29 Rabiul Akhir 1448 H | Sabtu, 10 Oktober 2026
Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Iman kepada Nabi Muhammad ﷺ

Iman kepada Nabi Muhammad ﷺ

Daftar isi

    Bismillah

    • Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah #67

    • Ustadz Abu Ubaid Rizqi, Lc., M.Pd. Hafidzahullah


    Iman kepada Nabi Muhammad ﷺ

    Jamaah rahimani wa rahimakumullah, pada kesempatan ini kita melanjutkan pembahasan kaidah atau prinsip ke-23, yaitu iman kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana pembahasan pada halaman 224.

    Sebelum penulis menyampaikan penjelasan, beliau terlebih dahulu membawakan dalil dari Al-Qur’an, yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surah At-Taubah ayat 128.

    Metode seperti ini merupakan salah satu metode dalam penulisan ilmiah, yaitu menyampaikan dalil terlebih dahulu kemudian memberikan penjelasan. Syaikh Ibrahim ar-Ruhaili hafizhahullah menyebut metode ini sebagai ad‘ā lil-qabūl, lebih mudah untuk dipahami, diserap, dan diterima. Sebab, fitrah seorang muslim adalah tunduk kepada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Dengan demikian, ketika kita menyampaikan nasihat atau mengingatkan seseorang, sebaiknya kita berusaha menyampaikan dalil yang menjadi dasar nasihat tersebut. Fitrah seorang muslim yang masih lurus akan lebih mudah menerima kebenaran ketika disampaikan berdasarkan firman Allah dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Misalnya, ketika kita mengingatkan seseorang agar makan dan minum dengan tangan kanan. Daripada sekadar mengatakan, “Makan pakai tangan kanan,” kita bisa menyampaikan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ، وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ

    “Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaknya ia makan dengan tangan kanannya. Dan apabila ia minum, hendaknya ia minum dengan tangan kanannya. Sesungguhnya setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya.”

    HR. Muslim no. 2020, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.

    Seorang muslim yang fitrahnya masih lurus, insya Allah akan memahami bahwa dirinya sedang diingatkan berdasarkan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Rasulullah ﷺ Berasal dari Kaum Manusia

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

    “Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, dia sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.”

    QS. At-Taubah: 128.

    Ayat ini menunjukkan beberapa sifat mulia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    1. Rasulullah ﷺ berasal dari kaum manusia

    Allah berfirman:

    مِّنْ أَنْفُسِكُمْ

    “Dari kaummu sendiri.”

    Ini merupakan nikmat yang besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk manusia dan jin, tetapi beliau berasal dari kalangan manusia.

    Allah sebenarnya Mahakuasa untuk mengutus seorang rasul dari kalangan malaikat, jin, atau makhluk lainnya. Namun, dengan hikmah dan rahmat-Nya, Allah memilih rasul dari bangsa manusia.

    Dengan demikian, para sahabat dapat berinteraksi langsung dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka dapat bertanya secara langsung, melihat ibadah beliau, melihat akhlak beliau, menyaksikan bagaimana beliau berdakwah, serta melihat bagaimana beliau menerapkan syariat dalam kehidupan.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia sebagaimana manusia lainnya. Karena itu, umat beliau dapat melihat secara langsung bagaimana ajaran Islam diterapkan dalam kehidupan nyata.

    Bahkan ketika terjadi suatu kekeliruan dalam perkara tertentu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan koreksi kepada beliau. Hal itu juga menjadi pelajaran bagi umat.

    Maka, diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kalangan manusia merupakan nikmat yang sangat besar.

    Rasulullah ﷺ Sangat Menyayangi Umatnya

    Allah berfirman:

    عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ

    “Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami.”

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menginginkan kesulitan bagi umatnya.

    Di antara dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah sabda beliau:

    لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي - أَوْ عَلَى النَّاسِ - لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ صَلَاةٍ

    “Seandainya tidak memberatkan umatku—atau manusia—niscaya aku akan memerintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali salat.”

