بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
📘 | Materi : Kitab Adab dan Akhlak Penuntut Ilmu
📖 | Karya: Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Rahimahullah | Download Ringkasan Kitab | Ustadz Yazid dalam Kenangan
🎙| Bersama: Ustadz Ustadz Yunan Hilmi, Lc Hafidzahullah
🗓 | Hari : Rabu, 3 Jumadil Awal 1448 H / 14 Oktober 2026 M
🕰 | Waktu: Ba'da Maghrib - Isya'
🕌 | Tempat: Masjid Al-Ikhlas Adi Sucipto.
Pendahuluan
Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah, alhamdulillah, segala puji bagi Allah Azza wa Jalla atas berbagai nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita. Di antara nikmat tersebut adalah kesempatan untuk melangkahkan kaki menuju rumah Allah, melaksanakan salat Magrib berjemaah, kemudian melanjutkan kegiatan dengan mempelajari ilmu agama.
Pada kesempatan ini, kita melanjutkan pembacaan kitab karya Syaikh Yazid bin Abdul Qadir Jawas rahimahullah tentang Adab dan Akhlak Penuntut Ilmu. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk memahami ilmu, mengamalkannya, dan mendakwahkannya dengan cara yang diridai-Nya.
Pembahasan kali ini mencakup dua bagian penting, yaitu keutamaan mempelajari adab dalam menuntut ilmu dan adab-adab utama seorang muslim ketika menuntut ilmu syar'i. Di antara perkara yang paling ditekankan adalah memperbaiki akhlak, meneladani Rasulullah ﷺ, mengikuti jejak para salafus salih, serta menjaga keikhlasan niat dalam setiap aktivitas menuntut ilmu.
1. Keutamaan Mempelajari Adab dalam Menuntut Ilmu
Islam telah menjelaskan adab dalam seluruh aspek kehidupan
Rasulullah ﷺ telah menjelaskan ajaran Islam dengan terang, termasuk perkara adab. Bahkan, adab dalam urusan yang tampaknya sederhana, seperti buang air, pun telah diterangkan dalam syariat. Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak meninggalkan perkara yang dibutuhkan manusia dalam menjalani kehidupannya tanpa bimbingan.
Apabila perkara yang dianggap sederhana saja memiliki tuntunan, tentu perkara yang lebih besar, seperti adab dalam beribadah, menuntut ilmu, mengajarkan ilmu, berdakwah, dan berinteraksi dengan sesama manusia, lebih patut untuk diperhatikan.
Di antara adab terpenting yang harus dijaga adalah:
Ikhlas ketika menuntut ilmu, semata-mata mengharapkan wajah Allah.
Ikhlas ketika mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.
Ikhlas ketika mengajarkan dan mendakwahkan ilmu kepada orang lain.
Ketiga perkara ini harus senantiasa diperhatikan. Seseorang tidak cukup hanya menghadiri majelis ilmu, tetapi juga perlu memperbaiki niatnya ketika mengamalkan dan menyampaikan ilmu tersebut.
Para sahabat dan tabiin pun memberikan perhatian besar terhadap adab. Tujuannya agar ilmu yang dipelajari menjadi ilmu yang bermanfaat, yang membimbing pemiliknya kepada ketaatan, bukan justru menjadi hujah yang memberatkannya karena tidak diamalkan.
Adab dan akhlak yang baik merupakan amal saleh
Adab dan akhlak yang mulia termasuk amal saleh. Akhlak yang baik dapat menambah keimanan, memiliki bobot yang besar dalam timbangan amal, dan menjadi sebab seseorang memperoleh kecintaan Rasulullah ﷺ serta kedudukan yang dekat dengan beliau pada hari kiamat.
Allah Ta'ala memuji akhlak Nabi Muhammad ﷺ dalam firman-Nya:
Dalil Al-Qur'an: Surah Al-Qalam ayat 4
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Wa innaka la‘alā khuluqin ‘aẓīm.
Artinya: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam [68]: 4).
