Bismillahirrahmanirrahim.
Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya, serta berlindung kepada Allah dari keburukan jiwa dan amal perbuatan kita. Barang siapa yang Allah beri petunjuk, tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang Allah sesatkan, tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga hari kiamat.
Jamaah rahimakumullah, mari kita meneruskan kajian kita dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Pembahasan kita masih berkaitan dengan iman kepada para rasul, khususnya mengenai empat unsur keimanan terhadap para rasul yang dibahas pada halaman 221.
Empat Unsur Keimanan kepada Para Rasul
Empat unsur keimanan kepada para rasul tersebut adalah:
Meyakini bahwa risalah para rasul benar-benar berasal dari Allah.
Mengimani nama-nama nabi dan rasul yang telah diberitahukan kepada kita.
Membenarkan berita-berita tentang para nabi dan rasul yang sahih.
Mengamalkan syariat rasul yang diutus kepada kita, yaitu Nabi Muhammad ﷺ.
Unsur Pertama: Meyakini bahwa Risalah Para Rasul Benar-benar dari Allah
Kita telah membahas unsur pertama, yaitu mengimani bahwa risalah para rasul benar-benar berasal dari Allah dan bukan bersumber dari bisikan setan.
Jika risalah Nabi Muhammad ﷺ dituduh sebagai bisikan setan, tuduhan tersebut justru terbantahkan oleh isi Al-Qur'an itu sendiri. Di dalam Al-Qur'an terdapat banyak ayat yang menjelaskan permusuhan manusia dengan setan dan perintah untuk berlindung kepada Allah dari gangguan setan.
Allah Ta'ala berfirman:
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Apabila engkau membaca Al-Qur'an, maka berlindunglah kepada Allah dari setan yang terkutuk.” QS. An-Nahl: 98.
Allah juga berfirman:
وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dan jika engkau ditimpa suatu godaan dari setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” QS. Fussilat: 36.
Maka bagaimana mungkin setan menjadi sumber Al-Qur'an, sementara Al-Qur'an sendiri memerintahkan manusia untuk memusuhi setan dan berlindung kepada Allah dari gangguannya?
Setan tentu mengajak manusia untuk mengikuti dirinya, bukan mengajarkan manusia agar memusuhi dirinya. Karena itu, anggapan bahwa Al-Qur'an merupakan bisikan setan tertolak dengan kandungan Al-Qur'an itu sendiri.
Al-Qur'an Bukan Hasil Halusinasi Nabi ﷺ
Ada pula anggapan bahwa Al-Qur'an merupakan buah halusinasi Rasulullah ﷺ. Mereka beranggapan bahwa ketika Al-Qur'an turun, Nabi ﷺ sedang menyendiri dan beribadah di Gua Hira, kemudian mengalami semacam halusinasi.
Anggapan seperti ini juga terbantahkan.
Tidak mungkin seorang manusia mengalami halusinasi selama kurang lebih 23 tahun dengan konsistensi yang luar biasa. Al-Qur'an turun secara bertahap selama sekitar 23 tahun, tetapi kandungannya tetap memiliki keteraturan dan kesempurnaan.
Bahkan Al-Qur'an memberikan tantangan kepada manusia agar mendatangkan sesuatu yang semisal dengannya. Allah Ta'ala berfirman:
وَإِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُم مِّن دُونِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
“Dan jika kamu meragukan Al-Qur'an yang Kami turunkan kepada hamba Kami, maka buatlah satu surah yang semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” QS. Al-Baqarah: 23.
Tantangan tersebut bukan sekadar dari sisi kandungan, tetapi juga dari sisi bahasa, susunan, keindahan, ketepatan, dan berbagai aspek lain yang terkandung di dalam Al-Qur'an.
Tidak ada manusia yang mampu mendatangkan sesuatu yang benar-benar sebanding dengan Al-Qur'an.