    HR. Bukhari no. 887 dan Muslim no. 252, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

    Demikian pula dalam masalah salat malam Ramadan secara berjamaah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melaksanakannya bersama para sahabat. Kemudian beliau tidak keluar untuk melaksanakan salat berjamaah pada malam berikutnya karena khawatir salat tersebut diwajibkan kepada umat.

    Dalam hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan:

    فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ

    “Tidak ada yang menghalangiku untuk keluar menemui kalian selain karena aku khawatir salat tersebut akan diwajibkan kepada kalian.”

    HR. Bukhari no. 1129 dan Muslim no. 761.

    Ini menunjukkan besarnya kasih sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya.

    Sifat seperti ini juga seharusnya ada pada seorang dai. Seorang dai tidak merasa senang ketika melihat orang yang didakwahinya mengalami kesulitan dalam ketaatan. Namun, ini bukan berarti memanjakan manusia atau meninggalkan kewajiban. Maksudnya adalah tidak menginginkan beban yang tidak perlu bagi umat.

    Rasulullah ﷺ Sangat Bersemangat agar Umatnya Mendapat Hidayah

    Allah berfirman:

    حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ

    “Dia sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu.”

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah orang yang mudah tersinggung sehingga penghinaan manusia menghentikan dakwahnya.

    Berbagai macam gangguan dan penghinaan beliau terima. Bahkan berbagai upaya untuk menghentikan dakwah beliau telah dilakukan oleh orang-orang musyrik. Namun semua itu tidak menghentikan dakwah beliau.

    Mengapa? Karena beliau sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagi umat manusia.

    Kemudian Allah berfirman:

    بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

    “Penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.”

    Ayat ini disampaikan oleh penulis sebelum masuk kepada pembahasan tentang iman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tumbuh dalam diri kita kecintaan kepada beliau.

    Beliau adalah orang yang sangat menyayangi umatnya. Maka sudah sepatutnya kecintaan tersebut dibalas dengan keimanan, ketaatan, dan mengikuti petunjuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Bukti Keimanan kepada Rasulullah ﷺ

    Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah memberikan penjelasan yang sangat penting ketika membahas firman Allah:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

    “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian.”

    QS. An-Nisa: 59.

    Mengembalikan perkara kepada Allah berarti mengembalikannya kepada Al-Qur’an, sedangkan mengembalikan perkara kepada Rasul berarti mengembalikannya kepada Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Karena itu, seseorang tidak cukup hanya mengaku beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pengakuan tersebut harus dibuktikan dengan menerima dan mengikuti ajaran beliau.

    Allah juga berfirman:

    مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

    “Barang siapa menaati Rasul, maka sesungguhnya dia telah menaati Allah.”

    QS. An-Nisa: 80.

    Maka, apabila seseorang benar-benar beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika terjadi perselisihan ia bersedia kembali kepada Sunnah beliau.

    Iman kepada Rasul bukan sekadar klaim. Iman harus dibuktikan dengan menerima berita yang beliau sampaikan, menjalankan perintah beliau, meninggalkan larangan beliau, serta membenarkan seluruh berita yang datang melalui beliau dengan benar.

    Nasab Rasulullah ﷺ

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:

    Abul Qasim Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka‘ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma‘ad bin Adnan.

    Adnan merupakan keturunan Nabi Ismail bin Ibrahim al-Khalil ‘alaihimash-shalatu was salam.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan kemuliaan nasab beliau. Dalam hadits disebutkan:

    إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ، وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ

    “Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail, memilih Quraisy dari Kinanah, memilih Bani Hasyim dari Quraisy, dan memilihku dari Bani Hasyim.”

    HR. Muslim no. 2276, dari Watsilah bin al-Asqa‘ radhiyallahu ‘anhu.