Ayat ini menunjukkan kemuliaan akhlak Rasulullah ﷺ. Beliau adalah teladan utama bagi kaum muslimin dalam berakidah, beribadah, bermuamalah, berdakwah, dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai panutan utama. Pendidikan anak pun perlu diarahkan agar mereka mengenal dan mencintai Rasulullah ﷺ, mempelajari perjalanan hidup beliau, serta menjadikan akhlak beliau sebagai pedoman. Jangan sampai anak-anak lebih mengenal tokoh hiburan atau figur populer daripada Nabi yang wajib mereka teladani.
Allah Ta'ala juga berfirman:
Dalil Al-Qur'an: Surah Al-Ahzab ayat 21
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Laqad kāna lakum fī rasūlillāhi uswatun ḥasanatun liman kāna yarjullāha wal-yaumal-ākhira wa dzakarallāha katsīrā.
Artinya: “Sungguh, pada diri Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21).
Ayat ini menjadi landasan bahwa akhlak seorang muslim hendaknya mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ, bukan semata-mata mengikuti kebiasaan masyarakat atau standar manusia.
Rasulullah ﷺ diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
Artinya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Hadis ini diriwayatkan antara lain oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad dan Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Redaksi hadis yang dikutip dalam kajian merupakan salah satu lafal yang diriwayatkan dalam pembahasan tentang penyempurnaan akhlak.
Sebelum diutusnya Rasulullah ﷺ, masyarakat Arab telah mengenal sejumlah perilaku terpuji, seperti menyambung silaturahmi, menolong orang yang membutuhkan, membantu fakir miskin, dan berkata jujur. Namun, kehidupan mereka juga mengandung berbagai penyimpangan dalam keyakinan dan praktik ibadah.
Kedatangan Rasulullah ﷺ menyempurnakan akhlak yang baik, meluruskan penyimpangan, dan menyeru manusia kepada tauhid: beribadah hanya kepada Allah Ta'ala.
Karena itu, akhlak yang paling mendasar adalah menunaikan hak Allah dengan mentauhidkan-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dalam ibadah. Kebaikan kepada sesama manusia juga sangat penting, tetapi kebaikan sosial tidak menggantikan kewajiban beribadah hanya kepada Allah.
Seorang muslim hendaknya memperbaiki hubungannya dengan Allah sekaligus memperbaiki hubungannya dengan manusia. Ia tidak cukup hanya terlihat baik dalam pergaulan, tetapi juga harus meluruskan akidah, ibadah, dan ketaatannya kepada Allah.
Akhlak yang baik memiliki timbangan yang berat pada hari kiamat
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ، وَإِنَّ اللَّهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيءَ
Artinya: “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari Kiamat daripada akhlak yang baik. Sesungguhnya Allah membenci orang yang berkata keji dan kotor.”
Referensi: HR. At-Tirmidzi, no. 2002, dari Abu Darda radhiyallahu anhu. At-Tirmidzi menilai hadis ini hasan sahih.
Hadis ini menunjukkan bahwa akhlak bukan perkara tambahan yang boleh diabaikan oleh penuntut ilmu. Akhlak yang baik merupakan bagian penting dari amal seorang mukmin. Sebaliknya, ucapan keji, kebiasaan mencela, dan perilaku buruk merupakan perkara yang harus dijauhi.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا
Artinya: “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat tempat duduknya denganku pada hari Kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya.”
Referensi: HR. At-Tirmidzi, no. 2018, dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhuma. Hadis ini dinilai hasan oleh At-Tirmidzi.
Maka, semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin baik pula akhlaknya. Ilmu semestinya membimbing pemiliknya agar lebih santun, tawaduk, jujur, sabar, dan berhati-hati dalam bertindak.
2. Para Salaf Mendahulukan Adab Sebelum Ilmu
Para ulama terdahulu memberikan perhatian besar terhadap pendidikan adab. Mereka tidak hanya mengajarkan anak-anak membaca dan menghafal ilmu, tetapi juga membiasakan mereka berperilaku baik, beribadah, menghormati orang lain, dan menjaga lisan.
