بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah#65
📚┃Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah
🖋 ┃Karya : Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Rahimahullah
🎙┃ Pemateri : Ustadz Abu Ubaid Rizqi, Lc, M. Pd. حفظه الله تعالى
- Alumnus LIPIA Jakarta
- Pengajar Ilmu Syar'i Pondok Pesantren Imam Bukhari
🗓┃ Hari & Tanggal : Kamis, 13 Rabi'ul Akhir 1448 H / 24 september 2026 M
🕰┃ Waktu : Ba'da Maghrib Sampai Selesai
🕌┃ Tempat : Masjid Al-Ikhlas Adi Sucipto Laweyan, Surakarta.
Iman kepada Rasul-Rasul Allah
Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Wabihi nasta'in 'ala umuriddunya waddin. Wassalatu wassalamu 'ala al-mursalin, wa 'ala alihi wa ashabihi ajma'in, wa man sanna nahjahum ila yaumiddin. Allahumma yanfa'na bima 'allamtana, wanfa'na bima 'allamtana, wa zidna 'ilman ya Rabbal 'alamin. Rabbisyrahli shadri, wa yassirli amri, wahlul 'uqdatan min lisani yafqahu qauli.
Amma ba'du. Ashdaqul haditsi Kitabullah, wa khairal hadyi hadyu Muhammadin shallallahu 'alaihi wasallam. Wa syarral umuri muhdatsatuha, fa inna kulla muhdatsatin bid'ah, wa kullu bid'atin dhalalah.
Kita masih dalam pembahasan Kaidah ke-22, yaitu iman kepada rasul-rasul Allah. Kita lanjutkan pembahasan terakhir sampai pada halaman 218.
Para Rasul adalah Manusia Biasa
Para rasul 'alaihimush shalatu was salam adalah manusia biasa. Mereka tidak memiliki sifat rububiyah dan tidak memiliki hak uluhiyah sama sekali, betapapun istimewanya mereka di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Bagaimana tidak istimewa? Mereka ditempatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala pada tingkatan pertama sebagai manusia-manusia yang paling utama di sisi-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّۦنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُو۟لَٰٓئِكَ رَفِيقًا
"Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka akan bersama-sama dengan orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya." (QS. An-Nisa ayat 69)
Urutannya adalah: para nabi, shiddiqin, syuhada, kemudian orang-orang saleh.
Kalau kita hitung dari bawah, orang-orang saleh berada di bawah, kemudian syuhada, lalu shiddiqin, kemudian para nabi. Jika naik lagi, yang lebih utama daripada nabi adalah rasul, yaitu seorang yang Allah jadikan sebagai nabi sekaligus rasul.
Jika naik satu tingkat lagi, ada para ulul azmi. Kita mengetahui ada lima rasul ulul azmi: Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Dan yang paling utama di antara mereka adalah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Namun, sekalipun memiliki kedudukan yang sangat tinggi, para rasul tetap tidak memiliki sifat rububiyah dan tidak memiliki hak uluhiyah.
Rasulullah Tidak Mengetahui Perkara Gaib
Dalam Surah Al-A'raf ayat 188, Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam untuk menyampaikan kepada seluruh manusia bahwa beliau tidak mengetahui perkara gaib.
Allah berfirman:
قُلْ لَّآ اَمْلِكُ لِنَفْسِيْ نَفْعًا وَّلَا ضَرًّا اِلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰهُۗ
"Katakanlah: Aku tidak berkuasa menarik manfaat bagi diriku dan tidak pula menolak mudarat, kecuali yang dikehendaki Allah."
Artinya, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak mampu mendatangkan manfaat atau menolak mudarat bagi dirinya sendiri kecuali dengan kehendak Allah.
Jika terjadi suatu manfaat atau terhindar dari suatu mudarat, maka itu karena Allah menghendakinya. Adapun yang bisa dilakukan manusia hanyalah berusaha.
