Home / Khutbah Jum'at / Makna dan Kemuliaan Kalimat Laa Ilaaha Illallah | Ustadz Adi Abdul Jabbar حفظه الله تعالى
Khutbah Jum'at

Makna dan Kemuliaan Kalimat Laa Ilaaha Illallah | Ustadz Adi Abdul Jabbar حفظه الله تعالى

[youtube v=”wVtIZ9uDQ6g”]

Kalimat Laa Ilaaha Illallah adalah kalimat yang paling agung dalam Islam. Ia merupakan inti dari agama tauhid yang menjadi tujuan penciptaan jin dan manusia. Kalimat ini bukan sekadar zikir, tetapi asas keimanan dan pondasi diterimanya seluruh amal.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وما خلقتُ الجنَّ وَالإنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)


Makna Kalimat Laa Ilaaha Illallah

Kalimat Laa Ilaaha Illallah artinya adalah:

لا مَعْبُودَ بِحَقِّ إِلَّا اللهُ

Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah.

Makna ini mencakup dua rukun utama:

  1. An-Nafyu (النَّفْي): Peniadaan semua sesembahan selain Allah.
  2. Al-Itsbat (الإِثْبَات): Penetapan bahwa hanya Allah-lah satu-satunya sesembahan yang benar.

Maka, orang yang mengucapkan kalimat ini harus meniadakan segala bentuk ibadah kepada selain Allah, dan menetapkan bahwa ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah semata.


Dalil-dalil dalam Al-Qur’an dan Sunnah

Allah Ta’ala berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang benar selain Allah.” (QS. Muhammad: 19)

Dan juga:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسولًا أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul untuk menyerukan: Sembahlah Allah dan jauhilah thagut.” (QS. An-Nahl: 36)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ آَخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

“Barang siapa yang akhir ucapannya adalah Laa ilaaha illallah, maka dia akan masuk surga.” (HR. Abu Dawud)


Hanya Tauhid Rububiyyah Tidaklah Cukup

Tauhid Rububiyyah, yaitu meyakini bahwa Allah adalah Pencipta dan Pemberi rezeki, tidak cukup untuk menjadikan seseorang muslim. Kaum Quraisy pun meyakini bahwa Allah yang menciptakan dan memberi rezeki, namun mereka tetap musyrik karena mempersembahkan ibadah kepada selain Allah.

Allah berfirman:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللهُ

“Dan sungguh, jika engkau bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan kalian?’ Niscaya mereka menjawab: ‘Allah.'” (QS. Az-Zukhruf: 87)


Ibadah Hanya untuk Allah

Segala bentuk ibadah seperti doa, sembelihan, nazar, dan tawakal harus ditujukan hanya kepada Allah. Berdoa kepada selain Allah adalah bentuk syirik.

Allah Ta’ala berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS. Ghafir: 60)


Memahami kalimat Laa Ilaaha Illallah dengan benar akan memudahkan seseorang untuk mengamalkannya dengan ikhlas dan istiqamah. Harapan setiap muslim adalah wafat dalam keadaan mentauhidkan Allah dan mengucapkan kalimat tauhid sebagai akhir kehidupan.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan kita untuk senantiasa menjaga kemurnian tauhid dan menjadikan kalimat Laa Ilaaha Illallah sebagai akhir kalimat kita.

Disampaikan oleh: Ustadz Adi Abdul Jabar حفظه الله تعالى
Disarikan dari : Khutbah Jumat
Lokasi : Masjid Al Ikhlas Adi Sucipto, Jajar