Nasihat Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah (wafat 161 H) dinukil mengatakan bahwa para pendahulu tidak segera mengarahkan anak-anak mereka untuk menuntut ilmu sebelum mereka mempelajari adab dan beribadah selama dua puluh tahun.
Pesan yang hendak ditekankan adalah besarnya perhatian generasi salaf terhadap pembentukan karakter. Adab bukan sekadar pelengkap setelah seseorang menguasai ilmu. Adab perlu ditanamkan sejak awal agar ilmu yang diperoleh dapat dipelajari, diamalkan, dan disampaikan dengan benar.
Perilaku dan kebiasaan yang dibentuk sejak kecil dapat melekat kuat dalam diri seseorang. Sementara itu, kemampuan memahami ilmu dapat terus diasah melalui belajar. Karena itu, pendidikan anak perlu memperhatikan pembiasaan akhlak sejak dini.
Seseorang mungkin memiliki kecerdasan tinggi dan menguasai banyak pengetahuan, tetapi jika tidak terbiasa bersikap santun, menjaga perkataan, dan menghormati orang lain, ilmu tersebut tidak selalu tampak dalam perilakunya. Bahkan, perilakunya bisa bertentangan dengan ilmu yang dimiliki.
Sebaliknya, orang yang dibiasakan dengan adab yang baik akan lebih mudah menjaga sikap ketika duduk di majelis ilmu, menerima nasihat, berinteraksi dengan guru, dan mengamalkan apa yang dipelajarinya.
Abdullah bin Al-Mubarak mempelajari adab selama tiga puluh tahun
Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah (wafat 181 H) dinukil berkata:
طَلَبْتُ الْأَدَبَ ثَلَاثِينَ سَنَةً، وَطَلَبْتُ الْعِلْمَ عِشْرِينَ سَنَةً
Artinya: “Aku mempelajari adab selama tiga puluh tahun dan mempelajari ilmu selama dua puluh tahun.”
Beliau juga dinukil mengatakan bahwa adab merupakan dua pertiga ilmu. Perkataan ini menggambarkan betapa besar perhatian para ulama terhadap pembentukan adab dalam perjalanan menuntut ilmu.
Muhammad bin Sirin: adab dipelajari sebagaimana ilmu
Muhammad bin Sirin rahimahullah (wafat 110 H) dinukil berkata:
كَانُوا يَتَعَلَّمُونَ الْهَدْيَ كَمَا يَتَعَلَّمُونَ الْعِلْمَ
Artinya: “Dahulu mereka mempelajari petunjuk dan adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu.”
Maksudnya, para salaf tidak memisahkan pengetahuan dari cara mengamalkannya. Mereka mempelajari petunjuk Nabi ﷺ, kemudian berusaha menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Makhlad bin Al-Husain rahimahullah (wafat 191 H) juga dinukil mengatakan kepada Abdullah bin Al-Mubarak:
نَحْنُ إِلَى قَلِيلٍ مِنَ الْأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيرٍ مِنَ الْعِلْمِ
Artinya: “Kita lebih membutuhkan sedikit adab daripada banyak ilmu.”
Perkataan-perkataan tersebut hendaknya menjadi bahan introspeksi. Banyaknya hafalan, catatan, atau kajian yang dihadiri tidak otomatis menunjukkan kesempurnaan seseorang. Ukuran penting lainnya adalah sejauh mana ilmu tersebut memperbaiki keyakinan, ibadah, akhlak, dan perilakunya.
Catatan referensi: Perkataan para salaf di atas disampaikan mengikuti nukilan dalam materi kajian. Nomor halaman dan redaksi Arab persis untuk setiap atsar belum seluruhnya teridentifikasi dari transkrip, sehingga perlu dicocokkan dengan kitab sumber sebelum diterbitkan sebagai kutipan tekstual yang definitif.
Al-Khatib Al-Baghdadi: penuntut ilmu harus berbeda dalam akhlaknya
Al-Khatib Al-Baghdadi rahimahullah (wafat 463 H) menjelaskan bahwa penuntut ilmu dan hadis semestinya memiliki perbedaan dalam perilaku dan amalnya dibandingkan orang yang tidak memperhatikan tuntunan agama. Ia harus berusaha mengamalkan sunnah Rasulullah ﷺ dalam kehidupannya.
