Pendahuluan: Beratnya Mempertahankan Ketaatan di Akhir Zaman
Jemaah yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala, pada zaman ini, mempertahankan agama dan menjalankan ketaatan kepada Allah terasa semakin berat. Berbagai godaan dunia semakin beragam. Apa yang dahulu sulit dilakukan untuk mengubah penampilan, sekarang dapat dilakukan dengan mudah, bahkan dengan bantuan teknologi.
Ketika kita keluar dari masjid dan melihat keadaan di sekitar, kita menjumpai berbagai bentuk kemaksiatan. Ada orang yang mempertontonkan aurat, meninggalkan salat, menzalimi orang lain, serta melakukan berbagai hal yang dimurkai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Dalam keadaan seperti ini, berpegang teguh dengan agama membutuhkan perjuangan dan kesabaran yang besar.
Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ
“Akan datang suatu zaman kepada manusia, ketika orang yang bersabar dalam mempertahankan agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.”
HR. At-Tirmidzi, no. 2260. Redaksi hadis yang populer dalam riwayat ini adalah «الْقَابِضُ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ» dengan makna yang sama.
Bayangkan seseorang menggenggam bara api. Tentu terasa panas dan menyakitkan. Demikian pula keadaan orang yang mempertahankan agamanya ketika kerusakan moral dan kemaksiatan merajalela. Ia harus melawan godaan lingkungan, menahan hawa nafsu, serta tetap menjalankan perintah Allah meskipun terasa berat.
Oleh karena itu, kita harus belajar bersabar. Tanpa kesabaran, seseorang akan mudah menyerah dan terbawa arus kerusakan di sekitarnya.
1. Memahami Makna Sabar dalam Ketaatan
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ١٥٥ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ١٥٦
“Sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 155–156).
Ayat ini menunjukkan bahwa ujian merupakan bagian dari kehidupan manusia. Allah menguji hamba-Nya dengan berbagai keadaan, termasuk rasa takut, kesulitan ekonomi, kehilangan orang yang dicintai, dan berbagai kesulitan lainnya.
Semua itu harus dihadapi dengan kesabaran.
Apa yang dimaksud dengan sabar?
Sabar bukan sekadar diam atau tidak mengeluh. Sabar adalah menahan diri agar tidak melakukan sesuatu yang dimurkai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, baik ketika menghadapi musibah maupun ketika berjuang menjalankan ketaatan.
Sebagai contoh, ketika seseorang kehilangan anggota keluarganya, ia berusaha menerima takdir Allah. Ia tidak meratap, menjerit-jerit, atau melakukan tindakan yang menunjukkan penolakan terhadap ketetapan-Nya.
Ia mengucapkan:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn.
“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.”
Seorang muslim juga hendaknya menyadari bahwa segala sesuatu yang dimilikinya merupakan pemberian Allah. Apa yang Allah berikan dan apa yang Allah ambil, semuanya berada dalam kekuasaan-Nya. Setiap ketetapan memiliki waktu yang telah Allah tentukan.
Kesabaran seperti inilah yang perlu kita miliki, bukan hanya ketika ditimpa musibah, melainkan juga ketika menghadapi beratnya menjalankan agama.
2. Bersabar dengan Kuat dalam Menjalankan Ibadah
Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak hanya memerintahkan kita untuk beribadah, tetapi juga memerintahkan kita agar bersungguh-sungguh dan bersabar dalam melaksanakannya.
Allah berfirman:
رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ ۚ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا
“(Dialah) Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya. Maka sembahlah Dia dan berteguhhatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya?” (QS. Maryam [19]: 65).
Perhatikan firman Allah:
فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ
Fa'budhu waṣṭabir li'ibādatih.
“Maka sembahlah Dia dan berteguhhatilah dalam beribadah kepada-Nya.”
Allah menggunakan kata waṣṭabir, yang mengandung makna bersungguh-sungguh dan mengerahkan kesabaran dalam beribadah. Ini bukan sekadar kesabaran biasa, melainkan kesabaran yang kuat untuk terus menaati Allah.
Mengapa kita membutuhkan kesabaran yang kuat? Karena menjalankan ibadah tidak selalu mudah. Ada rasa malas, kesibukan pekerjaan, godaan lingkungan, dan berbagai hal yang dapat melemahkan semangat kita.
Bersabar dalam memerintahkan keluarga untuk shalat
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Ṭāhā [20]: 132).
