Memuat tanggal...
Daurah Kitab

Bila Kumati #2 | Firasat Kematian: Pelajaran Akidah, Persiapan Amal, dan Keadaan Orang Beriman Saat Wafat

Abu Afif
20 September 2026 16 mnt baca 14 tayangan
Bila Kumati #2 | Firasat Kematian: Pelajaran Akidah, Persiapan Amal, dan Keadaan Orang Beriman Saat Wafat

Daftar isi

    Kajian Buku Bila Kumati #2 Bersama Ustadz Ammi Nur Baits Hafidzahullah


    Firasat Kematian:
    Akidah dan Persiapan Menghadapinya


    Pendahuluan

    Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan jiwa dan amal perbuatan kita. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga hari kiamat.

    Pembahasan mengenai kematian merupakan pembahasan yang sangat penting. Kematian adalah perkara yang pasti terjadi, tetapi waktu dan tempatnya merupakan perkara gaib yang tidak diketahui manusia.


    Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

    وَمَا تَدْرِى نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍ تَمُوتُ 

    "Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati." (QS. Luqman: 34)

    Ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia bahkan tidak mengetahui tempat kematiannya sendiri. Jika tempat saja tidak diketahui, tentu waktu kematian lebih tidak mungkin diketahui secara pasti. Allah menyimpan pengetahuan tentang ajal agar manusia senantiasa bersiap dengan amal saleh.

    Akidah Islam: Antara Meyakini Wahyu dan Menolak Penyimpangan

    Dalam mempelajari akidah, ada dua perkara penting:

    • Pertama, seorang Muslim harus mengetahui dan meyakini akidah yang benar berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah.
    • Kedua, seorang Muslim harus mengetahui berbagai bentuk penyimpangan akidah agar dapat menghindarinya.

    Di antara bentuk penyimpangan adalah memasukkan berbagai mitos, khurafat, keyakinan klenik, jimat, perdukunan, tathayyur atau anggapan sial, serta berbagai kepercayaan yang tidak memiliki landasan syariat ke dalam keyakinan agama.

    Ada pula bentuk penyimpangan berupa penolakan terhadap perkara-perkara yang telah ditetapkan oleh wahyu karena dianggap tidak dapat diterima oleh akal. Sikap semacam ini dapat menyebabkan seseorang menolak perkara gaib yang telah diberitakan secara sahih dalam Al-Qur'an dan Sunnah.

    Karena itu, prinsip penting dalam akidah adalah taslim, yaitu tunduk dan menerima berita Allah dan Rasul-Nya.

    Bukan berarti Islam mengajarkan manusia meninggalkan akal. Justru Islam memerintahkan manusia menggunakan akalnya. Namun, akal memiliki keterbatasan. Ada perkara yang dapat dijangkau akal dan ada perkara yang berada di luar jangkauan kemampuan akal.

    Antara bertentangan dengan akal dan tidak terjangkau akal

    Dua perkara ini harus dibedakan.

    • Pertama, sesuatu yang bertentangan dengan akal.
      Misalnya, seseorang mengaku sebagai nabi setelah Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Pengakuan tersebut bertentangan dengan berita wahyu yang menegaskan bahwa Muhammad adalah penutup para nabi.
    • Kedua, sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh akal.
      Misalnya, mengapa shalat Subuh dua rakaat sedangkan Zuhur empat rakaat? Akal tidak mampu menemukan secara mandiri mengapa jumlah rakaatnya harus demikian. Namun karena Allah dan Rasul-Nya telah menetapkannya, seorang Muslim menerimanya.

    Demikian pula berbagai perkara gaib dalam akidah. Akal tidak dapat menjangkau hakikatnya secara sempurna, tetapi seorang Muslim membenarkannya berdasarkan berita wahyu yang sahih.

    Dengan demikian, tidak benar jika dikatakan bahwa seluruh ajaran syariat harus dapat dibuktikan secara empiris oleh akal manusia. Banyak perkara syariat yang tidak bertentangan dengan akal, tetapi memang berada di luar jangkauan kemampuan akal.

    Kematian: Pasti, tetapi Waktunya Dirahasiakan

    Kematian adalah kepastian yang tidak mungkin dihindari.

    Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

    قُلْ إِنَّ ٱلْمَوْتَ ٱلَّذِى تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُۥ مُلَٰقِيكُمْ ۖ

    "Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu." (QS. Al-Jumu'ah: 8)

    Allah juga berfirman:

    وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

    "Dan setiap umat mempunyai ajal. Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun." (QS. Al-A'raf: 34)

    Dan dalam ayat lain:

    مَّا تَسْبِقُ مِنْ أُمَّةٍ أَجَلَهَا وَمَا يَسْتَـْٔخِرُونَ

    "Tidak ada suatu umat pun yang dapat mendahului ajalnya dan tidak pula dapat meminta penundaan." (QS. Al-Hijr: 5)

    Ayat-ayat tersebut memberikan pelajaran penting: ajal berada di bawah ketetapan Allah. Manusia tidak memiliki kemampuan untuk memajukan ataupun menundanya.

    Mengapa Waktu Kematian Dirahasiakan?

    Salah satu hikmahnya adalah agar manusia senantiasa berada dalam keadaan siap beramal.

    Bayangkan jika seseorang diberi tahu secara pasti bahwa ia akan meninggal pada pukul 12 siang. Tentu sejak pagi ia akan sibuk mempersiapkan dirinya. Ia akan memperbanyak amal, meminta maaf, melunasi utang, memperbaiki hubungan dengan keluarga, memperbanyak zikir, dan memohon ampun kepada Allah.

    Namun Allah tidak memberitahukan kapan ajal kita tiba. Karena itu seorang Muslim dituntut untuk selalu siap.

    Allah berfirman:

    فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْۙ ۝٧

    "Maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain." (QS. Asy-Syarh: 7)

    Maknanya adalah seorang mukmin tidak mengenal konsep "selesai beramal" dalam arti berhenti dari kebaikan. Selesai satu amal, dilanjutkan dengan amal berikutnya.

    Setelah Satu Ibadah Selesai, Lanjutkan dengan Amal Berikutnya

    Di antara keindahan syariat adalah adanya keterkaitan antara satu amal dengan amal berikutnya.

    Allah berfirman:

    فَاِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلٰوةَ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِكُمْۚ

    "Apabila kamu telah melaksanakan shalat, maka berzikirlah kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring." (QS. An-Nisa: 103)

    Setelah shalat, seorang Muslim diperintahkan untuk berzikir. Setelah selesai melaksanakan shalat Jumat, Allah berfirman:

    فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

    "Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung." (QS. Al-Jumu'ah: 10)

    Setelah selesai melaksanakan manasik haji, Allah berfirman:

    فَاِذَا قَضَيْتُمْ مَّنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ  

    "Apabila kamu telah menyelesaikan manasikmu, maka berzikirlah kepada Allah." (QS. Al-Baqarah: 200)

    Dari sini dapat dipahami bahwa seorang mukmin tidak seharusnya menjadikan ibadah sebagai aktivitas yang terputus-putus. Selesai shalat, ada zikir. Selesai haji, ada zikir. Selesai majelis, dianjurkan beristighfar.

    Zikir kepada Allah merupakan ibadah yang terus menyertai seorang mukmin.

    Allah bahkan memerintahkan:

    وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ

    "Dan ingatlah Allah pada hari-hari yang telah ditentukan." (QS. Al-Baqarah: 203)

    Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:

    "Hari-hari Tasyrik adalah hari-hari untuk makan, minum, dan mengingat Allah." (HR. Muslim)

    Karena itu, hari-hari Tasyrik bukanlah hari untuk lalai. Meskipun seseorang menikmati makanan, minuman, dan kebahagiaan yang Allah halalkan, hatinya tetap dipenuhi dengan zikir kepada Allah.

    Firasat Kematian

    Dalam kehidupan para nabi dan sebagian sahabat terdapat peristiwa yang menunjukkan adanya firasat atau tanda-tanda yang membuat seseorang menyadari bahwa ajalnya telah dekat.

    Namun hal ini harus dipahami dengan benar.

    Firasat bukan berarti seseorang mengetahui perkara gaib secara mutlak. Ilmu tentang waktu kematian secara pasti tetap merupakan hak Allah. Adapun seseorang yang merasakan ajalnya telah dekat atau memahami tanda tertentu berdasarkan keadaan yang dialaminya, maka hal tersebut merupakan perkara yang berbeda.

    Di antara contoh yang paling jelas adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

    Firasat Kematian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam

    Menjelang wafatnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Jibril 'Alaihissalam melakukan murajaah Al-Qur'an bersama beliau.