Karena itu, dalam beberapa peperangan, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabat mengalami kekalahan meskipun mereka telah melakukan persiapan dengan baik. Allah Subhanahu wa Ta'ala menghendaki terjadinya kekalahan tersebut karena hikmah tertentu.
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak mampu menghindari kekalahan itu. Bahkan dalam Perang Uhud, paman beliau, Hamzah radhiyallahu 'anhu, terbunuh. Itu adalah suatu mudarat yang tidak dapat beliau hindari karena Allah Subhanahu wa Ta'ala menghendaki terjadinya.
Hal ini merupakan sesuatu yang harus disampaikan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kepada umatnya. Dan beliau benar-benar menyampaikannya kepada kita.
Beliau tidak menyembunyikan ayat tersebut. Seandainya beliau tidak amanah, ayat yang menjelaskan bahwa beliau tidak memiliki kuasa atas dirinya tentu tidak akan disampaikan. Ayat tersebut secara duniawi tidak memberikan keuntungan bagi beliau. Namun beliau tetap menyampaikannya karena beliau adalah seorang rasul yang amanah.
Kemudian Allah menyebutkan bahwa seandainya Nabi mengetahui perkara gaib, tentu beliau akan memperbanyak kebaikan dan tidak akan tersentuh keburukan.
Seandainya beliau mengetahui bahwa Hamzah akan terbunuh dalam Perang Uhud, tentu beliau tidak akan berangkat dalam kondisi yang menyebabkan peristiwa tersebut terjadi.
Demikian pula dengan peristiwa yang terjadi setelah Perang Tabuk yang menjadi awal munculnya fitnah terhadap Aisyah radhiyallahu 'anha. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak mengetahui perkara tersebut sebelumnya.
Ketika rombongan beristirahat dalam perjalanan pulang, Aisyah radhiyallahu 'anha turun dari haudaj untuk suatu keperluan. Rombongan kemudian berangkat karena mengira Aisyah sudah kembali ke dalam haudaj.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun tidak mengetahui bahwa Aisyah belum kembali. Akhirnya terjadilah berbagai ujian berat terhadap rumah tangga beliau.
Jadi, salah satu poin penting yang harus kita pahami adalah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak mengetahui perkara gaib kecuali apa yang Allah beritahukan kepadanya melalui wahyu.
Allah juga berfirman:
وَمَآ اَنَا۠ اِلَّا نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ ٩
"Aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman." (QS. Al-Ahqaf ayat 9)
Keyakinan Bahwa Selain Allah Mengetahui Perkara Gaib
Berikutnya, pada halaman 219, dibahas tentang keyakinan bahwa ada selain Allah Azza wa Jalla yang dapat mengetahui perkara gaib.
Keyakinan semacam ini adalah kekufuran karena bertentangan dengan firman Allah dalam Surah Al-A'raf ayat 188. Bahkan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, meskipun memiliki derajat yang sangat tinggi, dinyatakan tidak mengetahui perkara gaib.
Maka kita harus berhati-hati terhadap keyakinan yang menganggap seseorang mengetahui hal-hal gaib, seperti mengetahui isi hati orang lain atau mengetahui apa yang akan terjadi secara pasti.
Perasaan dan niat seseorang terhadap orang lain merupakan perkara yang tidak diketahui manusia secara mutlak. Jangan sampai seseorang meyakini bahwa ada manusia tertentu yang mengetahui niat dan pikiran orang lain secara gaib.
Demikian pula orang-orang yang meramal bahwa kiamat akan terjadi pada tanggal atau tahun tertentu. Hal itu termasuk perkara gaib yang tidak diketahui kecuali oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Para Rasul Memiliki Sifat Kemanusiaan
Para rasul juga memiliki sifat-sifat kemanusiaan, seperti sakit dan sedih.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersedih ketika putra beliau, Ibrahim, wafat. Ketika beliau menangis, salah seorang sahabat bertanya, "Apakah Anda menangis, wahai Rasulullah?"