Dengan demikian, ilmu seharusnya terlihat dalam perilaku. Penuntut ilmu perlu belajar bagaimana para salaf bersungguh-sungguh mencari ilmu, mengorbankan waktu istirahat, memperbanyak membaca dan mengulang pelajaran, serta menjaga ibadahnya.
Yahya bin Abi Katsir rahimahullah berkata:
لَا يُسْتَطَاعُ الْعِلْمُ بِرَاحَةِ الْجَسَدِ
Artinya: “Ilmu tidak akan dapat diraih dengan tubuh yang bersantai-santai.”
Perkataan ini mengingatkan bahwa menuntut ilmu membutuhkan kesungguhan, kesabaran, dan pengorbanan. Seseorang perlu mengatur waktunya agar tidak terus-menerus mengikuti keinginan untuk beristirahat dan bersantai.
Para ulama memberikan teladan dalam kesungguhan tersebut. Mereka memanfaatkan waktu untuk membaca Al-Qur'an, mengulang pelajaran, mengajarkan ilmu, dan beribadah. Karena itu, penuntut ilmu hendaknya menumbuhkan semangat belajar dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Namun, kesungguhan ini bukan berarti mengabaikan hak tubuh. Intinya adalah tidak menjadikan kenyamanan sebagai alasan untuk meninggalkan kewajiban belajar dan beramal.
Pada akhirnya, seorang penuntut ilmu wajib memperhatikan adab dan akhlak, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. Ilmu dan adab adalah dua perkara yang semestinya berjalan bersama agar ilmu menjadi bermanfaat.
3. Adab Pertama dalam Menuntut Ilmu: Mengikhlaskan Niat
Setelah membahas keutamaan mempelajari adab, pembahasan berlanjut kepada adab utama seorang muslim dalam menuntut ilmu syar'i. Adab pertama yang ditekankan adalah mengikhlaskan niat karena Allah Ta'ala.
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan pentingnya menempuh jalan untuk memperoleh ilmu syar'i dengan tujuan mengharapkan wajah Allah. Keikhlasan memang merupakan syarat dalam seluruh ibadah, tetapi perkara ini perlu terus diingatkan karena manusia mudah lalai terhadap niatnya, terutama ketika baru mulai menuntut ilmu.
Menuntut ilmu syar'i merupakan ibadah yang agung. Karena itu, seseorang harus menjaga niatnya agar tidak belajar semata-mata untuk memperoleh pujian, kedudukan, popularitas, atau keuntungan duniawi.
Perintah ikhlas dalam Al-Qur'an
Allah Ta'ala berfirman:
Dalil Al-Qur'an: Surah Al-Bayyinah ayat 5
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Wa mā umirū illā liya‘budullāha mukhliṣīna lahud-dīna ḥunafā’a wa yuqīmuṣ-ṣalāta wa yu’tuz-zakāta wa żālika dīnُl-qayyimah.
Artinya: “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 5).
Ayat ini merupakan landasan penting tentang kewajiban ikhlas. Ibadah tidak cukup hanya tampak baik secara lahiriah, tetapi harus disertai niat yang benar.
Menuntut ilmu syar'i juga merupakan ibadah. Oleh karena itu, seseorang hendaknya senantiasa memeriksa tujuan belajarnya: apakah ia benar-benar mengharapkan keridaan Allah, ataukah mulai mencari pengakuan dan keuntungan dari manusia?
Keutamaan menuntut ilmu dengan niat yang benar
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Artinya: “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
Referensi: HR. Muslim, no. 2699, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu.
Hadis ini menunjukkan besarnya keutamaan menuntut ilmu. Namun, keutamaan tersebut hendaknya mendorong kita memperbaiki niat dan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ dalam beribadah.
Para ulama menjelaskan bahwa ibadah harus dibangun di atas keikhlasan kepada Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ. Karena itu, seorang penuntut ilmu hendaknya menjaga dua perkara: niatnya benar dan cara belajarnya sesuai tuntunan agama.