Dalam kajian ini juga disebutkan kisah Musailamah Al-Kadzdzab yang berusaha membuat sesuatu yang menyerupai Al-Qur'an. Ia membuat ungkapan yang berbicara tentang gajah dengan kalimat yang sangat sederhana.
Ketika saudaranya mendengarnya, ia justru mengatakan bahwa hal tersebut menunjukkan Musailamah adalah seorang pendusta. Perbedaan antara wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ dan perkataan yang dibuat-buat manusia sangatlah jelas.
Karena itu, anggapan bahwa Al-Qur'an merupakan hasil halusinasi Rasulullah ﷺ terbantahkan oleh kesempurnaan dan konsistensi Al-Qur'an itu sendiri.
Allah juga memberikan berbagai tanda dan keajaiban di dalam Al-Qur'an. Di antaranya adalah penyebutan berbagai nama dan kisah dengan pola tertentu yang menunjukkan bahwa Al-Qur'an bukanlah hasil pemikiran manusia.
Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُن فَيَكُونُ
“Sesungguhnya perumpamaan penciptaan Isa bagi Allah seperti penciptaan Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ Maka jadilah sesuatu itu.” QS. Ali Imran: 59.
Dalam pembahasan ini juga disinggung adanya kesesuaian penyebutan Nabi Isa dan Nabi Adam dalam Al-Qur'an. Hal tersebut disebut sebagai salah satu contoh dari berbagai sisi keajaiban Al-Qur'an.
Maka jika Al-Qur'an bukan berasal dari setan dan bukan pula hasil halusinasi Rasulullah ﷺ, tersisa kesimpulan bahwa Al-Qur'an memang merupakan kalam Allah.
Unsur Kedua: Mengimani Nama-Nama Nabi dan Rasul yang Telah Diketahui
Unsur kedua adalah mengimani nama-nama rasul yang telah kita kenal, yaitu nama-nama yang diberitahukan kepada kita oleh Allah Ta'ala atau Rasulullah ﷺ, baik melalui Al-Qur'an maupun Sunnah yang sahih.
Jumlah nabi dan rasul sangat banyak. Dalam pembahasan ini disebutkan adanya riwayat yang menyebut jumlah nabi sebanyak 124.000 dan jumlah rasul sebanyak 315. Adapun yang dikenal dan disebutkan namanya kepada kita dalam Al-Qur'an berjumlah 25 nabi dan rasul.
Kita wajib mengimani para nabi dan rasul yang telah diberitahukan kepada kita satu per satu. Kita meyakini bahwa mereka benar-benar nabi dan utusan Allah.
Adapun nabi dan rasul yang tidak diberitahukan namanya kepada kita, maka kita mengimaninya secara global: kita meyakini bahwa mereka benar-benar ada dan merupakan utusan Allah.
Allah Ta'ala berfirman:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّن قَبْلِكَ مِنْهُم مَّن قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُم مَّن لَّمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ
“Dan sungguh, Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum engkau. Di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada yang tidak Kami ceritakan kepadamu.”
QS. Ghafir: 78.
Jadi, keberadaan nabi dan rasul yang tidak disebutkan namanya bukan sekadar dugaan. Allah sendiri mengabarkan bahwa ada sebagian rasul yang kisahnya tidak disampaikan kepada kita.
Dua Sikap dalam Mengimani Para Nabi
Para nabi dan rasul tidak boleh diimani dengan cara membeda-bedakan. Tidak boleh seseorang mengatakan, “Saya beriman kepada nabi ini, tetapi tidak beriman kepada nabi yang lain.”
Allah mencela sikap orang-orang yang hanya mengimani sebagian dan mengingkari sebagian yang lain.
Mengimani satu rasul berarti wajib mengimani seluruh rasul Allah. Sebaliknya, mendustakan seorang rasul berarti mendustakan prinsip risalah yang dibawa para rasul.
Allah bahkan menyebut kaum Nabi Nuh sebagai orang-orang yang mendustakan para rasul, padahal pada saat itu rasul yang mereka dustakan adalah Nabi Nuh ‘alaihissalam. Para nabi lain seperti Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad ﷺ belum datang pada masa tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa mendustakan satu rasul pada hakikatnya merupakan bentuk pendustaan terhadap risalah para rasul.