Ayat ini sangat penting bagi orang tua. Terkadang seseorang baru mengenal sunnah dan mulai bersemangat mempelajari agama ketika anak-anaknya sudah besar. Anak-anaknya mungkin sudah duduk di bangku SMA atau kuliah, sedangkan sebelumnya mereka belum mendapatkan pendidikan agama yang memadai.
Ketika orang tua mengingatkan mereka agar salat, jawabannya mungkin, “Iya, nanti.” Namun, setelah ditunggu, shalat itu tidak juga dikerjakan.
Dalam keadaan seperti ini, orang tua membutuhkan kesabaran. Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk menyuruh keluarga melaksanakan salat, tetapi juga berfirman, waṣṭabir 'alaihā—bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam menjalankannya.
Jangan mudah menyerah hanya karena nasihat kita belum membuahkan hasil. Teruslah mengingatkan dengan cara yang baik, memberikan teladan, mendoakan keluarga, dan memohon pertolongan Allah.
Saling menguatkan dalam kesabaran
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Āli 'Imrān [3]: 200)
Ayat ini mengajarkan beberapa hal:
اِصْبِرُوا — Bersabarlah. Kita diperintahkan untuk bersabar dalam menghadapi ujian dan menjalankan ketaatan.
وَصَابِرُوا — Kuatkanlah kesabaranmu. Kita harus terus berjuang dan tidak mudah dikalahkan oleh berbagai kesulitan.
وَرَابِطُوا — Tetaplah bersiap siaga dan teguh. Kita harus menjaga diri agar tetap berada di atas ketaatan.
وَاتَّقُوا اللَّهَ — Bertakwalah kepada Allah. Semua perjuangan tersebut harus dilandasi ketakwaan kepada-Nya.
Allah juga memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ agar bersabar dalam membersamai orang-orang beriman.
Allah berfirman:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
“Bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia.” (QS. Al-Kahf [18]: 28)
Ayat ini mengingatkan kita untuk tetap membersamai orang-orang yang beriman dan beribadah kepada Allah dengan ikhlas. Jangan sampai kita meninggalkan lingkungan yang baik hanya karena tergoda oleh kemewahan dunia atau kedudukan sosial.
Jika kita ingin istiqamah, kita membutuhkan kesabaran dalam beribadah sekaligus kesabaran untuk tetap bersama orang-orang yang membantu kita menaati Allah.
3. Istiqamah Merupakan Karamah yang Besar
Jemaah yang dirahmati Allah, ketika seseorang mampu mempertahankan ketaatan, tetap bersemangat beribadah, menjaga tauhid, mengikuti sunnah, dan memperjuangkan akhlak yang mulia di tengah lingkungan yang rusak, itu merupakan karunia yang sangat besar dari Allah.
Kita sering mendengar istilah karamah. Namun, salah satu karunia paling berharga bagi seorang hamba adalah ketika Allah memberinya taufik untuk terus istiqamah di atas agama-Nya.
Ada perkataan yang dinukil dari sebagian ulama terdahulu:
لَيْسَ الْعَجَبُ مِمَّنْ هَلَكَ كَيْفَ هَلَكَ، وَلَكِنَّ الْعَجَبَ مِمَّنْ نَجَا كَيْفَ نَجَا
“Bukanlah sesuatu yang mengherankan ketika seseorang binasa, bagaimana ia bisa binasa. Akan tetapi, yang mengherankan adalah ketika seseorang selamat, bagaimana ia bisa selamat.”
Perkataan ini menggambarkan betapa besarnya tantangan mempertahankan agama ketika kerusakan dan kebodohan merajalela.
Di tengah berbagai bentuk kemaksiatan, masih ada orang yang berusaha menjaga salat, menghafal Al-Qur'an, memperjuangkan tauhid, mengikuti sunnah, serta menjaga akhlak. Ini merupakan nikmat yang sangat besar dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Karena itu, jangan hanya mengagumi pencapaian duniawi. Bersyukurlah ketika Allah masih memberikan kemampuan kepada kita untuk menaati-Nya. Mintalah agar nikmat istiqamah tersebut terus dipertahankan hingga akhir hayat.
