Sempurnanya Islam dengan Akidah Al-Wala' wal-Bara'
Pembahasan ini berkaitan dengan akidah Al-Wala' wal-Bara', yaitu prinsip cinta dan berlepas diri karena Allah. Al-Wala' mencakup bagaimana seorang muslim mencintai atas dasar keridaan Allah Subhanahu wa Ta'ala, sedangkan Al-Bara' adalah bagaimana seorang muslim berlepas diri dari perkara-perkara yang dilarang dan dimurkai oleh-Nya.
Syekh rahimahullah menegaskan pentingnya prinsip ini dalam keislaman seorang hamba: "Tidaklah sempurna Islam seseorang kecuali dengan berlepas diri dari perkara-perkara di luar Islam."
Bagi seorang muslim, cukuplah baginya untuk berpegang teguh pada ajaran Islam yang sahih, beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan menjalankan syariat-Nya. Pada saat yang sama, seorang hamba wajib berlepas diri dari segala bentuk kesyirikan dan paham di luar ajaran Islam agar keislamannya menjadi benar dan murni.
Teladan Nabi Ibrahim 'Alaihissalam dalam Berlepas Diri dari Kesyirikan
Allah Subhanahu wa Ta'ala menceritakan bagaimana Nabi Ibrahim 'Alaihissalam—sang Khalilullah dan teladan orang-orang yang bertauhid—menegaskan sikap bara' (berlepas diri) kepada ayah dan kaumnya yang menyembah berhala serta patung-patung selain Allah.
1. Pernyataan Berlepas Diri Secara Lisan
Nabi Ibrahim 'Alaihissalam menyampaikan penolakannya secara tegas kepada kaumnya sebagaimana direkam dalam Al-Qur'an:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِّمَّا تَعْبُدُونَ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
"Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, kecuali (kamu menyembah) Allah yang menciptakanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi petunjuk kepadaku.' Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali (kepada Allah)." (QS. Az-Zukhruf [43]: 26–28)
Nabi Ibrahim 'Alaihissalam menolak beribadah kepada selain Allah dan menegaskan bahwa peribadatan hanya berhak ditujukan kepada Zat yang telah menciptakannya. Beliau menjadikan kalimat tauhid Laa ilaaha illallah sebagai warisan utama bagi anak keturunannya agar mereka senantiasa kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
2. Sikap Tegas Pengikut Tauhid
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga menjadikan Nabi Ibrahim 'Alaihissalam dan para pengikutnya yang beriman sebagai teladan utama bagi seluruh umat manusia:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ
"Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, 'Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.'" (QS. Al-Mumtahanah [60]: 4)
Prinsip permusuhan dan kebencian yang dinyatakan di sini bukan didasari oleh urusan duniawi, perselisihan harta, atau perebutan kekuasaan, melainkan karena perbedaan peribadatan dan penyimpangan dari tauhid. Seorang mukmin tidak dapat menerima Allah diduakan atau dipersekutukan dengan makhluk-Nya seperti patung, pohon, maupun benda langit.
Larangan Menjadikan Orang Kafir sebagai Teman Setia
Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan peringatan keras kepada orang-orang beriman agar tidak mengambil musuh-musuh Allah sebagai teman setia atau penolong utama yang saling mengasihi dalam kekufuran.
1. Peringatan dalam Surat Al-Mumtahanah
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُم مِّنَ الْحَقِّ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu." (QS. Al-Mumtahanah [60]: 1)
2. Peringatan dalam Surat Al-Ma'idah
Allah Subhanahu wa Ta'ala secara eksplisit melarang loyalitas penuh (wala') kepada kaum yang memusuhi syariat-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَىٰ أَن تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ ۚ فَعَسَى اللَّهُ أَن يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِّنْ عِندِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا أَسَرُّوا فِي أَنفُسِهِمْ نَادِمِينَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpinan-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah keutamaan bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpinan, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (orang Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, 'Kami takut akan mendapat bencana.' Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka." (QS. Al-Ma'idah [5]: 51–52)
Ayat ini menggambarkan sifat orang-orang munafik yang hatinya dijangkiti penyakit keraguan. Mereka mendekati pihak-pihak yang ingkar dengan alasan khawatir tertimpa bencana jika kaum muslimin mengalami kekalahan. Namun, seorang mukmin sejati tidak bersikap opportunis. Ia tetap teguh berada di atas keimanan dan membela agama Allah baik dalam keadaan lapang maupun sempit.
3. Ketegasan Ikatan Keimanan di atas Hubungan Nasab
Keimanan kepada Allah dan hari akhir menuntut seorang hamba untuk menempatkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya di atas ikatan kekeluargaan sekalipun:
لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ أُولَٰئِكَ حِزْبُ اللَّهِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
"Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung." (QS. Al-Mujadilah [58]: 22)
Bentuk Realisasi Al-Bara' dalam Kehidupan Seorang Muslim
Penting untuk membedakan antara muamalah duniawi yang baik dengan kompromi dalam hal iktikad dan peribadatan. Islam memerintahkan umatnya untuk berbuat baik dan berlaku adil dalam muamalah sosial sehari-hari, namun melarang keras mengorbankan akidah atas dalih toleransi yang kebablasan.
Penerapan Al-Bara' (berlepas diri) dari kesyirikan dan kekufuran dilakukan melalui tiga tingkatan:
1. Pengingkaran dengan Hati:
Meyakini dalam hati bahwa kesyirikan dan kekufuran adalah kebatilan yang dimurkai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, serta tidak menyukai segala bentuk penentangan terhadap syariat-Nya.
2. Pengingkaran dengan Lisan:
Menegaskan kebenaran tauhid dan menyampaikan ikrar berlepas diri dari peribadatan selain Allah saat dibutuhkan, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim 'Alaihissalam.
3. Pengingkaran dengan Anggota Badan:
Tidak ikut serta, tidak menghadiri, dan tidak memeriahkan ritual peribadatan atau perayaan keagamaan di luar ajaran Islam. seorang mukmin tidak boleh menggadaikan tauhidnya demi kenikmatan atau kepentingan duniawi yang bersifat sementara.
*****