29 Rabiul Akhir 1448 H | Sabtu, 10 Oktober 2026
ad-Durar an-Nafisah

Ad-Durar An-Nafisah #8: Akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah Mengenai Uluwwil-Lah dan Istiwa di Atas 'Arsy

Ad-Durar An-Nafisah #8: Akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah Mengenai Uluwwil-Lah dan Istiwa di Atas 'Arsy

Daftar isi


    Mutiara Ke-16: Akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah Mengenai Uluwwil-Lah dan Istiwa di Atas 'Arsy

    Melanjutkan pembahasan risalah Ad-Durar An-Nafisah fi Rihlati ila Makkah wal-Madinah, mutiara ke-16 memuat faedah ilmiah dari Syekh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah mengenai penetapan sifat Uluwwil-Lah (Maha Tinggi Allah Subhanahu wa Ta'ala) serta peristiwanya Allah di atas 'Arsy. Pembahasan ini menjadi salah satu pembeda utama antara akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah dan kelompok ahlul bid'ah.

    Kedudukan Istiwa: Sifat Fi'liyah atau Dzatiyah?

    Dalam memahami sifat-sifat Allah, para ulama membaginya menjadi sifat dzatiyah (sifat yang senantiasa melekat pada Zat Allah) dan sifat fi'liyah (sifat perbuatan yang berkaitan dengan kehendak Allah).

    Jika muncul pertanyaan mengenai peristiwa Allah di atas 'Arsy (Istiwaullah 'ala 'Arshihi), apakah hal tersebut termasuk sifat fi'liyah atau dzatiyah?

    Jawabannya adalah bahwa istiwa termasuk ke dalam sifat fi'liyah. Hal ini dikarenakan istiwa berkaitan langsung dengan kehendak (masyi'ah) Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kaidah umum dalam akidah Ahlus Sunnah menetapkan bahwa setiap sifat yang berkaitan dengan kehendak Allah dikategorikan sebagai sifat fi'liyah.

    Pembagian Sifat Uluww (Maha Tinggi) Allah

    Ketinggian Allah Subhanahu wa Ta'ala di atas seluruh makhluk-Nya terbagi menjadi dua tingkatan:

    1. Uluwwun Maknawi (Ketinggian Secara Makna):

    Ketinggian Allah dalam hal kedudukan, keagungan, martabat, dan kekuasaan-Nya. Ketinggian secara maknawi ini disepakati oleh seluruh ahlul qiblah, baik dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama'ah maupun ahlul bid'ah. Seluruh umat Islam meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha Tinggi secara kedudukan di atas seluruh hambanya.

    2. Uluwwun Dzati (Ketinggian Secara Zat):

    Keberadaan Zat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang benar-benar berada di atas seluruh makhluk-Nya, di atas langit dan bersemayam di atas 'Arsy. Penetapan uluww dzati ini merupakan iktikad khas Ahlus Sunnah wal Jama'ah berdasarkan dalil Al-Qur'an, As-Sunnah, ijmak, dan akal sehat.

    Empat Pijakan Dalil Penetapan Uluwwun Dzati

    Ahlus Sunnah wal Jama'ah menegaskan ketinggian Zat Allah di atas seluruh makhluk-Nya melalui empat jalur argumentasi utama:

    1. Dalil Al-Qur'anul Karim

    Di dalam Al-Qur'an, penetapan ketinggian Allah disampaikan melalui berbagai macam redaksi:

    • Penggunaan Lafaz Uluww / Aliy / A'la:


      Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


      وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ


      "Dan Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung." (QS. Al-Baqarah [2]: 255)

      Serta firman-Nya:


      سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى


      "Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi." (QS. Al-A'la [87]: 1)

    • Penggunaan Lafaz Fauqiyah (Berada di Atas):


      Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


      وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ


      "Dan Dialah yang berkuasa di atas sekalian hamba-hamba-Nya." (QS. Al-An'am [6]: 18)

      Dan firman-Nya mengenai para malaikat:


      يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ


      "Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berada di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan." (QS. An-Nahl [16]: 50)

    • Penyebutan Bahwa Sesuatu Turun dari Sisi-Nya (Nuzul):


      Pengungkapan bahwa sesuatu diturunkan dari sisi Allah menunjukkan keberadaan Allah berada di tempat yang tinggi:


      يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ


      "Dia mengatur urusan dari langit ke bumi." (QS. As-Sajdah [32]: 5)

      إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ


      "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (QS. Al-Hijr [15]: 9)

    • Penyebutan Bahwa Sesuatu Naik Kepada-Nya (Su'ud / Uruj):


      إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ


      "Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya." (QS. Fathir [35]: 10)

      تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ


      "Malaikat-malaikat dan Ruh (Jibril) naik (menghadap) kepada Tuhan." (QS. Al-Ma'arij [70]: 4)

    • Penyebutan Bahwa Allah Berada fis-Sama' (di Atas Langit):


      أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يَخْسِرَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ


      "Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di atas langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?" (QS. Al-Mulk [67]: 16)