ﺇﻥَّ ﺍﻟﻌَﻴْﻦَ ﺗَﺪْﻣَﻊُ ﻭﺍﻟﻘَﻠﺐ ﻳَﺤْﺰﻥُ ، ﻭَﻻَ ﻧَﻘُﻮﻝُ ﺇِﻻَّ ﻣَﺎ ﻳُﺮْﺿِﻲ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ، ﻭَﺇﻧَّﺎ ﻟِﻔِﺮَﺍﻗِﻚَ ﻳَﺎ ﺇﺑﺮَﺍﻫِﻴﻢُ ﻟَﻤَﺤﺰُﻭﻧُﻮﻥَ
“Sungguh mata menangis dan hati bersedih, akan tetapi tidak kita ucapkan kecuali yang diridhai oleh Allah, dan sungguh kami sangat bersedih berpisah denganmu wahai Ibrahim.” (HR. Al-Bukhari no. 1303).
Beliau menjelaskan bahwa air mata adalah bentuk kasih sayang. Beliau bersabda bahwa mata dapat berlinang dan hati dapat bersedih, tetapi beliau tidak akan mengucapkan kecuali sesuatu yang diridai Allah.
Ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga mengalami kesedihan sebagaimana manusia pada umumnya.
Tahun wafatnya Khadijah radhiyallahu 'anha, wafatnya Hamzah, dan wafatnya Abu Thalib dikenal sebagai tahun kesedihan. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam benar-benar merasakan kehilangan dan kesedihan.
Beliau juga bisa sakit, bisa meninggal dunia, membutuhkan makanan dan minuman, serta mengalami berbagai kondisi manusiawi lainnya.
Demikian pula para rasul yang lain. Mereka juga memiliki rasa takut.
Nabi Musa 'Alaihissalam dan Rasa Takut
Nabi Musa 'alaihissalam pernah merasa takut ketika tongkatnya berubah menjadi ular dalam peristiwa menghadapi para ahli sihir Fir'aun.
Allah kemudian memerintahkan Nabi Musa untuk mengambil kembali ular tersebut dan menjelaskan bahwa Allah akan mengembalikannya kepada bentuk semula, yaitu tongkat.
Nabi Musa adalah seorang nabi dan rasul. Beliau juga seorang yang kuat. Namun demikian, beliau tetap memiliki rasa takut sebagai manusia.
Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa meskipun para rasul memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah, mereka tetap tidak memiliki sifat rububiyah dan tidak memiliki hak uluhiyah.
Menetapkan bahwa mereka adalah manusia dan hamba Allah bukan berarti merendahkan para rasul. Justru hal itu adalah menempatkan mereka pada kedudukan yang sesuai dengan apa yang Allah karuniakan kepada mereka.
Nabi Ibrahim Juga Makan, Minum, dan Sakit
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang Nabi Ibrahim 'alaihissalam yang menjelaskan sifat Rabbnya:
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ. وَٱلَّذِى يُمِيتُنِى ثُمَّ يُحْيِينِ
"Dialah yang memberiku makan dan minum. Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku. Dan Dialah yang akan mematikanku, kemudian akan menghidupkanku kembali." (QS. As-Syu'ara ayat 80-81)
Berarti Nabi Ibrahim masih makan dan minum. Beliau juga bisa sakit, akan diwafatkan, dan akan dibangkitkan kembali.
Jika seseorang masih memiliki sifat-sifat seperti ini, apakah boleh disembah? Jawabannya: tidak boleh sama sekali.
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga menjelaskan kesalahan dan kebatilan orang-orang Nasrani yang menuhankan Isa bin Maryam dan Maryam 'alaihimassalam. Allah menjelaskan bahwa keduanya sama-sama makan makanan.
Artinya, baik Isa maupun Maryam tidak boleh dituhankan. Keduanya masih membutuhkan makanan dan asupan untuk menjaga kesehatan dan kekuatan tubuh.
Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak membutuhkan makanan.