Dua Puluh Lima Nabi dan Rasul yang Disebutkan
Nama-nama nabi dan rasul yang disebutkan dalam pembahasan adalah:
Adam
Idris
Nuh
Hud
Shalih
Ibrahim
Luth
Ismail
Ishaq
Ya'qub
Yusuf
Syu'aib
Ayyub
Dzulkifli
Musa
Harun
Dawud
Sulaiman
Ilyas
Ilyasa'
Yunus
Zakariya
Yahya
Isa
Muhammad ﷺ
Transkrip pembicara menyebut bahwa nama-nama tersebut memiliki dalil dalam Al-Qur'an dan bahwa nama surah serta nomor ayat dibahas dalam kitab. Namun, rincian nomor ayat satu per satu tidak terekam secara lengkap dalam transkrip otomatis yang tersedia, sehingga tidak ditambahkan sebagai seolah-olah merupakan bagian dari ucapan pembicara.
Nabi yang Disebutkan dalam Sunnah
Selain nama-nama nabi yang disebutkan dalam Al-Qur'an, terdapat pula nabi yang disebutkan dalam Sunnah.
Di antaranya adalah Syits, putra Nabi Adam ‘alaihissalam. Dalam pembahasan ini disebutkan bahwa Syits merupakan nabi yang diangkat setelah peristiwa terbunuhnya Habil oleh Qabil.
Selain itu ada Yusya' bin Nun. Ia masih memiliki hubungan keturunan dengan Nabi Yusuf ‘alaihissalam dan merupakan orang yang mendampingi Nabi Musa ‘alaihissalam.
Yusya' bin Nun disebutkan sebagai orang yang membersamai Nabi Musa dalam perjalanan menuju Khidr. Setelah Nabi Musa meninggal, ia melanjutkan dakwah dan memimpin Bani Israil.
Apakah Khidr Seorang Nabi?
Para ulama berselisih pendapat mengenai status Khidr: apakah beliau seorang nabi atau seorang hamba Allah yang saleh.
Dalam pembahasan ini disebutkan bahwa pendapat yang lebih kuat adalah Khidr seorang nabi.
Adapun mengenai Dzulkarnain dan Luqman, pendapat yang disebutkan dalam kajian adalah bahwa keduanya merupakan hamba Allah yang saleh, bukan nabi.
Apakah Khidr Masih Hidup?
Pertanyaan berikutnya adalah apakah Khidr masih hidup hingga sekarang.
Dalam kajian ditegaskan bahwa pendapat yang menyatakan Khidr masih hidup tidak benar. Jika Khidr masih hidup pada masa Rasulullah ﷺ, tentu beliau memiliki kewajiban untuk mengikuti dan membantu Rasulullah ﷺ.
Allah Ta'ala berfirman:
وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُم مِّن كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنصُرُنَّهُ ۚ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَىٰ ذَٰلِكُمْ إِصْرِي ۖ قَالُوا أَقْرَرْنَا ۚ قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُم مِّنَ الشَّاهِدِينَ
“Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, ‘Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa Kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.’ Allah berfirman, ‘Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?’ Mereka menjawab, ‘Kami mengakui.’ Allah berfirman, ‘Kalau begitu, bersaksilah dan Aku menjadi saksi bersama kamu.’”
QS. Ali Imran: 81.
Ayat ini menunjukkan kewajiban para nabi untuk beriman dan menolong rasul yang datang membenarkan risalah sebelumnya.
Karena itu, jika Khidr masih hidup pada zaman Rasulullah ﷺ, beliau tentu termasuk orang yang wajib beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ dan menolong beliau.
Selain itu, jika Khidr masih hidup, tentu akan ada riwayat yang jelas dari para sahabat mengenai pertemuan beliau dengan Rasulullah ﷺ. Namun, hal tersebut tidak ditemukan dalam riwayat yang sahih.