Niat juga perlu terus diperiksa. Sebelum beramal, seseorang meluruskan niatnya. Ketika sedang beramal, ia menjaga agar tidak menyimpang. Setelah beramal, ia tidak membiarkan dirinya terjerumus ke dalam ujub atau keinginan untuk dipuji.
Hal ini memang tidak mudah. Akan tetapi, seorang muslim hendaknya meminta pertolongan kepada Allah agar diberikan keikhlasan dan dijauhkan dari penyakit hati.
Hadis tentang pentingnya niat
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Artinya: “Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.”
Hadis ini merupakan bagian dari hadis yang diriwayatkan oleh Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu anhu. Dalam kelanjutannya, Rasulullah ﷺ menjelaskan perbedaan antara hijrah karena Allah dan Rasul-Nya dengan hijrah karena tujuan duniawi atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahi.
Referensi: HR. Al-Bukhari, no. 1, dan Muslim, no. 1907.
Hadis ini menunjukkan bahwa niat memiliki kedudukan mendasar dalam amal. Dua orang dapat melakukan kegiatan yang tampak sama, tetapi nilai amalnya berbeda karena perbedaan niat.
Demikian pula dalam menuntut ilmu. Seseorang mungkin rajin menghadiri majelis, membaca kitab, dan menghafal hadis. Akan tetapi, ia perlu bertanya kepada dirinya sendiri: untuk apa semua itu dilakukan?
Apabila tujuannya mengharapkan wajah Allah, ia berusaha melanjutkan amal tersebut dengan ikhlas. Namun, jika tujuannya adalah agar dikenal sebagai orang alim, dianggap paling rajin menghadiri kajian, memperoleh popularitas, atau membangun relasi demi keuntungan pribadi, ia harus segera memperbaiki niatnya.
Ancaman bagi orang yang menuntut ilmu demi keuntungan duniawi
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Artinya: “Barang siapa mempelajari ilmu yang semestinya dicari untuk mengharapkan wajah Allah Azza wa Jalla, tetapi ia tidak mempelajarinya kecuali untuk memperoleh keuntungan duniawi, ia tidak akan mendapatkan aroma surga pada hari Kiamat.”
Referensi: HR. Abu Dawud, no. 3664; Ibnu Majah, no. 252; dan Ahmad dalam Al-Musnad. Hadis ini dinilai sahih oleh sejumlah ahli hadis.
Ancaman ini sangat berat. Ilmu agama yang seharusnya mengantarkan seseorang kepada ketaatan justru dapat menjadi sebab kebinasaan apabila dicari dengan niat yang menyimpang.
Karena itu, hendaknya seseorang berhati-hati terhadap keinginan untuk dipuji sebagai penuntut ilmu yang rajin, dikenal sebagai orang yang saleh, atau dihormati karena pengetahuannya. Demikian pula, majelis ilmu tidak semestinya dijadikan sarana untuk mencari keuntungan pribadi.
Menuntut ilmu harus dilakukan dengan niat mengharapkan keridaan Allah, bukan menjadikannya alat untuk mendapatkan kedudukan atau keuntungan duniawi.
Bahaya riya dalam menuntut ilmu dan membaca Al-Qur'an
Dalam hadis yang panjang tentang orang-orang yang pertama kali diadili pada hari Kiamat, Rasulullah ﷺ menjelaskan keadaan seseorang yang mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur'an, tetapi melakukan semua itu demi mendapatkan pujian manusia.
Dalam hadis tersebut, Allah mengingatkan orang itu bahwa ia belajar agar disebut sebagai orang berilmu dan membaca Al-Qur'an agar disebut sebagai seorang qari. Karena tujuan tersebut telah ia dapatkan di dunia, amalnya tidak mendatangkan keselamatan baginya.
Di antara redaksi hadisnya adalah:
فَيُقَالُ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ
Artinya: “Dikatakan kepadanya, ‘Engkau berdusta. Akan tetapi, engkau mempelajari ilmu agar disebut sebagai orang alim dan membaca Al-Qur'an agar disebut sebagai seorang qari. Dan sungguh, sebutan itu telah diberikan kepadamu.’”