4. Mengingat Tujuan Penciptaan Membantu Kita Istiqamah
Bagaimana agar kita bisa bersabar dan teguh dalam ketaatan? Salah satu caranya adalah selalu mengingat tujuan utama kita diciptakan di dunia.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzāriyāt [51]: 56)
Tujuan utama kehidupan kita adalah beribadah kepada Allah. Ibadah tidak terbatas pada salat, puasa, haji, dan umrah. Setiap bentuk ketaatan yang disyariatkan Allah, apabila dilakukan dengan ikhlas dan sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ, termasuk ibadah.
Ketika kita terus mengingat tujuan penciptaan ini, hati akan lebih kuat menghadapi godaan. Kita tidak akan mudah mengikuti orang lain yang mengajak kepada kemaksiatan, sebab kita memahami bahwa kehidupan ini bukan untuk mengejar kesenangan sesaat, melainkan untuk mengabdi kepada Allah.
Allah juga berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu; orang yang sesat itu tidak akan memberimu mudarat apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu semua akan kembali, kemudian Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Mā'idah [5]: 105)
Ayat ini bukan berarti kita boleh membiarkan kemungkaran begitu saja. Seorang muslim tetap berkewajiban menasihati dan mengajak kepada kebaikan sesuai kemampuan serta tuntunan syariat. Namun, kita tidak boleh ikut tersesat hanya karena banyak orang di sekitar kita melakukan kesalahan.
Sebagai gambaran, seseorang yang masuk Fakultas Kedokteran tentu memiliki tujuan untuk mempelajari ilmu kedokteran dan kesehatan. Jika ada orang yang mengajaknya menyia-nyiakan waktu sehingga mengganggu studinya, ia akan berusaha menghindarinya karena memahami tujuan utamanya berada di sana.
Demikian pula kehidupan kita. Jika kita terus mengingat tujuan penciptaan, berbagai gangguan yang menjauhkan kita dari ketaatan akan lebih mudah dihadapi.
Jangan sampai kita mengorbankan keselamatan akhirat hanya demi mengikuti orang-orang yang tidak memiliki tujuan hidup yang sama dengan kita.
5. Menjadi Hamba yang Saleh dan Mendapatkan Doa Kaum Muslimin
Hal lain yang dapat menguatkan semangat kita dalam ketaatan adalah mengingat bahwa setiap muslim yang saleh mendapatkan doa kebaikan dari kaum muslimin yang mengerjakan salat.
Dalam tasyahud, kita membaca:
السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَىٰ عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ
As-salāmu 'alainā wa 'alā 'ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn.
“Semoga keselamatan tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh.”
Bacaan ini merupakan bagian dari tasyahud yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Lihat Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 831, dan Ṣaḥīḥ Muslim, no. 402, dalam riwayat tentang bacaan tasyahud.
Hamba-hamba Allah yang saleh adalah orang-orang yang beriman dan berusaha menaati-Nya. Karena itu, ketika kita berjuang mempertahankan ketaatan, kita berharap termasuk dalam golongan hamba-hamba yang saleh tersebut.
Bayangkan betapa banyak kaum muslimin yang mengerjakan salat di berbagai belahan dunia. Mereka membaca doa tersebut dan memohon keselamatan bagi diri mereka serta hamba-hamba Allah yang saleh.
Kita tentu ingin termasuk di dalamnya. Bahkan, kita berharap mendapatkan doa dari orang-orang saleh yang mungkin tidak dikenal manusia, tetapi memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah.
Maka, jangan meremehkan perjuangan untuk menjadi orang saleh. Pertahankan ketaatan, jagalah ibadah, dan mohonlah kepada Allah agar kita dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang saleh.
6. Mengingat Besarnya Ampunan dan Pahala bagi Orang yang Bersabar
Salah satu perkara yang menguatkan kita dalam ketaatan adalah mengingat besarnya pahala yang Allah janjikan kepada orang-orang yang bersabar dan beramal saleh.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ
“Kecuali orang-orang yang sabar dan mengerjakan kebajikan, mereka memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Hūd [11]: 11)
Setiap orang tentu menginginkan ampunan dari Allah dan berharap memperoleh pahala yang besar di akhirat. Ayat ini memberikan kabar gembira bahwa orang yang bersabar dan tetap melakukan amal saleh mendapatkan ampunan serta pahala yang besar.
Karena itu, jangan mudah berhenti melakukan kebaikan hanya karena jalannya terasa berat. Bersabarlah dalam menjalankan salat, menuntut ilmu, mendidik anak, menjaga kehormatan diri, serta mempertahankan tauhid dan sunnah.