Tidak Ada Syariat Baru Setelah Nabi Muhammad ﷺ
Hal penting lainnya adalah bahwa siapa pun yang hidup pada masa Rasulullah ﷺ wajib mengikuti syariat beliau.
Tidak ada seorang pun yang boleh mengatakan bahwa Khidr datang kepadanya kemudian memberikan ajaran baru.
Misalnya seseorang berkata, “Saya didatangi Khidr dan beliau memberikan amalan tertentu.” Pernyataan seperti itu tidak dapat dijadikan dasar agama.
Semua orang yang hidup pada masa Nabi Muhammad ﷺ wajib mengikuti syariat Nabi Muhammad ﷺ.
Bahkan Nabi Isa ‘alaihissalam, ketika turun pada akhir zaman, akan mengikuti syariat Nabi Muhammad ﷺ. Beliau tidak kembali dengan membawa syariat baru.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ كَانَ مُوسَى حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي
“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa masih hidup, tidak ada pilihan baginya selain mengikutiku.”
Hadits ini diriwayatkan dalam Musnad Ahmad dan juga memiliki riwayat dalam beberapa kitab hadits dengan lafaz yang berdekatan.
Maka kalau Nabi Musa ‘alaihissalam saja, yang merupakan salah satu rasul ulul azmi, wajib mengikuti Nabi Muhammad ﷺ apabila beliau hidup pada masa beliau, maka lebih-lebih lagi selain beliau.
Unsur Ketiga: Membenarkan Berita yang Sahih tentang Para Nabi
Unsur ketiga adalah membenarkan berita-berita tentang para nabi dan rasul yang sahih riwayatnya.
Ini penting karena tidak semua berita yang beredar mengenai para nabi dapat langsung dipercaya.
Ada riwayat yang sahih dan ada riwayat yang tidak sahih. Ada pula cerita-cerita yang berasal dari Israiliyat.
Jangankan berita tentang nabi-nabi terdahulu, berita tentang Nabi Muhammad ﷺ saja harus diperiksa keabsahannya. Jika sebuah riwayat tentang Nabi Muhammad ﷺ tidak sahih, maka riwayat tersebut tidak boleh dibenarkan sebagai sabda atau berita dari beliau.
Maka terhadap kisah-kisah para nabi terdahulu, kita harus lebih berhati-hati.
Jika kita tidak memiliki kemampuan untuk menilai sebuah riwayat, maka kita bertanya kepada ulama atau orang yang memiliki kemampuan dalam ilmu hadits.
Dengan demikian, iman kepada para nabi bukan berarti membenarkan semua cerita yang beredar tentang mereka, tetapi membenarkan berita yang memang memiliki dasar yang sahih.
Unsur Keempat: Mengamalkan Syariat Rasulullah ﷺ
Unsur keempat adalah mengamalkan syariat rasul yang diutus kepada kita, yaitu Nabi Muhammad ﷺ.
Beliau adalah nabi terakhir dan diutus kepada seluruh manusia.
Allah Ta'ala berfirman:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau, Muhammad, sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusan yang engkau berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
QS. An-Nisa: 65.
Ayat ini mengandung beberapa konsekuensi penting.
1. Menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai hakim
Ketika terjadi perselisihan, seorang mukmin harus kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.
2. Tidak merasa keberatan terhadap keputusan beliau
Keputusan Rasulullah ﷺ tidak boleh diterima hanya secara lahiriah sementara hati masih merasa berat dan menolak.
3. Menerima dengan sepenuhnya
Allah memerintahkan agar keputusan Rasulullah ﷺ diterima dengan sikap tunduk sepenuhnya.
Karena itu, apabila terjadi perselisihan di antara kita, jangan sekadar mencari pendapat yang sesuai dengan keinginan. Yang harus dicari adalah pendapat yang paling sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah.
Jangan Menjadikan Khilaf sebagai Alasan Mengikuti Hawa Nafsu
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا
“Tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan lain bagi mereka tentang urusan mereka. Barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.”
QS. Al-Ahzab: 36.
Dalam perkara apa pun—baik akidah, ibadah, maupun muamalah—ketika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu, seorang mukmin tidak boleh mencari-cari pendapat lain hanya karena ingin mengikuti seleranya.
Tidak setiap perbedaan pendapat berarti kita bebas memilih pendapat yang paling sesuai dengan hawa nafsu.
Misalnya dalam persoalan jenggot. Jika seseorang mengetahui adanya perbedaan pendapat tentang memotong jenggot, jangan sampai ia menjadikan kata “khilaf” sebagai alasan untuk mengambil pendapat yang paling ringan hanya karena sesuai dengan keinginannya.
Demikian pula dalam masalah isbal atau persoalan fikih lainnya.
Kalaupun seseorang memilih pendapat yang lebih ringan dalam sebuah masalah yang memang diperselisihkan ulama, hendaknya ia memilihnya karena pertimbangan dalil dan penelitian ilmiah, bukan karena hawa nafsu.
Contohnya dalam persoalan qashar shalat. Jika ada perbedaan pendapat mengenai apakah qashar harus dibatasi dengan jarak tertentu atau dikembalikan kepada kebiasaan perjalanan ('urf), maka orang yang mengambil pendapat tersebut hendaknya mengambilnya karena melihat kekuatan dalil, bukan karena sekadar mencari pilihan yang paling nyaman.
Jadi, khilaf bukan berarti seseorang bebas memilih pendapat sesuai selera.
Beberapa Kekhususan Para Nabi dan Rasul
Ada beberapa perkara yang menjadi kekhususan para nabi dan rasul.
1. Mereka Mendapatkan Wahyu
Para nabi dan rasul mendapatkan wahyu dari Allah Ta'ala.
Inilah pembeda utama antara nabi dengan manusia biasa.
2. Mereka Terpelihara dari Kesalahan yang Mencederai Kenabian
Para nabi memiliki sifat ma'shum, yaitu Allah menjaga mereka dari kesalahan yang mencederai kedudukan kenabian, seperti berdusta dalam menyampaikan wahyu, berkhianat dalam risalah, dan sifat-sifat lain yang bertentangan dengan amanah kenabian.
Namun, mereka tetap manusia dan dapat mengalami kesalahan manusiawi yang Allah kehendaki dengan hikmah tertentu.
Kisah Nabi ﷺ dan Abdullah bin Ummi Maktum
Allah menegur Nabi Muhammad ﷺ ketika beliau bermuka masam dan berpaling dari Abdullah bin Ummi Maktum yang datang meminta petunjuk, sementara Nabi ﷺ sedang berbicara dengan tokoh-tokoh Quraisy.
Allah Ta'ala berfirman:
عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ أَن جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ
“Dia bermuka masam dan berpaling karena seorang yang buta telah datang kepadanya. Dan tahukah engkau, boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya.”
QS. 'Abasa: 1–3.
Nabi ﷺ berharap tokoh yang sedang beliau dakwahi akan menerima Islam dan kemudian orang-orang lain mengikuti keislamannya. Namun Abdullah bin Ummi Maktum justru datang dengan keinginan belajar.
Allah kemudian menegur Nabi ﷺ.
Inilah perbedaan kesalahan para nabi dengan kesalahan manusia biasa. Ketika terjadi kesalahan yang berkaitan dengan tugas mereka, Allah memberikan teguran dan meluruskannya.
Demikian pula ketika Nabi ﷺ pernah berencana melakukan sesuatu tanpa mengucapkan insya Allah, Allah menurunkan bimbingan:
وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ
“Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan tentang sesuatu, ‘Aku pasti melakukan itu besok,’ kecuali dengan mengatakan, ‘Jika Allah menghendaki.’”
QS. Al-Kahf: 23–24.
Jadi, terdapat hikmah di balik teguran tersebut.