Dalam kelanjutan hadis, orang tersebut diperintahkan untuk diseret di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.
Referensi: HR. Muslim, no. 1905, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu.
Hadis ini menjadi peringatan keras bahwa amal yang terlihat mulia tidak otomatis diterima apabila dilakukan demi pujian manusia. Seseorang bisa saja mengajar, membaca Al-Qur'an, atau menyampaikan kajian, tetapi perlu terus menjaga hatinya agar tidak mencari pengakuan.
Karena itu, keikhlasan harus dijaga sebelum, selama, dan sesudah beramal. Apabila muncul keinginan untuk dipuji atau ditonjolkan, hendaknya ia segera memperbaiki niat dan memohon perlindungan kepada Allah.
Di antara penyakit hati yang perlu diwaspadai adalah:
Riya, yaitu melakukan atau memperindah amal agar dilihat dan dipuji manusia.
Sum'ah, yaitu menampakkan amal atau kesalehan agar didengar dan dikenal orang lain.
Ujub, yaitu merasa kagum terhadap diri sendiri dan amal yang telah dilakukan.
Penyakit-penyakit tersebut berbahaya karena dapat merusak keikhlasan. Seorang muslim hendaknya terus memohon pertolongan Allah agar amalnya diterima.
Larangan menuntut ilmu untuk berdebat dan mencari kedudukan
Rasulullah ﷺ juga memperingatkan agar ilmu tidak dicari untuk membanggakan diri di hadapan para ulama, berdebat dengan orang-orang yang tidak berilmu, atau memperoleh kedudukan terhormat dalam majelis.
Beliau bersabda:
لَا تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ، وَلَا لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ، وَلَا تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ، فَالنَّارُ النَّارُ
Artinya: “Janganlah kalian mempelajari ilmu untuk membanggakan diri di hadapan para ulama, untuk mendebat orang-orang bodoh, atau untuk mencari perhatian dalam majelis. Barang siapa melakukan hal itu, maka nerakalah ancamannya.”
Referensi: HR. Ibnu Majah, no. 254, dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhuma. Hadis ini dinilai sahih dalam sejumlah penilaian ahli hadis.
Hadis ini memperingatkan bahwa ilmu bukan sarana untuk menunjukkan keunggulan diri. Penuntut ilmu tidak seharusnya belajar hanya agar mampu mengalahkan orang lain dalam perdebatan atau supaya menjadi pusat perhatian.
Perbedaan pendapat memang dapat dibahas dalam kegiatan ilmiah, tetapi tujuannya harus mencari kebenaran berdasarkan dalil, bukan memuaskan ego atau menjatuhkan orang lain.
Oleh sebab itu, setiap muslim hendaknya meluruskan niatnya. Jangan sampai ia datang ke majelis ilmu hanya agar dikenal sebagai orang yang rajin, mendapatkan pujian, atau memperoleh keuntungan duniawi.
Rezeki berada dalam ketetapan Allah. Adapun menuntut ilmu merupakan ibadah yang perlu dijalankan dengan niat yang benar. Jangan sampai aktivitas ibadah yang mulia justru dicampuri tujuan-tujuan yang merusak keikhlasan.
4. Ilmu Harus Diamalkan
Sufyan bin Uyainah rahimahullah dinukil mengatakan bahwa orang yang menuntut ilmu karena Allah akan memperoleh kemuliaan dan kebahagiaan di dunia, sedangkan orang yang menuntut ilmu bukan karena Allah akan mengalami kerugian di dunia dan akhirat.
Kebahagiaan tidak selalu berarti memiliki kekayaan atau menikmati kehidupan yang mewah. Seseorang bisa hidup sederhana, tetapi merasakan ketenteraman karena Allah memberikan taufik kepadanya untuk beriman, beramal saleh, dan menjalani kehidupan dengan ilmu yang bermanfaat.
Al-Khatib Al-Baghdadi rahimahullah memberikan nasihat kepada penuntut ilmu:
فَإِنَّ الْعِلْمَ شَجَرَةٌ، وَالْعَمَلَ ثَمَرَةٌ، وَلَيْسَ يُعَدُّ عَالِمًا مَنْ لَمْ يَكُنْ بِعِلْمِهِ عَامِلًا
Artinya: “Sesungguhnya ilmu adalah pohon dan amal adalah buahnya. Seseorang tidak dianggap sebagai orang berilmu jika ia tidak mengamalkan ilmunya.”
Sumber: Al-Khatib Al-Baghdadi, Iqtiḍā’ al-‘Ilm al-‘Amal, hlm. 14 dalam edisi yang dirujuk.
Nasihat tersebut menegaskan bahwa ilmu dan amal harus berjalan beriringan. Tujuan menuntut ilmu bukan sekadar memperbanyak pengetahuan, tetapi juga memperbaiki amal dan mendekatkan diri kepada Allah.
Seseorang yang mempelajari ilmu sedikit demi sedikit lalu berusaha mengamalkannya telah menempuh jalan kebaikan. Ia hendaknya bersyukur atas taufik yang diberikan Allah, kemudian terus belajar, membaca ulang pelajaran, menghadiri majelis ilmu, dan meningkatkan amalnya.
Tidak perlu menunggu sampai menguasai banyak ilmu untuk mulai mengamalkan sesuatu yang sudah dipahami dengan benar. Ilmu yang sedikit tetapi diamalkan dapat menjadi jalan untuk memperoleh manfaat dan mempelajari ilmu berikutnya.
Kesungguhan para ulama dalam memanfaatkan waktu
Dalam kajian ini juga diceritakan bagaimana para ulama dan masyaikh memberikan teladan dalam memanfaatkan waktu. Mereka dapat mengajar dalam waktu yang panjang, mengulang hafalan ketika dalam perjalanan, dan menggunakan waktu luang untuk membaca Al-Qur'an atau mempelajari ilmu.
Hal tersebut mengingatkan kita agar tidak menyia-nyiakan waktu. Ketika seseorang mulai mencintai ilmu, ia akan berusaha menyediakan waktu untuk membaca, mengulang pelajaran, mendengarkan kajian, dan mengamalkan apa yang telah dipahami.
Kesungguhan seperti ini merupakan nikmat dan taufik dari Allah. Karena itu, kita hendaknya meminta kepada Allah agar diberi kekuatan untuk terus belajar dan beramal, bukan sekadar mengagumi kesungguhan para ulama tanpa berusaha meneladaninya.
5. Bagaimana Menjaga Keikhlasan dalam Menuntut Ilmu?
Hisyam bin Abi Abdillah Ad-Dustuwa'i rahimahullah dinukil pernah menyatakan bahwa ia tidak berani memastikan dirinya telah mencari satu hadis semata-mata demi mengharapkan wajah Allah. Ketika perkataan tersebut dikomentari oleh Imam Adz-Dzahabi rahimahullah, beliau pun menyatakan bahwa dirinya juga tidak berani mengklaim demikian.
Perkataan ini bukan berarti para ulama tidak berusaha ikhlas. Justru, hal tersebut menunjukkan kehati-hatian mereka dalam menilai amal diri sendiri. Mereka bersungguh-sungguh memperbaiki niat, tetapi tidak merasa aman dari kemungkinan munculnya penyakit hati.
Sikap semacam ini patut diteladani. Seorang penuntut ilmu hendaknya tidak mudah merasa bahwa dirinya telah ikhlas, apalagi menganggap amalnya pasti diterima. Ia terus memperbaiki niat dan memohon kepada Allah agar amalnya diterima.
Penjelasan Imam Ibnu Jama'ah tentang niat yang baik
Badruddin Ibnu Jama'ah rahimahullah (wafat 733 H) menjelaskan bahwa niat yang baik dalam menuntut ilmu hendaknya ditujukan untuk mengharapkan wajah Allah, mengamalkan ilmu, menghidupkan syariat, menerangi hati, menghiasi batin, dan memperoleh kedekatan dengan Allah pada hari Kiamat.