      Makna fis-Sama' di sini merujuk pada 'alas-sama' (di atas langit), sebagaimana penggunaan huruf fi dalam konteks "di atas bumi" pada hadits mursyil:


      الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ


      "Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahman. Sayangilah siapa yang ada di bumi (di atas bumi), niscaya Yang di atas langit akan menyayangi kalian." (HR. Tirmidzi, no. 1924; Abu Dawud, no. 4941)

    2. Dalil As-Sunnah An-Nabawiyah

    Keterangan dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam disampaikan secara mutawatir melalui tiga bentuk penetapan:

    • Perkataan (Qauli):


      Ketika sujud, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengajarkan untuk membaca:


      سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى


      "Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi." (HR. Muslim, no. 772)

      Beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam juga bersabda menegaskan keberadaan Allah di atas 'Arsy:


      أَلاَ تَأْمَنُونِي وَأَنَا أَمِينُ مَنْ فِي السَّمَاءِ


      "Apakah kalian tidak percaya kepadaku, padahal aku adalah orang yang dipercaya oleh Yang berada di atas langit?" (HR. Bukhari, no. 4351; Muslim, no. 1064)

    • Perbuatan (Fi'li):


      Saat berkhotbah di Padang 'Arafah pada peristiwa Haji Wada' di hadapan sekitar 100.000 sahabat, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengarahkan jarinya ke langit seraya bersabda:


      أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ؟ قَالُوا: نَعَمْ. قَالَ: اللَّهُمَّ اشْهَدْ


      "Bukankah aku telah menyampaikan?" Para sahabat menjawab, "Benar." Beliau mengangkat jarinya ke arah langit lalu mengarahkannya kepada manusia seraya bersabda, "Ya Allah, saksikanlah!" (HR. Muslim, no. 1218)

      Selain itu, kebiasaan Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang mengangkat kedua tangannya ke arah atas (langit) saat berdoa juga menjadi bukti isyarat perbuatan (fi'li) atas ketinggian Allah.

    • Persetujuan (Takriri):


      Diriwayatkan dalam hadits Mu'awiyah bin al-Hakam as-Sulami radhiyallahu 'anhu, ketika ia hendak memerdekakan seorang budak wanita, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menguji akidahnya terlebih dahulu:


      قَالَ لَهَا: أَيْنَ اللَّهُ؟ قَالَتْ: فِي السَّمَاءِ. قَالَ: مَنْ أَنَا؟ قَالَتْ: أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ. قَالَ: أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ


      Nabi bertanya kepadanya, "Di mana Allah?" Budak wanita itu menjawab, "Di atas langit." Beliau bertanya lagi, "Siapa aku?" Ia menjawab, "Engkau adalah Utusan Allah." Beliau bersabda, "Merdekakanlah dia, karena sesungguhnya dia adalah seorang wanita yang beriman." (HR. Muslim, no. 537)

    3. Dalil Ijmak (Kesepakatan Ulama)

    Para sahabat, tabiin, atba'ut tabii'in, hingga ulama Salaf secara keseluruhan telah sepakat sejak zaman Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam hingga hari ini bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala berada di atas langit.

    Buktinya, seluruh generasi Salaf senantiasa membaca, menghafal, dan mengajarkan ayat-ayat Al-Qur'an serta hadits-hadits sifat tersebut tanpa pernah menolak, mengalihkan maknanya secara batil, ataupun mengingkari penetapan sifat uluww. Konsistensi pembacaan dan penerimaan maknanya merupakan bentuk konsensus (ijmak) yang sah.

    4. Dalil Akal Sehat (Aqli)

    Secara logika rasional, posisi atau keadaan secara akal hanya menyisakan dua kemungkinan: berada di atas (uluww) atau berada di bawah (sufl).

    • Menisbatkan sifat "berada di bawah" kepada Allah adalah suatu hal yang mustahil, sebab hal tersebut merupakan bentuk kekurangan (naqsh) dan kekurangan adalah hal yang mustahil bagi Allah. Apabila Allah dianggap berada di bawah, hal itu secara logis mengimplikasikan adanya makhluk yang berada di atas-Nya.

    • Apabila posisi bawah mustahil bagi Allah, maka secara akal penetapan keberadaan Allah di tempat yang Maha Tinggi (uluww) di atas seluruh makhluk-Nya menjadi suatu hal yang wajib dan mutlak.

    Lingkungan Sahabat dan Bahaya Pemikiran Penyimpangan

    Kisah budak wanita dalam hadits Mu'awiyah bin al-Hakam memberikan pelajaran berharga. Meskipun budak wanita tersebut tidak berpendidikan tinggi dan memiliki keterbatasan status sosial, ia memiliki akidah yang lurus karena hidup di tengah lingkungan para sahabat Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

    Hal ini menjadi teguran bagi sebagian kelompok pemikiran yang terjebak dalam filsafat hingga mengingkari keberadaan Allah di atas langit—seperti meyakini Allah berada di mana-mana (fi kulli makan) atau tidak berada di dalam maupun di luar alam. Lingkungan masyarakat yang bertauhid terbukti sangat mempengaruhi keteguhan akidah seorang muslim.

    *****

    Penulis:
    Abu Afif
    Share: