بِسْـمِ اللَّهِ الرحمن الرحيم
┃ Materi : Kitab Adabul Mufrad
┃ Pemateri : Ustadz Yunan Hilmi, Lc Hafizhahullah (Pengajar Ilmu Syar’i Pondok Pesantren Imam Bukhori)
️┃ Hari, Tanggal : Senin, 25 Agustus 2025 M / 2 Rabi’ul Awal 1447H
┃ Tempat : Masjid Al-Ikhlas – Adi Sucipto Jajar Solo.
[youtube v=”S1Sx4WwqdeI”]
بَابُ الْعِيَادَةِ مِنَ الرَّمَدِ
245. Menjenguk Orang yang Sakit Mata
٥٣٢ – حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْمُبَارَكِ قَالَ: حَدَّثَنَا سَلْمُ بْنُ قُتَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ قَالَ: سَمِعْتُ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ يَقُولُ: رَمِدَتْ عَيْنِي، فَعَادَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ: «يَا زَيْدُ، لَوْ أَنَّ عَيْنَكَ لَمَّا بِهَا كَيْفَ كُنْتَ تَصْنَعُ؟» قَالَ: كُنْتُ أَصْبِرُ وَأَحْتَسِبُ، قَالَ: «لَوْ أَنَّ عَيْنَكَ لَمَّا بِهَا، ثُمَّ صَبَرْتَ وَاحْتَسَبْتَ كَانَ ثَوَابُكَ الْجَنَّةَ». ضعيف بهذا التمام
532. Abdurrahman bin Al-Mubarak mengabarkan kepada kami, ia berkata: Salman bin Qutaibah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Yunus bin Abi Ishaq mengabarkan kepada kami:
Dari Abu Ishaq, ia berkata, ‘Aku mendengar Zaid bin Arqam berkata, “Mataku sakit, Ialu Nabi ﷺ menjengukku. Beliau lalu bertanya, ‘wahai Zaid, seandainya keadaan matamu begitu, apa yang engkau lakukan?’ Aku menjawab, ‘Aku akan bersabar dan mengharap pahala dari Allah ﷻ.’ Beliau lalu bersabda, ‘Kalau sekiranya matamu dalam keadaan begitu lalu engkau sabar dan mengharap pahala dari Ailah, maka balasanmu adarah surga.”‘
Dha’if dengan lafazh yang tengkap seperti ini. Namun riwayat darinya yang menyebutkan bahwa Nabi ﷺ menjenguk Zaid adalah shahih. shahih Abi Dawud 2716. Diriwayatkan Ahmad dengan lengkap (4/375), Abu Dawud: Kitab Al-Janaa’iz. Bab Fiil ‘iyadah minar Ramadi (3102) dengan lafazh: “Rasulullah ﷺ menjengukku karena penyakit yang menimpa mataku”.
Penjelasan Kata:
Makna رَمِدَتْ عَيْنِي : Ar-ramd adalah penyakit yang menimpa mata.
Kandungan Hadits:
1. Disunnahkan menjenguk orang sakit meskipun penyakit yang dideritanya tidak berbahaya, seperti pusing, sakit gigi dan sakit mata.
2. surga adalah pahala bersabar dan ihtisab (mengharap pahala) karena penyakit yang diderita.
***
٥٣٣ – حَدَّثَنَا مُوسَى قَالَ: حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ، عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ، أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ ذَهَبَ بَصَرُهُ، فَعَادُوهُ، فَقَالَ: كُنْتُ أُرِيدُهُمَا لَأَنْظُرَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَمَّا إِذْ قُبِضَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَاللَّهِ مَا يَسُرُّنِي أَنَّ مَا بِهِمَا بِظَبْيٍ مِنْ ظِبَاءِ تَبَالَةَ. ضعيف
533. Musa mengabarkan kepada kami, ia berkata: Hammad mengabarkan kepada kami dari Ali bin Zaid:
Dari Al-Qasim bin Muhammad bahwa penglihatan seorang laki-laki dari sahabat Muhammad (ayahnya) hilang, maka mereka menjenguknya. Lalu ia berkata, “Dahulu aku mengidamkan keduanya (kedua matanya) agar dapat melihat Nabi ﷺ. Adapun setelah Nabi wafat, maka demi Allah, aku tidak senang dengan melihat seekor kijang Tiyalah.”