    Dalam riwayat Tirmidzi juga disebutkan lafaz yang lebih panjang:

    إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى مِنْ وَلَدِ إِبْرَاهِيمَ إِسْمَاعِيلَ، وَاصْطَفَى مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ بَنِي كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى مِنْ بَنِي كِنَانَةَ قُرَيْشًا، وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ

    “Sesungguhnya Allah memilih Ismail dari keturunan Ibrahim, memilih Bani Kinanah dari keturunan Ismail, memilih Quraisy dari Bani Kinanah, memilih Bani Hasyim dari Quraisy, dan memilihku dari Bani Hasyim.”

    HR. Tirmidzi no. 3605.

    Dengan demikian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki nasab yang mulia dan terpilih.

    Rasulullah ﷺ Adalah Hamba Allah dan Utusan-Nya

    Penulis rahimahullah menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para nabi dan rasul, sekaligus utusan Allah kepada seluruh manusia.

    Beliau adalah hamba yang tidak boleh disembah, dan beliau adalah rasul yang tidak boleh didustakan.

    Dua perkara ini harus berjalan bersama.

    Kita tidak boleh berlebihan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai menjadikan beliau sebagai sesuatu yang disembah. Sebaliknya, kita juga tidak boleh meremehkan beliau dengan menolak berita yang beliau sampaikan.

    Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan berita dari Allah, maka kewajiban kita adalah membenarkannya.

    Sebagian orang dapat menerima berita tentang umat-umat terdahulu yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meskipun tidak semuanya dapat dijangkau akal. Namun ketika berbicara tentang sifat-sifat Allah yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagian orang justru mulai menolaknya dengan alasan tidak masuk akal.

    Ini merupakan sikap yang kontradiktif. Sumber berita tersebut sama-sama berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka seorang mukmin harus menerima berita beliau dengan keimanan dan tunduk kepada wahyu.

    Beberapa Keutamaan Rasulullah ﷺ

    Al-Imam Fakhruddin ar-Razi dalam At-Tafsir al-Kabir menyebutkan sejumlah keutamaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dibandingkan makhluk lainnya. Di antaranya:

    1. Rasulullah ﷺ Diutus sebagai Rahmat bagi Seluruh Alam

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

    “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”

    QS. Al-Anbiya: 107.

    Ketika Allah menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi seluruh alam, hal ini menunjukkan betapa tinggi kedudukan beliau.

    Syariat yang beliau bawa merupakan rahmat. Orang yang beriman mendapatkan rahmat tersebut dalam bentuk hidayah dan keselamatan. Bahkan orang-orang yang tidak beriman pun mendapatkan berbagai bentuk rahmat dari diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya tidak langsung ditimpa azab pembinasaan sebagaimana umat-umat terdahulu.

    2. Allah Meninggikan Penyebutan Nama Rasulullah ﷺ

    Allah berfirman:

    وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ

    “Dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu.”

    QS. Asy-Syarh: 4.

    Di antara bentuk ditinggikannya nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah disandingkannya nama beliau dengan nama Allah dalam syahadat:

    Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.

    Hal tersebut juga tampak dalam azan, iqamah, khutbah, dan berbagai ibadah lainnya.

    3. Ketaatan kepada Rasulullah ﷺ Merupakan Ketaatan kepada Allah

    Allah berfirman:

    مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

    “Barang siapa menaati Rasul, maka sesungguhnya dia telah menaati Allah.”

    QS. An-Nisa: 80.

    Ini menunjukkan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat tinggi. Ketaatan kepada beliau dalam perkara agama merupakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Karena itu, seorang muslim tidak boleh memilih-milih ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan selera pribadi.

    4. Mukjizat Rasulullah ﷺ Berupa Al-Qur’an Kekal hingga Hari Kiamat

    Mukjizat para nabi sebelumnya terkait dengan zaman mereka. Adapun mukjizat terbesar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Al-Qur’an, tetap ada dan menjadi hujah hingga hari kiamat.

    Allah berfirman:

    إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

    “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”

    QS. Al-Hijr: 9.

    Mukjizat Nabi Nuh ‘alaihissalam berupa bahtera terkait dengan zamannya. Mukjizat Nabi Musa ‘alaihissalam berupa tongkat dan terbelahnya laut juga terjadi pada masa beliau. Mukjizat Nabi Isa ‘alaihissalam berupa menyembuhkan orang sakit dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah juga terjadi pada masa beliau.

    Adapun Al-Qur’an tetap ada, dibaca, dihafal, dipelajari, dan menjadi petunjuk hingga hari kiamat.


    5. Syariat Nabi Muhammad ﷺ Menjadi Syariat Penutup

    Syariat yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan syariat terakhir yang menyempurnakan dan menggantikan syariat-syariat sebelumnya.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para nabi dan rasul. Dengan demikian, tidak ada nabi setelah beliau.

    Kesempurnaan risalah beliau juga menunjukkan kesempurnaan agama yang beliau bawa.

    6. Allah Memanggil Nabi Muhammad ﷺ dengan Gelar Kehormatan

    Ketika Allah memanggil sebagian nabi, Allah menyebut nama mereka secara langsung, seperti:

    • يَا آدَمُ — “Wahai Adam.”

    • يَا مُوسَى — “Wahai Musa.”

    • يَا عِيسَى — “Wahai Isa.”

    • يَا إِبْرَاهِيمُ — “Wahai Ibrahim.”

    Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering dipanggil dengan gelar kehormatan:

    يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ

    “Wahai Nabi.”

    atau:

    يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ

    “Wahai Rasul.”

    Di antara contohnya:

    يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ

    “Wahai Nabi, mengapa engkau mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu?”

    QS. At-Tahrim: 1.

    Dan:

    يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ

    “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.”

    QS. Al-Ma’idah: 67.

    Ini merupakan bentuk penghormatan Allah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    7. Rasulullah ﷺ Menjadi Imam bagi Para Nabi

    Dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi imam bagi para nabi.

    Hal tersebut termasuk di antara kemuliaan yang Allah berikan kepada beliau.

    Rasulullah ﷺ Membawa Rahmat untuk Seluruh Alam

    Sebagaimana telah disebutkan:

    وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

    “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”

    QS. Al-Anbiya: 107.

    Rahmat yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya terlihat dalam hubungan dengan sesama muslim. Bahkan syariat beliau mengajarkan adab terhadap orang kafir, termasuk dalam kondisi peperangan.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang tindakan mutilasi dan memerintahkan agar pembunuhan dilakukan dengan cara yang baik.

    Dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

    “Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan dalam segala sesuatu. Apabila kalian membunuh, maka lakukanlah pembunuhan dengan cara yang baik. Apabila kalian menyembelih, maka lakukanlah penyembelihan dengan cara yang baik. Hendaknya salah seorang di antara kalian menajamkan pisaunya dan membuat hewan sembelihannya nyaman.”

    HR. Muslim no. 1955, dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu.

    Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memukul wajah.

    إِذَا قَاتَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْتَنِبِ الْوَجْهَ

    “Apabila salah seorang di antara kalian memukul atau berkelahi, hendaknya dia menghindari wajah.”

    HR. Bukhari no. 2559 dan Muslim no. 2612, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

    Ini menunjukkan bagaimana Islam mengajarkan etika dan rahmat bahkan dalam keadaan konflik.

    Rasulullah ﷺ Amanah dalam Menyampaikan Wahyu

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ ۝ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

    “Dan tidaklah dia berbicara menurut keinginannya. Tidak lain (Al-Qur’an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”

    QS. An-Najm: 3–4.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat amanah dalam menyampaikan risalah.

    Salah satu buktinya adalah ayat-ayat yang berisi teguran Allah kepada beliau tetap beliau sampaikan kepada umat.