3. Mata Para Nabi Tidur, tetapi Hati Mereka Tidak Tidur
Rasulullah ﷺ bersabda kepada Aisyah radhiyallahu 'anha:
يَا عَائِشَةُ، إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي
“Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, tetapi hatiku tidak tidur.”
Riwayat: Imam Al-Bukhari dan Muslim.
Shahih Al-Bukhari no. 1147; Shahih Muslim no. 738.
Ini merupakan salah satu kekhususan Nabi ﷺ.
4. Para Nabi Diberi Pilihan Ketika Menjelang Wafat
Para nabi diberikan pilihan ketika menjelang wafat antara tetap hidup atau memilih pertemuan dengan Allah.
Rasulullah ﷺ juga mengalami hal tersebut.
Pada akhir hayat beliau, beliau memilih:
فِي الرَّفِيقِ الْأَعْلَى
“Bersama kekasih yang paling tinggi.”
Maksudnya adalah memilih pertemuan dengan Allah dan kehidupan akhirat daripada melanjutkan kehidupan dunia.
5. Para Nabi Dimakamkan di Tempat Mereka Wafat
Dalam pembahasan disebutkan bahwa para nabi dimakamkan di tempat mereka meninggal.
Riwayat yang menjadi dasar pembahasan adalah perkataan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu ketika para sahabat berselisih mengenai tempat pemakaman Rasulullah ﷺ:
مَا قَبَضَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا فِي الْمَوْضِعِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُدْفَنَ فِيهِ
“Allah tidak mewafatkan seorang nabi kecuali di tempat yang Dia kehendaki untuk nabi tersebut dimakamkan.”
Kemudian Abu Bakar berkata:
ادْفِنُوهُ فِي مَوْضِعِ فِرَاشِهِ
“Makamlah beliau di tempat tidurnya.”
Riwayat: Jami' At-Tirmidzi no. 1018.
Atas dasar itu, Rasulullah ﷺ dimakamkan di tempat beliau wafat, yaitu di kamar Aisyah radhiyallahu 'anha.
Catatan penting: Imam At-Tirmidzi sendiri menyebut riwayat no. 1018 sebagai gharib dan memberikan catatan tentang kelemahan hafalan salah satu perawinya, meskipun riwayat tersebut memiliki jalur lain.
6. Jasad Para Nabi Tidak Dimakan Tanah
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi.”
Riwayat: Abu Dawud no. 1047, An-Nasa'i no. 1374, dan Ibnu Majah no. 1636. Hadits ini dinilai sahih.
Dengan demikian, salah satu kekhususan para nabi adalah jasad mereka tidak dimakan oleh tanah.
Keutamaan Nabi Muhammad ﷺ atas Para Nabi yang Lain
Allah memberikan keutamaan kepada sebagian rasul atas sebagian yang lain.
Nabi Muhammad ﷺ mendapatkan berbagai keutamaan yang tidak diberikan kepada nabi-nabi sebelumnya.
Para ulama menyebut lima rasul sebagai Ulul Azmi, yaitu:
Nabi Muhammad ﷺ
Nabi Ibrahim
Nabi Musa
Nabi Isa
Nabi Nuh
Kelima nama tersebut disebutkan bersama dalam Al-Qur'an.
Allah Ta'ala berfirman:
وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنكَ وَمِن نُّوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَأَخَذْنَا مِنْهُم مِّيثَاقًا غَلِيظًا
“Dan ingatlah ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi dan dari engkau sendiri, dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam. Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh.”
QS. Al-Ahzab: 7.
Allah juga berfirman:
شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ
“Dia telah mensyariatkan bagi kamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, serta apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu: tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya.”
QS. Asy-Syura: 13.
Adapun dalam urutan keutamaan, yang disepakati adalah Nabi Muhammad ﷺ sebagai yang paling utama, kemudian Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Mengenai urutan setelah keduanya, terdapat pembahasan dan perbedaan pendapat di kalangan ulama.
Dalam kajian disebutkan pendapat yang dinilai kuat oleh sejumlah ulama bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berada pada urutan kedua setelah Nabi Muhammad ﷺ.
Lima Keutamaan Khusus Nabi Muhammad ﷺ
Rasulullah ﷺ bersabda:
أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي: نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ، وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا، فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ، وَأُحِلَّتْ لِيَ الْمَغَانِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي، وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ، وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً
“Aku diberikan lima perkara yang tidak diberikan kepada seorang pun sebelumku: aku ditolong dengan rasa takut yang menimpa musuh sejauh perjalanan satu bulan; bumi dijadikan untukku sebagai masjid dan alat bersuci, sehingga siapa pun dari umatku yang mendapati waktu shalat hendaknya ia shalat; dihalalkan bagiku harta rampasan perang, sedangkan sebelumnya tidak dihalalkan bagi siapa pun; aku diberikan syafaat; dan dahulu seorang nabi diutus khusus kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada seluruh manusia.”
Riwayat: Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma.
Shahih Al-Bukhari no. 335 dan Shahih Muslim no. 521.
Lima keutamaan tersebut mencakup:
Ditolong dengan rasa takut yang ditimpakan kepada musuh dari jarak perjalanan satu bulan.
Bumi dijadikan sebagai masjid dan alat bersuci.
Dihalalkan harta rampasan perang bagi umat beliau.
Diberikan syafaat.
Diutus kepada seluruh manusia, sedangkan para nabi sebelumnya diutus kepada kaum mereka masing-masing.
Para Rasul yang Tidak Diketahui Namanya Tetap Wajib Diimani
Tidak semua rasul diceritakan kepada kita.
Allah Ta'ala berfirman:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّن قَبْلِكَ مِنْهُم مَّن قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُم مَّن لَّمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ
“Dan sungguh, Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum engkau. Di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada yang tidak Kami ceritakan kepadamu.”
QS. Ghafir: 78.
Maka kita tidak perlu menebak-nebak siapa saja nabi yang tidak disebutkan. Yang wajib adalah mengimani secara global bahwa Allah memang mengutus nabi dan rasul selain yang telah diberitahukan namanya kepada kita.
Penutup
Dari pembahasan ini dapat disimpulkan bahwa iman kepada para rasul bukan sekadar mengakui bahwa mereka pernah ada.
Iman kepada para rasul mencakup empat hal pokok:
Meyakini bahwa risalah mereka benar-benar berasal dari Allah, bukan dari setan, halusinasi, atau hasil pemikiran manusia.
Mengimani seluruh nabi dan rasul yang telah diberitahukan kepada kita, tanpa membeda-bedakan antara satu dengan yang lainnya dalam hal keimanan kepada mereka.
Membenarkan berita tentang para nabi yang sahih, serta berhati-hati terhadap riwayat yang lemah dan kisah-kisah yang tidak memiliki dasar.
Mengikuti syariat Rasulullah ﷺ, karena beliau adalah nabi terakhir dan rasul yang diutus kepada seluruh manusia.
Allah Ta'ala tidak memberikan pilihan kepada seorang mukmin untuk menerima sebagian ajaran Rasulullah ﷺ dan menolak sebagian lainnya berdasarkan selera. Ketika Al-Qur'an dan Sunnah telah menetapkan suatu perkara, kewajiban seorang mukmin adalah tunduk, menerima, dan menjadikannya sebagai pedoman.
Karena itu, ketika terjadi perselisihan, hendaknya kita kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah. Jangan menjadikan perbedaan pendapat sebagai sarana untuk mencari pendapat yang paling sesuai dengan hawa nafsu. Yang harus dicari adalah kebenaran berdasarkan dalil dan penjelasan para ulama.
Semoga Allah memberikan kepada kita iman yang benar kepada seluruh nabi dan rasul-Nya, menjadikan kita orang-orang yang benar-benar mengikuti Rasulullah ﷺ, dan memberikan taufik untuk menerima kebenaran dengan lapang dada.
Wallahu a'lam bish-shawab.