Isnadnya dha’if. Di dalamnya terdapat ‘Ali bin Zaid, yaitu lbnu Jud’an, seorang yang dha’if. Diriwayatkan lbnu Sa’ad dalam kitab Ath-Thabaqat (2/239).
Penjelasan Kata:
– Makna تَبَالَةَ : Sebuah kota diYaman.
Kandungan Hadits:
1. Disyari’atkan menjenguk orang yang pandangannya hilang (menjadi
buta).
2. Para shahabat yang mulia sangat mencintai Rasulullah ﷺ Al-Amin.
***
٥٣٤ – حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ صَالِحٍ، وَابْنُ يُوسُفَ، قَالَا: حَدَّثَنَا اللَّيْثُ قَالَ: حَدَّثَنِي يَزِيدُ بْنُ الْهَادِ، عَنْ عَمْرٍو مَوْلَى الْمُطَّلِبِ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِذَا ابْتَلَيْتُهُ بِحَبِيبَتَيْهِ – يُرِيدُ عَيْنَيْهِ – ثُمَّ صَبَرَ عَوَّضْتُهُ الْجَنَّةَ “. صحيح
534. ‘Abdullah bin Shalih dan Ibnu Yusuf mengabarkan kepada kami, keduanya berkata: Al-Laits mengabarkan kepada kami, ia berkata: Yazid bin Al-Haad mengabarkan kepadaku dari Amr maula Al-Muththalib:
Dari Anas, ia berkata, “Aku mendengar Nabi bersabda, Allah berfirman, ‘Jika ia Aku beri ujian (hamba-Ku) dengan kedua hal yang dicintainya -maksudnya kedua matanya- lalu ia bersabar, maka Aku akan menggantinya dengan surga.”
Diriwayatkan Al-Bukhari: Kitab Al-Mardhaa. Bab Fadhlu man Dzahaba Basharuhu (5636).
Kandungan Hadits:
Keutamaan dan kabar gembira bagi orang buta yang bersabar dan
mengharap pahala dari Allah bahwa Allah akan menggantinya dengan
apa yang paling baik, yaitu Surga, karena nikmat yang diperoleh dengan pandangan mata akan sirna seiring dengan musnahnya dunia sedangkan nikmat di Surga akan abadi selamanya.
***
٥٣٥ – حَدَّثَنَا خَطَّابٌ قَالَ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، عَنْ ثَابِتِ بْنِ عَجْلَانَ، وَإِسْحَاقَ بْنِ يَزِيدَ، قَالَا: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ: حَدَّثَنِي ثَابِتٌ، عَنِ الْقَاسِمِ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” يَقُولُ اللَّهُ: يَا ابْنَ آدَمَ، إِذَا أَخَذْتُ كَرِيمَتَيْكَ، فَصَبَرْتَ عِنْدَ الصَّدْمَةِ وَاحْتَسَبْتَ، لَمْ أَرْضَ لَكَ ثَوَابًا دُونَ الْجَنَّةِ “. حسن صحيح
535. Khaththab mengabarkan kepada kami, ia berkata: Isma’il mengabarkan kepada kami dari Tsabit bin ‘Ajlan dan Ishaq bin Yazid, keduanya berkata: Isma’il mengabarkan kepada kami, ia berkata: Tsabit mengabarkan kepadaku dari Al-Qasim:
Dari Abu Umamah, dari Nabi ﷺ (beliau bersabda), Allah berfirman, ‘Wahai anak Adam, jika Aku ambil dua yang berharga (kedua mata)nya lalu engkau bersabar saat menghadapi benturan cobaan itu dan mengharapkan pahala, Aku tidak ingin balasan untukmu selain surga.
Shahih lighairihi. Isnad ini hasan. Ismail bin ‘Ayyasy shaduuq pada riwayat haditsnya dari penduduk negerinya, dan hadits ini salah satu di antara riwayatnya dari penduduk negerinya. Diriwayatkan Ahmad (5/258), lbnu Majah: Kitab Al-Janaa’iz. Bab Maa ja’aa fish Shabri ‘alal mushiibah (1597) tanpa lafazh ‘Jika Aku ambil dua yong berharga (kedua mata)nya. Hadits ini diperkuat oleh hadits Anas yang sudah berlalu, dan hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan At-Tirmidzi no. 2401.
Penjelasan Kata:
– Makna كَرِيمَتَيْكَ : Kedua matamu. Kedua mata dinam akan karimatain karena kedua mata adalah panca indera manusia yang paling berharga. Kedua mata juga dinamakan habibatain karena keduanya adalah anggota tubuh yang paling dicintai. Al-Hafizh berkata, “Fashabarta ‘indash shadmahi wahtasabta, maksudnya ia bersabar sambil mengharapkan pahala yang dijanjikan oleh Allah bagi orang-orang yang sabar.
Kandungan Hadits:
Orang yang menjadi buta dan bersabar sejak awal kebutaannya berhak mendapatkan surga yang dijanjikan oleh Allah bagi hamba-hambaNya yang bersabar dan mengharapkan pahala dari-Nya.
***
٢٤٦. بَابُ أَيْنَ يَقْعُدُ الْعَائِدُ؟
246. Di Mana Orang yang Menjenguk Duduk?
٥٣٦ – حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عِيسَى قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ قَالَ: أَخْبَرَنِي عَمْرٌو، عَنْ عَبْدِ رَبِّهِ بْنِ سَعِيدٍ قَالَ: حَدَّثَنِي الْمِنْهَالُ بْنُ عَمْرٍو، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَادَ الْمَرِيضَ جَلَسَ عِنْدَ رَأْسِهِ، ثُمَّ قَالَ سَبْعَ مِرَارٍ: «أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ، رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، أَنْ يَشْفِيكَ» ، فَإِنْ كَانَ فِي أَجَلِهِ تَأْخِيرٌ عُوفِيَ مِنْ وَجَعِهِ. صحيح
536. Ahmad bin ‘Isa mengabarkan kepada kami, ia berkata, ‘Abdullah bin Wahb mengabarkan kepada kami, ia berkata, ‘Amr mengabarkan kepadaku dari Abdu Rabbihi bin Sa’id, ia berkata: Al-Minhal bin ‘Amr mengabarkan kepadaku dari Abdullah bin Al-Harits:
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Jika Nabi ﷺ mengunjungi orang sakit, beliau duduk di dekat kepalanya lalu berdo’a tujuh kali, ‘As’alullaahal ‘Azhiim Rabbal ‘Arsyil ‘Azhiim an yasyfiyaka’ (aku memohon kepada Allah Yang Mahaagung Rabb ‘Arsy yang agung agar menyembuhkanmu’). Jika ajalnya diakhirkan, maka ia diberi kesembuhan dari sakitnya.”
Shahih. Diriwayatkan Ahmad (1/239), Abu Dawud: Kitab Al-Janaa’iz. Bab Ad-Duaa lil Mariidh ‘indal ‘lyaadah (3106) dan At-Tirmidzi: Kitab Ath-Thibb. Bab (32) no. (2083). Lihat Shahih Abi Dawud (2719).
Kandungan Hadits:
1. Orang yang menjenguk orang sakit disunnahkan duduk di dekat kepala orang yang sakit, menghibur dan mengingatkan bahwa ia akan mendapat pahala karena musibahnya ini, serta mendo’akan agar segera sembuh dengan doa-doa dan dzikir-dzikir yang dicontohkan oleh Rasulullah.
2. Orang yang dido’akan dengan doa ini, maka Allah akan memberi kesembuhan dari sakitnya sebagaimana disebutkan dalam hadits ash-shodiqul Mashduq.
***
٥٣٧ – حَدَّثَنَا مُوسَى قَالَ: حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: ذَهَبْتُ مَعَ الْحَسَنِ إِلَى قَتَادَةَ نَعُودُهُ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ، فَسَأَلَهُ ثُمَّ دَعَا لَهُ قَالَ: اللَّهُمَّ اشْفِ قَلْبَهُ، وَاشْفِ سَقَمَهُ. صحيح
537. Musa mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ar-Rabi’ bin ‘Abdillah mengabarkan kepada kami, ia berkata, “Aku pergi bersama Al-Hasan mengunjungi Qatadah untuk menjenguknya. Al-Hasan lalu duduk di dekat kepalanya, bertanya kepadanya dan mendo’akannya, ‘Allaahummasyfi qalbahu wasyfi saqamahu’ Ya Allah, sembuhkanlah hati dan penyakitnya).”
– lsnadnya shahih.
Kandungan Hadits:
1. Boleh meminta kesembuhan kepada Allah.
2. Disunnahkan terus-menerus dalam berdo’a
***
٢٤٧. بَابُ مَا يَعْمَلُ الرَّجُلُ فِي بَيْتِهِ
247. Apa yang Dilakukan Seseorang Di Rumahnya
٥٣٨ – حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَجَاءٍ، وَحَفْصُ بْنُ عُمَرَ، قَالَا: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنِ الْحَكَمِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنِ الْأَسْوَدِ قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: مَا كَانَ يَصْنَعُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَهْلِهِ؟ فَقَالَتْ: كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ خَرَجَ. صحيح.
538. Abdullah bin Raja’ dan Hafsh bin’Umar mengabarkan kepada kami, keduanya berkata: Syu’bah mengabarkan kepada kami dari Al-Hakam, dari Ibrahim:
Dari Al-Aswad, ia berkata, “Aku bertanya kepada ‘Aisyah ‘Apa yang dilakukan oleh Nabi di tengah keluarganya?’ Ia menjawab, ‘Beliau senantiasa melakukan pekerjaan untuk melayani keluarganya, namun bilamana waktu shalat tiba, beliau keluar (untuk shalat).”
Diriwayakan At-Bukhari: Kitab Al-Adab. Bab Kaifa Yakuunur Rajulu fii Ahlihii (6039).
Penjelasan Kata:
Makna مِهْنَةِ : Al-khidmah (pelayanan).
Kandungan Hadits:
Anjuran agar bersikap tawadhu’ tidak sombong, dan membantu keluarga daiam melakukan pekerjaan rumah.
***
٥٣٩ – حَدَّثَنَا مُوسَى قَالَ: حَدَّثَنَا مَهْدِيُّ بْنُ مَيْمُونٍ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْمَلُ فِي بَيْتِهِ؟ قَالَتْ: يَخْصِفُ نَعْلَهُ، وَيَعْمَلُ مَا يَعْمَلُ الرَّجُلُ فِي بَيْتِهِ. صحيح
539. Musa mengabarkan kepada kami, ia berkata: Mahdi bin Maimun mengabarkan kepada kami:
Dari Hisyam bin ‘urwah (bin Zubair), dari ayahnya, ia berkata, “Aku bertanya kepada ‘Aisyah’, ‘Apa yang dilakukan oleh Nabi di rumahnya?’ Ia menjawab, ‘Beliau menjahit terompahnya dan melakukan apa yang dilakukan oleh seorang laki-laki di rumahnya.’
Shahih. Diriwayatkan Ahmad (6/121) dan Ibnu Hibban (5677). Lihat Adh-Dha’ifoh (4282).
Penjelasan Kata:
– Makna يَخْصِفُ نَعْلَهُ : Menambal terompahnya.
Kandungan Hadits:
Di dalamnya terdapat dalil bahwa Nabi, juga biasa melakukan pekerjaan rumah untuk keluarga dan dirinya sendiri sebagaimana yang dilakukan oleh orang lain sebagai bentuk pengarahan kepada umatnya agar besikap tawadhu’ dan tidak sombong. Beliau tidak pernah bersikap tinggi hati meskipun mendapat kemuliaan berupa wahyu, kenabian dan kerasulan.
٥٤٠ – حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ قَالَ: أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْوَلِيدِ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ: مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فِي بَيْتِهِ؟ قَالَتْ: مَا يَصْنَعُ أَحَدُكُمْ فِي بَيْتِهِ، يَخْصِفُ النَّعْلَ، وَيَرْقَعُ الثَّوْبَ، وَيَخِيطُ. صحيح
540. Ishaq mengabarkan kepada kami, ia berkata, Abdullah bin Al-Walid mengabarkan kepada kami dari Sufyan:
Dari Hisyam, dari ayahnya, ia berkata, “Aku bertanya kepada “Aisyah, ‘Apa yang dilakukan oleh Nabi ﷺ di rumahnya?’ Ia menjawab, Melakukan seperti halnya yang dilakukan oleh salah seorang di antara kalian di rumahnya, menjahit sandal dan menyulam pakaian serta menjahit.”
Shahih. Diriwayatkan Ahmad (6/167) dan Ibnu Hibban (5676).
Kandungan Hadits: Lihat penjelasan hadits no. 539.
Di dalamnya terdapat dalil bahwa Nabi, juga biasa melakukan pekerjaan rumah untuk keluarga dan dirinya sendiri sebagaimana yang dilakukan oleh orang lain sebagai bentuk pengarahan kepada umatnya agar besikap tawadhu’ dan tidak sombong. Beliau tidak pernah bersikap tinggi hati meskipun mendapat kemuliaan berupa wahyu, kenabian dan kerasulan.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