    Allah berfirman:

    عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ ۝ أَن جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ ۝ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ ۝ أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ الذِّكْرَىٰ ۝ أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ ۝ فَأَنتَ لَهُ تَصَدَّىٰ ۝ وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ ۝ وَأَمَّا مَن جَاءَكَ يَسْعَىٰ ۝ وَهُوَ يَخْشَىٰ ۝ فَأَنتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰ

    “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang kepadanya seorang yang buta. Dan tahukah engkau, boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya, atau dia ingin mendapatkan pengajaran yang memberi manfaat kepadanya. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka engkau memberikan perhatian kepadanya. Padahal tidak ada cela atasmu kalau dia tidak menyucikan diri. Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera, sedang dia takut kepada Allah, engkau malah mengabaikannya.”

    QS. ‘Abasa: 1–10.

    Ayat-ayat tersebut mengandung teguran dari Allah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi beliau tetap menyampaikannya kepada umat.

    Seandainya beliau tidak amanah, tentu ayat yang secara lahiriah berisi teguran kepada beliau bisa saja disembunyikan. Namun tidak demikian. Semua wahyu disampaikan kepada umat.

    Demikian pula firman Allah:

    وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا ۝ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ وَاذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَىٰ أَن يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَٰذَا رَشَدًا

    “Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, ‘Aku pasti melakukan itu besok,’ kecuali dengan mengatakan, ‘Insya Allah.’ Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah, ‘Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.’”

    QS. Al-Kahfi: 23–24.

    Ayat-ayat semacam ini menunjukkan amanah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyampaikan seluruh wahyu yang Allah turunkan kepada beliau.

    Mukjizat Rasulullah ﷺ

    Ahlussunnah wal Jamaah mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menguatkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan berbagai mukjizat yang nyata dan tanda-tanda yang jelas.

    Secara bahasa, mu‘jizah berkaitan dengan sesuatu yang menjadikan pihak lain tidak berdaya (‘ajiz) untuk menandinginya.

    Karena itu, Al-Qur’an merupakan mukjizat yang melemahkan manusia untuk membuat sesuatu yang semisal dengannya.

    Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, masyarakat Arab sangat terkenal dengan kemampuan bahasa dan sastra. Mereka sangat bangga dengan kemampuan bersyair. Namun ketika Al-Qur’an turun, para ahli bahasa dan penyair Arab tidak mampu membuat sesuatu yang dapat menandingi Al-Qur’an.

    Allah bahkan memberikan tantangan kepada mereka.

    Allah berfirman:

    وَإِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُم مِّن دُونِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ ۝ فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا وَلَن تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

    “Dan jika kamu meragukan Al-Qur’an yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Jika kamu tidak mampu membuatnya, dan kamu pasti tidak akan mampu, maka takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.”

    QS. Al-Baqarah: 23–24.

    Perhatikan firman Allah:

    وَلَن تَفْعَلُوا

    “Dan kamu pasti tidak akan mampu melakukannya.”

    Allah telah memastikan bahwa manusia tidak akan mampu menandingi Al-Qur’an.

    Empat Sisi Kemukjizatan Al-Qur’an

    Setidaknya ada empat sisi yang menunjukkan kemukjizatan Al-Qur’an.

    1. Keindahan Bahasa dan Sastranya

    Sisi pertama adalah bahasa dan sastra Al-Qur’an.

    Banyak ayat memiliki susunan yang sangat indah dan kuat. Misalnya Surah Al-Kautsar:

    إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ۝ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ۝ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

    “Sungguh, Kami telah memberimu nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sungguh, orang-orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah).”

    QS. Al-Kautsar: 1–3.

    Demikian pula Surah Al-Ikhlas:

    قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ۝ اللَّهُ الصَّمَدُ ۝ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ۝ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

    “Katakanlah, ‘Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.’”

    QS. Al-Ikhlas: 1–4.

    Keindahan bahasa Al-Qur’an bukan sekadar bunyi dan susunannya. Makna yang terkandung di dalamnya juga sangat dalam dan sempurna.