    Fatimah Radhiyallahu 'anha meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memberitahukan kepadanya bahwa Jibril biasanya menyampaikan atau menelaah Al-Qur'an bersama beliau sekali dalam setahun. Namun pada tahun terakhir kehidupan beliau, Jibril melakukannya dua kali.

    Kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan bahwa beliau melihat hal tersebut sebagai tanda bahwa ajalnya telah dekat.

    Dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan:

    "Jibril biasanya menelaah Al-Qur'an bersamaku sekali setiap tahun, tetapi tahun ini ia menelaahnya bersamaku dua kali. Aku mengira ajalku telah dekat."

    Beliau kemudian berpesan kepada Fatimah agar bertakwa dan bersabar serta menyampaikan bahwa beliau akan menjadi pendahulu bagi Fatimah di akhirat.

    Benar saja, setelah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam wafat, Fatimah Radhiyallahu 'anha menjadi anggota keluarga beliau yang pertama menyusulnya.

    Peristiwa ini menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memahami adanya tanda yang mengisyaratkan dekatnya ajal, tetapi beliau tetap menjalankan tugas kenabian hingga akhir hayat.

    Isyarat Ajal dalam Haji Wada'

    Di dalam Haji Wada', Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga menyampaikan beberapa ucapan yang mengisyaratkan bahwa itu adalah haji terakhir beliau.

    Ketika mengajarkan manasik, beliau bersabda:

    "Ambillah dariku manasik kalian, karena mungkin aku tidak akan berhaji lagi setelah hajiku ini."

    Pesan tersebut menjadi sangat penting karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memang tidak pernah melaksanakan haji lagi setelah Haji Wada'.

    Beliau juga menyampaikan berbagai pesan kepada umat, seakan-akan sedang mempersiapkan mereka untuk menghadapi masa setelah wafatnya beliau.

    Surah An-Nashr dan Isyarat Dekatnya Ajal

    Di antara tanda yang dipahami oleh sebagian sahabat sebagai isyarat dekatnya wafat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah turunnya Surah An-Nashr.

    Allah berfirman:

    إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (۱) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (۲) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا (۳)

    "Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat." (QS. An-Nashr: 1–3)

    Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma memahami surah tersebut sebagai pemberitahuan tentang dekatnya ajal Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

    Perhatikan kandungan surah tersebut.

    Ada berita:

    "Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan."

    Kemudian:

    "Engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah."

    Tugas Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mencapai kesempurnaan. Dakwah telah tersebar dan manusia masuk Islam dalam jumlah besar.

    Setelah itu Allah memberikan perintah:

    "Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya."

    Tasbih, tahmid, dan istighfar menjadi penutup.

    Hal ini menunjukkan sebuah pelajaran penting: istighfar merupakan salah satu bentuk penutup amal.

    Setelah shalat kita beristighfar. Setelah menyelesaikan sebagian ibadah kita memperbanyak zikir dan istighfar. Seakan-akan seorang hamba diajarkan untuk tidak merasa sempurna setelah melakukan amal, tetapi justru menutup amal dengan memohon ampun kepada Allah.

    Pesan Rasulullah di Ghadir Khumm

    Dalam perjalanan pulang dari Haji Wada', Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga menyampaikan pesan di Ghadir Khumm.

    Beliau mengingatkan bahwa dirinya adalah manusia dan bahwa utusan Rabbnya akan datang kepadanya.

    Pesan tersebut merupakan salah satu bagian dari rangkaian tanda yang menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyadari kedekatan ajalnya.

    Inti pelajarannya adalah bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menyembunyikan kenyataan bahwa beliau akan meninggalkan dunia. Beliau justru mempersiapkan umat dengan nasihat, pengajaran, dan penegasan agar mereka berpegang teguh kepada petunjuk Allah.

    Firasat Kematian Para Sahabat

    Selain Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, terdapat pula beberapa sahabat yang memiliki firasat akan dekatnya kematian.

    Salah satunya adalah Anas bin An-Nadhar Radhiyallahu 'anhu.

    Ia tidak ikut dalam Perang Badar. Karena itu, ketika kesempatan Perang Uhud datang, ia memiliki tekad kuat untuk memberikan kontribusi terbaik.

    Ketika kaum Muslimin menghadapi Perang Uhud, Anas bin An-Nadhar berkata kepada Sa'ad bin Mu'adz:

    "Wahai Sa'ad bin Mu'adz, demi Rabb An-Nadhar, sungguh aku mencium aroma surga dari arah Gunung Uhud."

    Ia kemudian maju ke medan perang.

    Riwayat sahih menyebutkan bahwa setelah peperangan, ditemukan lebih dari delapan puluh luka pada tubuhnya akibat tebasan pedang, tusukan tombak, dan panah. Tubuhnya juga mengalami mutilasi sehingga tidak dapat dikenali kecuali oleh saudara perempuannya melalui ujung jarinya.

    Peristiwa ini berkaitan dengan firman Allah:

    مِنَ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ رِجَالٌ صَدَقُوۡا مَا عَاهَدُوا اللّٰهَ عَلَيۡهِ​ۚ فَمِنۡهُمۡ مَّنۡ قَضٰى نَحۡبَهٗ وَمِنۡهُمۡ مَّنۡ يَّنۡتَظِرُ​ ۖ  وَمَا بَدَّلُوۡا تَبۡدِيۡلًا ۙ‏ ٢٣

    "Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang telah gugur, dan di antara mereka ada pula yang masih menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah janjinya." (QS. Al-Ahzab: 23)

    Ayat ini menggambarkan keteguhan para sahabat dalam memegang janji dan komitmen mereka kepada Allah.

    Jangan Mengubah Niat untuk Beramal Saleh

    Pelajaran penting dari ayat tersebut adalah menjaga niat untuk melakukan kebaikan.

    Seseorang mungkin telah memiliki rencana untuk bersedekah, membantu orang lain, berkurban, menuntut ilmu, atau melakukan amal saleh lainnya.

    Kemudian kesempatan pertama hilang. Jangan sampai hilangnya kesempatan pertama membuat niat kebaikan ikut hilang.

    Jika kesempatan bersedekah di suatu tempat sudah tertutup, carilah tempat lain. Jika kesempatan membantu seseorang sudah berakhir karena kondisinya berubah, carilah bentuk kebaikan lainnya.

    Jika orang tua yang selama ini mendapatkan nafkah telah meninggal, bukan berarti hubungan bakti kepada mereka berakhir. Seorang anak masih dapat bersedekah atas nama orang tuanya dan mendoakannya.

    Yang penting adalah menjaga semangat kebaikan. Allah memuji orang-orang yang: "sedikit pun tidak mengubah janjinya." QS. Al-Ahzab ayat 23.

    Abdullah bin Haram: Firasat Sebelum Syahid

    Contoh lain adalah Abdullah bin Haram, ayah Jabir bin Abdullah Radhiyallahu 'anhuma.

    Menjelang Perang Uhud, ia memanggil Jabir pada malam hari dan menyampaikan bahwa ia merasa akan menjadi salah seorang yang pertama terbunuh dalam peperangan tersebut. Ia kemudian berpesan kepada Jabir agar melunasi utangnya dan memperlakukan saudara-saudarinya dengan baik.

    Keesokan harinya Abdullah benar-benar gugur sebagai syahid dalam Perang Uhud. Kisah ini diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari.

    Pesan yang disampaikan sebelum wafat menunjukkan betapa pentingnya seorang Muslim mempersiapkan urusan dunia dan akhiratnya.

    Di antara hal yang sangat penting adalah utang.

    Karena itu jangan menunda pembayaran utang dan jangan menganggap ringan hak manusia.

    Jabir kemudian memiliki tanggungan utang dari ayahnya. Dalam riwayat sahih disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam membantu Jabir dalam menyelesaikan utang tersebut. Dengan keberkahan yang Allah berikan, harta yang ada akhirnya mencukupi untuk melunasi utang tersebut.

    Apakah Kematian Bisa Ditunda?

    Di tengah masyarakat masih terdapat berbagai keyakinan bahwa seseorang dapat menunda kematian dengan menggunakan jimat, benda tertentu, kekuatan supranatural, atau praktik-praktik tertentu.

    Keyakinan semacam itu bertentangan dengan prinsip tauhid.

    Allah juga berfirman:

    وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

    "Dan setiap umat mempunyai ajal. Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun." (QS. Al-A'raf: 34)

    Dan dalam ayat lain:

    مَّا تَسْبِقُ مِنْ أُمَّةٍ أَجَلَهَا وَمَا يَسْتَـْٔخِرُونَ

    "Tidak ada suatu umat pun yang dapat mendahului ajalnya dan tidak pula dapat meminta penundaan." (QS. Al-Hijr: 5)

    Dengan demikian, tidak ada jimat yang dapat menunda ajal seseorang.