Allah berfirman bahwa Dia tidak menghendaki rezeki dari manusia dan tidak menghendaki manusia memberi makan kepada-Nya.
Ini merupakan salah satu cara Allah membuka pikiran manusia agar memahami perbedaan antara Allah sebagai Pencipta dengan makhluk yang diciptakan.
Allah menciptakan, sedangkan mereka diciptakan. Allah Mahahidup, sedangkan makhluk tidak memiliki kehidupan yang sempurna dan mandiri. Allah mengabulkan doa, sedangkan sesembahan selain Allah bahkan tidak mampu mendengar doa.
Namun, meskipun berbagai bukti telah dijelaskan, orang-orang musyrik tetap tidak membuka pikiran mereka terhadap kebenaran tauhid.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam Juga Bisa Lupa
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ، أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ، فَإِذَا نَسِيتُ فَذَكِّرُونِي
"Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian. Aku juga lupa sebagaimana kalian lupa. Maka apabila aku lupa, ingatkanlah aku." (HR. Bukhari).
Beliau juga pernah mengalami lupa dalam salat.
Suatu ketika beliau mengimami para sahabat dan salat kurang satu rakaat. Setelah salam, beliau hendak beranjak. Kemudian salah seorang sahabat bertanya apakah salat tersebut memang dikurangi ataukah beliau lupa.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian mengonfirmasi kepada para sahabat yang lain apakah benar apa yang ditanyakan oleh sahabat tersebut. Para sahabat membenarkannya.
Akhirnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menambah satu rakaat dan kemudian menjelaskan bahwa beliau adalah manusia biasa yang bisa lupa sebagaimana manusia lainnya. Jika beliau lupa, para sahabat diperintahkan untuk mengingatkan.
Lupanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak mencederai syariat yang beliau bawa.
Justru dari peristiwa tersebut terdapat hikmah bagi umat Islam, yaitu disyariatkannya sujud sahwi. Ketika seseorang mengalami kekurangan atau kelebihan rakaat atau mengalami keraguan dalam salat, terdapat tata cara sujud sahwi yang dapat dilakukan.
Seandainya peristiwa tersebut tidak terjadi, kita tentu tidak mendapatkan pelajaran mengenai apa yang harus dilakukan ketika mengalami kondisi semacam itu.
Maka peristiwa tersebut menjadi hikmah dan pelajaran bagi umat.
Syariat yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tetap terjaga keutuhannya oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Bahkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengalami sesuatu yang lebih berat daripada lupa, yaitu terkena sihir. Dalam keadaan tersebut, beliau merasakan seolah-olah melakukan sesuatu padahal beliau tidak melakukannya.
Namun peristiwa tersebut sama sekali tidak mencederai syariat yang beliau bawa. Apa yang beliau sampaikan sebagai wahyu dan syariat tetap terjaga.
Para Rasul Memiliki Ubudiyah yang Tinggi
Allah Subhanahu wa Ta'ala menerangkan bahwa para rasul memiliki ubudiyah atau penghambaan yang sangat tinggi kepada-Nya.
Allah berfirman tentang Nabi Nuh 'alaihissalam:
"Sesungguhnya dia adalah hamba yang banyak bersyukur."
Disebut sebagai hamba Allah merupakan sebuah keistimewaan.
Kehambaan manusia kepada Allah dapat dipahami dalam dua sisi. Pertama, kehambaan yang bersifat umum. Dalam pengertian ini, seluruh makhluk merupakan hamba Allah. Bahkan Iblis pun termasuk hamba Allah dalam pengertian umum tersebut. Orang Nasrani, orang Yahudi, dan seluruh manusia juga merupakan hamba Allah dalam pengertian umum.
Adapun secara khusus, hamba Allah adalah orang-orang yang beriman.
Lebih khusus lagi adalah hamba-hamba yang secara langsung Allah sebutkan dan puji dalam Al-Qur'an. Salah satunya adalah Nabi Nuh 'alaihissalam:
إِنَّهُۥ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا
"Sesungguhnya dia adalah hamba yang banyak bersyukur." (QS. Al-Isro ayat 3).
Adapun Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Allah berfirman dalam Surah Al-Isra':
سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ
"Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya..." (QS. Al-Isro ayat 1).
Allah sendiri menyebut Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagai hamba-Nya.
Allah juga berfirman dalam Surah Al-Furqan ayat 1:
تَبٰـرَكَ الَّذِىۡ نَزَّلَ الۡـفُرۡقَانَ عَلٰى عَبۡدِهٖ لِيَكُوۡنَ
"Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya..."
Yang dimaksud dengan hamba-Nya dalam ayat tersebut adalah Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Allah menurunkan Al-Qur'an kepada hamba-Nya agar menjadi pemberi peringatan bagi seluruh alam, baik jin maupun manusia.
Allah juga berfirman tentang Isa bin Maryam:
إِنْ هُوَ إِلَّا عَبْدٌ
"Dia tidak lain hanyalah seorang hamba." (Surat Az-Zukhruf Ayat 59).
Dari ayat-ayat tersebut dan ayat-ayat yang semisalnya, penulis menyimpulkan bahwa para nabi memiliki ubudiyah atau penghambaan diri kepada Allah yang sangat tinggi karena mereka telah Allah akui sebagai hamba-Nya.
Jadi, seluruh nabi dan rasul, termasuk Nabi Isa 'alaihissalam, adalah manusia dan hamba Allah, bukan Tuhan.
Nabi Isa Adalah Hamba Allah, Bukan Tuhan
Mengapa Nabi Isa secara khusus disebutkan dalam pembahasan ini?
Karena di antara para nabi, Nabi Isa 'alaihissalam termasuk yang paling banyak dituhankan. Meskipun penuhanan terhadap nabi-nabi lain juga pernah terjadi, penuhanan terhadap Nabi Isa memiliki bentuk yang sangat menonjol.
Demikian pula Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam pernah diperlakukan secara berlebihan oleh sebagian manusia hingga diberikan sesuatu yang merupakan hak Allah.
Misalnya, doa seharusnya ditujukan kepada Allah. Jika seseorang justru berdoa kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka secara tidak langsung ia telah menjadikannya sebagai sesembahan.
Sebab, dalam bahasa Arab, ilah adalah sesuatu yang disembah. Ketika sesuatu disembah, berarti ia telah dijadikan sebagai ilah, terlepas apakah penyembahan tersebut benar atau batil.
Karena itu, seorang muslim harus menempatkan para nabi dan rasul sesuai dengan kedudukan yang Allah berikan kepada mereka: mereka adalah manusia pilihan, rasul Allah, dan hamba Allah, bukan Tuhan.
Empat Unsur Iman kepada Para Rasul
Iman kepada para rasul mengandung beberapa unsur. Unsur pertama adalah mengimani bahwa risalah mereka benar-benar berasal dari Allah, bukan berasal dari diri mereka sendiri.
Termasuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Apa yang beliau sampaikan dalam risalahnya berasal dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Tidak mungkin dikatakan bahwa beliau sekadar mengarang-ngarang risalah tersebut.
Al-Qur'an, misalnya, turun selama kurang lebih 23 tahun. Sangat panjang masa penyampaiannya dan sangat konsisten kandungannya.
Terlebih lagi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah seorang nabi yang ummi, yang tidak membaca dan menulis.
Selama menyampaikan risalah, beliau justru menghadapi permusuhan dari kaumnya sendiri. Semakin beliau menyampaikan Al-Qur'an, semakin banyak pula orang yang memusuhi beliau. Beliau disakiti, dikucilkan, bahkan diusir.
Jika beliau mengaku sebagai nabi demi mendapatkan keuntungan tertentu, kemudian justru mendapatkan permusuhan dan berbagai penderitaan, tentu secara logika manusiawi beliau akan menghentikan semua itu.
Namun kenyataannya beliau terus menyampaikan risalah tersebut hingga 23 tahun.