    Disebutkan dalam sebagian riwayat bahwa beberapa tokoh Quraisy pernah diam-diam mendengarkan bacaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tertarik dengan keindahan bacaan Al-Qur’an meskipun secara lahiriah mereka menentangnya.

    Namun, riwayat mengenai kisah tersebut memiliki pembahasan dari sisi sanad dan sebagian ulama melemahkannya.

    2. Berita tentang Perkara Gaib

    Sisi kedua adalah berita-berita gaib yang terdapat dalam Al-Qur’an.

    Al-Qur’an mengabarkan berbagai peristiwa masa lalu yang tidak disaksikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Qur’an juga mengabarkan berbagai peristiwa yang akan datang.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang ummi. Beliau tidak belajar membaca dan menulis dari manusia. Maka sumber pengetahuan tentang perkara-perkara gaib tersebut adalah wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Berbagai kisah umat terdahulu yang disebutkan dalam Al-Qur’an menjadi bukti bahwa Al-Qur’an berasal dari Allah.

    3. Sisi Keilmiahan dan Ketepatan Informasinya

    Sisi ketiga adalah berbagai informasi yang terdapat dalam Al-Qur’an yang menunjukkan kebesaran Allah dan kesesuaian dengan kenyataan.

    Misalnya firman Allah:

    أَيَحْسَبُ الْإِنسَانُ أَلَّن نَّجْمَعَ عِظَامَهُ ۝ بَلَىٰ قَادِرِينَ عَلَىٰ أَن نُّسَوِّيَ بَنَانَهُ

    “Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan kembali tulang-belulangnya? Bahkan, Kami mampu menyusun kembali jari-jemarinya dengan sempurna.”

    QS. Al-Qiyamah: 3–4.

    Allah tidak hanya menyebutkan kemampuan mengumpulkan tulang-belulang manusia, tetapi juga menyebutkan banan, yaitu ujung-ujung jari.

    Ujung jari memiliki karakteristik yang sangat detail dan menjadi salah satu bentuk identitas manusia melalui sidik jari.

    Kemudian Allah juga menyebutkan kisah Ashabul Kahfi:

    وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ

    “Dan engkau mengira mereka itu tidak tidur, padahal mereka tidur. Dan Kami membolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri.”

    QS. Al-Kahfi: 18.

    Kemudian Allah berfirman:

    وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا

    “Dan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.”

    QS. Al-Kahfi: 25.

    Mereka tidur dalam waktu yang sangat panjang, yaitu 309 tahun. Di antara bentuk penjagaan Allah terhadap mereka adalah membolak-balikkan tubuh mereka ke kanan dan ke kiri.

    Hal ini menunjukkan kesempurnaan ilmu Allah terhadap makhluk-Nya dan bagaimana Allah menjaga ciptaan-Nya dengan hikmah yang sempurna.

    4. Sisi Pensyariatan

    Sisi keempat adalah syariat yang dibawa Al-Qur’an.

    Di dalam Al-Qur’an terdapat syariat tauhid, ibadah, akhlak, muamalah, pernikahan, perdagangan, dan berbagai aturan kehidupan.

    Syariat tersebut membawa kemaslahatan bagi manusia.

    Di antaranya:

    • perintah mentauhidkan Allah;

    • perintah beribadah hanya kepada Allah;

    • perintah berbuat adil;

    • aturan dalam transaksi dan jual beli;

    • prinsip saling ridha dalam muamalah;

    • syariat pernikahan;

    • pendidikan akhlak dan adab;

    • serta berbagai aturan lain yang menjaga kemaslahatan manusia.

    Semua itu merupakan bagian dari kemukjizatan Al-Qur’an dalam aspek pensyariatannya.

    Penutup

    Demikian pembahasan tentang iman kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam serta sebagian keutamaan dan mukjizat yang Allah berikan kepada beliau.

    Masih ada beberapa mukjizat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya, insya Allah.

    Wallahu a‘lam bish-shawab.

    Hadanallahu wa iyyakum ajma‘in.

    Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.

    Penulis:
    Abu Afif
    Share: