Home / Risalah Ila Ahli Qaseem / Ketaatan kepada Pemimpin dalam Islam: Pondasi Persatuan dan Penjagaan Umat
Risalah Ila Ahli Qaseem

Ketaatan kepada Pemimpin dalam Islam: Pondasi Persatuan dan Penjagaan Umat

[youtube v=”PcNgDXILW3M?si=zJZlvn1nYAepsjY1″]

Islam Menjaga Umat Lewat Kepemimpinan

Dalam kajian ini, Ustadz Adi Abdul Jabar حفظه الله تعالى membahas prinsip penting dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, yaitu kewajiban mendengar dan taat kepada pemimpin kaum Muslimin. Prinsip ini bukan semata-mata urusan politik, tetapi merupakan bagian dari akidah dan ibadah yang bersumber langsung dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad ﷺ.

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemimpin) di antara kalian.”
(QS. An-Nisā’: 59)

Wajib Taat Selama Bukan dalam Maksiat

Ketaatan kepada pemimpin berlaku selama tidak memerintahkan kemaksiatan. Jika perintahnya bertentangan dengan syariat, maka tidak boleh ditaati, sebagaimana sabda Nabi Muḥammad :

Risalah Ila Ahli Qaseem | Bantahan Terhadap berbagai Tuduhan kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab – Tamat

قال النبي ﷺ:
«لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ»
(رواه البخاري ومسلم)

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam perkara maksiat kepada Al-Khaliq (Allah).”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada pemimpin tidak mutlak, tetapi terikat pada ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.


Mengapa Harus Taat kepada Pemimpin?

1. Menjaga Persatuan dan Keamanan Umat

Nabi Muḥammad  berpesan agar umat Islam senantiasa berpegang pada tali persatuan di bawah pemimpin kaum Muslimin, agar terhindar dari fitnah dan perpecahan.

Risalah Ila Ahli Qaseem | Bantahan Terhadap Tuduhan: Perbedaan diantara Para Ulama adalah Petaka

Ibnu ‘Umar berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِىَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِى عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

Barangsiapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan pada pemimpin, maka ia pasti bertemu Allah pada hari kiamat dengan tanpa argumen yang membelanya. Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak ada baiat di lehernya, maka ia mati dengan cara mati jahiliyah.” (HR. Muslim no. 1851).

2. Pemberontakan adalah Haram

Islam mengharamkan pemberontakan terhadap pemimpin Muslim yang sah, meskipun pemimpin tersebut tidak sempurna atau bahkan fasik. Sebab, pemberontakan hanya akan melahirkan kehancuran, pertumpahan darah, dan kerusakan sosial yang lebih besar.


Prioritas dalam Kepemimpinan: Kuat Lebih Utama dari Sekadar Shalih

Salah satu pelajaran penting dari kajian ini adalah bahwa kepemimpinan yang kuat dan mampu menjaga stabilitas umat lebih diutamakan, meskipun pemimpinnya tidak shalih secara pribadi. Sebaliknya, pemimpin yang lemah, meskipun shalih, bisa menjadi sebab kerusakan lebih luas karena ketidakmampuannya menegakkan keadilan dan keamanan.

Risalah Ila Ahli Qaseem: Beberapa Bantahan Terhadap Tuduhan kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab

Contoh sejarah yang disebutkan adalah Al-Hajjaj bin Yusuf, seorang gubernur yang terkenal keras dan zalim, namun umat tetap diperintahkan untuk taat kepadanya demi menjaga stabilitas negara dan menghindari fitnah yang lebih besar.


Menolak Pemikiran Khawarij

Ustadz juga menjelaskan bahwa pandangan Khawarij, yaitu kelompok yang hanya mau taat kepada pemimpin yang sempurna secara akhlak dan agama, bertentangan dengan prinsip Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Pandangan tersebut justru menyebabkan kekacauan dan pemberontakan yang dilarang dalam syariat.


Kesimpulan

  • Ketaatan kepada pemimpin adalah bagian dari akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, selama dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
  • Pemberontakan dilarang keras karena membawa kerusakan besar bagi umat.
  • Kepemimpinan yang kuat dan menjaga stabilitas lebih diutamakan daripada keshalihan pribadi semata.
  • Menjaga persatuan umat di bawah pemimpin yang sah adalah bentuk penjagaan terhadap dakwah Islam dan keberlangsungan umat.
  • Taat bukan berarti membenarkan segala keburukan, tetapi membatasi tindakan demi kemaslahatan yang lebih besar.

 

Disampaikan oleh: Ustadz Adi Abdul Jabar حفظه الله تعالى
Kitab: Risalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab – Surat kepada Penduduk Qaseem, Pertemuan 38
Lokasi : Masjid Al Ikhlas Adi Sucipto, Jajar