Rasulullah ﷺ juga menjelaskan kepada Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa pahala berkaitan dengan jerih payah yang dikeluarkan dalam ibadah. Di antara redaksi yang dinukil dalam pembahasan ini adalah:
إِنَّ لَكِ مِنَ الْأَجْرِ عَلَى قَدْرِ نَصَبِكِ
Inna laki minal-ajri 'alā qadri naṣabik.
“Sesungguhnya engkau mendapatkan pahala sesuai dengan kadar jerih payahmu.”
Catatan: Redaksi ini dikenal dalam pembahasan tentang pahala dan kesulitan ibadah, tetapi rujukan hadis spesifik untuk lafaz persis tersebut perlu diverifikasi sebelum dicantumkan sebagai kutipan langsung Nabi ﷺ.
Prinsip yang perlu kita pahami adalah bahwa kesulitan dalam beribadah bukan alasan untuk menyerah. Selama kita menjalankan ibadah sesuai syariat dan tetap ikhlas karena Allah, kita berharap memperoleh pahala atas amal dan kesabaran tersebut.
Misalnya, ada orang yang tinggal di lingkungan yang hanya sedikit penghuninya bersemangat mempelajari tauhid dan sunnah. Ia harus menghadapi penolakan, kesalahpahaman, atau kurangnya teman untuk saling menguatkan.
Jangan merasa bahwa perjuangan tersebut sia-sia. Allah mengetahui keadaan setiap hamba dan tidak menyia-nyiakan amal kebaikan mereka.
Kita tidak boleh memastikan bahwa seseorang tertentu pasti mendapatkan pahala lebih besar daripada orang lain tanpa dalil. Namun, kita berharap kesulitan yang dihadapi dalam ketaatan, jika disertai keikhlasan dan mengikuti tuntunan syariat, menjadi sebab bertambahnya pahala.
7. Mengingat Kemuliaan Akhirat
Perkara berikutnya yang dapat menguatkan kita adalah mengingat kehidupan akhirat. Dunia ini hanya sementara, sedangkan kehidupan akhirat jauh lebih baik dan kekal.
Bersabar menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan
Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan para sahabat tentang keadaan setelah beliau wafat:
إِنَّكُمْ سَتَلْقَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً، فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي عَلَى الْحَوْضِ
Innakum satalaqawna ba'dī atsarah, faṣbirū ḥattā talqawnī 'alal-ḥauḍ.
“Sesungguhnya kalian akan menjumpai sikap mementingkan diri sendiri setelah kepergianku. Maka bersabarlah hingga kalian bertemu denganku di telaga.”
HR. Al-Bukhārī, no. 3792, dalam riwayat tentang berita Nabi ﷺ kepada kaum Anshar mengenai keadaan setelah beliau wafat.
Hadis ini mengingatkan kita bahwa seorang muslim bisa menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan, termasuk ketika orang-orang yang memiliki kekuasaan lebih mengutamakan kepentingan mereka sendiri.
Dalam kondisi seperti itu, seorang muslim hendaknya tetap bersabar, menjaga agama, dan tidak membiarkan ketidakadilan atau kekecewaan membuatnya melakukan sesuatu yang melanggar syariat.
Bayangkan jika seseorang hidup di tengah keadaan yang sulit: kebijakan yang dirasakannya tidak adil, kesulitan ekonomi, atau berbagai persoalan sosial. Semua itu dapat melemahkan semangatnya jika ia hanya melihat kehidupan dunia.
Namun, ketika ia mengingat janji Allah dan perjumpaan dengan Rasulullah ﷺ di telaga pada hari kiamat, ia memiliki harapan yang lebih besar daripada sekadar memperoleh kenyamanan dunia.
Jangan tertipu oleh keberhasilan duniawi orang-orang kafir
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ ١٩٦ مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ ١٩٧
“Jangan sekali-kali kamu teperdaya oleh kegiatan orang-orang kafir yang bergerak di seluruh negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat kembali mereka ialah Jahanam. Dan (Jahanam) itu seburuk-buruk tempat tinggal.” (QS. Āli 'Imrān [3]: 196–197)
Kita sering melihat orang-orang yang tidak beriman memperoleh kekayaan, kedudukan, kekuasaan, dan keberhasilan duniawi. Bahkan, banyak negara yang maju secara teknologi dan ekonomi bukanlah negara dengan penduduk mayoritas muslim.
Namun, Allah mengingatkan agar kaum muslimin tidak tertipu oleh pencapaian tersebut. Keberhasilan duniawi bukan ukuran mutlak kemuliaan seseorang di sisi Allah, dan kekayaan bukan jaminan keselamatan di akhirat.
Allah menyebut kenikmatan dunia tersebut sebagai matā'un qalīl—kesenangan yang sedikit dan sementara jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat.
Sebaliknya, orang beriman yang bersabar dalam menjalankan ketaatan memiliki harapan terhadap kenikmatan akhirat yang tidak terputus.
Allah berfirman:
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A'lā [87]: 17)
Jangan sampai kita mengorbankan agama demi mengejar sesuatu yang hanya dinikmati sebentar. Dunia boleh kita manfaatkan untuk bekerja, mencari rezeki, membangun keluarga, dan melakukan kebaikan, tetapi semua itu harus tetap berada dalam batas-batas yang diridai Allah.
Umur dunia yang singkat dibandingkan akhirat
Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:
أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ
A'māru ummatī mā bainas-sittīna ilas-sab'īn, wa aqalluhum man yajūzu dzālik.
“Umur umatku berkisar antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, dan sedikit di antara mereka yang melampaui usia tersebut.”
HR. At-Tirmidzi, no. 2331; juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah, no. 4236.
Umur enam puluh atau tujuh puluh tahun mungkin terasa panjang ketika kita sedang menghadapi kesulitan. Namun, jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang kekal, kehidupan dunia sangatlah singkat.
Bayangkan jika seseorang diberi pilihan antara hidup seribu tahun di dunia yang penuh ujian, kelelahan, kekhawatiran, dan musibah, atau menjalani kehidupan dunia yang singkat kemudian memperoleh kenikmatan surga untuk selama-lamanya.
Tentu, seorang mukmin berharap memperoleh keselamatan dan kenikmatan akhirat secepatnya, sesuai dengan ketetapan Allah. Kita tidak boleh meminta kematian hanya karena merasa berat menghadapi kehidupan. Yang perlu kita lakukan adalah memohon pertolongan Allah, memperbaiki amal, dan bersabar sampai ajal datang.
Kesadaran bahwa umur kita terbatas seharusnya membuat kita lebih bersemangat menggunakan waktu untuk beribadah. Jangan habiskan kehidupan yang singkat ini untuk perkara yang membuat kita merugi di akhirat.
8. Memilih Teman yang Membantu Kita Taat kepada Allah
Salah satu faktor yang sangat memengaruhi semangat kita dalam beribadah adalah lingkungan pergaulan.
Jika kita memiliki teman yang rajin beribadah, menjaga salat, mempelajari Al-Qur'an, dan mengingatkan kita kepada Allah, kita akan lebih mudah ikut bersemangat. Sebaliknya, jika lingkungan kita terbiasa meremehkan ibadah, kita pun berisiko terbawa kebiasaan tersebut.
Bayangkan seseorang yang berada di Masjidil Haram pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Ia melihat banyak orang berusaha mengikuti salat malam dalam waktu yang panjang. Bahkan, orang-orang lanjut usia pun berusaha berdiri dan mengikuti salat sesuai kemampuan mereka.
Ketika melihat kesungguhan orang-orang di sekitarnya, ia ikut terdorong untuk bersungguh-sungguh. Salat yang awalnya terasa berat menjadi lebih ringan karena lingkungan yang mendukung.
Sebaliknya, seseorang yang berada di lingkungan yang lemah semangat ibadahnya mungkin merasa berat untuk melaksanakan salat malam ketika hanya dirinya yang berusaha melakukannya.
Inilah bukti bahwa lingkungan pergaulan memiliki pengaruh besar terhadap ketaatan.
Agama seseorang dipengaruhi teman dekatnya
Rasulullah ﷺ bersabda:
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
Ar-rajulu 'alā dīni khalīlih, falyanẓur aḥadukum man yukhālin.
“Seseorang berada di atas agama teman dekatnya. Maka, hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dijadikan teman dekat.”
HR. Abu Dawud, no. 4833; At-Tirmidzi, no. 2378. Hadis ini dinilai hasan oleh sejumlah ulama.
Hadis ini mengajarkan agar kita berhati-hati dalam memilih teman dekat. Teman bukan sekadar orang yang menemani kita bersenang-senang, tetapi juga orang yang dapat memengaruhi cara berpikir, kebiasaan, dan arah kehidupan kita.
Terkadang seseorang berkata, “Teman saya banyak, tetapi mereka malas beribadah. Kalau menonton pertandingan sepak bola, mereka bersemangat. Namun, kalau diajak ke masjid, mereka malas.”
Ada pula yang merasa sulit mencari teman yang benar-benar semangat dalam menjalankan agama.
Dalam keadaan seperti ini, jangan mengutamakan banyaknya teman. Satu teman yang saleh dan membantu kita mendekat kepada Allah jauh lebih berharga daripada banyak teman yang justru menjauhkan kita dari-Nya.
Apa gunanya memiliki seribu teman jika pergaulan tersebut membuat kita merugi di akhirat? Lebih baik memiliki sedikit teman yang mengingatkan kita kepada Allah dan membantu kita melakukan kebaikan.
Meninggalkan pergaulan buruk demi menjaga agama
Ada perkataan yang populer di tengah masyarakat:
مَنْ تَرَكَ شَيْئًا لِلَّهِ عَوَّضَهُ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ
Man taraka syai'an lillāhi 'awwaḍahullāhu khairan minhu.
“Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik darinya.”
Catatan: Lafaz ini populer dinukil dalam pembahasan tentang meninggalkan sesuatu demi Allah, tetapi sanadnya diperselisihkan dan tidak tepat dinyatakan sebagai hadis sahih tanpa penjelasan. Maknanya perlu dipahami sesuai dalil-dalil yang sahih.
Dalam konteks pergaulan, jika sebuah pertemanan terus-menerus mendorong kita melakukan kemaksiatan dan meremehkan kewajiban agama, kita perlu membatasi pengaruh buruknya. Kita dapat mencari lingkungan yang lebih baik tanpa harus bersikap kasar atau memutus hubungan secara zalim.
Jangan takut kehilangan teman hanya karena ingin menjaga agama. Tetaplah berbuat baik, bersikap santun, dan membuka kesempatan bagi teman-teman lama untuk mendapatkan nasihat. Namun, jangan mengorbankan ketaatan hanya demi diterima dalam suatu kelompok.
Pilihlah teman yang membantu kita mendekat kepada Allah, bukan teman yang membuat kita menjauh dari-Nya.
9. Ketaatan kepada Allah Dapat Menjadi Sebab Datangnya Rezeki
Hal terakhir yang perlu kita pahami adalah bahwa ketaatan kepada Allah dapat menjadi sebab datangnya rezeki dan terbukanya jalan keluar dari berbagai kesulitan.
Namun, ada satu hal yang harus diperhatikan: jangan beribadah semata-mata untuk mendapatkan keuntungan duniawi. Kita beribadah karena Allah memang berhak disembah dan karena itulah tujuan penciptaan kita. Adapun rezeki, itu merupakan karunia yang Allah berikan menurut kehendak dan hikmah-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ٥٦ مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ ٥٧ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ ٥٨
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sungguh, Allah Dialah Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh.” (QS. Adz-Dzāriyāt [51]: 56–58)
Setelah menjelaskan tujuan penciptaan manusia, Allah menegaskan bahwa Dia tidak membutuhkan rezeki atau makanan dari makhluk-Nya. Justru Allah-lah yang memberikan rezeki kepada seluruh makhluk.
Ini mengingatkan kita agar tidak menjadikan ibadah seolah-olah kita sedang memberikan sesuatu kepada Allah. Kita beribadah karena membutuhkan pertolongan, ampunan, dan rahmat-Nya.
Shalat dan tawakal kepada Allah
Allah juga berfirman:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Ṭāhā [20]: 132)
Ayat ini kembali menghubungkan perintah untuk menegakkan salat dengan penegasan bahwa Allah-lah yang memberikan rezeki.
Karena itu, jangan sampai kesibukan mencari nafkah membuat kita meninggalkan salat. Jangan pula kita merasa bahwa menjaga ibadah akan menghalangi rezeki. Kita diperintahkan untuk berusaha mencari nafkah yang halal sekaligus menjaga kewajiban kepada Allah.
Infak tidak akan sia-sia
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya, dan Dialah Pemberi rezeki yang terbaik.” (QS. Saba' [34]: 39)
Ayat ini memberikan motivasi agar kita tidak takut berinfak di jalan Allah. Apa pun yang kita keluarkan untuk kebaikan tidak luput dari pengetahuan-Nya. Allah mampu mengganti apa yang kita infakkan sesuai dengan kehendak dan hikmah-Nya, baik dalam bentuk rezeki di dunia maupun pahala di akhirat.
Dalam hadis qudsi, Rasulullah ﷺ meriwayatkan bahwa Allah berfirman:
يَا ابْنَ آدَمَ، أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ
Yabna Ādam, anfiq unfiq 'alaik.
“Wahai anak Adam, berinfaklah, niscaya Aku akan memberi nafkah kepadamu.”
HR. Al-Bukhārī, no. 5352; Muslim, no. 993, dengan redaksi yang sedikit berbeda dalam riwayat-riwayatnya.
Selain infak, terdapat amalan lain yang diterangkan dalam dalil sebagai sebab datangnya kebaikan dan kelapangan, di antaranya menyambung silaturahmi, bertakwa kepada Allah, dan memperbanyak istigfar. Semua itu hendaknya dilakukan dengan ikhlas, bukan sekadar sebagai cara untuk memperoleh keuntungan materi.
Takwa menjadi sebab datangnya jalan keluar dan rezeki
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ٢ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا ٣
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. Aṭ-Ṭalāq [65]: 2–3)
Takwa mencakup menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Karena itu, seluruh ketaatan yang kita lakukan dengan ikhlas dan sesuai tuntunan syariat merupakan bagian dari upaya meraih ketakwaan.
Ayat ini memberikan harapan kepada orang yang sedang mengalami kesulitan. Bisa jadi ia belum melihat jalan keluar dari persoalannya, tetapi ia tetap berusaha menaati Allah, menempuh sebab-sebab yang halal, dan bertawakal kepada-Nya.
Jangan mengira bahwa mempertahankan agama akan membuat hidup kita selalu mudah. Orang beriman tetap dapat mengalami kesulitan ekonomi, sakit, kehilangan, dan berbagai ujian lainnya. Akan tetapi, ia memiliki pegangan yang kuat: Allah mengetahui keadaannya, dan kepada-Nya ia memohon pertolongan.
Inilah salah satu hal yang dapat menguatkan kita agar terus bersabar dan teguh dalam ketaatan.
Penutup: Teruslah Berjuang untuk Taat
Jemaah yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala, mempertahankan ketaatan pada zaman yang penuh godaan memang membutuhkan perjuangan. Kita tidak cukup hanya memiliki keinginan untuk menjadi orang baik. Kita harus melatih kesabaran, menjaga lingkungan pergaulan, mengingat tujuan penciptaan, dan senantiasa berharap kepada rahmat Allah.
Beberapa hal penting yang dapat kita jadikan pegangan adalah:
Bersabar menghadapi ujian. Kesulitan dalam menjalankan agama merupakan bagian dari ujian kehidupan. Hadapilah dengan sabar dan tetap berpegang teguh pada syariat.
Bersungguh-sungguh dalam beribadah. Jangan mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan dalam salat, mendidik keluarga, menuntut ilmu, atau menjaga sunnah.
Mengingat tujuan penciptaan. Kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah, bukan sekadar mengejar kesenangan dunia.
Berusaha menjadi hamba yang saleh. Jagalah ketaatan agar kita termasuk orang-orang yang mendapatkan doa kebaikan dari kaum muslimin.
Mengharapkan pahala dan ampunan Allah. Kesabaran dalam kebaikan tidak sia-sia. Teruslah beramal saleh meskipun perjuangannya terasa berat.
Mengingat kehidupan akhirat. Kenikmatan dunia hanya sementara, sedangkan akhirat lebih baik dan kekal.
Memilih teman yang saleh. Lingkungan pergaulan sangat memengaruhi agama seseorang. Carilah teman yang membantu kita menaati Allah.
Menjaga ibadah sambil mencari rezeki yang halal. Jangan menjadikan urusan dunia sebagai alasan untuk meninggalkan ketaatan. Bertawakallah kepada Allah dan tempuhlah sebab-sebab rezeki yang dibenarkan syariat.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan taufik kepada kita untuk terus menaati-Nya, menguatkan kesabaran kita dalam menghadapi ujian, menjaga kita dari berbagai fitnah, dan menetapkan hati kita di atas agama-Nya sampai akhir hayat.
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ. وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.