Ada beberapa kemungkinan yang dapat dibicarakan mengenai asal Al-Qur'an.
Pertama, jika dikatakan bahwa Al-Qur'an adalah karangan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, maka kemungkinan ini tidak sesuai dengan fakta yang ada. Beliau terus menyampaikan Al-Qur'an meskipun mendapat permusuhan dan penderitaan.
Kedua, jika dikatakan bahwa Al-Qur'an merupakan bisikan setan atau Iblis, kemungkinan ini juga tidak sesuai. Sebab, Al-Qur'an justru banyak menyerukan manusia untuk memusuhi setan dan menjauhi godaannya. Tidak mungkin Iblis memerintahkan manusia untuk memusuhi dirinya sendiri.
Ketiga, jika dikatakan bahwa semua itu hanyalah halusinasi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, kemungkinan ini juga tidak sesuai dengan panjangnya masa penyampaian risalah dan berbagai hal yang beliau kabarkan.
Maka yang benar adalah bahwa Al-Qur'an merupakan kalam Allah dan wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Penulis menjelaskan bahwa kita wajib mengimani bahwa risalah para rasul benar-benar berasal dari Allah Ta'ala, bukan dari khayalan, bisikan setan, atau karangan mereka sendiri.
Mengingkari Satu Rasul Berarti Mengingkari Seluruh Rasul
Barang siapa mengingkari risalah salah seorang rasul, maka pada hakikatnya ia telah mengingkari seluruh rasul.
Contohnya adalah orang yang mengimani Nabi Isa, Nabi Musa, Nabi Ibrahim, dan Nabi Nuh sebagai rasul, tetapi tidak mau mengimani Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sebagai rasul terakhir.
Iman kepada para rasul tidak dapat dipisah-pisahkan berdasarkan keinginan manusia.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah Asy-Syu'ara ketika menjelaskan kaum Nabi Nuh:
كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ ٱلْمُرْسَلِينَ
"Kaum Nuh telah mendustakan para rasul." (QS. Surat Asy-Syu’ara Ayat 105).
Padahal sebelum Nabi Nuh 'alaihissalam tidak ada rasul sebelumnya. Nabi Nuh adalah rasul yang pertama.
Kaumnya hanya mendustakan satu rasul, yaitu Nabi Nuh 'alaihissalam. Namun Allah menyebut mereka telah mendustakan para rasul.
Ini menunjukkan bahwa mendustakan satu rasul berarti mendustakan seluruh rasul.
Allah juga menyebutkan dalam akhir Surah Al-Baqarah tentang sikap orang-orang beriman:
لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْ رُّسُلِهٖۗ
"Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara rasul-rasul-Nya." (Al-Baqarah : Ayat 285)
Karena itu, ketika seseorang tidak mau mengikuti Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, pada hakikatnya ia juga tidak mengikuti risalah Nabi Isa yang telah memberikan kabar gembira tentang kedatangan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Nabi Isa Memberikan Kabar Gembira tentang Nabi Muhammad
Kaum muslimin beriman kepada Nabi Isa 'alaihissalam. Kita tidak membenci Nabi Isa karena ada sebagian manusia yang melakukan kesalahan dalam memperlakukannya. Yang salah adalah keyakinan manusia terhadap Nabi Isa, bukan Nabi Isa itu sendiri.
Nabi Isa 'alaihissalam bahkan membantah segala sesuatu yang dinisbatkan kepadanya yang tidak benar. Beliau mengatakan bahwa dirinya tidak akan mengatakan sesuatu kecuali apa yang Allah perintahkan kepadanya.
Nabi Isa juga memberikan kabar gembira tentang kedatangan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Kabar gembira tersebut menunjukkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah seorang rasul yang diutus Allah untuk membawa manusia menuju petunjuk dan jalan yang lurus.
Masih cukup banyak lanjutan dari poin ini. Insyaallah kita teruskan pada pertemuan yang akan datang.
Wallahu a'lam.
Poster Ringkasan
*****