    Jika seseorang memakai jimat kemudian berumur panjang, panjang umurnya bukan disebabkan oleh jimat. Dan jika seseorang memakai jimat lalu mengalami sakaratul maut yang berat, kesulitan tersebut juga bukan bukti bahwa jimat sedang menahan kematiannya.

    Ajal tetap berada di bawah ketetapan Allah.

    Kematian Tidak Berada dalam Kendali Manusia

    Allah adalah Dzat yang menghidupkan dan mematikan.

    Manusia tidak memiliki kemampuan untuk memberikan kehidupan kepada makhluk lain. Demikian pula manusia tidak dapat mengendalikan kapan ajal seseorang tiba.

    Karena itu seorang Muslim harus memiliki keyakinan bahwa segala sesuatu berada di bawah ketetapan Allah.

    Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma ketika masih muda:

    "Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk membahayakanmu, mereka tidak akan mampu membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu."

    [HR. Tirmidzi, no. 2516; Ahmad, 1:293; Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 14:408. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dalam tahqiqnya terhadap Musnad Imam Ahmad menyatakan bahwa hadits ini sanadnya kuat].

    Hadis ini mengajarkan tawakal dan keteguhan hati. Seorang Muslim tetap berusaha, berhati-hati, dan mengambil sebab, tetapi hatinya tidak bergantung kepada sebab tersebut.

    Sakaratul Maut Orang yang Durhaka

    Kematian merupakan perkara yang berat.

    Allah berfirman:

    "Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari."
    (QS. Qaf: 19)

    Al-Qur'an juga menggambarkan keadaan orang-orang kafir ketika nyawa mereka dicabut:

    "Sekiranya engkau melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang kafir, mereka memukul wajah dan punggung mereka seraya berkata, 'Rasakanlah azab yang membakar.'"
    (QS. Al-Anfal: 50)

    Ini menunjukkan bahwa proses kematian tidak selalu menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi setiap manusia.

    Karena itu jangan menjadikan lamanya seseorang mengalami sakit menjelang wafat sebagai bukti bahwa ajalnya sedang ditunda oleh benda tertentu.

    Sakaratul maut memiliki keadaan yang berbeda-beda sesuai dengan kehendak Allah.

    Pintu Tobat Tidak Terbuka Selamanya

    Selama seseorang masih hidup, kesempatan untuk bertobat masih ada.

    Namun kesempatan itu berakhir ketika seseorang telah sampai pada kondisi sakaratul maut dan ruh telah mencapai tenggorokan.

    Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

    "Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba selama belum sampai ghargharah."

    Ghargharah adalah kondisi ketika seseorang berada pada penghujung kehidupannya, saat nyawa telah sampai pada tenggorokan.

    Karena itu jangan menunda tobat. Jangan mengatakan, "Nanti kalau sudah tua saya akan berubah."

    Tidak ada yang menjamin seseorang akan sampai pada usia tua.

    Kematian Orang Beriman

    Kematian tidak selalu menjadi sesuatu yang menakutkan bagi orang yang beriman dan istiqamah.

    Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

    "Sesungguhnya orang-orang yang berkata, 'Tuhan kami adalah Allah,' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata, 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.'"
    (QS. Fussilat: 30)

    Para ulama tafsir menjelaskan bahwa kabar gembira tersebut berkaitan dengan keadaan orang beriman ketika menghadapi kematian.

    Allah juga berfirman:

    "Orang-orang yang diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan baik, mereka berkata, 'Salamun 'alaikum. Masuklah kamu ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan.'"
    (QS. An-Nahl: 32)

    Betapa indah keadaan seorang mukmin yang istiqamah ketika menghadapi kematian: malaikat datang membawa ketenangan dan kabar gembira.

    Mencintai Pertemuan dengan Allah

    Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

    "Barang siapa mencintai perjumpaan dengan Allah, Allah pun mencintai perjumpaan dengannya. Dan barang siapa membenci perjumpaan dengan Allah, Allah pun membenci perjumpaan dengannya."

    Ketika para sahabat mendengar hadis ini, mereka memahami bahwa manusia secara alami tidak menyukai kematian. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian menjelaskan bahwa yang dimaksud bukan sekadar rasa tidak suka terhadap kematian.

