Talhah bin Ubaidillah, Abdurrahman bin Auf, dan Sa'ad bin Abi Waqqas.
4. Gelar Ash-Shiddiq Langsung dari Lisan Nabi:
Gelar Ash-Shiddiq menggambarkan sosok yang sangat membenarkan ajaran Rasulullah tanpa keraguan sedikit pun. HR. Bukhari (No. 3675) meriwayatkan ketika Nabi bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman berada di atas Gunung Uhud, gunung tersebut bergetar. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menghentakkan kakinya seraya bersabda:
اثْبُتْ أُحُدُ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِيٌّ وَصِدِّيقٌ وَشَهِيدَانِ
"Tenanglah wahai Uhud! Karena di atasmu hanyalah seorang Nabi, seorang Siddiq (Abu Bakar), dan dua orang syahid (Umar dan Utsman)."
Derajat ash-shiddiqiyyah adalah derajat tertinggi tepat di bawah derajat kenabian.
Pendamping Setia dalam Hijrah:
Beliau mendampingi Nabi menempuh perjalanan hijrah yang amat berbahaya menuju Madinah. Ketika bersembunyi di Gua Tsur dan mengkhawatirkan keselamatan Rasulullah dari kejaran musuh, Allah menurunkan Surat At-Taubah (9) Ayat 40:
إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ ثَانِيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
"Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) megeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di kala dia berkata kepada temannya: 'Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita'."
Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ayat ini merupakan penegasan eksplisit dari Al-Qur'an atas persahabatan (shahabat) Abu Bakar dengan Nabi, di mana beliau mempertaruhkan nyawa dan hartanya demi melindungi Rasulullah.
Sahabat yang Paling Dicintai dan Ditunjuk Mengimami Shalat:
Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ditanya mengenai siapa laki-laki yang paling beliau cintai, beliau menjawab "Abu Bakar". Saat beliau sakit menjelang wafatnya, perintah tegas dikeluarkan: "Perintahkan Abu Bakar agar mengimami manusia dalam shalat." (HR. Bukhari No. 683).
Kewajiban Mencintai dan Meneladani Abu Bakar Ash-Shiddiq
Mencintai Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab adalah bagian dari iktikad Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah bersabda mengenai bekal hari kiamat dalam HR. Bukhari (No. 3688) dan Muslim (No. 2639):
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
"Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai."
Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu mengungkapkan betapa besarnya kegembiraan para sahabat mendengar hadits ini, seraya berkata:
"Aku mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Abu Bakar, dan Umar. Aku berharap dapat bersama mereka karena kecintaanku kepada mereka, meskipun amalanku tidak sebanyak amalan mereka."
Para ulama Salafus Shalih senantiasa menanamkan rasa cinta kepada Abu Bakar dan Umar kepada anak-anak mereka sejak dini. Imam Malik bin Anas Rahimahullah meriwayatkan:
"Dahulu para Salaf mengajarkan anak-anak mereka untuk mencintai Abu Bakar dan Umar sebagaimana mereka mengajarkan surat-surat dari Al-Qur'an."
Imam Ibnu Abi Hatim dalam menjelaskan akidah Ar-Raziyain menegaskan bahwa pokok akidah Ahlus Sunnah meliputi:
Mendoakan rahmat (tarahhum) dan keridhaan (taraddhi) untuk seluruh sahabat Nabi.
Menahan lisan dari perselisihan yang terjadi di antara para sahabat.
Meyakini bahwa sebaik-baik umat ini setelah Nabinya secara berurutan adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, lalu Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhum.
Mengetahui keutamaan ini membentengi kita dari tuduhan keji kelompok Rafidhah (Syiah) yang menyesatkan, seperti tuduhan bahwa Abu Bakar merebut/membegal khilafah dari Ali, murtad, atau tuduhan jahat lainnya. Abu Bakar adalah sosok yang paling jauh dari sifat gila jabatan maupun gila harta. Bahkan saat muktamar pemilihan khalifah di Saqifah, beliau justru menawarkan agar masyarakat membaiat Umar bin Khattab atau Abu Ubaidilah bin Al-Jarrah.
Sebagai penutup, mencintai para sahabat Anshar dan Muhajirin—terutamanya Abu Bakar Ash-Shiddiq—adalah bagian mutlak dari keimanan, sedangkan membenci mereka merupakan tanda nyata dari kemunafikan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menganugerahkan ke dalam hati kita rasa cinta yang murni kepada para sahabat Nabi dan mengumpulkan kita bersama mereka di akhirat kelak.
Poster Ringkasan