Sebaliknya, ilmu tidak semestinya dicari demi kepemimpinan, jabatan, kehormatan, harta, kebanggaan di hadapan teman, atau keinginan agar diagungkan manusia.
Sumber: Ibnu Jama'ah, Tadzkirat as-Sāmi‘ wa al-Mutakallim fī Adab al-‘Ālim wa al-Muta‘allim, hlm. 112–113.
Dari penjelasan ini, kita memahami bahwa ukuran keikhlasan bukanlah ramai atau sepinya majelis. Seseorang yang ikhlas tetap berusaha hadir ketika mampu, meskipun peserta yang datang sedikit dan tidak ada orang yang memujinya.
Ia datang karena membutuhkan ilmu dan mengharapkan keridaan Allah. Ia tidak menjadikan jumlah peserta, perhatian orang lain, atau pengakuan masyarakat sebagai ukuran keberhasilan amalnya.
Doa agar dijauhkan dari kesyirikan yang tersembunyi
Salah satu doa yang disebutkan dalam kajian adalah doa memohon perlindungan dari kesyirikan yang disadari maupun tidak disadari.
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ
Allāhumma innī a‘ūdzu bika an usyrika bika wa anā a‘lam, wa astaghfiruka limā lā a‘lam.
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu dalam keadaan aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu atas apa yang tidak aku ketahui.”
Doa ini dinukil dalam sejumlah kitab hadis melalui riwayat yang dinisbatkan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu.
Doa tersebut relevan dengan pembahasan keikhlasan karena seorang muslim perlu mewaspadai penyakit hati yang dapat merusak amal. Ia hendaknya memohon perlindungan kepada Allah dari kesyirikan, riya, ujub, sum'ah, dan berbagai penyimpangan niat.
Doa ini dapat dibaca ketika seseorang mengingat perlunya berlindung dari kesyirikan, termasuk ketika hendak melakukan amal saleh. Yang terpenting, ia memahami maknanya, mengamalkannya dengan sungguh-sungguh, dan tetap berusaha meluruskan niat.
Penutup
Dari pembahasan ini, terdapat beberapa pelajaran penting yang perlu kita perhatikan:
Adab dan akhlak merupakan bagian penting dari ilmu. Penuntut ilmu hendaknya memperbaiki perilaku sebagaimana ia berusaha menambah pengetahuannya.
Rasulullah ﷺ adalah teladan utama. Akhlak, ibadah, muamalah, dan cara berdakwah seorang muslim hendaknya mengikuti petunjuk beliau.
Para salaf sangat memperhatikan adab. Mereka mengajarkan bahwa ilmu perlu disertai pembentukan karakter, kesungguhan, dan pengamalan.
Keikhlasan merupakan fondasi dalam menuntut ilmu. Ilmu hendaknya dicari untuk mengharapkan wajah Allah, bukan untuk memperoleh pujian atau kedudukan.
Riya, sum'ah, dan ujub harus diwaspadai. Amal yang terlihat mulia dapat menjadi sebab kebinasaan jika dilakukan demi pengakuan manusia.
Ilmu harus diamalkan. Banyaknya pengetahuan bukan tujuan akhir; ilmu seharusnya membimbing pemiliknya kepada ketaatan dan akhlak yang baik.
Keikhlasan perlu terus diperiksa. Sebelum, selama, dan setelah beramal, seorang muslim hendaknya menjaga niat serta memohon pertolongan Allah.
Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk memahami ilmu yang bermanfaat, mengamalkannya, mengajarkannya, dan mendakwahkannya dengan ikhlas. Semoga ilmu tersebut menjadi hujah yang membela kita, bukan hujah yang memberatkan kita pada hari Kiamat.
Kajian ditutup dengan doa kafaratul majelis:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Subḥānaka Allāhumma wa biḥamdika, asyhadu an lā ilāha illā anta, astaghfiruka wa atūbu ilaik.
Artinya: “Mahasuci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu.”
*****
Poster Ringkasan

****