    Ketika ajal seorang mukmin telah dekat, ia mendapatkan kabar gembira tentang keridaan dan kemuliaan dari Allah. Ketika itu tidak ada sesuatu yang lebih ia cintai daripada apa yang ada di hadapannya. Ia pun mencintai perjumpaan dengan Allah, dan Allah mencintai perjumpaan dengannya.

    Ini bukan berarti seorang Muslim diperintahkan berharap segera mati atau mencari kematian.

    Maksudnya adalah bahwa ketika seorang mukmin telah sampai pada penghujung hidupnya dan mendapatkan kabar gembira dari Allah, ia tidak lagi melihat kematian sebagai akhir yang menakutkan. Ia melihatnya sebagai pintu menuju perjumpaan dengan Rabb-nya.

    Bekal Terbaik Menghadapi Kematian

    Pembahasan tentang firasat kematian seharusnya tidak membuat kita sibuk mencari-cari tanda kapan kita akan meninggal. Justru sebaliknya.

    Karena kita tidak mengetahui kapan ajal datang, maka tugas kita adalah mempersiapkan diri setiap saat.

    Beberapa bekal yang perlu dipersiapkan antara lain:

    1. Menjaga tauhid

    Jangan sampai kehidupan berakhir sementara seseorang masih menggantungkan hati kepada jimat, perdukunan, mitos, atau kekuatan selain Allah.

    2. Menjaga shalat

    Shalat merupakan amal yang harus dijaga sampai akhir kehidupan.

    3. Memperbanyak zikir

    Allah memerintahkan hamba-Nya untuk banyak mengingat-Nya. Zikir bukan ibadah yang memiliki titik "selesai" dalam kehidupan seorang mukmin.

    4. Memperbanyak istighfar

    Setiap manusia memiliki kekurangan. Karena itu biasakan menutup amal dengan istighfar.

    5. Segera bertobat

    Jangan menunggu tua untuk bertobat. Jangan menunggu sakit untuk kembali kepada Allah.

    6. Menyelesaikan utang dan hak manusia

    Kisah Abdullah bin Haram mengingatkan pentingnya menyelesaikan utang dan menjaga amanah.

    7. Menjaga niat untuk beramal

    Jika satu kesempatan amal telah berlalu, jangan meninggalkan amal. Carilah kesempatan lainnya.

    8. Mempersiapkan keluarga

    Seseorang yang memiliki tanggungan hendaknya meninggalkan pesan yang baik, menyelesaikan kewajibannya, dan memastikan hak-hak keluarga tidak terabaikan.

    9. Memperbanyak amal sebelum datang ajal

    Jangan menunggu munculnya "firasat kematian". Sebab boleh jadi ajal datang tanpa didahului firasat apa pun.

    Penutup

    Kematian adalah kepastian yang tidak dapat dihindari. Waktu dan tempatnya dirahasiakan Allah agar manusia senantiasa bersiap.

    Allah berfirman: "Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati." (QS. Luqman: 34)

    Maka yang terpenting bukan mengetahui kapan kita akan mati, tetapi dalam keadaan seperti apa kita akan menemui kematian.

    Apakah kita meninggal dalam keadaan bertauhid atau masih menggantungkan hati kepada selain Allah?

    Apakah kita meninggal dalam keadaan menjaga shalat atau meremehkannya?

    Apakah kita meninggal dalam keadaan bertobat atau bergelimang maksiat?

    Apakah kita meninggal dalam keadaan sedang mengingat Allah atau sedang lalai?

    Tidak seorang pun mengetahui kapan ajalnya tiba.

    Karena itu, jangan menunggu firasat kematian untuk memperbaiki diri.

    Perbaiki diri sebelum ajal datang.

    Perbanyak amal sebelum kesempatan tertutup. Selesaikan utang sebelum kematian datang. Minta maaf sebelum tidak lagi memiliki kesempatan. Bertaubatlah sebelum pintu tobat ditutup. Dan teruslah mengingat Allah sampai ajal menjemput.

    Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kepada kita husnul khatimah, mengampuni dosa-dosa kita, meneguhkan kita di atas tauhid dan sunnah, serta menjadikan kematian kita sebagai awal menuju rahmat dan keridaan-Nya.

    Wallahu Ta'ala a'lam.

    Poster Ringkasan

     

    *****

     

    Penulis:
    Abu Afif
    Share: