Home / Khulasatul Kalam / Khulasatul Kalam: Hadits-hadits Seputar Shalat Khauf dan Jenazah
Khulasatul Kalam

Khulasatul Kalam: Hadits-hadits Seputar Shalat Khauf dan Jenazah

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

┃Kajian Kitab: Khulashatul Kalam ‘alaa Umdatul Ahkam 
┃Karya: Syaikh Abdullah Alu Bassam Rahimahullah
Hari/Tanggal: Selasa, 17 Rajab 1447 / 6 Januari 2025
Bersama Ustadz Mohammad Alif, Lc. M.Pd    – Staff Pengajar Ma’had Imam Bukhari Solo
┃Tempat: Masjid Al-Ikhlash Jl. Adi Sucipto – Kerten Solo
┃Hadist: Kitab Taysiiril Alam ‘alaa Umdatil Ahkamكتاب تيسير العلام شرح عمدة الأحكام).


 


باب صلاة الخوف
Bab: Shalat Khauf

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan shalat meskipun dalam keadaan takut (berperang) dan jama’ah. Ini menunjukkan pentingnya shalat dan shalat berjama’ah.

Bahkan nabi menjelaskan dalam beberapa hadits. Ibnu Hazm dan Ibnul Arabi mengatakan ada 16 cara dalam shalat khauf dan ulama lainya mengatakan, 6-7 cara seperti disampaikan Ibnul Qayyim Rahimahullah.

ad-Durar an-Nafisah fi Rihlati Ila Makkah wal Madinah#1: Adab-adab Guru dan Murid

Hadits ke-1/149: Cara Shalat Khauf dari Hadits Abdullah bin Umar

عَنْ عَبْدِ الله بن عُمَرَ بن الخَطَّابِ رضيَ الله عَنْهُمَا قَال: صَلَّى بنَا رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم صلاَةَ الخَوْفِ في بعض أيامه التي لَقِيَ فِيهَا العَدُوَّ، فَقَامت طَاَئِفَة مَعَه، وَطَائفَة بإزَاء العَدُوِّ، فَصَلَّى بالذين مَعه رَكْعَةً ثمَّ ذَهَبُوا، وَجَاءَ الآَخَرُون فَصَلَّى بهمْ رَكْعَةً، وَقضت الطَّاِئفَتَانِ رَكعَةً رَكعَةً.

Dari Abdullah bin Umar bin al-Khattab radhiyallahu anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat witir bersama kami pada beberapa hari ketika beliau menemui musuh. Satu kelompok berdiri bersamanya, dan satu kelompok menghadap musuh. Beliau shalat bersama satu kelompok satu rakaat, kemudian mereka pergi; kelompok lain datang, beliau shalat bersama mereka satu rakaat, dan kedua kelompok itu menyelesaikan shalat masing-masing satu rakaat.

Faedah yang Dapat Diambil dari  Hadits ke-149:

  1. Hukum shalat khauf (shalat ketika takut) ketika ada ancaman atau bahaya baik dalam keadaan mukim maupun safar.
  2. Melakukan shalat khauf sesuai dengan tata cara yang disebutkan dalam hadits Abdullah bin Umar di atas.
  3. Gerakan yang banyak karena alasan maslahat shalat atau darurat, tidak membatalkan shalat.
  4. Tekad yang kuat untuk menunaikan shalat tepat waktu dan berjamaah.
  5. Memperhatikan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap musuh agama.

*****

Hadits ke-2/150: Cara Shalat Khauf – Dzat ar-Riqa’ dari Hadits Yazid bin Ruman

عَنْ يَزيدَ بن رُومَانَ عَنْ صَالِحِ بن خَوَّاتِ بن جُبَيْرٍ عَمَّنْ صَلَّى مَعَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم صَلاَةَ ذَاتَ الرِّقَاعِ صَلاَةَ الخَوْفِ: أنَّ طَاِئفة صَفَّتْ مَعَهُ وَطَائِفَةً وجَاهَ العَدُوِّ، فصَلَّى بِالذين مَعَهُ رَكْعَةً، ثُم ثَبَتَ قَاِئماً فَأتموا لأنفُسِهِمْ، ثم انصَرفوا فَصَفُّوا وِجَاهَ العَدو، وَجَاءَتِ الطاِئفَةُ الأخْرَى فَصَلّى بِهِمُ الركعَةَ التي بَقِيتْ ثمَّ ثبت جالِساً وَأَتمُّوا لأنفُسِهمْ ثُمَّ سَلَّمَ بِهم.

Dari Yazid bin Ruman dari Salih bin Khawat bin Jubair tentang siapa yang shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Dzat ar-Riqa’ atau shalat takut: Sesungguhnya sekelompok orang berbaris bersamanya dan sekelompok menghadap arah musuh. Maka beliau shalat bersama orang-orang yang bersamanya satu rakaat, kemudian berdiri tegak dan mereka menyelesaikan shalat untuk diri mereka sendiri. Setelah itu mereka mundur, berbaris menghadap musuh, dan kelompok lain datang. Beliau shalat bersama mereka rakaat yang tersisa, kemudian duduk tegak dan mereka menyelesaikan shalat untuk diri mereka sendiri, lalu beliau salam bersama mereka.

Khulasatul Kalam#33: Hadits-hadits Seputar Haramnya Membangun Masjid di Atas Kuburan dan Puasa

Faedah yang dapat diambil dari hadits ke-150:

  1. Shalat dengan cara ini sesuai untuk arah musuh yang dilakukan di luar kiblat.
  2. Pemisahan makmum dari imam untuk alasan seperti ini diperbolehkan.

*****

Hadits ke-3/151: Cara Shalat Khauf dari Hadits Jabir bin Abdullah Al-Ansari 

عن جَابِرِ بن عَبْدِ الله الأنصَارِي رَضي الله عَنْهُما قال: شَهِدتُ مع رسولِ الله صلى الله عليه وسلم صَلاَةَ الخَوفِ، فصَففنَا صَفَّيْن خَلْفَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم وَالعَدُوُّ بيننَا وَبَيْنِ القِبلَةِ، فَكَبَّرَ النبي صلى الله عليه وسلم وكبَّْرْنا جَمَيعاً ثُم رَكَعَ وَرَكَعنَا جَميعا، ثُمَّ رَفَعَ رَأسهُ مِنَ الركُوعِ وَرَفَعنَا جَمِيعا، ثُمَّ انحَدَرَ بالسُّجُودِ وَالصف الَّذِي يلِيهِ، وَقَامَ الصَّف المُؤَخَّرُ في نَحْرِ العَدوِّ، فَلما قَضَى النبي صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلمَ السُّجُودَ وَقَامَ الصف الذِي يلِيهِ، انحَدَرَ الصَّفُّ المُؤَخَّرُ بالسجُودِ وَقامُوا، ثُم تَقَدَّمَ الصف المُؤَخَّرُ وَتَأخَّرَ الصَّف المُقَدمُ ثم رَكَعَ النبيُّ صلى الله عليه وسلم وَرَكعنَا جَمِيعاَ، ثمَّ رَفَعََ رَأسَهُ مِنَ الركُوعِ فَرَفَعْنَا جَمِيعاً، ثمَّ انْحَدَرَ بِالسجُودِ وَالصَّفُّ الذي يلِيِهِ- الّذِي كَانَ مُؤَخَّراً في الركْعَةِ الأولَى- فَقَامَ الصَّفُّ المُؤَخَّرُ في نَحْرِ العدو.

فَلما قَضى النبي صلى الله عليه وسلم السُّجُودَ وَالصَّفُّ الًذِي يليهِ، انْحَدرَ الصف المُؤَخرُ بِالسُّجُودِ فَسَجَدوا، ثم سَلَّمَ النبي صلى الله عليه وسلم وَسَلَّمْنَا جَمِيعاً.

قال جابر: كَمَا يَصنعُ حَرَسُكُم هؤُلاَءِ بِأمَرَائكُم.

ذكره “مسلم ” بتمامه.

Khulasatul Kalam: Hadits-hadits Seputar Jenazah dan Pengurusannya

وذكر البخاري طرفاَ منه، وأنه صلى صلاة الخوف مع النبي صلى الله عليه وسلم في الغزوة السابعة، غزوة ” ذات الرقاع

Dari Jabir bin Abdullah Al-Ansari radhiyallahu ‘anhuma berkata: Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunaikan Shalat Khauf. Kami berbaris menjadi dua barisan di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan musuh di antara kami dan arah qiblat. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir dan kami pun semuanya bertakbir, lalu Beliau rukuk dan kami pun semuanya rukuk. Setelah itu Beliau mengangkat kepala dari rukuk dan kami semuanya mengikutinya. Kemudian Beliau sujud dan barisan yang di belakang Beliau ikut sujud, sementara barisan terakhir berdiri menghadapi musuh. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai sujud dan barisan yang di belakang Beliau berdiri, barisan terakhir melakukan sujud dan kemudian berdiri. Setelah itu barisan terakhir maju dan barisan depan mundur, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam rukuk dan kami semua ikut rukuk, kemudian Beliau mengangkat kepala dari rukuk dan kami semua ikut mengangkatnya, kemudian Beliau sujud dan barisan yang mengikutinya — yang sebelumnya berada di belakang pada rakaat pertama — berdiri menghadapi musuh.

Ketika Nabi ﷺ menyelesaikan sujud dan barisan yang berikutnya, barisan yang terakhir merunduk untuk sujud sehingga mereka sujud, kemudian Nabi ﷺ memberi salam dan kami semua ikut memberi salam.

Jabir berkata: Sama seperti penjaga kalian melakukan terhadap pemimpin kalian.

Disebutkan secara lengkap oleh Muslim.

Dan disebutkan sebagian oleh Bukhari, bahwa dia ﷺ shalat shalat ketakutan bersama Nabi ﷺ dalam peperangan ketujuh, perang “Dzat Ar-Riqaa”.

Faedah yang Dapat diambil dari Hadits ke-151:

  1. Shalat dengan cara ini sesuai dengan arah musuh karena musuh berada di arah kiblat.
  2. Kesempurnaan keadilan yang diterapkan Rasul صلى الله عليه وسلم dengan membuat jari-jari tangan mereka saling bergantian dalam shalat dan penjagaan.
  3. Pergerakan yang diperlukan dan karena banyaknya tidak mengurangi kesempurnaan shalat.
  4. Kepemimpinan yang baik dan pengaturan pasukan serta menjauhkannya dari bahaya dan sergapan musuh.

*****


باب كِتاب الجَنَائز
Bab: Kitab Jenazah

Hadits ke-1/152: Shalat Ghaib bagi Raja Najasy dari Hadits Abu Hurairah

عَنْ أبي هُريرة رَضِي الله عَنْهُ قال: نَعَىِ النَّبيُّ صلى الله عليه وسلم النجَاشي في اليَوْم الذي مَاتَ فِيهِ وَخَرَجَ إِلى الْمُصَلَّى فصَفَّ بِهمْ وَكَبَّرَ أرْبَعَاً.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan kabar duka tentang al-Najasyi pada hari ia wafat dan keluar menuju tempat shalat, lalu menyusun mereka dalam barisan dan bertakbir sebanyak empat kali.

Hadits ke-2/153: Shalat Ghaib bagi Raja Najasy dari Hadits Jabir

عن جَابر رَضِي الله عَنْهُ أنَّ النَبي صلى الله عليه وسلم صَلَّى على النَّجَاشِيِّ، فَكُنْتُ في الصَّفِّ الثاني أو الثالِث.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat untuk Najasyi, dan saya berada di baris kedua atau ketiga.

Faedah yang Dapat diambil dari Hadits ke-152/153:

  1. Keabsahan shalat atas jenazah yang tidak hadir.

Ulama berbeda pendapat akan syariat shalat ghaib:

1. Dibolehkan shalat ghaib secara mutlak.
2. Dibolehkan shalat ghaib jika ada sebab, yaitu tidak ada kaum muslimin yang menyalatkan jenazah tersebut.
3. Dibolehkan shalat ghaib, meskipun sudah dishalatkan bagi orang yang berjasa seperti pemimpin atau ulama.
  1. Takbir dalam shalat jenazah adalah empat kali. Masalah Mengangkat tangan: ada yang berpendapat pada setiap takbir dan sebagian berpendapat hanya mengangkat tangan pada takbiratul ihram saja.
  2. Dianjurkan agar banyak orang yang shalat karena mereka menjadi syafaat dan karena mereka membentuk tiga barisan.
  3. Boleh memberitahukan kematian jenazah untuk kepentingan tertentu, dan hal ini bukan termasuk mengumumkan kematian seperti di masa jahiliyah yang dilarang.

*****

Hadits ke-3/154: Keabsahan Sholat Jenazah di atas Kuburan

عن ابنِ عَبَّاس رَضي الله عَنْهُمَا: أنَّ النَّبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ صَلَّى عَلى قَبْر بَعْدَ مَا دُفِنَ، فَكَبَّر عَلَيْهِ أرْبَعاً.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di atas kubur setelah dikuburkan, lalu beliau mengucapkan takbir empat kali.

Faedah yang Dapat diambil dari Hadits ke-154:

Keabsahan sholat di atas kuburan dan bahwa sholat itu sama seperti sholat di hadapan orang yang hadir.

Dalam hadits lain:

َعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ -فِي قِصَّةِ الْمَرْأَةِ الَّتِي كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ- قَال: فَسَأَلَ عَنْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا: مَاتَتْ, فَقَالَ: “أَفَلاَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي”? فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا. فَقَالَ: “دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهَا”, فَدَلُّوهُ, فَصَلَّى عَلَيْهَا.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Beliau berkisah tentang seorang wanita yang biasa membersihkan masjid (di masa Nabi).

Nabi shallallahu’alaihiwasallam, menanyakan tentang kabar wanita itu, para sahabat menjawab, “Ia telah meninggal.”

” Mengapa kalian tidak mengabariku?” Tanya Nabi shallallahu’alaihiwasallam kepada sahabatnya.

Para sahabat mengira, bahwa pekerjaannya tersebut tidak terlalu terpandang.

Tunjukkan aku makamnya” Pinta Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.

Merekapun menunjukkan makam wanita tersebut, kemudian beliau mensholatkannya” (Muttafaqun ‘ alaihi).

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم