بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah#64
📚┃Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah
🖋 ┃Karya : Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Rahimahullah
🎙┃ Pemateri : Ustadz Abu Ubaid Rizqi, Lc, M. Pd. حفظه الله تعالى
- Alumnus LIPIA Jakarta
- Pengajar Ilmu Syar'i Pondok Pesantren Imam Bukhari
🗓┃ Hari & Tanggal : Kamis, 6 Rabi'ul Akhir 1448 H / 17 september 2026 M
🕰┃ Waktu : Ba'da Maghrib Sampai Selesai
🕌┃ Tempat : Masjid Al-Ikhlas Adi Sucipto Laweyan, Surakarta.
Ahlusunah Mengimani Al-Qur’an sebagai Kalamullah dan Iman kepada Para Rasul
Al-Qur’an adalah Kalamullah, Bukan Makhluk
Kita masih dalam pembahasan bahwa Ahlusunah mengimani Al-Qur’anul Karim sebagai kalamullah, bukan makhluk.
Penulis, Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas rahimahullah, menukil perkataan Imam Ibnu Khuzaimah:
“Al-Qur’an adalah kalamullah, bukan makhluk. Barang siapa yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, maka dia telah kufur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Pembahasan mengenai dampak buruk keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk telah disampaikan pada pekan sebelumnya. Dampak yang paling buruk adalah seseorang dapat keluar dari Islam karena keyakinan tersebut bertentangan dengan keterangan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya yang menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِنْ أَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ
“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrik itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia supaya dia sempat mendengar firman Allah.”
(QS. At-Taubah: 6)
Yang dimaksud dengan kalam Allah dalam ayat tersebut adalah Al-Qur’an.
Karena itu, keyakinan bahwa Al-Qur’an bukan kalamullah merupakan keyakinan yang sangat berat. Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan oleh Allah Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji.
Al-Qur’an Tidak Dapat Didatangi Kebatilan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ ۖ تَنزِيلٌ مِّنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ
“Yang tidak didatangi oleh kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji.”
(QS. Fussilat: 42)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu Ta’ala menjelaskan bahwa Al-Qur’an tidak dapat didatangi oleh kebatilan. Tidak ada setan, baik dari kalangan jin maupun manusia, yang mampu mencuri, menyisipkan, atau memasukkan sesuatu yang bukan bagian dari Al-Qur’an.
Ketika Allah menyampaikan Al-Qur’an melalui Jibril kepada Nabi Muhammad ﷺ, setan dari kalangan jin tidak mampu menyabotasenya. Mereka juga tidak mampu menambahkan sesuatu yang bukan bagian dari Al-Qur’an.
Allah bahkan menjaga jalan menuju langit dari upaya setan mencuri berita dari langit. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Jin bahwa para jin berusaha mendaki langit, tetapi mereka mendapati langit dipenuhi penjagaan yang kuat dan bintang-bintang yang digunakan untuk melempar setan.
Ini merupakan salah satu bentuk penjagaan Allah terhadap Al-Qur’an. Setan tidak mampu menambah maupun mengurangi isi Al-Qur’an.
Allah Menjaga Keutuhan Al-Qur’an
Al-Qur’an dijaga oleh Allah sejak proses diturunkan hingga lafaz dan maknanya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”
(QS. Al-Hijr: 9)
Tidak ada seorang pun yang mampu mengubah isi Al-Qur’an. Kalaupun seseorang berusaha mengubahnya, perubahan tersebut tidak akan menggantikan Al-Qur’an yang telah terjaga di tengah kaum muslimin.
Bahkan perubahan pada bacaannya, panjang-pendeknya, atau harakatnya pun tidak dapat menggantikan Al-Qur’an yang asli.
Salah satu bentuk penjagaan Allah terhadap Al-Qur’an adalah dimudahkannya manusia untuk menghafalnya. Padahal bahasa Arab bukan bahasa sehari-hari bagi kebanyakan kaum muslimin. Namun Allah memudahkan manusia menghafal Al-Fatihah, Juz ‘Amma, Juz Tabarak, dan bagian-bagian Al-Qur’an lainnya.
Al-Qur’an juga sampai kepada kita secara mutawatir, dari generasi ke generasi. Para sahabat mendengar ayat-ayat Al-Qur’an secara kolektif, bukan hanya melalui satu orang.
Hal ini berbeda dengan sebagian hadis Nabi ﷺ yang terkadang diriwayatkan oleh seorang sahabat secara individual. Adapun Al-Qur’an, periwayatannya berlangsung secara mutawatir.
Karena itu, orang yang mengingkari sesuatu dari Al-Qur’an atau meyakini bahwa Al-Qur’an masih memiliki kekurangan atau membutuhkan tambahan berarti telah menyelisihi kesempurnaan yang Allah tetapkan bagi kitab-Nya.
Prinsip Menafsirkan Al-Qur’an
Al-Qur’an wajib ditafsirkan berdasarkan pemahaman salafus saleh, khususnya para sahabat.
Urutan pokok dalam menafsirkan Al-Qur’an adalah:
Menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, yaitu satu ayat dengan ayat lainnya.
Jika tidak ditemukan penjelasannya dalam Al-Qur’an, maka dengan hadis Nabi ﷺ.
Jika tidak ditemukan dalam hadis, maka dengan perkataan para sahabat.
Kemudian dengan perkataan tabi’in dan penjelasan para imam ahli tafsir.
Ini merupakan prinsip dalam menafsirkan Al-Qur’an. Bukan semata-mata menggunakan logika atau penafsiran pribadi.
Nabi ﷺ memberikan peringatan keras terhadap orang yang berbicara mengenai Al-Qur’an hanya berdasarkan pikirannya sendiri:
“Barang siapa berkata tentang Al-Qur’an dengan pendapatnya sendiri, maka hendaknya ia menyiapkan tempat duduknya di neraka.”
Walaupun kebetulan pendapatnya benar, metode menafsirkan Al-Qur’an semata-mata berdasarkan logika pribadi tetap merupakan metode yang berbahaya. Sebab, seseorang tidak selalu benar. Jika metode tersebut terus dipertahankan, seseorang dapat semakin jauh dari apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala maksudkan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala juga menjelaskan bahwa menafsirkan Al-Qur’an semata-mata berdasarkan ra’yu atau logika adalah sesuatu yang terlarang. Al-Qur’an harus ditafsirkan sesuai dengan prinsip-prinsip yang telah dijelaskan para ulama.
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengharamkan seseorang berkata atas nama Allah tanpa ilmu.
Karena itu, ketika tidak mengetahui suatu masalah, lebih baik mengatakan “Wallahu a’lam” daripada memberikan jawaban tanpa ilmu. Memberikan jawaban tanpa ilmu bukan hanya dapat membahayakan diri sendiri, tetapi juga dapat menyesatkan orang lain.
Nabi ﷺ mengingatkan bahwa akan datang suatu masa ketika manusia menjadikan orang-orang yang tidak berilmu sebagai pemimpin. Ketika mereka dimintai fatwa, mereka memberikan fatwa tanpa ilmu. Akibatnya, mereka sesat dan menyesatkan.
Iman kepada Rasul-Rasul Allah
Pembahasan berikutnya adalah kaidah ke-21: Iman kepada Rasul-rasul Allah.
Ahlusunah beriman kepada rasul-rasul yang diutus Allah Ta’ala kepada setiap kaum.
Secara bahasa, rasul berarti utusan. Adapun secara syariat, rasul adalah manusia yang diberi wahyu oleh Allah untuk disampaikan kepada umatnya.
Rasul yang Pertama
Rasul yang pertama adalah Nabi Nuh ‘alaihissalam, sedangkan rasul terakhir adalah Nabi Muhammad ﷺ.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن بَعْدِهِ
“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya.”
(QS. An-Nisa: 163)
Ayat ini menunjukkan bahwa Nuh ‘alaihissalam disebut terlebih dahulu, kemudian para nabi setelahnya.
Hal ini juga ditegaskan dalam hadis tentang syafaat. Ketika manusia meminta syafaat kepada para nabi, mereka mendatangi Nabi Nuh dan mengatakan:
“Wahai Nuh, engkau adalah rasul pertama yang diutus Allah.”
Dengan demikian, Nabi Nuh ‘alaihissalam adalah rasul pertama, bukan Nabi Idris sebagaimana diyakini sebagian orang.
Nabi Muhammad ﷺ adalah Rasul Terakhir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَٰكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ
“Tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi.”
(QS. Al-Ahzab: 40)
Nabi Muhammad ﷺ adalah penutup para nabi.
Ayat ini juga menjelaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ bukanlah bapak dari salah seorang laki-laki di antara kaum muslimin. Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu pernah dinisbatkan kepada Nabi ﷺ sebagai anak angkat, namun Allah memerintahkan agar seseorang dipanggil dengan nama bapak kandungnya.
Nabi ﷺ sendiri memiliki beberapa putra, yaitu Al-Qasim, Ath-Thayyib, Ath-Thahir, dan Ibrahim. Namun seluruh putra beliau meninggal ketika masih kecil. Karena itu, tidak ada putra Nabi ﷺ yang hidup hingga dewasa dan memiliki keturunan.
Setiap Umat Telah Diutus Rasul
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat untuk menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’”
(QS. An-Nahl: 36)
Setiap umat memiliki rasul. Namun tidak semua rasul diceritakan kepada kita.
Allah berfirman bahwa ada rasul-rasul yang telah diceritakan kepada Nabi Muhammad ﷺ dan ada pula rasul-rasul yang tidak diceritakan.
Di antara rasul yang Allah ceritakan kepada kita adalah Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad ﷺ. Adapun jumlah seluruh rasul yang pernah diutus Allah, pembahasan ini menunjukkan bahwa tidak semuanya diberitahukan kepada kita.
Para Rasul adalah Manusia, Bukan Tuhan
Para rasul adalah manusia biasa dan merupakan makhluk Allah. Mereka tidak memiliki sifat rububiyah dan uluhiyah. Mereka juga tidak mengetahui perkara gaib secara mutlak.
Nabi Muhammad ﷺ mengingatkan agar beliau tidak dipuji secara berlebihan sebagaimana kaum Nasrani berlebihan dalam memuji Nabi Isa ‘alaihissalam.
Beliau bersabda:
“Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba. Maka katakanlah: hamba Allah dan rasul-Nya.”
Dua hal ini harus dipegang bersamaan:
Nabi Muhammad ﷺ adalah hamba Allah, sehingga kita tidak boleh menuhankan beliau.
Nabi Muhammad ﷺ adalah utusan Allah, sehingga kita tidak boleh meremehkan atau menyamakan beliau dengan manusia biasa dalam kedudukannya sebagai rasul.
Kita meyakini beliau sebagai hamba agar tidak berlebihan dalam mengagungkan beliau. Kita meyakini beliau sebagai rasul agar tidak meremehkan beliau dan agar seluruh petunjuk yang beliau sampaikan diterima.
Hanya Allah yang Menguasai Manfaat dan Mudharat
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُل لَّا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ
“Katakanlah: Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah.”
(QS. Al-A’raf: 188)
Allah memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk menyampaikan kepada manusia bahwa beliau sendiri tidak memiliki kuasa mutlak untuk mendatangkan manfaat atau menolak mudarat.
Jika Nabi Muhammad ﷺ saja tidak memiliki kekuasaan tersebut, maka benda-benda mati tentu lebih tidak memiliki kemampuan untuk mendatangkan manfaat ataupun menolak mudarat.
Kekuasaan mutlak berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan Rasulullah ﷺ dan Malaikat Jibril ‘alaihissalam tidak memiliki campur tangan dalam kekuasaan Allah tersebut.
Rasul Tidak Mengetahui Perkara Gaib Secara Mutlak
Allah juga berfirman bahwa seandainya Nabi ﷺ mengetahui perkara gaib, niscaya beliau akan memperbanyak kebaikan dan tidak akan ditimpa keburukan.
Dalam perjalanan hidup Nabi ﷺ terdapat berbagai peristiwa yang menunjukkan bahwa beliau tidak mengetahui perkara gaib secara mutlak.
Salah satunya adalah peristiwa hilangnya kalung Aisyah radhiallahu ‘anha. Nabi ﷺ tidak mengetahui bahwa kalung tersebut ternyata berada di bawah unta yang ditunggangi Aisyah. Para sahabat pun diperintahkan mencarinya.
Demikian pula ketika Aisyah radhiallahu ‘anha difitnah. Nabi ﷺ tidak mengetahui hakikat perkara tersebut sampai Allah menurunkan wahyu yang menjelaskan kebenarannya.
Hal ini bukanlah bentuk merendahkan Nabi ﷺ. Justru kita sedang menempatkan beliau sesuai dengan kedudukannya berdasarkan firman Allah, bukan berdasarkan perasaan atau selera kita.
Keyakinan bahwa ada selain Allah yang mengetahui perkara gaib secara mutlak merupakan keyakinan yang keliru. Hanya Allah yang mengetahui perkara gaib secara mutlak. Bahkan Malaikat Jibril ‘alaihissalam tidak mengetahui segala perkara gaib.
Malaikat Israfil ‘alaihissalam yang diperintahkan meniup sangkakala pun tidak mengetahui kapan perintah tersebut akan datang. Ia senantiasa bersiap dan menunggu perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Penutup
Para rasul adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan dengan wahyu. Kita wajib mengimani mereka, menghormati mereka, mengikuti ajaran yang mereka bawa, dan menempatkan mereka sesuai dengan kedudukan yang Allah tetapkan.
Nabi Muhammad ﷺ adalah hamba Allah sekaligus utusan-Nya, serta penutup para nabi. Adapun perkara gaib secara mutlak merupakan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Semoga Allah memberikan kepada kita pemahaman yang benar terhadap Al-Qur’an dan Sunnah serta menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengikuti jalan para nabi dan salafus saleh.
*****